
Keluarga Andi sudah tiba di rumah Mila tak lupa juga Adam dan Zahira juga turut serta. Mereka semua disambut ramah oleh keluarga besar Mila. Lamaran juga dilakukan dengan cara sederhana sesuai dengan tradisi di kampung mereka. Tak lupa keluarga Mila juga mengundang beberapa tokoh masyarakat untuk menyaksikan acara yang berlangsung. Seperti Kepala Dusun, RT yang ada di gang rumah Mila, seorang ustadz yang nanti akan memimpin do'a juga beberapa tetangga dekat juga diundang oleh kedua orang tua Mila.
Bibir Andi tak henti-hentinya menampilkan sebuah senyuman dikala Mila telah keluar dari kamarnya untuk bergabung dengan mereka semua. Mila pun duduk di apit oleh kedua orang tuanya berhadapan dengan Andi sang calon suami.
"Duh, Dek.. ingin rasanya aku memelukmu sekarang juga. Kenapa kamu cantik sekali sih." Batin Andi.
Mila menundukkan kepalanya begitu Andi terus saja menatap dirinya. Hingga Adam menyenggol lengan Andi, menyadarkan sahabatnya itu yang terbuai dengan kecantikan Mila.
"Apa sih Dam?" Bisik Andi kepada Adam.
"Jangan menatap Mila terus, sebentar lagi acaranya di mulai." Balas Adam berbisik juga.
Andi pun menegakkan badannya saat seorang Ustadz mengawali acara dengan sebuah do'a. Baru setelahnya Ayah Andi menyampaikan niat kedatangan mereka.
"Pertama-tama saya minta maaf jika kedatangan kami ini sudah merepotakan kalian dengan menyuguhkan beberapa cemilan sebanyak ini." Ayah Andi ingin membuat suasana menjadi santai agar tidak terlalu tegang.
Di karpet yang mereka duduki sudah terhidang berbagai jenis makanan. Ada buah-buahan, beberapa macam kue kering dan juga kue basah dan tak ketinggalan dengan minumannya juga.
Kedua orangtua Mila tersenyum mendengar ucapan Ayah Andi.
"Masa ada tamu yang hadir harus kita anggurin begitu saja. Kesannya nanti seperti tidak sopan." Balas Ayah Mila sambil terkekeh.
"Haha.. tapi jika tidak disuguhi makanan, nanti kita semua yang ada di sini bakal kelaparan." Canda Ayah Andi yang mana membuat semua orang tertawa.
"Baiklah, langsung saja ya. Tidak perlu lama-lama basa-basinya. Saya kemari ingin menyampaikan niat baik saya yaitu melamar putri sampeyan yang bernama Urmila Sari untuk putra tampan saya yang bernama Andi Saifuddin." Kata Ayah Andi sambil menatap calon menantunya.
"Saya selaku orang tua Mila tidak bisa memberi jawaban yang pasti, karena di sini yang berhak menjawab adalah putri kami sendiri." Jawab Ayah Mila.
Semua orang pun memandang ke arah Mila.
"Bagaimana Nak, apa kamu bersedia menjadi menantu kami?" Tanya Ibu Andi begitu lembut.
"Saya terima lamaran dari Kak Andi." Jawab Mila sambil mengangguk.
"Alhamdulillah.." Jawab semua orang.
"Ayo Nak, sekarang pasangkan cincin ini di jari calon istrimu." Perintah Ibu Andi kepada Anaknya.
Andi dan Mila sama-sama berdiri lalu Andi menyematkan cincin emas di jari manis Mila. Semua orang bertepuk tangan.
"Baiklah, jadi kita tinggal menentukan tanggal pernikahan mereka ya." Ujar Ayah Mila.
__ADS_1
"Untuk lebih baiknya bagaimana kalau kita bertanya kepada Ustadz Amir saja kapan hari baik bagi pernikahan mereka." Usul Ayah Andi.
Ya, meskipun semua hari adalah hari baik tapi tidak ada salahnya jika meminta pendapat dari seorang ustadz untuk mencarikan hari yang lebih baik.
"Kalau bisa secepatnya ya Ustadz, kurang dari 4 bulan." Sahut Andi seperti orang yang sudah tidak sabar.
Membuat Ayah dan ibunya geleng-geleng kepala. Tidak ditanya malah ikut nimbrung.
"Kamu tuh Nak, langsung nyahut saja." Protes Ibu Andi.
"Nggak apa-apa, ya kan Pak Ustadz?" Seloroh Andi.
Ustadz Amir tersenyum lalu mengangguk.
"Benar kata Nak Andi. Lebih cepat lebih baik." Timpal Ustadz Amir membenarkan perkataan Andi.
Andi tersenyum bangga sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Mila. Mila nampak tertawa kecil dengan tingkah calon suaminya ini. Begitu tidak sabarnya untuk menikah dengannya.
Kini Ayah Andi dan Ayah Mila merundingkan tanggal pernikahan anak-anak mereka bersama Ustadz Amir sambil melihat kalender yang baru diambil oleh Ibu Mila di dinding ruangan itu. Mereka sudah menemukan tanggal yang pas untuk acara pernikahan anak mereka yang jatuh pada tanggal 5, di tiga bulan kemudian setelah bulan ini.
Andi langsung setuju setelah diberitahu tanggalnya. Kini semua tamu yang hadir menikmati hidangan yang sudah tersedia tak lupa juga jamuan makan siangnya berupa Tahu campur.
Andi mengajak Mila untuk ngobrol di luar bersama Adam dan Zahira setelah mereka selesai makan.
"Yang sederhana aja Kak, tidak perlu berlebihan konsepnya." Jawab Mila.
"Memangnya kamu mau nyewa gedung, pake tanya konsep segala." Sahut Adam sambil geleng-geleng kepala.
"Haha.. bukan gitu Dam maksudku. Ya kali aku mampu sewa gedung." Jawab Andi terkekeh.
Di acara pernikahan nanti saja sudah menguras tabungannya. Bagaimana kalau sewa gedung, bisa-bisa tekor dianya. Andi juga termasuk anak yang mandiri tidak pernah menyusahkan kedua orang tuanya, meski dia anak tunggal sama seperti Adam.
"Terus konsep apa yang Kak Andi inginkan?" Tanya Zahira yang begitu penasaran dengan konsep yang Andi maksud.
"Nanti akadnya itu mau dimana? Di masjid atau di rumah. Dan juga mengenai baju pengantin yang bakal kita pakai nanti itu pakai baju adat atau baju princess." Jelas Andi.
"Oh.." Zahira dan Adam manggut-manggut.
"Akad nikahnya di rumah aja Kak dan kalau urusan baju pengantinnya pakai baju adat ya." Ucap Mila.
Andi pun mengangguk menyetujui. "Ok, terserah kamu saja Dek, jadi mulai besok kita harus mencari dekor pernikahan sesuai keinginan kamu beserta penata riasnya." Ujar Andi.
__ADS_1
"Iya Kak." Jawab Mila sambil memandang Andi.
"Bukannya besok kalian harus kerja ya?" Heran Zahira.
"Sepulang kerja lah Ra." Jawab Andi singkat.
"Kirain besok kalian cuti kerja gitu." Sahut Zahira.
"Enggak Mbak." Jawab Mila tersenyum.
"Mas, pulang yuk. Aku ngantuk mau bobok siang." Kata Zahira membuat Adam langsung mengangguk menuruti keinginan sang istri.
"Kita balik dulu Ndi." Adam menepuk bahu sahabatnya sambil berdiri.
"Iya, Dam." Balas Andi.
*
"Huh, Mas.. panas banget cuacanya." Keluh Zahira merasa capek sekali badannya padahal yang ia lakukan hanya duduk manis saja.
Adam menghapus buliran keringat di dahi Zahira dengan tissue.
"Bentar, Mas ambil minuman dulu." Adam berjalan ke dapur membuat jus jeruk untuk Zahira.
Tak lama Adam sudah kembali namun yang ia lihat sang istri sudah tertidur di sofa panjang dengan TV yang menyala. Padahal hanya tujuh menit ia berada di dapur untuk membuat minuman segar. Laki-laki tampan itu meletakkan minumannya di atas meja dan mematikan televisi.
"Kasihan sekali istri Mas, sampe ketiduran gini." Gumamnya lalu mengangkat tubuh Zahira dengan hati-hati dan membawanya ke dalam kamar.
Di baringkan ibu hamil itu di ranjang empuknya lalu melepas kerudung yang Zahira pakai. Adam menyalakan AC dan mengatur suhunya. Setelah berganti pakaian dan membasuh muka di kamar mandi, Adam turut menemani Zahira tidur meski tidak sampai memejamkan mata.
Tok.. tok.. tok..
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Adam.. Zahira.. ini Ibu Nak." Panggil sang ibu.
Seketika Adam menjauhkan dirinya dari tubuh Zahira begitu mendengar suara ibu memanggil.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...