Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Marahnya masih berlanjut


__ADS_3

Adam menghentikan push-up nya dan ia mendekat ke arah Zahira, di kecup sekilas bibir istrinya itu saat matanya masih terpejam.


Zahira membuka kedua matanya dan ia langsung mendelik pada Adam. Adam terkekeh kecil lalu menarik lembut tangan Zahira agar mengikutinya ke dalam rumah lebih tepatnya sih ke kamar mereka.


"Jangan marah lagi ya sayang.. Mas minta maaf. Mas nggak suka kamu cuekin begitu." Ucap Adam lembut sambil memeluk tubuh Zahira di depan jendela kamar.


"Hemm." Zahira menjawab singkat dibalik pelukan Adam.


"Yank..." Adam melepaskan pelukannya, menatap wajah manis itu.


"Apa?" Suara Zahira yang masih dingin, terkesan enggan untuk menjawab. Bahkan tatapan matanya mengarah ke arah lain.


"Hah.." Rasanya Adam dibuat frustasi jika Zahira masih saja seperti ini. Kenapa sekarang sifat istrinya ini tidak lagi sama seperti dulu, yang mana kalau di bujuk dengan kata-kata manis maka akan cepat luluh dan mudah memaafkan.


"Kamu beneran nggak mau maafkan kesalahan Mas?" Adam membelai lembut pipi kiri Zahira. "Mas harus berbuat apa, supaya kamu tidak marah lagi?" Tanya Adam memelas.


"Tidak ada." Jawab Zahira lugas.


"Kalau ada orang ngajak ngomong, lihat orangnya jangan lihat ke sembarang tempat!" Tandas Adam dengan suara dinginnya.


Seketika Zahira menatap wajah Adam. "Sudah kan, aku sudah lihat wajah kamu." Jawabnya.


"Kamu?" Ulang Adam. "Heh, istriku sekarang sudah tidak sopan lagi ya, manggil suaminya hanya dengan sebutan kamu." Adam mengejek Zahira dengan wajah datarnya.


"Terserah kalau kamu masih ingin melanjutkan marahmu, aku juga tidak perduli." Kesabarannya sudah hilang bahkan Adam juga menyebut kata 'aku' tidak lagi dengan kata Mas.


Adam berjalan ke kamar mandi meninggalkan Zahira yang masih berdiri mematung. Menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras.


Brakk..


Adam meluapkan emosinya pada pintu kamar mandi yang tidak bersalah. Zahira pun berjingkat kaget saking kerasnya hantaman pintu itu sampai-sampai wanita itu mengusap dadanya, seketika air mata Zahira lolos begitu saja dari kedua mata indahnya, buru-buru ia mengusap kedua pipinya agar tidak di ketahui Adam.


Tidak ingin ambil pusing, Zahira mengambilkan pakaian kerja Adam dan ia letakkan di atas kasur. Zahira tidak menduga jika Adam akan semarah ini meski tidak sampai membentak. Tapi sangat jelas dari suara dingin dan wajah datarnya, itu sudah menandakan bahwa laki-laki itu sangat marah apalagi Adam juga sudah berkali-kali minta maaf kepadanya tapi tetap saja ia abaikan.


"Sudahlah."

__ADS_1


Zahira memutuskan keluar dari kamarnya untuk menghindari Adam. Ia menyibukkan diri dengan menyapu dan membuang sampah ke belakang rumah. Hari masih pagi dan pertengkaran mereka masih berlanjut.


Lima belas menit Adam sudah keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Adam melihat ada pakaian kerjanya yang sudah di siapkan Zahira di atas kasur, namun Adam tidak memakainya dia lebih memilih untuk mengambil pakaiannya sendiri di dalam lemari.


Adam sudah rapi dengan pakaian kerjanya dan berjalan keluar untuk sarapan. Zahira sedang menata hidangan di atas meja makan, di sana sudah ada Ayah dan juga Ibu.


"Selamat pagi Ibu Ayah." Sapa Adam lalu mencium kening sang Ibu.


"Selamat pagi juga Nak." Jawab Ayah dan Ibu bersamaan di selingi sebuah senyuman.


Adam menarik kursi untuk duduk dan Zahira juga duduk di samping laki-laki itu. Zahira melirik Adam sekilas dia tahu bahwa suaminya itu tidak memakai pakaian yang sudah ia pilihkan.


"Ibu, tolong ambilkan Adam nasi dan capcainya." Adam mengulurkan piring, dia sengaja melakukan itu di depan Zahira.


Membuat Ayah dan Ibu saling pandang. Apa telah terjadi sesuatu di antara anak dan menantunya ini? Dalam benak mereka bertanya-tanya.


Ayah menganggukkan kepalanya pada Ibu agar segera mengambilkan sarapan untuk Adam. Zahira hanya menunduk tidak berani menatap pada kedua mertuanya yang pastinya sudah menaruh rasa curiga.


"Tentu saja Nak." Jawab Ibu, dengan sigap mengambilkan makanan yang Adam minta.


"Bu, untuk sarapan besok, buatkan Adam nasi goreng ikan teri. Tapi harus buatan Ibu sendiri." Ucap Adam lalu mulai memasukkan suapan pertamanya.


"Iya Nak besok akan Ibu buatkan." Jawab Ibu tanpa komentar apapun.


Setelah Ibu selesai mengambilkan makanan untuk suami dan anaknya, kini giliran Zahira mengambil nasi dan lauk pauknya sendiri. Zahira makan dengan menunduk. Susah payah ia menelan makanannya, ada rasa sakit yang menusuk di hatinya melihat perubahan Adam.


Hanya dentingan piring dan sendok yang memecah keheningan di meja makan itu. Suasana canggung juga kian terasa. Adam makan sangat lahap mengindahkan keberadaan Zahira yang duduk di sampingnya.


"Ibu, Ayah.. Adam sudah selesai. Adam berangkat kerja dulu." Ucap Adam pamit pada kedua orang tuanya lalu berdiri untuk mengecup tangan Ayah dan Ibu secara bergantian.


"Iya, hati-hati ya Nak." Jawab sang Ibu.


Adam berlalu begitu saja tanpa bicara apa-apa pada Zahira bahkan melirik saja tidak. Zahira sendiri hanya bisa menunduk dalam-dalam, tanpa melihat kepergian Adam sambil melanjutkan sarapannya yang memang belum selesai.


Ayah dan Ibu juga tidak mau bertanya, mereka mengerti dengan privasi di antara anak dan menantunya. Mereka tidak mau ikut campur biarlah mereka sendiri yang menyelesaikan masalahnya.

__ADS_1


"Sayang.. Ibu sama Ayah juga sudah selesai, Ibu ke kamar dulu ya untuk membantu Ayahmu." Ucap Ibu pada Zahira.


Zahira mendongak melihat ibu mertuanya lalu mengangguk sambil tersenyum manis, seolah jika dia baik-baik saja.


"Iya, silahkan Bu." Jawab Zahira kemudian.


Kini hanya tinggal Zahira sendiri di meja makan itu. Zahira membereskan piring-piring kotor untuk dibawa ke wastafel untuk ia cuci. Lagi-lagi air matanya keluar dengan sendirinya dan hidungnya juga sudah memerah, cepat-cepat Zahira membasuh mukanya.


Zahira melangkah ke kamar dengan gontai, melihat foto pernikahannya dengan Adam yang di pajang di dinding membuatnya menangis sesenggukan. Baru juga satu bulan usia pernikahan mereka namun sekarang sudah ada masalah.


***


Adam memacu kendaraannya dengan kecepatan normal, dia sebenarnya tidak tega mengabaiakan istrinya tapi sekali-kali Zahira harus diberi pelajaran.


Tiga puluh menit berkendara Adam sampai di tempat kerjanya dan ia melangkah masuk ke dalam ruangannya. Di sana sudah ada Andi dan rekan-rekan lainnya yang sudah datang duluan.


"Hei Bro.. gimana semalam, apa kamu sudah minta maaf sama istri manismu?" Tanya Andi menghampiri Adam sambil menyandar di meja kerjanya Adam.


"Sudah." Jawab Adam singkat.


"Sudah, tapi kenapa wajah kamu kusut amat. Kayak belum di setrika aja." Ledek Andi.


Adam menghela napas sejenak. "Tapi Zahira tidak mau memaafkan, dia tetap marah padaku." Jawab Adam datar.


"Kasihan sekali, makanya bujuk dong Zahiranya.. beliin dia bunga kek atau coklat. Siapa tahu Zahira bakal luluh." Ucap Andi memberi saran.


"Entahlah, nanti akan aku pikirkan." Jawab Adam dingin membuat Andi geleng-geleng kepala.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2