
Keesokan paginya, Zahira teringat dengan testpack yang dibeli oleh suaminya itu. Ia pun membuka tasnya lalu mengambil ketiga benda itu. Dilihatnya Adam dan Arvind masih terlelap dalam tidurnya. Setelah sholat subuh Adam melanjutkan tidurnya kembali. Semalam mereka benar-benar pulang larut dari pasar malam.
Zahira masuk ke kamar mandi. Apapun hasilnya ia akan terima, namun sejujurnya Zahira belum siap jika harus hamil lagi apalagi Arvind saja masih kecil, masih membutuhkan kasih sayangnya. Yang Zahira takutkan adalah perhatiannya pada Arvind akan berkurang, mengingat merawat anak bayi bukanlah perkara mudah, butuh perhatian ekstra. Zahira juga khawatir Arvind bakalan cemburu jika ia fokus pada adik bayinya.
"Sudah lima menit." Gumamnya.
Zahira segera melihat ketiga alat tes kehamilan itu dengan perasaan cemas, dan hasilnya adalah..
"Ya Allah, aku beneran hamil." Lirih Zahira seraya menutup mulutnya antara percaya dan tidak percaya. Ia terkulai lemas duduk di atas kloset.
Ternyata benar perkiraan suaminya itu jika dirinya saat ini mengandung. Dari ketiga alat itu hasilnya positif semua. Mata Zahira berkaca-kaca sembari mengelus perutnya. Kini benih Adam bersemayam lagi dalam rahimnya. Pikiran Zahira campur aduk antara senang dan sedih namun ia tetap harus bersyukur telah diberi kepercayaan untuk bisa hamil lagi meski kasih sayang Arvind nantinya harus terbagi dengan adiknya.
Zahira mengambil salah satu benda itu setelah ia cuci terlebih dahulu lalu keluar dari kamar mandi. Ia akan menunjukkan pada Adam, pasti suaminya itu kegirangan melihat dua garis merah dari testpack itu.
Zahira menciumi seluruh wajah Arvind yang masih tidur nyenyak.
"Maafin Mama ya Nak, jika nanti perhatian Mama ke kamu berkurang." Ucapnya sedih lalu ikut berbaring di sebelah Arvind sembari memeluknya.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu Adam juga terbangun dari tidurnya. Samar-samar Adam mendengar ucapan Zahira yang mana istrinya ini meminta maaf pada anaknya.
"Yank.." Panggil Adam dengan suara seraknya lalu bersandar di kepala ranjang.
Pandangan Zahira pun beralih kepada suaminya yang sudah bangun. Langsung saja ia menyerahkan benda itu pada Adam.
Mata Adam berbinar melihat dua garis merah. Ia senang tiada terkira, istrinya beneran hamil sesuai dugaannya.
"Alhamdulillah Yank.. kita akan punya anak lagi. Semoga dia perempuan ya." Ucap Adam dengan wajah bahagianya lalu memeluk tubuh Arvind dan Zahira.
"Kamu kenapa malah nangis? Apa kamu tidak suka jika hamil lagi?" Tanya Adam to the point seraya menghapus air mata di pipi perempuan itu.
"B-bukan tidak suka Mas.. t-tapi Arvind masih kecil. D-dia__" Zahira tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.
Adam paham dengan maksud ucapan istrinya itu. Ia bangun dari posisinya, berjalan ke sisi Zahira berada. Adam membawa perempuan itu ke dalam dekapannya.
"Kamu takut kalau kasih sayang Arvind akan terbagi dengan adiknya nanti?" Tanya Adam membuat Zahira hanya mengangguk di pelukan laki-laki tampan itu.
__ADS_1
Adam tersenyum tipis sembari mengelus rambut Zahira.
"Nggak akan Sayang.. kasih sayang yang kita berikan pada Arvind tidak akan pernah terbagi atau pun berkurang. Kita tidak akan membedakan-bedakan mereka, sebisa mungkin kita harus berlaku adil. Apalagi yang sayang sama Arvind banyak. Jadi kamu tidak usah khawatir, ya?" Jelas Adam sembari menangkup kedua pipi Zahira yang masih basah akan deraian air mata.
"Iya Mas." Jawab Zahira sembari mengulas senyum.
Benar yang dikatakan suaminya ini. Banyak sekali yang sayang sama Arvind mulai dari kedua orangtuanya, kedua mertuanya dan juga Akmal adiknya. Semua sangat menyayangi Arvind.
"Arvind juga pasti akan senang bakalan punya adik bayi." Lanjut Adam.
Mereka berdua menatap anak laki-lakinya yang masih tertidur itu.
.
.
.
__ADS_1