Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Kira masih lajang


__ADS_3

"Sebenarnya kamu mau ngajak aku ke mana sih Mas?" Tanya Zahira karena sangat penasaran.


Adam mau mengajaknya pergi ke suatu tempat tapi suaminya ini masih merahasiakan tujuannya. Zahira yang tadinya sudah janjian dengan Risma terpaksa mengurungkan karena Adam tetap memaksanya agar ikut pergi dengannya.


"Rahasia pokoknya.. nanti kamu juga bakal tahu sendiri." Jawab Adam mengelus lembut kepala Zahira.


"Mas keluar sebentar, mau memanaskan mobil dulu." Tambahnya.


Zahira hanya mengangguk, kemudian berganti pakaian setelah itu memoles wajahnya. Tak lama Adam masuk ke kamar lagi karena suami Zahira itu belum mandi.


"Mas, aku tunggu di luar ya!" Teriak Zahira ketika Adam sudah berada di kamar mandi.


Zahira berjalan ke dapur dulu untuk minum air putih. Lalu melangkahkan kakinya ke teras depan duduk di sana sambil menunggu sang suami yang lagi mandi.


"Assalamu'alaikum." Ucap Risma sambil menggandeng tangan anaknya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira dengan senyuman lalu berdiri menyambut kedatangan Risma.


"Ada apa ya Ris?" Tanya Zahira kepada Risma sebab Zahira tadi sudah mengirimi pesan kepada sahabatnya itu jika janjiannya ia batalkan.


"Ini Ra, Mikha nggak bisa dibujuk, ngotot mau ketemu sama kamu. Mau main dengan dedek diperut onty katanya." Jawab Risma merasa tidak enak.


Zahira tersenyum sambil memandang Mikha yang sudah memeluk kedua kakinya. Tangannya pun mengelus rambut batita lucu itu.


"Mainnya nanti sore aja ya sayang, seperti kemarin sore itu. Hari ini onty mau keluar dulu sama Om." Ucap Zahira.


Mikha mendongak memandang wajah ontynya.


"Telual te mana?" Tanya Mikha dengan suara cadelnya.


"Om Adam ngajak onty jalan-jalan." Jawab Zahira sekenanya.


Mendengar kata jalan-jalan Mikha pun bersorak riang.


"Dalan-dalan. Yeyy.. asyyik.. adek mau itut." Mikha begitu antusias ingin pergi jalan-jalan juga.


"Adek nggak boleh ikut, ya." Tegur Risma lembut.


Mikha tampak merajuk lucu. "Napa? Adek mau i..tut onty.." Rengek Mikha kepada Zahira yang duduk di pangkuan Mamanya.


Zahira bingung mau diajak atau tidak? Karena ia sendiri belum jelas mau pergi ke mana. Tidak begitu lama sang suami sudah keluar menghampirinya.


"Ayo Yank kita pergi." Ajak Adam tanpa mengetahui keberadaan Risma dan anaknya.


"Mas.." Panggil Zahira menghentikan langkah Adam.


"Ya." Jawab laki-laki itu lalu menoleh ke arah Zahira.


"Risma, kamu ada di sini juga rupanya. Sorry aku tidak melihatmu tadi." Ucap Adam.


Mikha pun turun dari pangkuan Risma berlari ke arah Adam dan minta di gendong. Batita lucu itu lantas mengeratkan rangkulannya di leher Adam membuat suami Zahira itu tersenyum simpul.

__ADS_1


"Mas, Mikha mau ikut kita pergi." Kata Zahira.


"Adek.. sini sama Mama, Om-nya mau pergi tuh." Bujuk Risma sambil merentangkan tangannya supaya anaknya mau ia gendong.


Mikha menggeleng dan bersembunyi di pundak kekar Adam.


"Ya sudah kalau gitu kita ajak juga." Putus Adam, tidak tega juga meninggalkan Mikha yang lengket dengan dirinya.


***


"Benar kan ini alamat rumahnya?" Tanya Tholib kepada Roni dan Hadi.


Mereka sudah sampai di depan halaman rumah Citra namun belum kunjung masuk. Alasannya karena menunggu Adam untuk masuk bersama.


"Benar lah, aku pernah ngantar Citra pulang." Jawab Roni yang tadi sebagai penunjuk jalan. Semalam Adam mengirim pesan di grup chat mereka, meminta mereka untuk hadir di rumahnya Citra. Dan tanpa banyak pertanyaan mereka langsung setuju saja terlebih lagi Tholib yang sangat antusias.


Sengaja Adam mengajak mereka biar sang istri nanti tidak salah paham, juga ingin menunjukkan kepada ibunya Citra kalau ia sudah menikah.


"Kamu bawa apa, itu Lib?" Hadi menunjuk kantong plastik yang menggantung di sepeda motor matic Tholib.


"Oh.. ini aku bawa kue. Buah tangan untuk calon mertuaku." Seloroh Tholib sambil menaik turunkan alisnya.


"Hahaha..." Roni dan Hadi tak kuasa untuk tidak tertawa.


Tidak begitu lama mereka mendengar suara deru mobil masuk ke halaman rumah Citra yang tidak berpagar itu. Mereka sudah tidak asing dengan pemilik mobil berwarna putih itu.


"Nah, itu Adam. Ayo kita ke sana." Ajak Roni. Mereka menyalakan mesin motor masing-masing lalu masuk ke halaman rumah Citra.


"Rumah teman kantor Mas. Dia ngundang Mas datang ke rumahnya. Makanya itu, Mas sengaja ngajak kamu. Ayo turun." Ucap Adam, tangannya melepas sabuk pengaman di tubuh Zahira.


"Rumahnya bagus juga." Sahut Andi, duduk di kursi belakang sambil memangku Mikha.


Mereka keluar dari mobil dengan Mikha yang minta digendong Adam lagi. Adam menggandeng tangan Zahira, mereka semua melangkah ke rumah Citra lalu Andi memencet tombol di sebelah pintu.


Pintu pun terbuka dari dalam dan nampak lah wanita paruh baya yang membukakan pintu. Ia tersenyum namun juga heran saat yang datang sebanyak ini. Putrinya hanya mengatakan jika Adam seorang yang akan berkunjung.


"Mari-mari silahkan masuk." Ucapnya ramah sambil menggeser tubuhnya.


Mereka semua masuk ke dalam lalu di persilahkan duduk di sofa. Ibu Citra bertanya-tanya siapa perempuan cantik yang sedang digandeng oleh Adam dan juga anak kecil itu.


"Tunggu sebentar ya, Tante buatkan kalian minuman dulu." Ucap Ibu Citra meninggalkan mereka lalu melangkah ke dapur. Sebelum itu ibunya Citra mengetuk pintu kamar putrinya mengatakan jika tamunya sudah datang.


Dengan hati yang berbunga-bunga Citra keluar kamar lalu menghampiri Adam di ruang tamu. Dia pikir yang datang cuma Adam.


"Adam..." Panggilnya sedikit keras. Namun langkahnya terhenti dan senyum yang tadinya terkembang mulai menyusut ketika melihat teman kantornya datang semua dan tidak ketinggalan perempuan yang sangat ia benci juga turut datang.


"Citra?!" Gumam Zahira terkejut. Zahira menoleh pada sang suami meminta penjelasan kenapa membawanya ke rumah orang yang hendak menghancurkan rumah tangganya.


Adam mengerti dengan tatapan istrinya. Ia pun menggenggam lembut tangan Zahira lalu membisiki sesuatu di telinga sang istri. Seketika Zahira mengangguk paham meski sebenarnya hatinya dongkol.


"Kenapa kalian semua juga datang ke rumahku? Aku kan cuma ngundang Adam?" Tanya Citra dengan nada tidak suka seraya mendudukkan dirinya.

__ADS_1


"Kami juga pengen tahu rumah kamu." Jawab Andi santai.


"Iya, Mas Tholib juga pengen kenalan sama orang tua kamu Dek." Sahut Tholib membuat Hadi dan Roni mengulum senyum.


Ibu Citra menyuguhkan minuman dan juga cemilan.


"Ini, Tante hidangkan cemilan. Silahkan dinikmati." Ucapnya lalu duduk di sebelah anaknya.


"Terima kasih Tante." Jawab semuanya.


"Adam, Tante ucapkan terimakasih banyak ya, waktu itu kamu sudah menolong Tante." Sambil tersenyum.


"Sama-sama Tante." Jawab Adam.


"O ya, siapa anak kecil imut ini?" Tanya Ibu Citra.


Adam memangku Mikha. "Dia ponakan istri saya Tante." Jawab Adam mengarahkan pandangannya kepada Zahira sambil mengulas senyum.


Ibu Citra nampak terkejut mendengar penuturan laki-laki yang disukai putrinya ini ternyata sudah punya istri.


"Oh.. k-kamu sudah menikah ya, Nak. Tante kira kamu masih lajang." Ibu Citra tersenyum kaku, tangannya ia arahkan ke belakang mencubit punggung anaknya.


"Aww.." Citra memekik, merasakan sakit di punggungnya.


"Kenapa Dek?" Tanya Tholib terkejut.


"Ibu.. sakit!!" Geram Citra tertahan sambil mengusap punggungnya yang panas.


"Apa yang sakit Dek, kasih tau sama Mas Tholib." Tholib hendak bangkit dari duduknya.


"Ah, tidak apa-apa kok Nak." Sanggah Ibu Citra tersenyum. Seolah tidak ada yang terjadi.


"Duduk di situ jangan kemari!" Mata Citra mendelik.


Andi mencairkan suasana. "Tante, perkenalkan kami teman Citra di kantor." Ucapnya sopan.


"Semuanya laki-laki ya, tidak ada perempuan sama sekali?" Tanya Ibu Citra.


Andi mengangguk. "Benar Tante, di divisi kami semuanya memang laki-laki hanya putri Tante saja yang perempuan." Jawab Andi membuat ibu Citra manggut-manggut.


"O iya Dek, Mas hampir saja lupa. Ini Mas bawakan kue spesial untuk kamu." Tholib bangkit dari duduknya memberikannya pada Citra.


"Kue spesial?" Ulang Ibu Citra yang tidak paham.


Tholib pun memperkenalkan dirinya. "Saya Tholib Tante, pacar anak Tante saat ini." Ucapnya.


"Hah..."


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2