
"Kenapa Mbak Susi bertanya padaku? Meskipun dulu kami dekat sekarang kan sudah beda Mbak.. tidak seperti dulu lagi. Juga tidak pantas jika aku harus bertemu dengan Kak Haikal lagi karena aku sudah punya suami. Lagi pula itu juga bukan urusanku." Jawab Zahira panjang lebar untuk membungkam Mbak Susi agar stop bertanya tentang Haikal lagi padanya.
"Eh, maaf ya Ra.. bukan maksud Mbak seperti itu. Y-ya.. mungkin saja kamu tahu gitu." Ucap Mbak Susi gelagapan, ternyata pertanyaannya membuat Zahira tersinggung.
Zahira hanya mengangguk saja sebagai jawaban, sebenarnya dia kesal tapi Zahira tidak mungkin menunjukkan sikapnya pada Mbak Susi yang ada nanti malah menjadi ketegangan bagi mereka berdua.
"Mbak masuk yuk, biar Bagas bisa leluasa mainnya." Ucap Zahira memecah keheningan sesaat di antara mereka berdua.
"Ya sudah ayo." Angguk Mbak Susi.
Baby Bagas langsung di letakkan di kasur lantai supaya ia lebih nyaman. Zahira juga menyalakan kipas angin biar bayi gembul itu tidak kegerahan. Dengan riangnya baby Bagas mulai tengkurap sekali-kali bayi gembul itu meletakkan kepalanya mungkin tidak kuat menyangga bobot tubuhnya.
"Haha.. kenapa kepalanya sayang. Kok nggak di sanggah lagi?" Tanya Zahira pada bayi gembul itu. Namun tiba-tiba baby Bagas mengangkat kepalanya lagi setelah mendengar suara tawa dari Zahira.
"Jika seperti itu biasanya dia capek Ra, maklum beratnya tiap bulan nambah." Jelas Mbak Susi.
"Oh.. lucunya kamu." Ucap Zahira saking gemasnya pada Bagas.
Baby Bagas mulai memutar tubuhnya sedikit demi sedikit dan sesekali ia bergumam tidak jelas sampai air liurnya menetes.
"Eh, Bagas nangis Mbak." Ucap Zahira panik.
"Oekk.. eekk.."
"Tuh, dia sudah mulai ngantuk makanya nangis." Mbak Susi langsung mendekatkan dirinya pada sang putra.
"Oh anak Mama sayang.. ngantuk ya sini mimik cucu dulu." Baby Bagas pun diberi ASI oleh Mbak Susi dengan posisi tidur miring.
Zahira juga menepuk-nepuk bokong baby Bagas.
"Kuat sekali ya Mbak, Bagas nyedotnya." Ucap Zahira memperhatikan cara baby Bagas yang sedang meminum Asi dari sumbernya langsung.
"Iya, kadang sakit banget rasanya Ra. Saking kuatnya kalau dia minum." Ujar Mbak Susi seraya mengelus rambut tebal anaknya dan di ciumi juga.
__ADS_1
"Begitu ya Mbak." Zahira manggut-manggut seolah mengerti.
"Iya, terus gimana dengan Adam jika dia minta padamu.. pasti kuat juga kan dianya?" Goda Mbak Susi sambil terkekeh.
Blush...
Kedua pipi Zahira langsung merona. Mbak Susi ini pertanyaan nya kenapa vulgar sekali sih?
"Apa sih Mbak?" Protes Zahira yang sebenarnya menahan malu.
"Haha.. sudah nggak usah malu-malu sama Mbak. Lihat tuh dada kamu sekarang aja udah besar gitu. Pasti tiap hari Adam selalu memainkannya. Bener kan." Mbak Susi semakin gencar menggoda Zahira.
Sontak saja Zahira langsung menutupi dadanya dengan kerudung segi empatnya, sungguh ia benar-benar malu. Tapi benar juga kata Mbak Susi bahwa dadanya semakin berisi sekarang semenjak menikah, bagaimana tidak, hampir tiap malam Adam selalu memintanya dengan bujuk rayunya hingga Zahira tidak bisa menolak oleh kata-kata manis yang di lontarkan Adam.
"Ngobrol tentang apa ini, asyik sekali sepertinya?" Sahut Ibu Zahira menghampiri keduanya lalu ikut duduk di kasur lantai.
"Ini Mak.. tentang Zahira.." Jawab Mbak Susi senyum-senyum sendiri sambil menatap usil pada Zahira.
Mata Zahira melotot pada Mbak Susi agar tidak mengatakan nya.
"Haha.. tidak apa-apa kok Mak." Jawab Mbak Susi mengerti dengan kode dari Zahira.
"Loh, cucu Emak kok sudar tidur? Padahal Emak mau gendong." Ucap Ibu Zahira yang memanggil baby Bagas dengan sebutan cucu karena sudah ia anggap seperti cucunya sendiri.
"Iya Mak, udah ngantuk banget. Soalnya sejak jam tiga pagi Bagas sudah bangun terus ngajak main. Tidak mau tidur lagi, sampai jam empat subuh baru bisa tidur." Jelas Mbak Susi.
"Anak bayi ya seperti itu, jadwal tidurnya memang tidak menentu. Pasti siangnya Bagas banyak tidur makanya malamnya ngajak begadang Mamanya." Tutur Ibu Zahira.
Baby Bagas masih anteng menyu*u dia tidak perduli dengan omongan para wanita di sekitarnya. Dan Zahira masih setia menepuk-nepuk bokongnya. Setelah di rasa sudah cukup Mbak Susi segera melepaskan mulut baby Bagas dari dadanya dan ia juga menutup kancing dasternya.
"Nduk.. ambilin selimut gih di kamar kamu. Biar tidur cucu Emak makin anteng." Perintah ibu kepada Zahira.
"Iya Mak." Angguk Zahira lalu ke kamarnya mengambil selimut tipis di dalam lemari dan memberikannya pada sang Ibu untuk menutupi sebagian tubuh baby Bagas yang sudah tertidur pulas.
__ADS_1
"Mak.. aku titip Bagas dulu ya, aku mau pulang sebentar mau meneruskan cucianku yang tadi aku tinggal." Pamit Mbak Susi.
"Iya, biar anakmu di jaga Zahira." Kata Ibu menganggukkan kepalanya.
Mbak Susi pun meninggalkan anaknya di rumah Zahira.
"Oh ya Nduk, Emak sampai lupa. Sebelum Nak Haikal balik, dia menitipkan sebuah kado untuk kamu, sekarang kadonya masih Emak simpan, sebentar biar Emak ambil dulu." Ibu berlalu ke kamarnya mengambil barang yang dititipkan Haikal padanya.
"Kak Haikal memberiku kado? Apa ya maksudnya. Hah.. sudah lah lebih baik aku terima saja toh orangnya juga sudah tidak ada di sini." Gumam Zahira bertanya-tanya.
"Ini kado kamu." Ibu memberikannya pada Zahira. "Ini sudah ada dua mingguan Emak simpan karena kamu sudah jarang datang kemari." Jelas Ibu sambil duduk.
"Iya, makasih ya Mak." Balas Zahira karena masih menyimpan hadiah pemberian Haikal.
Kado tersebut di bungkus dengan kertas kado berwarna ungu dan kemasannya juga rapi, tapi tidak begitu berat. Entahlah isinya apa Zahira sendiri sampai di buat penasaran.
"Di buka di rumah saja Nduk, jangan di sini. Nak Haikal juga menitipkan sebuah salam untukmu katanya semoga kamu hidup bahagia dengan suamimu dan segera diberi momongan." Ujar Ibu Zahira memberitahu.
"Amin.." Jawab Zahira.
"Nak Haikal sekarang sudah sukses ya Nduk. Ternyata dia dan keluarganya di sana punya restoran yang sudah terkenal dan sangat ramai. Bahkan Emak, Bapak dan adik kamu pernah di buatkan Nak Haikal Dendeng Balado yang sangat uenak sekali rasanya." Ucap Ibu Zahira memuji masakan Haikal dengan mengangkat jari jempolnya.
"Tapi yang buat Emak sedih, Nak Haikal di sini cuma sampai satu Minggu. Emak kira akan lama gitu biar bisa puas temu kangennya." Ucap Ibu Zahira dengan nada sedih karena biar bagaimana pun juga Haikal sudah dia anggap sebagai anak sendiri. Apalagi dulu Haikal dan Zahira kemana-mana selalu bersama.
Zahira mengelus lengan sang Ibu. "Mau bagaimana lagi Mak, itu sudah jadi keputusan mereka. Tidak mungkin juga kan mereka meninggalkan pekerjaan mereka di sana." Jawab Zahira.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1