
Adam keluar dari kamarnya dan menghampiri sang ibu yang berada di dapur. Dia mencari keberadaan sang istri yang tidak balik-balik ke kamar.
"Zahira mana Bu?" Tanya Adam.
"Istrimu sedang sholat subuh." Jawab Ibu.
"Sholat di mana? Di kamar nggak ada tuh." Ujar Adam.
"Di ruang musholla. Oh ya, kenapa istrimu bisa tidur di sofa lagi?" Tanya Ibu memicingkan matanya kepada Adam.
"Mana Adam tahu Bu.." Jawab Adam seraya mengangkat kedua bahu. Ia lupa dengan kejadian semalam dimana telah membuat sang istri sakit hati.
Selesai sholat subuh, Zahira melangkahkan kakinya ke dapur.
"Ibu." Panggil Zahira membuat wanita paruh baya itu menoleh
"Iya, ada apa Nak." Jawab ibu dengan senyuman.
"Aku bisa bantu apa nih?" Tanya Zahira tanpa memperdulikan keberadaan Adam.
"Ini, kamu cuci berasnya ya. Ibu mau ke kamar sebentar." Jawab Ibu.
Wanita yang berusia 45 tahun itu pergi meninggalkan anak dan menantunya di dapur. Zahira pun mencuci berasnya sesuai titah sang mertua.
"Yank.." Adam memanggil Zahira. Laki-laki itu duduk di kursi sambil memandang lekat wajah sang istri yang amat ia cintai itu.
"Iya." Jawab Zahira singkat. Adam bangun dari duduknya lalu mendekati sang istri.
"Wajah kamu kenapa merah-merah gini kayak digigit nyamuk?" Tanya Adam sambil memegang pipi perempuan itu.
Zahira diam, ia membiarkan pipinya di pegang oleh suaminya. Adam mengelus-elus pipi bekas gigitan nyamuk semalam.
"Kata Ibu, kamu tidur di sofa ya. Kapan? Kok Mas nggak tahu?" Tanya Adam.
"Jam dua lebih aku pindah. Buat apa juga tidur sama suami yang nggak punya rasa peka." Jawab Zahira menyindir.
Adam menaikkan sebelah alisnya. "Maksud kamu?" Tanya Adam. Laki-laki tampan itu tidak paham dengan perkataan istrinya itu.
Zahira pun membalikkan badan menghadap Adam.
"Nggak ingat semalam, udah ngebentak aku?" Tanya Zahira dengan sinis.
__ADS_1
Seketika Adam teringat dengan kejadian semalam. Dimana ia tidak mau bangun lantaran ngantuk berat dan juga badan pegal-pegal hingga berakibat membentak sang istri.
"Sudah ingat kan." Ejek Zahira lalu melanjutkan memasaknya.
Adam mengangguk. "Iya Mas sudah ingat. Maaf ya Sayang. Gara-gara Mas kecapek'an kamu sampai jadi korban kekesalan Mas." Jawab Adam masih berdiri di belakang Zahira.
"Hm, nggak semudah itu dapat maaf dariku." Sahut Zahira cuek.
"Terus?" Tanya Adam sambil melingkarkan tangannya di pinggang Zahira. Wajahnya ia benamkan di tengkuk sang istri menghirup aromanya.
"Iih, Mas Adam.. aku nggak bisa gerak nih." Protes Zahira karena saat ini tangannya lagi memegang sutil.
"Bisa." Jawab Adam sambil tangannya menelusup ke dalam baju. Zahira melirik sekilas tangan Adam.
Zahira berdecak kesal, apa sih maunya suaminya ini. Zahira pun meneruskan menggoreng ayam goreng tepung sambil mengomeli Adam. Adam tidak perduli dengan kicauan Zahira, ia anggap seperti nyanyian saja di pagi hari ini.
Ibu geleng-geleng kepala melihat anaknya memeluk menantunya dari belakang. Ia pun mendekat dan 'Plak' ibu memukul lengan Adam membuat Adam melepaskan tangannya di pinggang Zahira.
"Aduh, apa sih Bu." Ucap Adam sambil meringis, sakit juga pukulan sang ibu.
"Minggir kamu, jangan ganggu orang masak." Kesal Ibu mendorong tubuh Adam menjauh dari sang menantu.
"Hari ini olahraganya libur dulu, Bu." Jawab Adam sekenanya. Dalam benak Adam, ibu menjadi pengganggu saja.
"Udah sana kamu pergi, lebih baik kamu olahraga saja. Pusing ibu lihat kamu ada di sini." Usir wanita itu.
Pagi-pagi sudah mendapat omelan dari ibu dan istrinya. Membuat Adam meninggalkan kedua wanita itu lalu berjalan ke halaman depan untuk melakukan olahraga menjaga kesehatan tubuhnya.
***
Selesai memasak, Zahira memutuskan untuk mandi. Zahira keluar hanya memakai handuk karena lupa tidak membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Zahira sendiri tidak menyadari jika Adam sudah berada di dalam kamar menunggu giliran untuk mandi juga. Dengan santainya Zahira memakai pakaian lengkapnya satu persatu membuat Adam menelan ludah dan harus menahan dirinya untuk tidak menyentuh sang istri.
"Sabar Dam.. belum saatnya kamu menyentuh istrimu, tunggu dua bulan lagi." Monolog Adam dalam hati.
"EHEMM.." Sengaja Adam berdehem keras agar Zahira menyadari keberadaannya.
Zahira terdiam di tempat mendengar suara yang sangat ia kenali. Hanya tinggal celana kulotnya saja, ia pun buru-buru memakainya setelah itu membalik badan menoleh ke sumber suara.
"M-mas udah lama disitu?" Tanya Zahira kikuk. Ia benar-benar malu jika Adam sampai melihat semuanya, biarpun mereka sering melakukannya tapi tetap saja Zahira seorang perempuan yang mempunyai rasa malu.
Adam mengangguk lalu beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya dan berhenti tapat di depan sang istri. Ia belai wajah ayu itu dengan gerakan lembut. Mata Adam seperti menahan sesuatu yang tidak bisa tersalurkan, nafasnya juga tak beraturan.
__ADS_1
"M-mas.." Zahira gugup, tidak berani memandang gelora di wajah suaminya sehingga ia memejamkan kedua matanya. Hatinya pun berdebar-debar tak karuan apa mungkin suaminya ini akan meminta dirinya. Tapi ini tidak boleh terjadi dulu sesuai anjuran dari dokter.
Adam tersenyum simpul, ia tahu pasti istrinya ini merasa takut. Ia pandangi sejenak wajah manis itu sebelum mem-agut bibir sang istri. Zahira membuka kelopak matanya saat sesuatu yang lembut sudah mengobrak-abrik bibirnya.
Zahira berusaha menghentikan supaya tidak sampai kebablasan.
"Mas sudah.." Ucap Zahira sembari menjauhkan kepalanya. Sisa *aliva Adam menempel, laki-laki itu langsung menghapus dengan ibu jari.
"Mas, mandi sana nanti kamu telat kerjanya." Ucap Zahira dengan nafas yang belum stabil.
"Sebentar, masih jam tujuh kurang juga." Jawab Adam. Oh, sepertinya laki-laki tampan itu belum puas.
***
Andi sudah datang ke rumah Adam, ia sengaja datang lebih awal untuk menumpang sarapan di sana.
"Sarapan apa hari ini Bu?" Tanya Andi membuat Ibu tersenyum.
"Tadi Zahira masak ayam goreng tepung sama sayur sop." Jawab Ibu menyajikan sarapan di meja makan.
"Wih.. mantap nih." Ujar Andi. Tidak sia-sia ia numpang sarapan di rumah sahabatnya.
"Kamu duduk saja, Ibu mau manggil Ayah dulu." Ucap Ibu kemudian berlalu meninggalkan pemuda itu.
Andi mengangguk lalu duduk seorang diri di meja makan menanti yang punya rumah untuk sarapan bersama. Lima menit kemudian Ayah dan Ibu sudah duduk di meja makan.
"Mana Adam dan Zahira Bu?" Tanya Andi karena belum mendapati sepasang suami istri itu.
"Biasa, masih di kamar." Jawab Ibu sambil mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Ayah.
"Kamu ambil sendiri ya Nak." Kata Ibu kepada Andi.
"Iya Bu." Jawab Andi lalu meraih piring dan mengambil nasi serta lauk pauknya. Mereka pun makan tanpa menunggu dua sejoli yang masih asyik berada di kamar.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1