
Selesai sholat Isya berjamaah, Adam menarik Zahira untuk duduk di kasur. Dia mau mengatakan tentang ajakan Andi yang akan pergi ke pantai mumpung besoknya hari sabtu.
"Yank, tadi Andi bilang mau ngajak kita pergi ke pantai." Kata Adam.
"Kapan itu Mas?" Mendengar nama pantai, Zahira langsung antusias untuk bertanya. Sebab sudah sangat lama ia tidak pergi ke tempat itu.
"Besok." Jawab Adam.
"Mau mau.. sudah lama banget aku nggak pergi ke sana lagi." Angguk Zahira cepat.
"Jadi jam berapa kita berangkat nya?" Tanya Zahira lagi.
Lalu duduk di pangkuan Adam dengan kedua tangannya merangkul leher sang suami. Adam sendiri langsung memeluk pinggang Zahira agar tidak sampai terjatuh.
"Belum tahu juga." Jawab Adam sambil terkekeh.
"Iih.. kok belum tahu sih, katanya besok." Kesal Zahira memukul pelan pundak Adam.
Adam semakin tertawa melihat sang istri yang sedang kesal. "Ya, karena Mas belum dikasih tahu sama Andi jam berapa kita berangkatnya." Ucap Adam setelah tawanya terhenti.
"Ya udah, sekarang telfon Kak Andi. Tanya lebih jelasnya lagi." Ujar Zahira.
"Baik tuan putri." Gemas Adam sambil mengacak-acak rambut Zahira.
Zahira turun dari pangkuan Adam berjalan ke meja rias mengambil ponsel milik laki-laki tampan itu.
Adam menerima ponselnya. "Terima kasih Sayang." Ucapnya kemudian menarik Zahira agar duduk di pangkuannya lagi.
Adam menelpon Andi. Di deringan pertama dan kedua belum di angkat, dan di deringan ketiga barulah dijawab oleh Andi.
"Hallo.. ada apa Dam, kamu ganggu saja!" Ucap Andi dengan nada kesal di sebrang sana.
"Memangnya kamu sedang apa?" Tanya Adam menaikkan sebelah alisnya.
"Lagi pacaran sama Mila nih. Ada apa kamu menelpon ku segala." Jawab Andi tidak mau berlama-lama meladeni Adam di balik ponsel membuat Adam berdecih.
"Cuma bertanya, jam berapa kita berangkat besok?" Jelas Adam.
"Emm, jam tujuh aja gimana. Perjalanan kita juga cukup lama sekitar dua jam-an." Jawab Andi setelah berpikir sejenak.
Adam mengangguk di balik ponselnya. "Baiklah, besok jam tujuh kita berangkat ke pantai. Kamu jangan sampai telat, kita pakai mobilku saja." Ucap Adam setelah menyetujui.
"Ah siapp, Bosku.." Sahut Andi dengan antusias.
"Ya sudah, kamu lanjutkan lagi kencanmu dengan Mila." Ujar Adam lalu 'Klik' mematikan panggilan nya begitu saja.
Sedang di sana Andi mencak-mencak kesal, Adam memutuskan panggilan nya dengan seenak jidat setelah berhasil menganggu dirinya dengan Mila yang lagi asyik-asyiknya pacaran di alun-alun.
"Kutu kupret emang si Adam, sudah ganggu orang pacaran malah main mati'in sambungan begitu saja." Gumam Andi kesal melihat layar ponselnya sudah mati lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
__ADS_1
"Kenapa Kak?" Tanya Mila duduk di samping Andi di kursi taman.
"Oh.. ini Dek, Adam bertanya pada Kakak. Besok jam berapa kita pergi ke pantainya." Jawab Andi setelah kekesalannya reda.
"Ah iya, besok kita berangkat jam berapa memang?" Tanya Mila.
"Jam tujuh, kita naik mobil Adam supaya kalian tidak kepanasan." Jawab Andi.
"Oh.. jadi kita ber-empat ya, kirain hanya berdua saja." Ujar Mila tidak tahu.
"Kenapa? Kamu takut ya.. kalo kita bakal diganggu sama mereka." Goda Andi sambil menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih Kak, enggak ya.." Jawab Mila sambil tertawa kecil.
"Udah, ngaku aja Dek.." Goda Andi lagi sambil terkekeh.
***
"Pagi amat Mas kita berangkat nya." Keluh Zahira.
"Memang kenapa?" Tanya Adam lembut sambil mengelus halus rambut Zahira.
"Ya, nggak kenapa-kenapa sih. Cuma aku belum menyiapkan makanan apa untuk kita bawa besok." Jawab Zahira menyandarkan kepalanya di dada Adam sambil mendengarkan detak jantung sang suami yang mengalun indah.
"Tidak usah bawa makanan, kita beli saja di sana." Ujar Adam.
"Iya deh, tapi sebelum itu kita mampir dulu ya, ke mini market beli cemilan sama minuman dingin." Kata Zahira.
"Mas.." Zahira mendongak. "Kita keluar yuk, aku mau makan." Kata Zahira.
"Makan, bukannya tadi kita sudah makan malam ya?" Tanya Adam merasa aneh.
Baru juga satu jam yang lalu mereka makan malam, kini Zahira sudah lapar lagi.
"Iya, tapi aku masih lapar, hehe.." Jawab Zahira membuat Adam geleng-geleng kepala.
"Kamu nggak takut gendut apa, kalau makan melulu." Adam mencubit hidung Zahira.
"Enggak, ayo Mas kita keluar! Aku pengen makan sate ayam sekarang juga!" Ajak Zahira dengan semangat lalu turun dari pangkuan Adam.
"Baiklah, kita cari sate ayam. Pakai jaket juga biar kamu nggak kedinginan." Perintah Adam.
"Tidak usah gini aja." Sahut Zahira menolak untuk memakai jaket.
"Nanti kamu kedinginan!" Ucap Adam tidak ingin dibantah sambil berjalan ke arah lemari mengambil sweater rajut bewarna pink untuk Zahira pakai.
Zahira terpaksa memakai sweater itu.
"Kalian mau ke mana?" Tanya Ibu melihat Adam dan Zahira yang melewati mereka di ruang tengah. Ibu dan Ayah sedang menonton televisi.
__ADS_1
"Ini Bu, Zahira mau makan sate ayam." Jawab Adam berhenti sejenak.
"Oh, nanti belikan Ibu dan Ayah juga ya?" Pinta sang Ibu.
Mereka berdua mengangguk. "Iya, nanti Adam bungkuskan sate Ayamnya untuk kalian berdua." Jawab Adam.
"Ya sudah, kami keluar dulu Bu." Pamit Zahira.
"Assalamu'alaikum." Kata Adam dan Zahira.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ayah dan Ibu bersamaan.
***
Mereka sudah sampai di warung penjual sate ayam. Dan mencari tempat duduk, harum sate ayam yang sedang di bakar membuat Zahira ingin cepat-cepat menyantap nya. Zahira bahkan sampai menelan ludahnya hingga berkali-kali.
"Kamu mau berapa tusuk?" Tanya Adam.
"Lima belas tusuk ya Mas." Jawab Zahira dengan cepat, dia sudah tidak sabar ingin mencicipi sate ayamnya yang sudah menggugah seleranya itu.
"Pakai nasi atau lontong?" Tanya Adam sekali lagi.
"Mas Adam banyak tanya deh." Protes Zahira memutar kedua bola matanya. "Pakai apa saja, yang penting aku segera makan. Sekarang gih cepet pesen." Paksa Zahira.
Adam geleng-geleng kepala. "Sabar kali Yank.." Ucapnya melihat sang istri yang tidak sabaran sekali.
Adam berjalan ke depan untuk memesan. Sekitar enam menit menunggu, pesanan mereka sudah terhidang di hadapan mereka.
Setelah berdoa dalam hati, Zahira langsung memakan sate dengan riang gembira.
"Masha Allah lezat sekali Mas. Emm yummy..." Puji Zahira di sela-sela kunyahan nya membuat Adam tersenyum tipis melihat cara makan istrinya seperti anak kecil.
Zahira makan tanpa menggunakan sendok. Memuluk saja karena jauh lebih nikmat daripada memakai benda stainles itu.
"Mas, buka mulut kamu. Biar aku suapi." Titah Zahira.
Tentu dengan senang hati Adam langsung membuka mulutnya.
"Makan disuapi kamu benar-benar nikmat Sayang." Ucap Adam membuat Zahira tersenyum manis.
Dan tanpa mereka sadari saat Zahira menyuapi Adam membuat beberapa pengunjung yang juga sedang makan di sana menatap mereka dengan pandangan yang berbeda-beda.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiah ya..