
Siang itu, di rumah hanya ada Zahira dan Arvind saja. Sebab Ibu sedang pergi arisan di salah satu teman SMA nya. Awalnya Ibu mengajak Zahira agar ikut dengannya namun Zahira menolak takutnya Arvind bakalan rewel di sana. Ibu pun tidak bisa memaksa, akhirnya ia pergi sendiri.
~Flashback~
"Ya sudah, kalau gitu ibu pergi, kalian hati-hati di rumah ya." Pesan ibu kepada Zahira seraya mencium kening Arvind.
"Da.. da.. Uti." Arvind melambaikan tangan mungilnya, bocah tampan itu digendong Mamanya.
~Flashback off~
Arvind, bocah lucu itu begitu asyik bermain mobil-mobilan sambil memakan es krim cup dengan duduk di karpet bulu ditemani sang Mama.
"Mama, A.." Arvind menyuruh Zahira membuka mulutnya, menyuapi Mamanya es krim.
Zahira tersenyum, kemudian menerima suapan dari anak tampannya itu dengan senang hati.
"Makasih Kak." Ucap Zahira.
"Cama-cama." Balas Arvind singkat.
"Lagi dong, enak banget es krimnya. Mama ketagihan nih." Pinta Zahira.
Arvind pun menyuapi Mamanya lagi dengan tangan mungilnya hingga es krimnya habis tak tersisa.
"Mama, Alpin lapal." Mendongak memandang wajah sang Mama.
Zahira melihat jam di ponselnya yang memang sudah waktunya makan siang.
"Kita makan bakso di luar yuk, Kakak mau kan?" Ajak Zahira.
Panas-panas gini makan bakso di warung langganannya pasti segar tuh, apalagi ditemani es campur. Hmm, rasanya Zahira sudah tidak sabar untuk menikmatinya.
"Mau." Jawab Arvind sambil mengangguk. Bocah lucu itu hanya menurut saja.
"Ok, kita ke kamar dulu. Mama ingin berganti baju." Zahira sudah berdiri.
"Bental.. mainan Alpin beyum macuk tlanjang.." Takut ditinggal Zahira, Arvind segera memunguti satu persatu mainannya yang berserakan di karpet lalu ia masukkan ke dalam keranjang tanpa bantuan sang Mama.
"Cudah." Arvind berdiri kemudian menggandeng tangan sang Mama.
Sampai kamar.
"Mama, Alpin mau pipis." Ucapnya.
"Ayo ke kamar mandi, Mama juga mau basuh muka." Ujarnya.
Setelah itu, Zahira pun mengganti pakaiannya lalu memoles wajahnya biar makin cantik.
Arvind menunggu sang Mama dengan duduk di tepi ranjang sambil mengayunkan kedua kaki mungilnya. Bocah tampan itu bertopang dagu sebab Zahira begitu lama dandannya.
"Mama yama." Keluhnya.
"Iya, bentar sayang, tinggal pake kerudung aja." Jawab Zahira sembari melihat Arvind di balik kaca riasnya yang saat ini lagi cemberut lucu.
"Adam junior lagi merajuk." Gumam Zahira terkekeh kecil.
"Pelut Alpin cuda lapal Mama.." Rengeknya.
"Iya sayang.. Nah, Mama sudah selesai." Ucap Zahira sembari mengaitkan tas selempangnya ke bahu. Ia juga memakaikan Arvind jaket biar nggak kepanasan.
"Ayo." Ajaknya berjalan keluar.
__ADS_1
Lalu mengunci pintu rumah setelah mengeluarkan motor maticnya.
"Pakai helm ya sayang." Seraya mendudukkan Arvind di depan.
"Yet do.." Teriak Arvind ketika Mamanya melajukan motornya.
Sepanjang perjalanan yang ia lewati, Arvind tak henti-hentinya berceloteh ketika melihat sesuatu yang menarik perhatiannya bahkan tak jarang ia juga berteriak kegirangan saat melihat alat berat yang digunakan untuk proyek jalan.
"Mama.. yihat itu.." Menunjuk Backhoe.
"Iya." Jawab Zahira singkat.
Tiga puluh menit berkendara, akhirnya sampai juga di warung bakso langganannya ketika ia masih kerja dulu. Zahira memakirkan motornya lalu menggandeng tangan Arvind masuk ke dalam.
"Ayo sayang kita masuk." Ucap Zahira.
Sampai di dalam ternyata pengunjungnya sangat banyak, ramai sekali. Zahira bingung mencari tempat duduk dimana, semua kursi terlihat penuh? Apalagi bertepatan jam makan siang juga dia datangnya.
"Duduk di mana nih?" Zahira mencari meja dan kursi yang masih kosong.
Sementara Zahira sibuk celingak-celinguk. Arvind justru mendapati keberadaan Papanya di tempat makan ini.
"Papa.." Panggil Arvind kepada Adam. Dari sekian banyaknya orang di tempat ini, Arvind cepat sekali mengetahui sosok Papanya.
Namun laki-laki tampan itu tidak mendengar suara anaknya karena jaraknya cukup jauh. Justru yang menoleh adalah pengunjung lain.
"Papa, mana Nak?" Tanya Zahira karena ia tidak melihat suaminya.
"Itu.." Tunjuk Arvind.
"Mana, Mama nggak lihat?" Karena posisi Adam duduk, terhalang oleh ibu-ibu berbadan gemuk.
Arvind pun menarik tangan Zahira untuk mendekat ke Papanya. Ternyata Adam sedang makan siang dengan teman-teman kantornya dan ada Andi juga. Mereka berbincang-bincang ringan satu sama lain.
"Iya, itu Papa." Ucap Zahira senang, karena dengan begitu ia tidak akan kesusahan mencari meja dan kursi kosong. Arvind benar-benar jeli sekali saat tahu Papanya ada di sini.
Arvind melepas tangan sang Mama setelah jaraknya sudah dekat lalu ia berlari.
"Papa.." Panggilnya riang.
Sontak saja Adam dan teman-temannya menoleh ke arah Arvind. Laki-laki tampan itu terkejut mendapati anaknya ada di tempat makan ini.
"Eh, Anak Papa kok ada disini?" Adam membawa Arvind ke pangkuannya, menciumi wajah anaknya itu.
"Hehe, geyi Papa." Ucap Arvind sambil tertawa.
"Mas.." Panggil Zahira.
"Yank, kamu mau makan siang juga?" Tanya Adam lalu menarik kursi kosong di sebelahnya agar Zahira duduk.
"Iya Mas, di rumah nggak ada siapa-siapa. Ibu sedang pergi arisan makanya aku ngajak Arvind makan siang di tempat ini. Hehe.. maaf ya Mas aku tidak pamit sama kamu." Jawab Zahira.
Adam hanya geleng-geleng kepala. Zahira pun menyalami Roni dan Hadi dan menanyakan kabar mereka berdua.
"Alhamdulillah, kami baik Ra." Jawab Roni.
"Kenapa nggak ngajak Mila saja, biar kamu ke sininya ada temannya." Sahut Andi.
"Nggak kepikiran Kak." Jawab Zahira.
"Mama matan.." Pinta Arvind perutnya sudah berbunyi.
__ADS_1
"Iya, Mama pesankan." Zahira memanggil salah satu pramusaji.
"Mas, baksonya dua porsi sama es campurnya juga dua ya.." Ucap Zahira.
"Ada lagi Mbak?" Tanya pemuda itu.
"Nggak Mas itu saja." Jawab Zahira.
Setelah mencatat pramusaji itu pun pergi.
"Ada gorengan, mau?" Tawar Adam pada Arvind.
"Ndak mau." Geleng bocah lucu itu.
"Minum aja kalau gitu. Minum minuman Papa ya?" Bujuk Zahira.
"Iyya." Angguk Arvind dan minum es teh Adam.
"Mas, kamu udah lama di sini?" Tanya Zahira.
"Lumayan, mungkin udah lima belas menit." Jawab Adam.
"Anakmu mirip banget sama kamu ya Dam. Nggak ada Zahira sama sekali kalau aku lihat." Ucap Roni mengamati wajah Arvind yang tengah bermain ponsel milik Adam
Adam tersenyum tipis. "Iya, Gen ku lebih kuat dari istriku." Jawabnya seraya menikmati baksonya.
"Silahkan Mbak." Pramusaji menghidangkan bakso dan es campur pesanan Zahira.
"Terimakasih Mas." Jawab Zahira.
Zahira mengambil lontong lalu ia potong kecil-kecil ke dalam mangkuk Arvind. Juga memotong baksonya untuk memudahkan Arvind makan.
"Berdo'a dulu Sayang." Perintah Zahira.
Dengan suara cadelnya Arvind pun berdo'a hingga mengundang gelak tawa bagi teman Adam.
"Haha.. Anakmu benar-benar lucu." Ujar Hadi.
"Kamu makan saja, Arvind biar Mas yang suapi." Adam sudah selesai dengan makan siangnya.
"Iya Mas." Jawab Zahira.
"Enat.." Arvind mengacungkan jari jempolnya pada Adam.
Adam tersenyum. "Habisin ya, biar tubuh Kakak semakin kuat." Ucap Adam.
"Ote.." Jawab Arvind dengan semangat.
"Pasti hari-hari mu makin berwarna ya Dam. Punya anak lucu dan istri pengertian seperti Zahira." Ujar Roni.
"Alhamdulillah, Hidupku semakin lengkap semenjak Arvind hadir di tengah-tengah kita. Apalagi jika aku lagi penat-penatnya mikirin kerjaan yang nggak ada habisnya itu, maka senyum mereka berdua lah yang menjadi semangatku." Jawab Adam sambil memandang wajah istrinya yang tengah menikmati bakso.
Roni dan Hadi sama tersenyum.
"Makanya, segera lah kalian cari jodoh, enak bener punya istri. Semua keperluan kita sudah ada yang nyiapin dan yang lebih penting itu...." Andi sengaja menjeda kalimatnya.
"Tidur ada yang nemenin." Ucap Hadi dan Roni bersamaan.
"Haha..." Tawa mereka.
.
__ADS_1
.
Aku kasih ekstra part nih, semoga kalian suka💖💖