Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Panggil sayang


__ADS_3

Tiga puluh menit berkendara akhirnya Adam sudah sampai di tempat kerjanya dan memarkirkan sepeda motornya di parkiran kantor, dia pun berjalan masuk menuju ke ruang kerja. Di sana Andi sudah tiba beberapa menit yang lalu.


"Wih.. pengantin baru sudah mulai masuk kerja lagi rupanya." Goda Andi saat Adam sudah duduk di kursinya.


"Iya, karena masa cutiku sudah selesai." Jawab Adam lalu menyalakan komputernya yang sudah lima hari ia tinggalkan.


"Gimana malam pertamanya lancar nggak?" Tanya Andi dengan menaik turunkan alisnya.


"Tentu saja." Jawab Adam singkat.


"Wah... tidak lama lagi akan ada Adam junior nih?" Kekeh Andi.


Adam tersenyum simpul sambil meng-aminkan ucapan Andi dalam hati.


"Dam.. kemarin Haikal datang ke rumahku dia juga berkata nanti malam dia mengajak kita untuk berkumpul di cafe tempat kita nongkrong dulu." Ucap Andi setelah ingat jika Haikal memintanya untuk mengabari Adam kalau mereka bertiga akan bertemu.


Setelah pulang dari rumah Zahira malamnya Haikal berkunjung ke rumah Andi sang kawan lama yang tidak pernah ia beri kabar. Andi sangat senang ternyata Haikal tidak lupa dengan dirinya mereka pun mengobrol cukup lama membahas tentang kegiatan apa saja yang di lakukan Haikal selama di pulau Sumatra itu. Ternyata di sana keluarga Haikal mendirikan sebuah restoran yang cukup terkenal dan sangat ramai pengunjung yang datang. Haikal sendiri juga membantu Ayahnya dalam mengelola restoran tersebut makanya kenapa mereka sama sekali tidak pernah kembali ke kampung halamannya.


"Jam berapa?" Tanya Adam mulai dengan ketikannya di layar komputer.


Begitulah Adam yang akan bertanya hanya seperlunya saja.


"Jam tujuh, kamu jangan sampai tidak datang." Jawab Andi lalu dia kembali fokus dengan pekerjaannya.


Adam mengangguk. "Pasti aku akan datang." Ucapnya.


Mereka berdua pun sudah tidak mengobrol lagi fokus dengan pekerjaan masing-masing. Apalagi Adam yang sudah libur karena pernikahannya kemarin.


***


Sedang di tempat lain di sebuah Swalayan. Dini dan Eko juga mulai bekerja dengan menata barang-barang yang akan di pajang di rak.


"Sepi ya Din semenjak Zahira sudah keluar dari tempat ini." Keluh Eko sembari menyusun merk sabun yang berbeda-beda.


"Iya, kamu benar Ko, aku juga sudah mulai kangen dengan Zahira. Pasti saat ini dia sedang menemani Ibu mertuanya di rumah." Jawab Dini menimpali ucapan Eko.


"Bagaimana kalau hari Minggu kita main ke rumahnya Kak Adam." Usul Eko dengan melihat Dini.


"Boleh juga tapi kita beritahu dulu kalau kita mau main ke rumahnya." Ucap Dini memberi saran.


"Iya, nanti kamu saja yang kirim pesan padanya." Jawab Eko menyetujui.


"Oke." Angguk Dini. "aku masih tidak menyangka jika Zahira bisa mendapatkan suami seperti Kak Adam yang sangat tampan itu." Puji Dini dengan senyum-senyum sendiri.


Eko geleng-geleng kepala dengan gadis di sebelahnya ini jika membahas laki-laki tampan maka dia akan semangat sekali karena secara garis keras Dini termasuk pengagum laki-laki tampan. Tapi sayang sampai saat ini Dini masih berstatus jomblo dia sama seperti Zahira yang belum pernah pacaran sama sekali.

__ADS_1


"Aku juga tidak kalah tampan loh Din? Ya.. meskipun aku tidak sekaya Kak Adam." Sahut Eko masih berupaya untuk mendapatkan hati seorang Dini gadis yang juga memakai hijab ini.


"Mulai lagi deh." Dini memutar kedua bola matanya malas, jengah dengan Eko yang tidak pernah berhenti untuk mendapatkan hatinya.


"Aku sungguh-sungguh loh Din, selama ini aku memang sudah jatuh hati sama kamu. Apa kamu tidak pernah merasakan nya?" Eko mulai serius dan menghadapkan badannya pada Dini.


Dini yang melihat kesungguhan Eko padanya dibuat menjadi bimbang. Apa iya dia harus menerima Eko atau tidak karena jujur Dini masih belum bisa memastikan hatinya pada Eko.


Dini mengangguk. "Tapi Maaf aku belum bisa menjawabnya." Jawab Dini pelan.


"Maksudnya?" Eko belum paham dengan yang Dini ucapkan.


Dini menghela nafas kesal. "Maksudnya itu.. aku akan mempertimbangkan tentang perasaan kamu, tapi aku butuh waktu untuk menjawabnya." Jelas Dini.


"Yang benar.. oke aku akan menunggu jawaban kamu itu." Jawab Eko antusias dengan senyum lebarnya.


"Kalian ini bukannya kerja malah bercakap-cakap." Sahut rekan kerja yang kebetulan melintas di belakang mereka seraya geleng-geleng kepala.


"Hehe.. iya sorry-sorry." Jawab Eko cengengesan sedangkan Dini hanya tersenyum saja merasa tidak enak pada rekan yang lainnya.


***


Zahira yang sedang rebahan di kamar pun teringat jika dia belum membuka ponselnya sejak semalam dan juga penasaran dengan isi pesan dari Haikal. Dia langsung membuka aplikasi berwarna hijau di mana sebuah chat masuk dari Haikal.


Zahira tersenyum jika mengingat sang suami yang cemburu hanya gara-gara sebuah chat saja. Zahira langsung menyimpan nomor kontak tersebut dan juga membalas dengan sebuah jempol jika ia sudah menyimpan nomor kontaknya.


"Kira-kira Mas Adam sudah makan siang belum ya?" Gumam Zahira melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul setengah satu.


"Aku telpon aja deh." Ucapnya lagi sambil duduk.


Tut.. Tut.. Tut..


"Hallo Assalamu'alaikum Mas?" Sapa Zahira terlebih dahulu setelah telpon tersambung.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Adam di sana.


"Sudah makan siang belum?" Tanya Zahira penuh perhatian pada suaminya.


"Belum, Mas baru selesai sholat Dzuhur ini dan baru mau ke kantin untuk pesan makanan." Jawab Adam dengan berjalan ke kantin setelah dari musholla di halaman kantor.


"Makannya harus yang sehat lho jangan yang aneh-aneh." Nasehat Zahira.


"Iya Sayang." Jawab Adam lembut.


"Haha.. Mas kok aku geli ya kamu panggil aku sayang." Zahira tertawa dengan panggilan itu karena menurutnya terasa lucu.

__ADS_1


Adam juga tersenyum tipis saat mendengar suara tawa dari istrinya.


"Sengaja biar romantis apa kamu tidak suka." Sahut Adam seraya mendudukkan dirinya di kursi.


"Suka dong.. tapi belum terbiasa aja sih dengan sebutan begitu." Jawab Zahira jujur.


"Jika kamu tidak mau Mas panggil dengan sebutan sayang, lalu kamu mau di panggil apa?" Tanya Adam.


"Eh.. maulah di panggil sayang." Jawab Zahira cepat.


"Kamu tuh ya.." Kata Adam geleng-geleng kepala.


"Kamu saat ini sedang apa?" Tanya Adam dengan lembut.


"Lagi rebahan aja Mas di kamar." Jawab Zahira.


"Sudah sholat Dzuhur?" Tanya Adam lagi.


"Sudah kok Mas.." Jawab Zahira tersenyum.


"Ya sudah, Mas mau pesan makan ini. Kamu jangan sampai lupa untuk makan siang juga, Assalamu'alaikum.." Ucap Adam mengakhiri sambungan nya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira dan sambungan pun berakhir.


Zahira pun keluar kamar untuk mengambilkan makan siang buat sang Ibu mertua tercinta yang saat ini sedang beristirahat di kamar juga memberikan beberapa obat untuk di minum sehabis makan.


"Terima kasih Nak." Ucap Ibu Adam setelah selesai makan dan minum obat.


"Sama-sama Bu.." Jawab Zahira seraya meletakkan bungkus obat di meja samping ranjang.


"Kamu sudah makan siang Nak?" Tanya Ibu.


"Zahira belum lapar kok Bu.." Jawabnya sambil memijat kaki sang Ibu.


"Kamu jangan sampai telat makan ya."


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa dukung karya Author dengan cara memberi like, vote dan hadiah ya... 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2