
Dua puluh menit kemudian mobil Adam sudah sampai di rumah Citra. Adam langsung mengetuk pintu yang tertutup rapat itu. Tak lama pintu itu pun terbuka dan nampak lah Citra dari dalam, mata gadis itu sembab mungkin terlalu lama menangis.
"Adam.." Panggil Citra dengan suara lirih. Ingin rasanya dia memeluk tubuh kekar yang ada di hadapannya ini tapi itu juga tidak mungkin karena dia harus segera membawa sang ibu ke rumah sakit terdekat.
"Dimana ibumu?" Tanya Adam dingin.
"Ada di dalam, ayo masuk." Jawab Citra dengan membuka pintu lebar-lebar.
Adam melangkah masuk ke dalam dan mendapati ibu Citra pingsan di atas sofa panjang. Adam segera mengangkat tubuh tak berdaya itu dan membawanya masuk ke dalam mobil lalu ia dudukkan di kursi belakang dengan bersandar di tubuh Citra.
"Kamu sudah mengunci pintu rumahmu?" Tanya Adam melirik Citra di balik kaca spion sambil memasang sabuk pengamannya.
"Sudah Dam." Jawab Citra sambil mengangguk.
Adam melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat supaya ibu Citra bisa segera di tangani.
"Kenapa ibumu sampai pingsan?" Tanya Adam disela fokus mengemudinya.
"Aku juga tidak tahu. Saat itu aku sedang di kamar lalu aku keluar untuk ambil minum. Dan aku tidak sengaja melihat ibu sudah jatuh pingsan di sofa." Jawab Citra dengan suara sendu.
Kini mobil Adam sudah sampai di rumah sakit yang dituju. Adam membuka pintu mobil lalu mengangkat wanita paruh baya itu dan membawanya masuk. Citra pun memanggil perawat. Ibu Citra sudah berbaring di ranjang IGD. Dokter segera memeriksanya.
"Bagaimana keadaan ibu saya Dok?" Tanya Citra dengan cemas.
"Ibu anda baik-baik saja, hanya saja dia terlalu lelah dan sepertinya banyak pikiran juga." Jawab sang Dokter.
"Syukurlah." Citra merasa lega sang ibu tidak sampai sakit parah.
Perawat memasang infus di tangan wanita paruh baya itu. Sementara Adam menunggu di luar, Citra pun melangkah keluar dan menghampiri Adam yang duduk seorang diri di kursi panjang.
"Apa kata Dokter?" Tanya Adam.
Citra tersenyum sebegitu khawatirnya Adam sama ibunya.
"Ibu baik-baik saja, dia hanya banyak pikiran." Jawab Citra.
Adam mengangguk paham.
***
"Ada apa Ra?" Tanya Risma melihat gelagat aneh Zahira.
"Tiba-tiba aku pengen makan Sempol ayam sama nasi goreng Ris." Jawab Zahira sambil mengelus perut buncitnya.
"Tinggal beli aja gampang kan." Sahut Dini menimpali omongan Zahira dan Risma.
"Tapi aku pengen makan nasi goreng buatan Mas Adam Din." Jawab Zahira lirih.
Andi merasa kasihan sama ibu hamil ini. Sementara Adam tidak di sini melainkan sibuk mengurusi wanita lain. Katanya cinta mati sama Zahira, tapi apa? Malah ninggalin istrinya begitu saja demi rasa empati sosialnya. Suami macam apa itu, Andi pun berdecih tidak suka.
"Lebih baik kamu telpon suamimu, biar dia segera pulang." Sahut Andi yang sudah mulai geram.
"Iya deh." Jawab Zahira.
Zahira pun menelpon Adam namun di deringan pertama tidak dijawab.
"Gimana?" Tanya Andi kepada Zahira.
Zahira menggelengkan kepalanya. "Nggak diangkat Kak." Jawab Zahira lesu.
"Coba kamu hubungi lagi." Suruh Andi.
__ADS_1
"Cih, sok sibuk sekali sampai ditelpon istri sendiri tidak mau angkat." Batin Andi yang sudah greget dengan tingkah sahabatnya itu.
Zahira menelpon Adam sekali lagi dan akhirnya telponnya pun tersambung.
"Hallo." Sapa Adam duluan dibalik panggilan.
"Hallo Mas." Ucap Zahira sambil melirik sahabat-sahabat nya.
"Iya Yank, ada apa?" Tanya Adam.
"Mas, aku mau makan Sempol ayam tolong kamu belikan sekarang juga ya." Ucap Zahira.
"Harus sekarang juga ya Yank, gimana kalau nanti?" Tawar Adam.
"Nggak mau Mas.. maunya sekarang. Kamu dimana sih lama benget pulangnya." Zahira mulai kesal.
"Mas masih ada urusan penting Sayang. Nanti saja ya." Bujuk Adam.
"Lebih penting mana menuruti kemauan anak kamu atau urusanmu itu." Balas Zahira sengit.
Adam menghela napasnya. "Ya udah iya, sekarang Mas pulang dan bawakan kamu Sempol ayam." Ucap Adam tidak mau berdebat dengan sang istri.
"Iya, aku tunggu Mas Adam di rumah. Jangan lama-lama ya Mas, anakmu sudah kelaparan." Sahut Zahira.
"Iya Sayang. Mas tutup ya, Assalamu'alaikum." Ucap Adam.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira.
"Dimana katanya?" Tanya Andi setelah Zahira meletakkan ponselnya.
"Nggak mau ngaku, cuma bilang jika urusannya belum selesai." Jawab Zahira.
***
"Adek mau nggak?" Risma menawari batita cantik itu.
"Mau." Angguk Mikha cepat. Risma mengambil satu tanpa diberi saus.
"Kenyang banget Ra perutku." Ujar Eko yang dari tadi ngemil terus tidak ada hentinya dan sekarang ditambah Sempol Ayam.
"Kamu sih rakus banget." Ketus Dini.
"Haha.. abis makanan yang disuguhkan Zahira enak-enak." Jawab Eko sambil terkekeh.
"Aku paling suka kalau disuruh main ke rumah Adam. Makanan yang disuguhkan selalu menggugah selera." Sahut Andi sambil menikmati Sempol ayamnya.
"Itu sih, maunya Kakak." Mila mencubit pelan perut sang kekasih.
"Kalau ada yang gratis kenapa enggak, ya nggak Kak." Akmal menimpali.
"Yo'i Mal." Jawab Andi setuju dengan ucapan Akmal.
"Kalian ini para lelaki maunya gratisan melulu. Untung suamiku tidak seperti kalian." Cibir Zahira membuat Andi, Eko dan Akmal tertawa.
"Mas, sekarang buatin aku nasi goreng ya." Pinta Zahira.
"Ta--" Belum selesai Adam ngomong sudah dipotong oleh Zahira.
"Nggak ada tapi-tapian, Mas harus masak nasi goreng sekarang juga!" Titah Zahira tidak ingin di bantah.
"Cepat bikin, anakmu sudah kelaparan tuh mau makan nasi goreng buatan Ayahnya sendiri. Jangan hanya ngurusin orang lain saja sementara anaknya dilupakan." Sindir Andi sinis.
__ADS_1
Adam menaikkan sebelah alisnya menatap Andi.
Zahira berdecak kesal. "Mas.. malah bengong." Ucap Zahira.
"Ah, iya Yank." Adam bangkit dari duduknya lalu berjalan ke dapur membuat nasi goreng spesial untuk sang istri yang sudah tidak sabaran itu.
"Kamu pernah ngidam yang aneh-aneh nggak Ra?" Tanya Dini membuat yang lain turut penasaran.
"Sejauh ini nggak pernah, Din." Jawab Zahira.
"Kamu persis kayak aku Ra, aku dulu juga ngidamnya nggak pernah ngrepotin orang lain." Sahut Risma.
Zahira hanya tersenyum, tidak begitu lama nasi goreng buatan Adam sudah jadi. Adam membawa keluar seporsi nasi goreng buat sang istri tercinta.
"Nih Yank, nasi gorengnya." Ucap Adam sambil meletakkan di depan Zahira.
Mata Zahira langsung berbinar Adam sudah selesai membuatnya.
"Terimakasih Mas." Ucapnya senang lalu meniup-niup dulu sebelum masuk ke dalam mulutnya.
"Kok hambar, nggak ada rasanya sama sekali." Zahira meletakkan sendoknya kembali.
Ekspresi yang tadinya senang kini menjadi murung karena tidak sesuai dengan seleranya.
"Masa sih." Adam mencicipi nasi gorengnya.
"Ini tidak hambar kok." Ucapnya sambil menatap sang istri.
"Hambar Mas, paling kamu lupa tidak kamu masukin garam sama penyedap rasa." Ujar Zahira.
"Udah kok Yank semua bumbunya lengkap." Jawab Adam.
"Buktinya nasi goreng buatan kamu ini masih hambar." Tuduh Zahira.
Para sahabat hanya menyaksikan saja perdebatan di antara tuan rumah ini. Lain dengan Andi yang tersenyum puas.
"Coba, aku mau icip." Ucap Akmal.
"Gimana Mal, rasanya pas kan?" Adam bertanya pada Akmal
"Iya, ini malah enak banget." Jawab Akmal setelah menelan nasinya.
"Tuh.. adik kamu saja bilang rasanya enak." Ucap Adam.
"Tapi bagiku nasi goreng ini masih hambar Mas.. belum ada rasanya. Mas harus buat lagi!" Desak Zahira.
"Ampun.. ibu hamil satu ini." Ucap Adam dalam hati sambil menggaruk alisnya.
"*ampus ." Ejek Andi membuat Adam menatapnya datar.
"Jangan sampai salah lagi, harus pas rasanya." Tegur Zahira.
"Iya tuan putri.." Jawab Adam.
.
.
Nggak adakah yang punya cita-cita memberi Author hadiah dan vote 🤣🤣 nggak maksa kok..
.
__ADS_1