
Citra masuk ke ruangan dengan muka cemberut. Ia kesal lantaran Adam tidak menjemputnya, alhasil ia harus naik ojol sebab sepeda motornya sedang masuk bengkel yang lagi diservis setiap bulannya.
Begitu melihat Adam yang sudah duduk tenang di meja kubikelnya Citra pun menghampiri laki-laki tampan itu.
"Adam.. kenapa kamu tidak menjemput ku di rumah?" Rajuk Citra dengan bersedekap dada berdiri di samping Adam.
"Kenapa juga aku harus menjemput kamu." Sahut Adam datar.
Citra beranggapan bahwa rumah tangga Adam sudah renggang. Jadi dia punya kesempatan untuk selalu menempeli pujaan hatinya itu. Dengan begitu usahanya akan membuahkan hasil tanpa harus capek-capek berpikir bagaimana caranya memisahkan Adam dari Zahira.
"Kok malah kenapa sih, kamu kan tahu kalau aku dari dulu udah suka sama kamu." Jawab Citra dengan rasa percaya diri.
"Hei keong racun, jaga jarak dari suami orang. Pagi-pagi Pelakor udah ber-aksi aja." Timpal Andi menghampiri mereka lalu duduk bersandar di meja Adam tepatnya di tengah-tengah Adam dan Citra.
Sementara Tholib rekan mereka yang berbadan sedikit gemuk tertawa cekikikan. Roni dan Hadi belum tampak terlihat di tempat itu, mungkin masih di area parkir.
"Apaan sih selalu ganggu gue aja loe. Suka-suka gue lah mau dekat sama siapa? Itu bukan urusan loe ya." Angkuh Citra sambil mengibaskan rambut panjangnya.
"Gue itu ngelindungin sahabat gue, biar nggak selalu loe tempelin." Balas Andi santai.
__ADS_1
Citra melirik tidak suka.
"Kalau gitu gue kasih saran, lebih baik loe pedekate sama si Tholib aja, dia masih bujang belum punya pacar dari pada ngarep suami orang." Ucap Andi sambil menahan tawa.
"Hayu' aja, kalau aku." Tholib menyahut di meja kerjanya.
"Nah, si Tholib aja udah setuju. Jadi, tinggal meresmikan hubungan kalian berdua." Jawab Andi penuh semangat.
Citra melototi Andi.
"Heh, gendut kamu nggak usah ikut-ikutan ya. Siapa juga yang mau sama kamu." Ketus Citra menatap Tholib.
"Jangan gitu Adek cantik, nanti juga lama-lama kamu bakal jatuh cinta sama Mas Tholib." Balas Tholib sambil mengedipkan mata kanannya kepada Citra.
Adam tersenyum simpul, lain dengan Andi yang tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya karena Tholib merayu Citra.
"Huek.." Citra langsung mual mendengar rayuan Tholib.
"Pagi-pagi udah rame aja, ada apa nih." Sahut Roni laki-laki berkaca mata masuk bersama Hadi.
__ADS_1
"Kebetulan kalian sudah datang. Aku mau kasih tahu nih, di hari Jum'at yang istimewa ini, aku mau mengumumkan pada kalian kalau Citra sudah resmi jadi pacar Tholib!" Ungkap Andi kepada teman-temannya.
"Wah.. benarkah? kalau gitu selamat buat kalian berdua." Ucap Hadi begitu ansusias lalu menjabat tangan Tholib juga tangan Citra, namun langsung ditepis oleh gadis itu karena tidak suka dengan candaan Andi.
"Terimakasih." Jawab Tholib tersenyum senang.
"Jangan percaya sama omongan Andi. Dia itu bohong!" Teriak Citra sambil menunjuk Andi.
"Adek, nggak boleh ngomong kasar ya." Tegur Tholib kepada Citra, menggelengkan kepala.
"Haha..." Tawa menggema di ruangan itu mendengar Tholib yang bisa diajak kerjasama kecuali Adam yang hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala.
Citra pun kembali ke meja kubikelnya, geram dengan semua teman-temannya. Ia mengumpati semua teman-temannya itu yang sudah berhasil membuat dirinya marah.
"Andi.. dari dulu kamu memang jadi penghalang." Gerutu Citra mengepalkan kedua tangannya di depan komputer.
.
.
__ADS_1
Bersambung...