Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Bagaimana kalau belum?


__ADS_3

Pagi harinya sebelum Adam berangkat bekerja Zahira meminta uang kepada suaminya itu terlebih dahulu. Zahira ingin pergi jalan-jalan dengan sang sahabat yaitu Risma. Zahira merasa bosan jika harus di rumah terus-terusan, jadi dia berinisiatif untuk mengajak sang sahabat pergi keluar, tentunya harus dengan izin dari sang suami masing-masing.


"Mas minta uangnya dong." Ucap Zahira dengan menampilkan senyuman manisnya sambil menadahkan tangan kanannya pada laki-laki tampan itu.


Adam yang sedang menyisir rambut di depan kaca meja rias seketika menoleh pada sang istri yang sedang berdiri di sampingnya.


"Minta uang lagi buat apa? Kemarin kamu kan udah Mas kasih uang?" Tanya Adam lalu meletakkan sisirnya.


"Hehe.. masih kurang Mas uangnya. Hari ini aku mau ngajak Risma jalan-jalan sama anaknya juga." Jawab Zahira cengengesan.


"Boleh ya.." Bujuk Zahira menampilkan wajah imutnya agar diberi izin keluar.


Adam geleng-geleng kepala, baru kemarin ia memberi uang bulanan pada istrinya ini, sekarang sudah minta lagi. Tapi Adam juga tidak bisa menolak keinginan sang istri. Adam membuka dompetnya lalu mengambil lima lembar uang berwarna merah dan diserahkan kepada Zahira.


"Ini, Mas kasih segini." Ucap Adam lalu memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku celana.


Mata Zahira langsung berbinar melihat Adam memberinya uang yang baginya sangat banyak. Dan dengan senang hati Zahira langsung menerimanya.


"Ah, terima kasih suamiku sayang.." Ucap Zahira dengan senyum mekarnya lalu memeluk tubuh Adam. Tak lupa mencium pipi Adam juga.


Adam tidak tinggal diam, melihat istrinya yang sangat bahagia membuatnya mengulum bibir itu hingga merasa puas.


"Tapi ini tidak gratis, harus ada imbalannya." Ucap Adam setelah ciuman itu ia akhiri.


Kening Zahira mengkerut. "Imbalan apa memangnya?" Tanya Zahira penasaran.


"Mendekat lah." Perintah Adam. Zahira pun mendekat untuk lebih dekat lagi.


Kemudian Adam berbisik di telinga sang istri dan tanpa protes atau apapun itu Zahira langsung menyanggupi permintaannya Adam.


"Ok, gampang kalau soal itu." Jawab Zahira enteng dengan mengacungkan jari jempolnya.


Adam tersenyum menang. "Good, sekarang ayo keluar." Ajaknya.


Mereka pun keluar dari kamar dengan tangan saling bertautan. Adam berpamitan pada Zahira untuk berangkat ke kantor dan menyuruh hati-hati pada istrinya itu saat keluar nanti.


"Kalau sudah selesai langsung pulang ya. Ingat kamu sudah punya suami. Nyetir motornya juga nggak usah ngebut-ngebut." Pesan Adam pada Zahira.

__ADS_1


Zahira mengangguk pasti. "Iya Masku, perginya juga nggak lama kok paling cuma dua jam. Makasih ya udah memberiku izin keluar jalan-jalan sama Risma." Jawab Zahira dengan senangnya.


"Apapun itu jika membuatmu senang maka Mas akan selalu menurutinya sayang." Balas Adam tersenyum lembut.


"Baiklah Mas berangkat kerja dulu." Adam mengulurkan tangannya. Zahira meraihnya lalu mengecupnya lembut.


"Assalamu'alaikum." Pamitnya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira melihat kepergian Adam.


***


Pukul 10:00 Zahira mengajak Risma pergi ke sebuah cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat bekerjanya dulu. Kini mereka mencari tempat duduk yang berada di pojok sebelah kanan menghadap langsung ke arah jalan raya. Mereka hanya jalan berdua saja karena tiba-tiba si kecil Mikha diajak pergi juga oleh kakek dan neneknya.


"Kamu mau pesan apa Ris?" Tanya Zahira sambil melihat buku menunya. Sang pramusaji pun setia menunggu mereka untuk memilih makanan yang mereka pesan.


"Emm.. apa ya.." Risma masih menentukan pilihannya.


"Jus mangga aja deh sama ayam bakar." Sambung Risma kemudian.


"Aku juga deh sama kayak kamu." Sahut Zahira lalu menutup buku menunya.


Perempuan itu pun mencatat pesanan Zahira. "Baiklah, mohon di tunggu sebentar ya Mbak." Jawabnya ramah lalu pergi meninggalkan meja Zahira.


"Akhirnya.. kita bisa Me time lagi ya Ra." Ucap Risma senang. Setelah sekian lama sudah tidak bisa pergi jalan-jalan dengan Zahira lagi karena kesibukannya sebagai seorang ibu dan istri.


"Iya aku juga sama, senang sekali rasanya." Sambut Zahira tersenyum lebar.


"Apalagi tidak ada Mikha jadi kita bisa sepuasnya ngobrol di sini tanpa ada yang ganggu." Seloroh Risma.


"Betul banget, tapi ngomong-ngomong tumben Mikha nggak mau ikut?" Tanya Zahira heran.


"Lagi pergi sama mertuaku menemui saudaranya, jadinya Mikha langsung mau saja karena di sana juga banyak temannya." Jawab Risma.


Zahira mengangguk dan tidak lama pesanan mereka pun sudah datang.


"Terima kasih." Kata Zahira dan di balas oleh anggukan senyum dari pramusaji tersebut.

__ADS_1


"Ra.. kamu sudah dapat undangan dari Bowo belum?" Tanya Risma di sela-sela menyantap makanannya.


Zahira mengangguk. "Udah. aku pergi sama Mas Adam pas hari resepsinya." Jelas Zahira.


"Sama aku juga bakal ngajak suamiku. Eh.. dari yang aku dengar, Bowo juga ngundang semua teman sekelas kita lho. Jadi nanti kita bisa reunian kecil-kecilan deh." Terang Risma.


"Wah, asyik tuh.. udah lama juga kita tidak mengadakan reuni lagi setelah dua tahun lalu. Ya karena kesibukan diri masing-masing." Jawab Zahira senang.


"Iya, terus nanti kamu bakal ketemu sama pemuja setia kamu waktu di SMA dulu itu." Canda Risma di sertai kekehan kecil.


"Ish, jangan ngomong gitu deh. Jadi merinding aku jika ingat-ingat dia lagi." Sahut Zahira bergidik tidak suka.


"Haha..." Risma masih dengan tawanya melihat Zahira yang kesal.


"Kira-kira dia sudah menikah apa belum ya?" Tanya Risma menerka-nerka.


Zahira mengangkat bahunya. "Ya mana aku tahu? Kalo kamu memang sangat penasaran. Nanti kamu bisa tanyakan langsung pada orangnya, tapi kalo dia datang ya." Balas Zahira cuek. Kembali menyantap makanannya.


"Ah.. ide bagus itu. Sebuah kejutan nantinya jika dia datang. Terus-terus saat dia melihatmu bagaimana reaksinya ya?" Goda Risma cekikikan.


"Nggak sabar aku nunggu hari itu." Risma masih saja berceloteh tidak jelas.


Zahira mencubit tangan Risma. "Aww.. sakit Ra!!" Risma meringis karena cubitan keras Zahira.


Dulu saat Zahira duduk di bangku SMA, Zahira pernah di sukai oleh seorang laki-laki yang lumayan tampan waktu itu. Dan secara kebetulan mereka selalu menjadi teman sekelas selama dua tahun mulai dari kelas dua sampai kelas tiga. Setiap istirahat tiba laki-laki itu akan selalu menempeli Zahira, kemana pun Zahira dan Risma pergi. Seperti makan di kantin, pergi ke perpus dan duduk-duduk di bangku taman bahkan saat jam pelajaran olahraga dia juga selalu membelikan air minum agar Zahira tidak kehausan.


Zahira sebenarnya merasa risih, bagaimana tidak gara-gara laki-laki itu Zahira selalu di ledekin teman-teman lainnya. Katanya Zahira berasa punya seorang bodyguard yang selalu setia menemaninya selama di area sekolah. Dengan sigapnya dia juga selalu membelikan makanan favorit Zahira yaitu bakso atau jajanan lainnya.


"Huh, jika dia datang. Aku berdo'a semoga dia datang bersama pasangannya." Ucap Zahira sambil mengaduk-aduk minumannya.


"Tapi, bagaimana kalau belum?" Tanya Risma dengan senyum jailnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2