Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Jadi nyamuk


__ADS_3

Pagi ini Adam bangun dengan wajah sumringah. Bagaimana tidak setelah hampir satu minggu lamanya harus berpuasa untuk tidak menyentuh sang istri akibat tamu bulanan yang menghampiri Zahira. Kini Adam sudah bisa merasakan kembali nikmatnya surga dunia itu.


Adam berjalan ke depan sambil bersiul-siul untuk melakukan olahraga pagi. Sedangkan Zahira tengah memasak di dapur. Zahira juga membuatkan Adam secangkir kopi, minuman favorit sang suami di setiap harinya.


"Mas.. kopi sama air putihnya aku taruh di meja ya!" Teriak Zahira saat Adam berlari kecil mengelilingi halaman rumahnya. Seketika Adam berhenti sejenak mendengar teriakan dari istrinya itu. Kemudian mengangguk tanda kalau ia sudah tahu lalu melanjutkan kembali larinya.


Zahira juga kembali melanjutkan masaknya yaitu menggoreng ikan, namun saat akan memasukkan ikan ke dalam wajan tiba-tiba kompornya mati.


"Yah.. gasnya habis lagi. Emak masih punya elpiji yang lain nggak ya?" Gumamnya lalu mematikan kompor dan melepas selang kabulator di tabung.


"Syukurlah, Emak masih ada persediaan elpiji yang masih utuh." Ucap Zahira lega setelah menenteng tabung gas satunya lagi yang ternyata masih berat.


Zahira pun berjalan ke depan memanggil suaminya. Berniat meminta bantuan Adam untuk memasang tabung elpiji karena Zahira tidak bisa melakukannya. Karena dulu pernah ia memasang sendiri dan alhasil apinya tidak mau nyala, bahkan sudah di coba berulang-ulang.


Adam sendiri sudah selesai dengan olahraganya. Kini laki-laki tampan itu duduk, beristirahat sejenak.


"Mas." Panggil Zahira.


Adam menoleh lalu meletakkan botol air mineral di atas meja yang baru di minum. "Ada apa Yank?" Tanya Adam dengan keringat yang menempel di kaos ketatnya.


"Tolong pasangkan tabung elpiji dong, tadi aku goreng ikan tapi kompornya mati." Jawab Zahira.


"Kamu nggak bisa masang tabung sendiri?" Tanya Adam.


Zahira menggeleng. "Nggak bisa Mas, susah masangnya." Jawab Zahira.


"Ya sudah. Ayo ke dapur, Mas bantu pasang." Ajak Adam, Zahira berjalan di belakangnya.


Adam mengganti tabung kosong dengan yang baru. Lalu mulai menyalakan kompornya, apa sudah menyala apinya atau tidak. Dan dalam satu percobaan kompor pun menyala sempurna.


"Nih, sudah bisa kamu gunakan masak lagi. Padahal gampang masang tabungnya, masa gitu saja kamu nggak bisa." Ucap Adam.


"Iya itu kalo menurut Mas Adam, tapi bagiku susah Mas. Aku udah pernah mencobanya berkali-kali tapi tetap aja apinya nggak mau nyala." Jelas Zahira sambil memasukkan ikan setelah dirasa minyaknya sudah panas.


"Ngambek kali kompornya sama kamu?" Goda Adam.


"Haha, mana ada kompor bisa ngambek. Ada-ada aja kamu Mas." Zahira geleng-geleng kepala seraya terkekeh kecil.


Adam tersenyum melihat tawanya Zahira sudah kembali terbit.


"Akmal belum bangun ya?" Tanya Adam.

__ADS_1


"Belum Mas. Akmal itu anaknya paling malas kalau di suruh bangun pagi, apalagi pas di hari libur kayak gini." Terang Zahira, tangan kanannya membalik ikan.


"Sudah biasa Yank bagi anak seusia Akmal." Sambil menarik kursi untuk ia duduki.


"Terus Pak Dhe kamu itu sakit apa?" Zahira belum memberitahu dirinya tentang sakit yang di derita Pak Dhe nya.


"Pak Dhe sakit stroke Mas, sekarang di rawat di rumah sakit. Jadi Emak dan Bapak turut gantian menjaga Pak Dhe di sana. Karena istrinya juga nggak akan sanggup kalo harus menemani Pak Dhe sendirian." Jelas Zahira.


"Bukannya Pak Dhe kamu punya anak?"


"Pak Dhe itu nggak punya anak. Malahan dulu punya niat mau jadikan Akmal anak angkatnya. Tapi tidak di izinkan sama Emak." Ucap Zahira.


Adam hanya mengangguk tanda mengerti. "Ya sudah, kalau gitu Mas tinggal ya, mau mandi sudah lengket badan Mas." Sebelum pergi Adam mencuri ciuman singkat di pipi Zahira.


Cup..


"Iih.. dasar Mas Adam." Zahira tersenyum dengan kelakuan suaminya itu.


Masakan Zahira kini sudah matang semua, tinggal membangunkan Akmal untuk sarapan pagi bersama.


\*\*\*


"Ra, Mbak minta tolong sama kamu, Mbak titip Bagas ya." Mbak Susi menghampiri Zahira yang lagi duduk di teras seorang diri sambil bermain ponsel.


"Ini Dot nya, nanti kalau Bagas nangis kamu kasih minum ini ya." Mbak Susi meletakkan botol susu milik Bagas di atas meja.


"Iya Mbak, emangnya Mbak Susi mau ke mana? Rapi banget?" Tanya Zahira melihat penampilan Mbak Susi.


"Mbak mau ngambil Raport, nggak mungkin kan Bagas Mbak ajak, soalnya nanti ada rapatnya juga dan pastinya bakal lama. Mbak juga takut kalau nanti di sana Bagas rewel." Jelas Mbak Susi yang mau pergi mengambil Raport milik anak sulungnya yang saat ini duduk di bangku SD kelas lima.


"Oh gitu.." Jawab Zahira sambil mengangguk paham.


"Mbak tinggal ya Ra.. sudah hampir jam setengah sembilan." Pamit Mbak Susi.


"Mama pergi dulu ya sayang.. baik-baik sama onty Hira. Jangan rewel selama Mama tinggal." Sebelum pergi Mbak Susi mencium kedua pipi anaknya.


"Dada.. Mama.." Zahira melambaikan tangan mungil Bagas pada ibunya yang sudah berlalu.


Bayi itu nampak tersenyum senang saat tangannya di lambai-lambaikan Zahira. Zahira pun masuk ke dalam, tak lupa membawa botol minum Bagas.


"Akmal.." Panggil Zahira pada adiknya yang sedang bermain ponsel dengan duduk bersandar di dinding.

__ADS_1


"Ada apa Mbak? Lho, ada Bagas!" Seru Akmal, mendongak menatap bayi yang di gendong Zahira.


"Tolong kamu gelar kasur lantainya." Zahira menunjuk kasur lantai dengan dagunya.


Akmal pun menggelar kasur lantai yang terletak di sampingnya. Zahira segera menidurkan Bagas agar leluasa bermainnya.


"Mamanya ke mana Mbak, kok Mbak yang momong?" Tanya Akmal, mencium pipi Bagas sekilas.


"Mbak Susi lagi ngambil Raport." Jawab Zahira sambil mengajak bayi Bagas bercanda.


Akmal tidak bertanya lagi, remaja itu melanjutkan bermain gamenya di ponsel.


"Assalamu'alaikum." Adam mengucap salam saat masuk ke dalam.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Akmal dan Zahira bersamaan.


"Udah selesai Mas urusannya?" Tanya Zahira.


"Sudah Yank, ini anak siapa?" Tanya Adam ketika melihat Bagas yang lagi tengkurap. Ternyata Adam tidak tahu jika Bagas adalah anak Mbak Susi tetangga istrinya.


"Anak Mbak Susi Mas." Jawab Zahira sambil tersenyum.


"Gemuk sekali dia." Adam menjawil pipi tembem Bagas.


Bagas melihat Adam dengan wajah lucunya sambil mengemut jari kirinya lalu kembali tidur terlentang. Tiba-tiba Bagas merengek membuat Zahira langsung memberinya Dot agar tidak menangis.


"Haus ya sayang, minum ini dulu ya." Zahira berbicara pada Bagas. Zahira pun tidur miring dengan mengusap-usap kening Bagas agar bayi itu cepat tidur.


Adam juga menepuk-nepuk paha Bagas. Dan seketika mata mungil Bagas terpejam dengan sendirinya akibat elusan lembut itu. Adam melihat Zahira yang tiba-tiba menguap padahal hari masih pagi, masih jam sembilan tapi istrinya ini tidak bisa menahan kantuk.


"Ngantuk Yank?" Tanya Adam sambil terkekeh.


Zahira mengangguk. "Banget Mas." Jawab Zahira.


"Ya sudah tidurlah, Mas akan jaga kalian berdua." Ucap Adam yang duduk di sebelah Bagas.


Tangannya kini berpindah mengelus kepala istrinya.


"Yaelah.. berasa jadi nyamuk di sini." Keluh Akmal sambil mendengus kesal akibat melihat pemandangan di hadapannya.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2