Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Melirik kaca spion


__ADS_3

Di pagi hari, seperti biasa Ayah akan menuntun ibu untuk berjemur di halaman samping rumah. Menikmati kehangatan dari sang Surya yang memberikan sapaan di setiap paginya. Ayah begitu telaten merawat sang istri mulai dari memandikan, memasang pakaian juga memberi obat. Tidak pernah sedikit pun Ayah untuk mengeluh.


Meski Ayah juga di sibukkan dengan jadwal mengajar di sekolah, tetapi tugas merawat sang istri tidak pernah ia lalaikan. Baginya Ibu adalah kehidupannya. Melihat sang istri sakit seperti ini saja sudah membuat hatinya ikut sedih. Tapi Ayah tidak akan menunjukkan sisi kelemahannya di depan istri tercinta.


"Kita duduk ya Bu." Ajak Ayah.


"Boleh. Ibu juga sudah capek." Jawabnya.


Setelah rapi dengan pakaian kerjanya. Adam mencari keberadaan kedua orangtuanya. Melihat Ibunya berjemur di temani sang Ayah, Ia pun mendekat ke arah mereka yang tengah duduk di kursi.


"Bu, Adam berangkat kerja dulu." Pamitnya sambil mencium tangan dan juga kening sang Ibu.


"Iya, hati-hati Nak di jalan, nggak usah ngebut-ngebut mengendarai sepeda motor." Pesan Ibu mengelus rambut putranya.


Adam mengangguk. "Iya Bu.." Ucapnya.


Adam berpindah mencium tangan Ayah. "Ini sudah jam tujuh lebih. Kenapa Ayah belum juga siap-siap?" Tanyanya.


"Sebentar lagi, Ayah masih ingin menemani Ibumu." Jawab Ayah yang juga hendak pergi berangkat mengajar.


Adam mengangguk.


"Ya sudah Adam pergi. Assalamu'alaikum." Pamit Adam kemudian berjalan ke garasi mengambil sepeda motor.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ayah dan Ibu bersamaan.


***

__ADS_1


Adam membelokkan motornya menuju ke rumah Zahira. Tujuannya adalah mengajak calon istrinya itu untuk berangkat bersama, agar Zahira tidak mengendarai sepeda motornya sendiri. Mengingat hari pernikahan mereka yang semakin dekat, Adam sungguh tidak ingin Zahira sampai kelelahan. Adam tahu jika Zahira adalah gadis yang mandiri, tidak mau menyusahkan orang lain. Untuk itulah ia menjemputnya sekarang.


Sampai di rumah wanita yang akan menjadi istrinya, Adam mematikan mesin sepeda motornya. Berjalan menuju teras rumah.


"Assalamau'alaikum." Ucap salam Adam dengan suara sedikit keras.


Keadaan rumah Zahira cukup sepi tidak ada siapa pun di luar.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu Zahira dari dalam rumah lalu berjalan keluar melihat sang tamu.


"Eh, Nak Adam. Cari Zahira ya?" Tanya Ibu.


"Iya Mak, mau saya ajak berangkat bareng." Jawab Adam.


"Zahira ada di kamar, lagi siap-siap juga. Bentar ya, Emak panggilkan dulu." Adam mengangguk sambil duduk di kursi.


"Nduk, kamu di tungguin Nak Adam tuh di luar. Katanya kamu diajak berangkat bareng." Kata Ibu melihat putrinya yang sudah rapi.


Seketika Zahira menoleh ke arah sang Ibu yang ada di belakangnya setelah dia selesai memasang kerudung. "Loh, ada Kak Adam Mak?" Tanya Zahira dengan heran.


Pasalnya Adam tidak mengirimi dirinya pesan jika akan menjemputnya ke rumah.


"Iya, jangan lama-lama sudah di tungguin kamu!" Ujar Ibu Zahira sambil berlalu keluar dari kamar sang anak.


Zahira pun melangkah keluar melihat Adam.


"Kak Adam." Panggil Zahira.

__ADS_1


Adam yang tadinya bermain ponsel langsung menoleh ke asal suara. Melihat Zahira yang sudah rapi ia langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


Adam langsung berdiri. "Sudah siap kan, ayo berangkat." Ajaknya.


"Sudah Kak. Bentar, aku panggil Emak dulu." Ucap Zahira.


"Mak... Zahira dan Kak Adam berangkat ya!" Zahira berteriak karena sang Ibu berada di belakang.


Mendengar teriakan sang putri, Ibu cepat-cepat keluar dari dapur lalu menghampiri mereka berdua.


"Iya, hati-hati di jalan ya Nak Adam." Ujar Ibu berpesan pada Adam sambil mengulurkan tangannya untuk di cium mereka berdua.


"Iya Mak." Jawab Adam dengan anggukan kepala.


"Assalamu'alaikum." Pamit mereka.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu.


Motor Adam melaju meninggalkan rumah Zahira. Menyusuri jalanan kampung hingga ke jalan raya. Tidak ada obrolan di antara mereka. Adam melirik Zahira lewat kaca spion motornya. Adam tersenyum simpul di balik helmnya melihat Zahira yang hanya fokus melihat jalanan.


"Manis." Ucapnya dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2