Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Nasehat untuk Akmal


__ADS_3

"Kamu mau ke mana? Udah biarin aja." Adam mencegah Zahira.


"Tapi Mas.." Zahira tetap memaksa ingin menghampiri mereka.


"Duduk! Makan makanan kamu, nanti keburu dingin." Titah Adam dengan raut wajah datar.


Zahira mendengus kesal. Mau tidak mau, akhirnya ia kembali duduk, melanjutkan makannya. Zahira melotot ke arah orang yang ia lihat itu yang ternyata adalah adiknya sendiri. Akmal berada di Mall ini bersama seorang perempuan yang usianya sama seusia Akmal.


Akmal tidak menyadari jika dia sedari tadi dipandangi oleh sang kakak sebab Akmal dan teman perempuannya itu asyik bercengkrama sambil menikmati es krim yang mereka pesan.


"Heran aku sama Akmal, jauh sekali dia mainnya sampai ke Mall sini. Nggak takut kena tilang apa, belum punya SIM juga. Pasti Emak nggak tahu nih." Gerutu Zahira, tangannya menusuk-nusuk makanan yang ada di piring.


"Kamu juga sih Mas, pake larang aku segala ke meja mereka." Omel Zahira kepada Adam.


Adam membiarkan sang istri mengomel sendiri. Jika sudah capek pasti akan berhenti dengan sendirinya. Perempuan itu ya memang begitu, hobi sekali kalau ngomel panjang kali lebar seperti istrinya ini.


Adam tetap menikmati sop iganya sesekali ia melirik ke arah Zahira yang masih mengawasi Akmal. Ia juga bingung, remaja seusia Akmal yang masih duduk di kelas 3 SMP sudah berani mengajak seorang perempuan datang ke pusat perbelanjaan. Dulu saja ia menginjakkan kakinya di Mall waktu kelas dua SMA, itu pun beramai-ramai bersama teman-teman yang semuanya laki-laki.


"Kamu ke sana mau ngapain?" Akhirnya Adam bersuara juga setelah diam beberapa menit.


"Mau aku interogasi. Akmal itu kan masih dibawah umur, aku yakin banget kalo anak gadis yang bersamanya itu pasti pacarnya." Ujar Zahira yakin.


"Di rumah saja kalau kamu mau interogasi Akmal, jangan di sini nanti dianya malu." Saran Adam.


"Ya udah deh." Jawab Zahira menurut.


"Kamu mau pesan apa lagi Lis?" Tanya Akmal kepada teman perempuannya itu yang bernama Lisa


"Emang kamu masih punya uang Mal?" Lisa balik bertanya. Takutnya jika ia pesan makanan lain, uang Akmal tidak akan cukup, belum lagi nanti juga harus beli bensin.


"Kamu tenang aja, uangku masih banyak ini." Jawab Akmal dengan gaya sombongnya.


Masalah uang habis, dia tinggal minta lagi sama sang kakak. Ya meskipun harus diceramahi dulu karena keseringan jajan dan tidak mau nabung. Bagi Akmal jika sang kakak menasehatinya maka Akmal akan bodo amat istilahnya masuk kuping kanan keluar kuping kiri.


"Enggak Mal, makan es krim aja udah cukup kok buatku." Ucap Lisa. Sebenarnya dia sungkan bila harus memesan makanan lagi sudah diajak jalan-jalan saja dia seneng banget.


"Emang kamu kenyang apa kalo makan es krim doang. Kalau aku sih belum." Ujar Akmal agar Lisa memilih makanan lainnya.


"Tidak usah Mal, lebih baik kita makan jajanan di kaki lima aja yang harganya lebih terjangkau." Usul Lisa.


Sayang jika duit Akmal harus keluar hanya untuk membeli makanan di sini yang harganya lumayan mahal lebih baik makan jajanan di pinggir jalan.

__ADS_1


***


Malam hari. Zahira dan Adam berkunjung ke rumah orang tuanya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Adam dan Zahira.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Bapak yang kebetulan duduk di teras sambil menghisap rokok.


Zahira mengibaskan asap rokok yang sangat menganggu pernafasannya.


"Pak, Akmal ada di rumah kan?" Tanya Zahira.


Bapak mengangguk. "Ada di kamarnya. Tumben kamu cari adikmu bukan mencari Emakmu." Kata Bapak.


"Iya Pak, Hira ada perlu sama Akmal." Jawab Zahira lalu masuk ke dalam meninggalkan Adam dan Bapak di teras. Kedua laki-laki berbeda usia itu pun mengobrol.


Zahira mengetuk pintu kamar sang adik.


"Akmal.." Panggilnya.


Ibu yang kebetulan ada di kamar, keluar setelah mendengar suara anak pertamanya berada di rumahnya.


"Ada apa Nduk? Kenapa kamu manggil adikmu?" Tanya Ibu.


Tidak lama Akmal membuka pintu kamarnya. Zahira pun masuk ke kamar sang adik lalu menarik tangan Akmal setelah pintu itu ia tutup hingga membuat ibu geleng-geleng kepala.


"Apa sih Mbak." Protes Akmal saat Zahira memaksa dirinya untuk duduk di tepi kasur sementara sang kakak duduk di kursi belajarnya.


"Tadi pagi kamu pergi ke mana?" Tanya Zahira menodong sebuah pertanyaan yang mana membuat Akmal gelagapan untuk menjawab.


"A-aku nggak kemana-mana Mbak." Elak Akmal sambil menggeleng cepat.


"Jangan bohong! Ngaku aja sama Mbak. Kamu pikir Mbak nggak tahu apa?" Tanya Zahira dengan delikan.


"Gawat, apa Mbak Hira tahu ya, kalau aku tadi pagi ke Mall. Tapi siapa yang ngasih tahu? Emak dan Bapak aja tidak tahu." Batin Akmal menebak-nebak.


"Akmal.. jawab, malah melamun." Zahira memukul paha sang adik.


"Bener Mbak. Seharian aku ada di rumah, nggak pergi keluar, suer.." Akmal mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.


Zahira menjewer kuping sang adik karena tidak mau berterus terang.

__ADS_1


"Kamu tuh ya.. udah pandai bohongin Emak sama Bapak. Asal kamu tahu aja. Mbak tadi siang tuh lihat kamu di Mall sama cewek." Geram Zahira.


"Aduh aduh.. ampun Mbak, ampun. Sakit kupingku. Iya-iya aku ngaku." Jawab Akmal sambil mengadu kesakitan.


Zahira melepaskan tangannya di kuping Akmal. Akmal pun mengusap-usap kupingnya yang terasa panas.


"Kok bisa Mbak lihat aku di Mall?" Tanya Akmal dengan polosnya.


"Bisa lah, Mbak kan ada di Mall itu juga." Jawab Zahira sambil melipat tangan di dada.


"Mbak, Akmal mohon ya.. jangan bilang sama Emak dan Bapak." Rayu Akmal sambil mengatupkan tangannya. Jika kedua orang tuanya sampai tahu bisa-bisa uang jajannya dipotong.


"Jujur dulu sama Mbak, perempuan yang kamu ajak itu siapa?" Tanya Zahira.


Akmal menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia pun nyengir karena malu untuk mengatakannya.


"Dia pacar Akmal Mbak." Jawabnya dengan pipi bersemu merah.


"Hah.." Zahira menganga. Bisa-bisanya adiknya ini sudah punya pacar.


"Hehe, cantik kan Mbak anaknya." Ujar Akmal malu-malu.


Zahira hanya bisa menghela napasnya. Bukan hanya bandel saja tapi sang adik ternyata berani juga pacaran dibelakangnya.


"Kamu itu masih kecil Dek, jangan pacaran dulu. Belajar yang rajin biar nilai pelajaran kamu tidak menurun." Nasehat Zahira.


"Mbak jangan khawatir. Pelajaran tetap nomor satu kok bagiku." Jawab Akmal meyakinkan sang kakak.


"Tetap aja, Mbak larang kamu pacaran!" Tegas Zahira.


Akmal berdecak kesal. "Ck, Mbak nggak asik orangnya." Keluh Akmal.


"Mbak itu sayang sama kamu Dek. Pacaran itu nggak baik bagi remaja seusia kamu. Kamu boleh pacaran asal kamu sudah lulus SMA." Ucap Zahira sembari menepuk punggung tangan Akmal.


"Itu mah lama Mbak." Sewot Akmal.


"Udah jangan ngebantah. Sekarang lanjutin lagi belajarnya." Zahira mengacak-ngacak rambut cepak Akmal sebelum keluar dari kamar itu.


Zahira melangkahkan kakinya ke depan ikut berkumpul bersama suami dan kedua orang tuanya. Adam menggeser badannya memberi ruang untuk Zahira duduk.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2