Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Terjebak macet


__ADS_3

Di lobby kantor Citra berdiri menunggu Adam yang belum datang. Citra senyum-senyum sendiri karena hari ini ia membawakan bekal makan siang untuk laki-laki tampan itu. Orang yang ditunggu akhirnya datang juga bersama Andi berbarengan dengan karyawan lain. Citra pun menghampiri Adam dengan langkah lebarnya.


"Selamat pagi Adam." Sapanya dengan menampilkan sebuah senyuman.


"......"


Adam dan Andi hanya melirik sekilas. Mereka meneruskan langkahnya menuju ke ruangan kerja. Citra cemberut karena Adam tidak membalas sapaannya. Citra hanya bisa mengikuti langkah mereka di belakang. Dengan kasar gadis itu meletakkan paper bag yang berisi makan siang di atas meja.


"Liat aja nanti." Batin Citra mencebik kesal.


Adam dan Andi mulai menyalakan komputernya dan mengerjakan tugas mereka. Begitu juga dengan Citra dia juga sudah bisa mengerjakan beberapa berkas yang sudah dia pelajari kemarin bersama Roni.


***


"Nduk!!" Teriak sang Ibu memanggil Zahira.


"Ada apa Mak? Hira ada di kamar mandi sedang cuci baju!" Sahut Zahira dengan berteriak juga.


Ibu pun berjalan ke kamar mandi dengan pintu yang memang sudah terbuka.


"Di luar ada ibu mertua kamu." Ucap Ibu Zahira memberitahu sang putri.


"Tolong tunggu sebentar ya Mak. Hira tinggal membilas ini." Jawabnya sambil menyalakan kran air untuk membilas pakaian yang ia cuci.


"Ya sudah." Ibu mengangguk.


"Tetap hati-hati ya Nduk, awas lantainya licin." Ibu merasa khawatir sebab putrinya itu ngenyel ingin mencuci baju sendiri di dalam kamar mandi.


"Iya Mak." Jawab Zahira patuh.


Ibu Zahira meninggalkan sang putri lalu menjumpai Besannya yang duduk di teras depan sendirian.


"Ditunggu sebentar ya San, Hira sedang mencuci baju." Ujar Ibu sambil menyuguhkan minuman dan cemilan.


"Iya San." Jawab Ibu Adam.


Sebenarnya Ibu Adam ingin bertanya kepada Besannya, kenapa membiarkan menantunya mencuci baju sendiri. Padahal di rumahnya, Zahira ia bebaskan tugas untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang biasa sang menantu lakukan karena mengingat sang menantu yang tengah hamil muda. Tapi Ibu Adam juga tidak bisa memprotes mengingat Besannya adalah ibu kandung Zahira.


"Banyak ya San pakaian yang dicuci Zahira?" Tanya Ibu Adam yang sudah tidak bisa menahan untuk bertanya.


Ibu Zahira menggeleng.


"Nggak banyak San, Cuma pakaian dia dan Nak Adam saja. Padahal tadi sudah saya larang jangan mencuci baju tapi tetap aja ngotot, katanya dia juga butuh menggerakkan badannya." Jawab Ibu Zahira panjang lebar yang sepertinya bisa memahami isi kepala Besannya itu.


Ibu pun merasa lega. Tidak berapa lama Zahira sudah keluar dengan membawa ember untuk menjemur pakaiannya.


"Ibu.." Panggil Zahira kepada ibu mertuanya lalu mencium punggung wanita yang menjadi ibu dari suaminya itu.


"Nak, harusnya jangan mencuci baju di kamar mandi. Baju kotornya kamu bawa pulang saja." Tegur sang ibu mertua.

__ADS_1


Ibu takut jika Zahira sampai terpeleset di kamar mandi.


"Cuma dikit kok Bu baju kotornya. Lagian aku juga bosan bila tidak ngapa-ngapain." Jawab Zahira disertai senyuman manis.


"Ya sudah sekarang kamu duduk sini." Sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.


"Ibu ke sini bawa buah-buahan untuk kamu dan juga untuk keluargamu." Kata Ibu menunjuk keranjang berisi buah-buahan di atas meja.


"Aduh, jadi merepotkan San." Ujar Ibu Zahira sungkan.


Ibu Adam tersenyum. "Kayak sama siapa saja San." Jawab Ibu.


***


Makan siang pun tiba dan Citra langsung mendekati Adam.


"Adam, aku bawakan bekal makan siang untuk kamu. Kita makan di kantin yuk." Ajak Citra dengan tidak tahu diri.


Andi juga tidak mau ketinggalan, ia pun berdiri dan menghampiri Adam.


"Bro, ayo makan di luar." Andi menepuk bahu Adam sambil melirik sinis ke arah Citra.


Adam mengangguk. "Ayo." Jawabnya kepada Andi.


"Adam.. terus makanan ini gimana?" Citra menghadang jalan kedua laki-laki itu sambil mengangkat paper bagnya.


"Tuh, kamu bisa mengajak si Tholib." Andi menunjuk rekannya yang berbadan sedikit gemuk.


"Ada apa memanggil diriku?" Tanya Tholib.


"Ini.. Citra bawa bekal makan siang, katanya dia mau membagi sama kamu." Jawab Andi sambil menahan senyum.


Citra melotot ke arah Andi. Enak saja bekal makan siangnya ia bagi pada si gendut itu.


"Mana, kebetulan aku juga sudah laper banget?" Tanya Tholib sembari mengelus perut buncitnya.


Tholib pun berdiri dan mendekati Citra. Mau tidak mau Citra terpaksa makan bersama Tholib di kantin kantor.


"Andi *ialan.." Umpat Citra dalam hati. Andi selalu berhasil menggagalkan rencana yang ia buat.


Adam dan Andi makan di sebuah cafe.


"Haha.. tadi kamu lihat ekspresi si keong racun itu?" Tanya Andi merasa puas sekali.


Adam tersenyum tipis. "Iya, lihat." Jawab Adam singkat.


"Pasti sekarang dia lagi nahan kesal. Pintar sekali dia, ada saja rayuannya. Minta diantar pulanglah, bawakan kamu bekal makan siang lah. Entah besok-besoknya apa lagi." Sahut Andi tidak habis pikir.


***

__ADS_1


"Tumben kalian berdua berboncengan?" Tanya Roni kepada Adam dan Andi di halaman parkir kantor.


"Biasa, untuk menghalau si keong racun biar nggak bisa nebeng di motor Adam." Jawab Andi begitu santai.


Roni tersenyum lucu. "Kamu itu Ndi.." Roni geleng-geleng kepala.


"Kita balik dulu." Pamit Adam kepada Roni.


"Iya." Roni mengangguk.


Adam yang membonceng Andi.


"Dam, kita ke tempat kerja Mila ya." Kata Andi sedikit keras.


"Ngapain?" Tanya Adam.


"Udah jangan banyak tanya, kamu antar aku ke sana aja." Ujar Andi tanpa memberitahu niatnya.


Begitu sampai di tempat kerja Mila, ternyata Mila sudah menunggu Andi di depan tokonya. Andi langsung turun untuk menghampiri kekasih hatinya itu.


"Bro, motorku kamu bawa pulang saja. Aku dan Mila ada urusan sebentar." Kata Andi.


"Bilang saja, kalau kalian berdua mau kencan sore-sore gini." Cibir Adam.


"Haha.. tau aja." Jawab Andi.


"Nanti kamu ambil sendiri motormu di rumah Zahira." Ucap Adam.


"Iya-iya. Sudah sana kamu pulang. Kasihan Zahira menanti kepulangan mu." Usir Andi.


Adam melesat meninggalkan Andi di tempat kerja Mila. Di tengah-tengah jalan sedang terjadi kemacetan mungkin ada sebuah kecelakaan. Sehingga semua mobil dan motor berjalan secara perlahan-lahan.


"Sebenarnya ada apa di depan. Kenapa macet seperti ini? Tidak seperti biasanya." Gumam Adam.


Hingga setengah jam kemudian, Adam sudah terbebas dari kemacetan dan langsung melaju dengan kencang agar cepat sampai rumah.


Adzan Maghrib sudah berkumandang. Zahira merasa cemas sang suami belum pulang juga. Adam juga tidak mengabarinya jika memang harus lembur di kantor. Zahira terus memandang ke arah pintu.


"Nduk.. kamu sholat dulu. Mungkin suamimu sedang lembur makanya sudah jam segini belum pulang." Ujar Ibu.


"Iya Mak." Jawab Zahira.


Dengan berat hati ia melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu dan menjalankan sholat Maghrib.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2