
Siang harinya di rumah Adam sudah ramai dengan hadirnya para sahabat-sahabat yang ingin kumpul bersama-sama. Siapa lagi jika bukan ada Risma dan si kecil Mikha lalu Dini, Mila, Eko dan Andi. Tidak ketinggalan Akmal juga datang setelah di telpon oleh sang kakak ipar.
Kini para perempuan berada di teras samping sambil menggelar tikar.
"Din, kamu kupas buahnya ya. Aku mau buat bumbunya dulu." Ucap Zahira kepada Dini sambil mengulek bumbu kacangnya.
"Oke Ra." Jawab Dini. Dini pun mengupas beberapa buah-buahan yang akan di jadikan rujak dengan dibantu Mila.
Sementara Risma dia hanya jadi penonton saja, karena harus mengawasi anaknya yang berlarian kesana kemari mengejar bola yang ia bawa dari rumah.
"Jika kita ngumpul seperti ini, seru juga ya." Ucap Risma kepada semuanya.
"Iya, Ris.. kapan-kapan kita agendakan acara kumpul kayak gini lagi." Usul Dini seraya tersenyum.
"Tapi hari Minggu aja ya Mbak-mbak, aku sekarang dapat libur kerja hanya di hari itu." Timpal Mila seraya mengiris buah menjadi bagian kecil-kecil.
"Sama Mil, aku juga libur kerja hanya di hari Minggu." Ujar Dini kepada Mila.
"Kalau aku sih hari apa aja bisa, ya nggak Ris." Ujar Zahira kepada Risma.
Risma pun tersenyum. "Iya lah Ra, kita ini kan sama-sama pengangguran jadi hari apapun selalu siap." Jawab Risma.
"Kalian memang pengangguran, tapi dapat uang juga tiap bulannya." Sahut Dini tersenyum.
"Haha.. itulah enaknya kami." Canda Zahira di sertai tawa kecil.
Bumbu kacangnya pun sudah siap. Zahira memanggil para lelaki yang berada di ruang tamu untuk keluar menikmati rujak buah yang sudah jadi ini.
"Pedes amat bumbunya. Ini siapa yang buat?" Tanya Eko.
"Zahira yang ngulek bumbunya." Jawab Dini sambil mencocol buah mangga ke bumbu kacangnya.
"Enggak ah, menurutku ini nggak terlalu pedes." Sanggah Zahira yang begitu asyik makan rujak buah yang ia buat itu.
"Ini termasuk pedas Yank." Sahut Adam. Hanya makan sedikit tidak berani banyak-banyak.
"Mama, adek mau buah itu.." Mikha menunjuk buah anggur di depan Akmal.
"Nih, Kakak ambilin." Kata Akmal sambil mengulurkan anggur kepada batita kecil itu.
Dengan gembiranya Mikha pun menerimanya lalu ia makan sambil bersandar di tubuh sang Mama.
"Jangan makan banyak-banyak Ra, kasihan anak kamu di dalam. Ini pedes banget." Ucap Risma mengingatkan Zahira.
"Tidak kok." Jawab Zahira.
"Oya, sekarang udah berapa bulan Ra kehamilan kamu?" Tanya Eko kepada Zahira.
"Udah berjalan tiga bulan lebih Ko. Kamu sih jarang sekali main ke sini sama Dini." Jawab Zahira seraya mengelus perutnya yang sudah terasa menonjol.
"Maaf banget Ra, kami sama-sama sibuk." Jawab Dini.
__ADS_1
"Yang betul itu kami sibuk pacaran Ra." Sambung Eko dengan kekehan sementara Dini memutar malas kedua matanya.
Membuat Zahira geleng-geleng kepala.
"Dek, buka mulut kamu." Andi ingin menyuapi Mila dengan anggur merah.
Mila menggeleng. "Enggak ah Kak, malu sama yang lainnya." Ucap Mila sambil menutup mulutnya.
Semuanya tersenyum memandang Mila yang menolak disuapi Andi.
"Malu sama siapa sih, udah biarin aja mereka. Ayo buka mulut kamu." Desak Andi.
Dert.. dert..
Ponsel Adam bergetar di atas tikar.
"Mas ponsel kamu bunyi tuh." Ujar Zahira.
"Biarin aja Yank, nomernya juga Mas nggak kenal. Palingan salah sambung." Jawab Adam.
Dert.. dert.. dert.. ponsel Adam berbunyi lagi.
"Angkat aja Mas, siapa tahu penting." Desak Zahira.
Adam pun mengangkatnya.
"Hallo."
"Hallo Adam, ini aku Citra." Suara di seberang sana yang nampak gelisah.
"Ya, lalu?" Tanya Adam dengan suara dingin sambil melirik sekilas ke arah sang istri.
"Dam, tolongin aku.. ibuku sekarang pingsan di rumah." Jawab Citra begitu panik.
Adam berdiri dan menjauh dari mereka.
"Kenapa Mas Adam pake menjauh segala. Siapa sih yang nelpon." Batin Zahira melihat Adam menjauh dari kerumunan para sahabat.
"Ayahmu ke mana?" Tanya Adam lagi.
"Ayahku lagi keluar kota. Dam.. tolongin aku." Suara Citra memelas.
"Sorry aku sibuk, kamu kan bisa minta bantuan orang lain." Ucap Adam menolak.
"Nggak ada yang bisa aku mintai tolong Dam..." Jawab Citra dengan isak tangis sekarang.
Adam ragu mau menolong atau tidak. Di satu sisi ia takut kepada Zahira. Di sisi lain ia juga tidak tega kepada Citra.
"Dam.. kamu dengar suara aku kan?" Citra memecah lamuanan Adam.
"Ya, aku dengar." Jawab Adam kemudian.
__ADS_1
Zahira semakin penasaran. Dia terus mengawasi Adam yang begitu lama ngobrol di telpon dengan nomor asing itu.
"Ku mohon bantu aku Dam.. aku takut ibuku kenapa-kenapa." Suara Citra yang panik lagi.
Adam menghela napasnya sesaat.
"Oke-oke sekarang kamu tenang. Aku akan ke sana membantu kamu. Kamu kirimkan saja alamat rumah kamu." Jawab Adam pada akhirnya mau menolong Citra.
"Iya, aku tunggu kamu Dam." Ujar Citra.
Sambungan pun berakhir.
Adam bergegas masuk ke dalam untuk mengambil dompet dan kunci mobilnya. Setelah itu ia buru-buru ke garasi untuk mengeluarkan mobilnya. Zahira pun menyusul Adam ke garasi.
"Mas, kamu mau ke mana?" Tanya Zahira sambil menarik tangan Adam yang hendak masuk ke mobil.
"Mas harus pergi dulu ya Yank. Ada teman Mas yang minta tolong." Jawab Adam sambil melepaskan tangan Zahira.
"Teman yang mana?" Tanya Zahira lagi.
"Teman kantor Sayang, udah ya Mas harus pergi sekarang. Kasihan dia pasti sekarang udah nunggu Mas." Jawab Adam lalu masuk ke mobil dan meninggalkan Zahira.
"Teman kantor, tapi kenapa Mas Adam begitu cemas." Gumam Zahira. Zahira pun kembali berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.
"Adam mau ke mana itu Ra?" Tanya Andi.
Zahira mengendikkan kedua bahunya. "Aku juga nggak tahu Kak." Jawab Zahira.
"Aneh kamu. Kamu kan tadi nyusul Adam, masa tidak tanya ke mana perginya." Ujar Andi geleng-geleng kepala.
"Mas Adam tidak menjawab mau pergi kemana, dia hanya bilang mau menolong teman kantornya yang minta bantuannya." Jawab Zahira.
"Teman kantor?" Ulang Andi.
"Iya." Angguk Zahira lalu minum jus buahnya.
Andi turut penasaran dengan teman kantor yang minta bantuan Adam. Kenapa Adam keluar sendiri dan tidak mengajaknya. Karena saking penasarannya Andi pun menghubungi Adam. Namun nihil Adam tidak menjawab panggilannya bahkan sampai beberapa kali dihubungi.
Andi kesal sendiri jadinya. Ia mencoba untuk menelpon rekannya yang lain dan bertanya ada urusan apa sampai minta tolong bantuan Adam segala. Tapi yang lain malah menjawab tidak tahu dan tidak merasa menghubungi Adam.
Andi berganti menelpon Roni dan Roni menjawab pasti Adam sekarang membantu Citra membawa ibunya ke rumah sakit. Tadi Citra juga meminta bantuannya tapi Roni tidak bisa karena lagi ada urusan sehingga memberikan nomor ponsel Adam kepada gadis itu.
Andi menghela napas. "Nekad bener kamu Dam, nolongin keong racun segala. Bagaimana kalau Zahira sampai tahu?" Andi memijit keningnya.
"Kenapa Kak?" Tanya Zahira kepada Andi.
"Oh, tidak apa-apa kok Ra." Jawab Andi.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...