
Anas menepuk bahu temannya yang sedang bermain ponsel.
"Ayo pulang." Ajaknya sembari melangkahkan kakinya.
Teman Anas pun mengejar langkah laki-laki itu sambil memasukkan ponsel ke saku celana.
"Gimana, berhasil nggak? Namanya siapa? Cepet amat Lo kenalannya?" Tanyanya beruntun, menjajari tubuh Anas.
Anas tidak menjawab bahkan meneruskan langkahnya hingga sampai di motornya yang terparkir.
"Nas.." Panggil pemuda itu dengan berlari kecil.
"Gimana pedekate Lo, berhasil tidak?" Tanya Pemuda itu lagi karena tidak ada jawaban. Ia juga berharap Anas sukses dalam misinya.
"Gagal." Jawab Anas singkat sambil memakai helm.
"Kok bisa?" Herannya.
Anas menghela napasnya. "Ternyata dia udah punya suami, punya anak lagi." Jawab Anas dan terdengar begitu berat saat mengucapkan.
"Masa sih Nas, nggak percaya gue." Ujarnya.
"Lo aja nggak percaya apalagi gue." Jawab Anas.
Pemuda itu menepuk bahu Anas memberi semangat.
"Lo yang sabar aja, berarti tuh cewek bukan jodoh Lo." Hiburnya dan Anas hanya mengangguk.
Ia tersenyum lucu karena jatuh hati pada istri orang. Untungnya teman-teman Zahira tadi mengatakannya, kalau tidak pasti ia bakalan kena cap sebagai pebinor.
\*\*\*
Setelah berganti baju, Andi dan Mila keluar dari kamarnya dan mereka menghampiri para sahabat yang sengaja belum pulang dari rumahnya.
"Duduk sini." Eko menepuk kursi kosong di sebelahnya. Andi dan Mila segera duduk.
"Buset, wajah Lo datar amat Dam!" Seloroh Andi melihat raut muka sahabatnya.
Yang lain hanya mengulum senyum. Adam sama sekali tidak menyahuti omongan Andi. Namun Zahira tahu, penyebab suaminya dalam mode datar adalah karena suaminya ini lagi cemburu, bagitu ada laki-laki lain yang terang-terangan ingin berkenalan dengannya. Apalagi paras laki-laki tadi juga tampan.
"Kenapa dia?" Andi berbisik di telinga Eko.
Eko mengendikkan kedua bahunya. "Nggak tahu." Jawabnya singkat.
Sahabat-sahabat Zahira tidak ada yang menyadari jika Adam tengah cemburu.
__ADS_1
"Nah, Mila dan Kak Andi kan udah sah nih. Jadi kapan giliran kalian?" Risma mengarahkan pertanyaannya kepada Dini dan Eko.
"Iya, kapan kalian nyusul kita-kita. Biar makin lengkap nih." Zahira menimpali.
Eko menggaruk kepalanya yang tidak gatal, harus menjawab apa? Sedangkan Dini saja masih sulit untuk dibujuk menikah dengan alasan karena belum siap. Padahal dia sudah tidak sabar untuk segera mempersunting kekasihnya itu.
"Ditunggu aja." Jawab Dini singkat sambil melihat Eko. Sepertinya itu adalah sebuah kode jika dia sudah siap untuk menikah.
Zahira dan Risma saling pandang lalu sama-sama tersenyum. Mereka senang, itu artinya dalam waktu dekat ini bakal ada acara lamaran bagi Dini.
Mereka pun terus berbincang hingga Adam mengajak Zahira pulang agar Arvind bisa tidur tenang.
***
Adam sudah berbaring di ranjang empuknya setelah berganti pakaian dan sholat Dzuhur sementara Zahira menidurkan baby Arvind di box bayi.
"Heran Mas sama kamu. Kenapa banyak sekali laki-laki di luar sana yang suka sama kamu. Padahal kamu sudah jadi istri Mas." Suaranya begitu dingin sembari memperhatikan Zahira yang tengah melepas pashminanya.
"Ya, aku juga nggak tahu Mas." Jawab Zahira sekenanya.
Ia sendiri juga tidak begitu mengerti, kenapa dari dulu banyak sekali laki-laki yang suka padanya, padahal jika di perhatikan wajahnya juga tidak begitu cantik malah terkesan biasa-biasa aja, lalu apa yang menarik coba dari dirinya ini. Hingga ada saja laki-laki yang ingin mendekatinya.
Pusing memikirkan hal itu Zahira memilih masuk ke kamar mandi membasuh wajahnya lalu berganti pakaian juga di sana.
Adam memutuskan keluar kamar sambil membawa laptop menuju ruang tamu mencari udara segar agar pikirannya tidak sumpek jika mengingat tangan Zahira di pegang pria itu.
"Pasti marah lagi nih efek cemburu. Lebih baik aku sholat Dzuhur dulu." Urusan suaminya itu bisa nanti saja. Sekarang ia harus menunaikan kewajibannya.
Usai sholat, sebenarnya Zahira ingin tidur siang namun ia harus memastikan dulu apakah suami tampannya itu masih kesal atau tidak. Zahira keluar dari kamar mencari keberadaan Adam setelah memastikan baby Arvind tertidur nyenyak.
"Lagi ngapain Mas?" Tanya Zahira duduk di sebelah Adam. Memperhatikan laki-laki tampan itu yang tengah mengetik sesuatu di layar laptop.
"Kamu nggak lihat kalau Mas lagi ngetik." Jawabnya datar tanpa memandang Zahira.
"Ya tahu kalau lagi ngetik. Maksud aku tuh ngetik apaan? Ini kan hari sabtu masa Mas masih kerja aja." Jelas Zahira.
"Mau gimana lagi, Andi masih cuti jadi pekerjaan Andi dilimpahkan ke Mas dan Roni. Kemarin Mas belum selesai jadi berkasnya Mas bawa pulang." Jawab Adam.
"Oh.." Zahira manggut-manggut. Zahira pun menemani suaminya di ruang tamu sampai ia ketiduran.
Adam geleng-geleng kepala.
"Zahira." Adam menepuk pipi istrinya. "Masuk kamar sana jangan tidur di sini." Setelah Zahira membuka kedua matanya.
"Enggak, aku mau di sini aja." Jawabnya lalu kembali melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
"Nanti nggak kedengaran kalau Arvind nangis." Ucap Adam.
Zahira terpaksa membuka kedua matanya.
"Temenin ya?" Pintanya manja agar Adam juga tidur bersamanya.
"Kerjaan Mas belum selesai." Tolak Adam.
Zahira pun cemberut. Seketika ia punya ide agar Adam menghentikan kerjaannya. Dengan isengnya Zahira duduk di pangkuan Adam sambil menyandar di dada laki-laki itu.
Adam hanya bisa menghela napas lalu mematikan laptop dan menutupnya. Kemudian membawa istrinya ke kamar. Zahira tersenyum senang rencanannya berhasil juga.
"Eh eh, mau ngapain?" Tanya Zahira ketika Adam melepas kaosnya dan sudah berada diatasnya.
Laki-laki tampan itu tersenyum smirk. "Bukannya kamu ngajak Mas ke kamar karena kamu ingin." Jawabnya sambil membuka kerudung instan Zahira.
Zahira menggeleng cepat. "Nggak ya, aku kan cuma ngajak tidur aja." Berusaha menghindari ciuman suaminya.
"Aaaa.. Mas.. Hentikan!" Tanpa sadar Zahira berteriak membuat Adam membungkam mulutnya.
"Sstt.. jangan berisik Sayang, nanti Arvind bangun." Setengah berbisik Adam bersuara.
"Iya, tapi aku ngantuk." Jawab Zahira memelas agar Adam menghentikan aksinya.
"Salah kamu sendiri, siang-siang udah ngerayu Mas. Jangan salahkan Mas ya." Adam tidak mau melepaskan Zahira begitu saja. Karena ia sudah tidak bisa menahannya lagi.
Dengan lembut Adam mencium bibir Zahira agar istrinya itu tidak melakukan aksi protes. Adam juga berharap semoga Arvind tidurnya lama sehingga rencananya tidak gagal.
Entah berapa lama Adam melakukannya. Sampai Zahira sudah masuk ke alam mimpi. Ia segera menutupi tubuh Zahira dengan selimut. Adam tersenyum melihat istrinya yang tampak kelelahan.
"Terima kasih." Seperti biasa Adam tidak akan lupa mengatakan kata itu, sembari mengecup bibir Zahira sekilas.
Kemudian masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang penuh dengan keringat.
"Oek.. oek.." Arvind pun terbangun dari tidurnya. Sepertinya bayi lucu itu sudah lapar lagi, cepat-cepat Adam menyelesaikan acara mandinya. Karena ia yakin pasti Zahira tidak mendengar suara tangisan anaknya.
"Jagoan Papa kenapa udah bangun?" Adam mengangkat Arvind dari box bayi lalu membaringkan anaknya di sebelah Zahira agar bayi itu mendapatkan apa yang ia mau tanpa harus membangunkan sang istri yang tidurnya sangat pulas.
"Lihat Nak cara Mama kamu tidur. Sampai nggak sadar apa yang kamu lakukan." Kekeh Adam.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
.