
Suara mobil terdengar masuk ke halaman rumah. Ayah dan Ibu sudah pulang dari kunjungan ke rumah kerabat jauhnya. Setelah mematikan mesin mobilnya, Ayah dan ibu sama-sama keluar dari roda empat yang mereka naiki itu.
Di tangan kirinya Ibu membawa sebuah mainan untuk cucu tersayangnya yang ia beli di pusat perbelanjaan. Sementara Ayah menenteng paper bag berisi makanan oleh-oleh dari kunjungannya tadi. Begitu akan masuk ke dalam rumah, ternyata pintunya di kunci. Dan untung saja Ibu selalu membawa kunci cadangannya, jadi dia tidak harus kebingungan saat masuk ke rumahnya sendiri.
"Assalamu'alaikum." Ucap Ibu setelah membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam." Hanya dijawab Ayah karena suasana rumah terlihat kosong seperti tak berpenghuni.
"Sepi sekali?" Heran Ibu melangkahkan kakinya ke sofa.
"Mungkin mereka lagi keluar Bu." Jawab Ayah meletakkan paper bag di atas meja lalu duduk juga.
"Bu, ambilin air dingin untuk Ayah." Sambung Ayah merasa capek sekali setelah perjalanan jauh mereka.
Ibu mengangguk dan langsung bangkit dari duduknya mengambil minuman di dapur. Saat melewati ruang tengah, Ibu melihat televisi yang dibiarkan menyala begitu saja tanpa ada yang menonton. Segera saja Ibu matikan.
"Ini TV kenapa dibiarkan menyala sendiri, ceroboh sekali mereka." Gumam Ibu geleng-geleng kepala.
Sementara di dalam kamar, Adam dan Zahira sedang memadu kasih. Sebenarnya Zahira sudah menolak ajakan suaminya itu, namun Adam tetap bersikeras meminta kegiatan itu dengan alasan dia sudah tidak tahan dan sudah seminggu ini dia tidak mendapatkan jatahnya. Apalagi ia sangat-sangat merindukan calon bayi mereka jadi kesempatan buat Adam agar Zahira tidak menolaknya lagi.
Zahira mengambil ponselnya yang ia letakkan disisi bantalnya. Kegiatan mereka yang baru selesai dari lima menit yang lalu.
"Cup." Adam mengecup bibir Zahira sekilas.
"Ish.. Mas, nggak bosen apa dari tadi main sosor terus." Keluh Zahira.
"Nggak lah, mana ada kata bosen." Jawab Adam santai membuat Zahira menjadi jengah. Pandai sekali suaminya ini.
Zahira pun meraih gelas di atas nakas namun kosong melompong tidak ada isinya.
"Habis lagi. Mas, haus banget aku. Tolong ambilin air ya?" Pinta Zahira yang bersandar di kepala ranjang. Dia malas untuk pergi ke dapur saat ini.
"Ok, istriku." Balas Adam lalu memakai semua pakaiannya.
Dengan rambut acak-acakan Adam keluar dari kamarnya lalu berjalan ke dapur mengambil air minum atas permintaan istri tercintanya itu.
"Lho, kapan Ibu pulang?" Tanya Adam. Terkejut melihat sang ibu sudah di rumah terlebih saat ini berada di dapur.
Wanita paruh baya itupun menoleh. Memindai penampilan anaknya yang tidak seperti biasanya. Rambutnya acak-acakan nggak ada rapinya sama sekali apalagi kaos yang dipakai Adam juga nampak basah.
"Hmm.. pantas saja rumah sepi ternyata mereka habis main rupanya." Batin Ibu.
Ibu pun mengulum senyumnya.
"Bu.. Ibu.." Panggil Adam seraya mengibaskan tangannya di depan wajah sang ibu.
"Eh iya, tadi kamu nanya apa?" Tanya Ibu.
"Kapan Ibu pulangnya, Kenapa Adam nggak dengar suara mobil kalian?" Ulang Adam.
"Gimana mau bisa dengar, lha wong kalian aja asyik-asyik di kamar." Sindir Ibu.
__ADS_1
Adam menanggapinya dengan senyuman tipis. Rupanya ibunya ini tahu juga kalau dia dan Zahira habis bercinta.
"Kamu ngapain ke dapur lapar atau haus?" Tanya Ibu yang sudah selesai membuat jus alpukatnya.
"Haus Bu, Zahira minta diambilin minum." Jawab Adam membuka kulkas.
"Jangan sering-sering minta jatah sama istrimu kasihan dia!" Ucap Ibu memberi ultimatum pada Adam.
"Nggak lah Bu, Adam juga paham kok." Balasnya.
"Oya, mana cucu tampan Ibu. Apa dia tidur?" Tanya Ibu lagi sebelum dia keluar dari dapur.
"Di rumah ibu mertua, Adam ungsikan Arvind di sana." Kekeh Adam.
"Kamu tuh, untung saja rumah mertuamu dekat kalau nggak? Pasti gagal kegiatan kalian tadi." Olok Ibu.
"Tadi Ibu dapat rendang, kamu kasih tahu Zahira barangkali istrimu sudah lapar." Lanjut Ibu.
"Iya Bu." Jawab Adam, mereka sama-sama keluar dari dapur dan Adam segera masuk ke kamarnya.
"Dapurnya pindah ya Mas, lama sekali kamu." Kesal Zahira. Sedari tadi ia sudah kehausan.
"Maaf Yank, tadi ngobrol dulu sama ibu di dapur." Jawab Adam seraya menyodorkan air putih pada perempuan itu.
Zahira pun meneguk minumannya sampai habis.
"Ayah dan Ibu sudah pulang? Kok kita nggak denger ya?" Heran Zahira.
"Mas, aku mandi duluan ya." Ucap Zahira melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
"Bareng aja Yank." Sahut Adam seraya berlari kecil.
Zahira membalikkan badannya menghadap Adam. Melototi laki-laki tampan itu agar tidak mengikutinya masuk ke kamar mandi.
***
Seharian Arvind berada di rumah Yang kung dan Yang ti nya. Bocah tampan itu saat ini sudah mandi dengan bedak yang menempel di seluruh wajahnya.
Arvind keluar menuju teras depan. Dilihatnya beberapa anak kecil yang usianya jauh diatasnya sedang bersepeda ria di gang rumah neneknya. Arvind pun berlari ke arah sana.
"Arvind mana sepedamu? Ayo kita bersepeda." Ajak anak laki-laki berhenti di depan Arvind.
"Cepeda Alpin di lumah." Jawabnya.
"Harusnya kamu bawa kemari biar kita bisa main sepedaan bareng-bareng." Lanjut anak laki-laki itu lalu meninggalkan Arvind mengejar teman-temannya yang sudah jauh darinya.
Arvind hanya bisa memandangi mereka, karena capek berdiri Arvind duduk berjongkok di pinggir jalan.
Sementara Ibu mencari keberadaan cucunya setelah ia selesai sholat Asar. Tadi Ibu menyuruh Arvind untuk duduk di teras karena sebentar lagi Mama dan Papanya akan datang menjemput. Namun Ibu cari-cari dan dipanggil juga Arvind tidak menampakkan batang hidungnya.
"Pergi ke mana bocah itu." Gumam Ibu kebingungan.
__ADS_1
Anak-anak yang bersepeda tadi sekarang berhenti di tukang es krim keliling, mereka semua membeli es krim.
"Ada ec klim, Alpin mau beyi uga." Dengan riang gembira Arvind menghampiri penjualnya. Ia berlari agar kebagian.
Kini giliran Arvind ditanya oleh si penjualnya.
"Mau beli berapa Dek dan rasa apa?"
"Beli dua, lasa buah." Jawab Arvind dengan suara cadelnya.
"8000." Ucapnya menyerahkan dua buah es krim sesuai keinginan Arvind.
"Alpin ndak bawa uang." Ucapnya polos.
"Kalau tidak bawa uang, tidak boleh beli." Ucap orang itu. Mata Arvind mulai berkaca-kaca, gagal untuk bisa makan es krim seperti teman-teman lainnya.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Adam dan Zahira melihat Arvind sedang membeli es krim. Zahira langsung turun setelah Adam mematikan mesin motornya.
"Sayang.." Panggil Zahira sambil tersenyum.
Arvind menoleh dan langsung menangis setelah ada kedua orangtuanya.
"Huaa.. Mama.. Alpin mau ec klim." Arvind memeluk kedua lutut perempuan hamil itu, mengadu.
Adam segera menggendong Arvind yang menangis sesenggukan.
"Adeknya nggak bawa uang Mas." Penjual itu memberitahu Adam.
"Udah, sekarang berhenti nangisnya. Udah ganteng gini kok nangis." Ucap Adam seraya menghapus air mata di pipi tembem Arvind.
"Saya beli dua ya Pak.'' Zahira membuka dompetnya.
"8000 Mbak." Jawabnya.
Setelah membayar es krim, mereka ke rumah ibu Zahira. Tangis Arvind juga sudah berhenti.
"Cucu tampan Yang ti, tadi ke mana aja? Yang ti cari'in lho tadi?" Tanya Ibu.
Arvind berada di pangkuan Papanya menikmati es krim.
"Alpin adi yihat tatak-tatak naik cepeda." Jawabnya.
"Mak, lain kali jangan biarkan Arvind sendirian ya. Dia tadi ada di perempatan jalan ngejar penjual es krim." Ucap Zahira.
"Ya Allah." Ibu sangat kaget.
.
.
Lanjutannya masih ada ya bestie..💖💖
__ADS_1