
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Zahira sambil menggendong baby Arvind mengantar Adam berangkat kerja.
"Yank, kayaknya nanti Mas bakal pulang telat." Ucap Adam saat mereka di depan teras.
"Tumben Mas?" Tanya Zahira karena tidak seperti biasanya.
"Iya, anak-anak ngajak main futsal, sudah lama juga kita tidak pernah main lagi karena kesibukan masing-masing." Jawab Adam.
Zahira pun mengangguk. "Oh, ya sudah nggak papa." Ucapnya.
"Ya sudah kalau gitu Mas berangkat ya. Baik-baik di rumah. Assalamu'alaikum." Pamitnya sambil mengecup kening Zahira dan kening baby Arvind.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati Papa.." Jawab Zahira sambil melambaikan tangan mungil baby Arvind.
"Sekarang kita berjemur dulu yuk Nak." Zahira berjalan ke halaman samping rumah.
Zahira duduk di kursi panjang sambil menikmati sinar matahari pagi yang bagus untuk pertumbuhan dan kesehatan si kecil. Menurut artikel yang ia baca berjemur di pagi hari banyak sekali manfaatnya seperti mencegah penyakit kuning dan memperkuat tulang bayi untuk itulah setiap pagi ia selalu menjemur baby Arvind selama 10 menit.
Setelah dirasa cukup Zahira kembali masuk ke dalam dan meletakkan baby Arvind di ranjang yang memang sengaja Adam letakkan di ruang tengah biar tidak di dalam kamar terus.
***
Andi masuk ke ruangan kerja sambil bersiul-siul. Ia langsung meletakkan tas kerjanya di atas meja lalu menghampiri teman-temannya satu persatu sambil memberikan undangan pernikahannya yang akan dilaksanakan dua Minggu lagi.
"Nih, jangan lupa hadir ya." Kata Andi kepada Roni. Lelaki yang berkaca mata itu langsung melihat undangannya.
"Weist.. undangannya udah meluncur aja nih. Tentu Bro, aku pasti hadir tepat waktu biar bisa lihat ijab kabulnya." Jawab Roni membuat Andi langsung mengangkat jempolnya sambil mengatakan 'good'.
Lalu berganti kepada Hadi, Tholib dan juga Citra.
"Widih.. yang bentar lagi bakalan sold out, tinggal aku dan Roni saja yang belum." Kelakar Hadi.
"Makanya cepetan cari pacar biar kayak aku ini." Sahut Tholib menyombongkan dirinya karena mempunyai kekasih yang cantik jelita seperti Citra.
"Sombong loe." Celetuk Roni sambil melempar pulpen ke arah Tholib.
"Hehe.." Tholib hanya cengengesan.
"Jangan cuma pacaran aja, segera dihalalin. Anak orang tuh." Timpal Andi memberi masukan.
"Tenang, bulan ini juga aku bakal ngajak keluargaku untuk melamar Dek Citra." Jawab Tholib penuh keyakinan.
"Siap-siap ya Dek, Mas Tholib akan datang ke rumahmu." Ujar Tholib kepada Citra.
"Iya. Aku tunggu kedatangan Mas Tholib." Jawab Citra dibalik mejanya sambil tersenyum.
"Ciee..." Serempak Andi, Roni dan Hadi bersorak. Lain dengan Adam yang hanya jadi pendengar saja.
__ADS_1
"Apa sih.." Citra menunduk malu disoraki oleh teman-temannya.
***
Siang hari, Risma mengajak Mikha untuk ke rumah Adam. Dia bosen jika hanya berdua saja dengan anaknya di rumah. Jadi untuk menghilangkan rasa suntuknya ia datang ke rumah sahabatnya itu untuk menemani Zahira menjaga baby Arvind.
"Sepi sekali Ra rumahmu, ibu mertuamu ke mana?" Tanya Risma sambil mendudukkan dirinya di sofa. Sementara Mikha langsung naik ke ranjang di mana Arvind sedang tidur.
"Ibu pergi ke rumah Uwak Sari." Jawab Zahira.
"Dedek.. banun Dek, tatak Mikha datan nih." Sambil mentoel-toel pipi tembem Arvind.
"Eh, jangan Kak.. biarkan dedeknya bobo jangan diganggu nanti nangis lagi." Tegur Risma.
Namun Mikha tidak perduli dia tetap menyentuh pipi bayi mungil itu sehingga baby Arvind menggeliatkan tubuhnya tapi tidak sampai nangis.
"Yee.. dedek Alpin banun.." Sorak Mikha sambil bertepuk tangan akhirnya usahanya berhasil juga.
Arvind pun menangis karena terkejut dengan suara keras batita imut itu.
"Kakak!" Seru Zahira sambil geleng-geleng kepala baru juga anaknya tidur sekarang harus bangun lagi karena tangan jahil Mikha.
Perempuan itupun menepuk-nepuk bokong baby Arvind sambil memberinya Asi dengan posisi tidur miring. Mikha tidak berhenti disitu saja saat baby Arvind minum sumber kehidupannya batita imut itu juga menciumi seluruh wajah Arvind, bukannya anteng minum Asi baby Arvind tambah nangis lagi.
"Haha.." Risma tertawa melihat tingkah usil putrinya itu.
"Tatak emesh cama dedek Alpin, onty. Pipi na empuk tayak bakpou yang celing tatak matan." Jawab Mikha dengan suara cadelnya.
"Iya, tapi kalau adeknya lagi tidur nggak boleh di ganggu ya.." Ujar Zahira menasehati siapa tahu batita imut ini mengerti.
"Mama.. tatak mau mimik uga." Pintanya pada Risma.
Risma langsung menuang air dari botol ke dalam gelas yang kebetulan berada di meja lalu memberikannya kepada Mikha.
"Ini sayang." Namun Mikha menggeleng.
"Ndak mau maunya mimik tayak dedek." Ucap Mikha sambil menunjuk milik Zahira.
"Kakak kan udah besar, sudah tidak boleh mimik itu lagi. Bentar lagi Kakak akan masuk paud." Jelas Risma, anaknya ini sudah berusia tiga tahun lebih dan sebentar lagi akan ia masukkan ke sekolah anak usia dini.
"Hiks.." Mikha pun menangis karena permintaannya tidak dituruti, Risma hanya menghela napasnya.
Mendengar Mikha nangis Arvind langsung menghentikan kegiatannya. Zahira pun menutup kembali kancing di bajunya lalu ia bangun dari tidurnya menjadi duduk.
"Ris, di kulkas ada es krim cup. Kamu ambil aja untuk Mikha." Ucap Zahira.
"Iya." Angguk Risma sambil menggendong anaknya.
__ADS_1
"Dedek.. tatak puna ec klim.." Setelah mengambil es krim di kulkas Mikha kembali naik ke ranjang dengan susah payah.
"Iya, Kakak habiskan ya." Ujar Zahira sambil berbalas pesan dengan suaminya.
"Ra.." Panggil Risma.
"Ya." Jawab Zahira singkat karena matanya tetap mengarah pada ponselnya.
"Arvind kan udah 2 bulan lebih nih, Kak Adam masih puasa nggak Ra?" Pertanyaan konyol Risma.
Mendengar itu, Zahira langsung meletakkan ponselnya, dia mengerti arah pembicaraan sahabatnya ini.
"Masih Ris, Mas Adam belum berani mendekatiku lagi." Jawab Zahira jujur karena tidak apa-apa juga mengatakannya toh pada sahabatnya sendiri.
"Emang kenapa Ra?" Risma sampai memajukan tubuhnya.
"Haha.. segitunya kamu." Zahira meraup wajah Risma membuat Risma kesal. "Ish.. kamu ini." Ucapnya.
"Ya karena dia masih takut dengan bekas operasiku." Jawab Zahira setelah tawanya reda.
"Kak Adam sanggup juga ya." Salut Risma.
"Iya, padahal aku sudah menawarinya tapi dia tetap menolak dengan tegas." Ujar Zahira.
Saking asyiknya berbincang mereka tidak sadar jika Mikha diam-diam menyuapi baby Arvind es krim. Dan lucunya baby Arvind menikmati es krim di mulutnya.
"Enak tan dek?" Tanya Mikha membuat kedua perempuan itu langsung menoleh.
"Eh, Astaghfirullah.." Pekik Zahira dan Risma bersamaan.
Cepat-cepat Zahira mengambil tissue lalu menghapus sisa es krim di mulut anaknya yang untungnya hanya sedikit. Lalu segera memangku baby Arvind untuk ia beri ASI agar anaknya tidak kenapa-napa.
"Kakak.. tadi kakak menyuapi adek Arvind berapa suap?" Tanya Risma cemas bercampur takut.
"Catu, tapi cuma ditit Ma.. tan mulutna dedek tecil." Jawab Mikha tanpa rasa bersalah sambil memakan es krimnya kembali.
"Haduh Ra.. aku minta maaf ya." Sesal Risma karena sudah lalai tidak memperhatikan Mikha.
"Iya, tapi kamu jangan bilang sama siapa-siapa ya Ris.. apalagi sama Mas Adam." Jawab Zahira. Ia takut bakal di marahi suaminya jika Adam sampai tahu.
.
.
.
Bersambung... Jangan lupa vote, komen dan likenya.
__ADS_1