
"Mas.." Sambil membuka pintu Zahira memanggil sang suami.
"Kok sepi?" Diedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Lalu melangkah ke kamar mandi mungkin suaminya ada di sana.
Zahira mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil nama Adam. Lagi-lagi tidak ada sahutan, ia langsung membuka pintu kamar mandi namun nyatanya Adam tidak ada di situ. Zahira pun kesal dan akhirnya keluar kamar mencoba bertanya pada kedua mertuanya. Namun siapa sangka belum juga Zahira mendekat, ia mendengar cerita Andi jika suaminya itu belum pulang.
"A-pa?" Suara Zahira yang cukup keras.
Mereka pun menoleh ke asal suara. Terlebih lagi Andi yang merasa bersalah kepada Zahira karena menyuruh Adam untuk pulang duluan. Sebab ia yang sedang asyik berpacaran bersama Mila, akibatnya dia tidak mengetahui ke mana Adam pergi.
"Nak.. duduk dulu ya." Pinta Ibu sambil menuntun Zahira. Ibu juga memberi segelas air putih untuk Zahira minum.
"Jadi, Mas Adam belum pulang juga sejak jam pulang kantor?" Tanya Zahira kepada Andi.
Andi mengangguk membenarkan. "Iya Ra.." Jawabnya.
"Lalu sekarang Mas Adam ada dimana? Ponselnya juga tidak aktif Kak.." Air mata Zahira langsung luruh.
Dia sangat mencemaskan keberadaan sang suami. Ini sudah malam dan Adam tidak ada kabarnya. Andi saja sudah pulang walau mereka tidak berbarengan. Sedangkan sang suami tidak menghubunginya jika memang ia ada suatu urusan.
"Maaf Ra, aku juga tidak tahu. Adam juga tidak bilang apa-apa tadi. Malah aku langsung menyuruhnya pulang setelah dia mengantarku ke tempat Mila." Jelas Andi dengan menyesal.
"Hiks.. hiks.. Bu.. aku takut Mas Adam kenapa-napa." Tangis Zahira pecah dipelukan sang ibu mertua.
"Nak, tenang ya.. Ingat saat ini kamu tengah hamil. Ibu hamil itu tidak boleh kepikiran sedikitpun apalagi sampai menangis seperti ini." Ibu menenangkan Zahira agar menghentikan tangisannya.
Akmal merasa kasihan melihat sang kakak yang mencemaskan suaminya. Dia juga cukup penasaran kemana kakak iparnya itu, ini sudah hampir isya'.
Ayah menghela nafasnya di udara.
"Sebaiknya kita tunggu saja, siapa tahu sebentar lagi Adam akan pulang." Ujar Ayah kemudian.
Ibu mengusap-usap bahu Zahira, tangisnya sudah berhenti. Ibu benar ia tidak boleh egois mengingat saat ini ada nyawa kecil yang bersemayam di dalam rahimnya. Zahira mengelus perutnya sambil bersandar di bahu ibu.
"Maafkan Mama sayang yang melupakan keberadaan kamu. Kita sama-sama berdo'a ya semoga Papa baik-baik saja." Ucap Zahira dalam hati.
"Aku akan menelpon Bapak siapa tahu Mas Adam saat ini sudah pulang." Ucap Akmal memecah keheningan sesaat.
"Iya, Mal tolong kamu hubungi Bapakmu." Sahut Andi.
Tanpa menunggu lama sambungan telpon langsung tersambung. Dan Akmal langsung menanyakan kepada Bapaknya apakah kakak iparnya sudah pulang. Tapi Bapak malah bertanya balik, terpaksa Akmal menceritakan yang sebenarnya.
"Bagaimana Mal?" Tanya Andi.
Akmal menggeleng. "Mas Adam tidak ada di rumah Kak." Jawab Akmal seraya menatap Zahira.
Zahira memejamkan matanya mendengar ucapan sang adik. Sebenarnya apa yang dilakukan suaminya diluar sana?
__ADS_1
~Di tempat lain~
Adam sedang berada di rumah sakit menunggu sang pasien wanita paruh baya yang sedang berbaring lemah di kamar rawat. Wanita paruh baya itu sudah tertidur pulas setelah ditangani Dokter.
"Ponselku mati lagi, gimana aku memberitahu Zahira kalau aku belum bisa pulang." Gumam Adam memandangi ponselnya yang sudah mati sejak tadi.
Adam duduk di kursi di samping ranjang.
"Aku harus keluar dulu mengabari orang rumah. Pasti saat ini mereka sangat cemas karena aku belum pulang juga terlebih lagi Zahira." Ucap Adam.
Adam memutuskan keluar dari kamar rawat dan meninggalkan wanita paruh baya itu seorang diri. Dia berjalan ke meja resepsionis untuk meminjam telpon kemudian menghubungi ponsel sang istri.
Dert.. dert..
Ponsel Zahira bergetar di saku gamisnya. Ia segera mengangkatnya meskipun nomornya tidak ia kenal.
"Hallo.." Suara Zahira terdengar parau.
Adam menaikkan sebelah alisnya mendengar suara sang istri seperti orang habis nangis.
"Hallo Yank.. ini Mas." Ucap Adam.
"Mas Adam!" Seru Zahira sambil menegakkan badannya dari bahu sang ibu.
Wajah Zahira kembali ceria setelah mendengar suara dari belahan jiwanya.
Adam tersenyum tipis. "Maaf ya.. Mas sudah membuat kalian cemas. Sekarang Mas ada di rumah sakit." Jawab Adam.
Kening Zahira mengkerut. "Rumah sakit? Kenapa Mas Adam di rumah sakit, Mas tidak apa-apa kan?" Tanya Zahira dengan nada panik.
Ayah, Ibu, Andi dan Akmal juga kaget mendengar Adam di rumah sakit.
"Sayang.. tenang ya, jangan panik gitu. Mas tidak apa-apa. Mas sedang menunggu seorang ibu-ibu yang tadi pingsan di tengah jalan." Jawab Adam.
Zahira pun lega. "Syukurlah Mas.. jika kamu tidak apa-apa. Tapi kenapa ponsel Mas tidak bisa dihubungi?" Zahira bertanya lagi.
"Ponsel Mas mati Sayang. Baterainya habis jadi Mas tidak bisa menghubungi kamu." Jawab Adam.
"Lalu kapan Mas pulang? Dimana keluarganya, kenapa harus Mas yang nunggu." Ujar Zahira.
"Keluarganya masih di jalan Yank, sebentar lagi juga akan kemari. Kasihan Yank orangnya sudah sepuh." Jelas Adam.
"Ya sudah, Mas langsung pulang ya.. jika keluarga ibu itu udah datang." Ucap Zahira.
"Iya Sayang, Mas akan segera pulang." Balas Adam.
"Tapi pulang ke rumah Ayah dan Ibu. Sekarang aku sudah di rumah Mas." Kata Zahira.
__ADS_1
"Iya Sayang. Sudah dulu ya, Mas harus ke ruang rawat. Tidak enak berlama-lama makai telepon rumah sakit." Terang Adam.
"Iya Mas." Sahut Zahira. Percakapan mereka pun selesai.
Adam kembali ke ruang rawat menanti kedatangan keluarga pasien yang ia tolong.
***
"Apa yang di katakan suamimu tadi Nak?" Tanya Ibu kepada Zahira.
"Mas Adam ternyata sedang menunggu seorang ibu-ibu di rumah sakit Bu. Ibu itu sedang pingsan di tengah jalan dan Mas Adam yang menolongnya lalu dibawa ke rumah sakit." Jawab Zahira.
Semua orang mengangguk paham.
"Putra ibu berjiwa kemanusiaan juga." Gumam Ibu merasa senang dengan tindakan sang putra menolong orang yang kesusahan.
"Ya sudah, kalau gitu aku pamit pulang ya Ra, Ayah, Ibu." Ucap Andi setelah mengetahui keberadaan Adam.
"Iya, terimakasih ya Kak Andi." Kata Zahira sambil tersenyum.
"Sama-sama Ra." Jawab Andi.
"Aku pulang juga." Sahut Akmal yang juga pamit undur diri.
"Bilang sama Bapak dan Emak ya Dek, Mbak nggak balik lagi." Ujar Zahira.
Akmal mengangguk. "Iya Mbak." Jawabnya.
"Assalamu'alaikum." Ucap Andi dan Akmal bersamaan meninggalkan kediaman Adam.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu dan Zahira serempak.
"Sekarang kamu istirahat di kamar ya Nak." Perintah sang ibu mertua.
"Aku di sini aja Bu, nunggu Mas Adam pulang." Tolak Zahira.
"Baiklah jika itu maunya kamu. Sudah minum susu ibu hamilnya?" Tanya Ibu.
"Belum Bu, nanti saja aku minumnya." Jawab Zahira sekalian menunggu Adam.
.
.
Bersambung...
.
__ADS_1