
"Aku kan nungguin kamu Mas." Jawab Zahira sambil menggulung dirinya dengan selimut karena malam ini cuaca begitu dingin.
Adam meletakkan ponselnya di atas meja lalu bergabung dengan sang istri di selimut yang sama. Zahira langsung merapatkan tubuhnya ke tubuh sang suami mencari kehangatan melalui tubuh Adam.
"Mas.. apa di kantor ada masalah?" Tanya Zahira lagi yang masih penasaran.
"Tidak ada masalah apa-apa." Jawab Adam begitu lembut.
"Jika tidak ada masalah, kenapa Mas Adam bilang 'jangan sampai ada yang tahu, coba?"
Adam tersenyum tipis.
Zahira belum juga berhenti bertanya. Sebenarnya dia ingin tahu dengan pembahasan Adam dan Andi di telpon tadi. Tapi jika sang suami tidak mau memberitahu juga tidak apa-apa karena itu juga bukan urusannya.
"Tidak ada kok Yank.. sekarang tidur ya." Ucap Adam sambil mengelus kening sang istri. Zahira pun memejamkan kedua matanya.
Adam masih mengelus-elus kening Zahira dengan pikiran yang kemana-mana. Bagaimana dia bisa tertidur jika besok dia harus bertemu dengan Citra lagi dan lagi. Kini Adam dibuat pusing sendiri bahkan untuk berangkat kerja saja ia merasa enggan sekarang. Beruntung Andi sahabat yang sangat pengertian. Andi selalu membantu dirinya jika tengah mengalami kesulitan seperti halnya saat ini, dimana Citra yang ingin mengusik keharmonisan rumah tanggannya bersama Zahira.
***
Seperti biasa, pagi-pagi Zahira selalu mual.
"Huek.. huek.. huek.."
Zahira pun mengusap sudut bibirnya lalu berkumur-kumur.
"Duh.. sampai kapan ya mual-mual ini akan berhenti dengan sendirinya." Keluh Zahira lalu keluar dari kamar mandi. Sebab kamar mandi di rumahnya hanya ada satu dan harus mengantri dulu jika ingin mandi.
"Sudah selesai Mbak muntah-muntahnya?" Tanya Akmal yang berdiri di samping pintu kamar mandi dengan handuk yang ia sampirkan di pundaknya.
Zahira mengangguk. "Sudah kok Dek." Jawabnya.
Zahira langsung melangkah ke dapur untuk membuat teh hangat buat dirinya dan secangkir kopi hitam untuk laki-lakinya. Ibu Zahira tersenyum melihat sang putri yang mendekat ke arahnya saat dirinya tengah memasak.
"Mau bantu Emak masak Nduk?" Tanya Ibu Zahira.
"Hehe.. enggak kok Mak, Hira mau buat teh hangat dan juga kopi untuk Mas Adam." Jawab Zahira.
"Kirain kamu mau bantu Emak." Ucapnya yang nampak sibuk.
Zahira jadi tidak enak.
"Bentar ya Mak, Hira buat ini dulu. Setelah itu akan Hira bantu." Jawabnya sambil mengaduk-ngaduk tehnya.
Ibu pun mengangguk.
"Apa yang harus Hira kerjakan Mak?" Tanya Zahira setelah selesai membuat teh dan kopinya.
"Ini, kamu tinggal goreng tempe saja, yang lainnya tadi sudah matang semua." Jawab sang Ibu.
Beberapa menit kemudian masakan Ibu Zahira sudah matang semua. Zahira langsung masuk ke kamarnya untuk memanggil sang suami.
"Mas, aku sudah buatkan kamu kopi. Aku taruh di meja dapur." Ucap Zahira kepada Adam yang hendak mandi.
__ADS_1
"Iya, nanti akan Mas minum, Mas mandi dulu." Jawab Adam lalu menuju kamar mandi di sebelah dapur.
Zahira mengambilkan pakaian kerja sang suami tidak lupa sepatu juga sudah ia siapkan. Sambil menunggu Adam mandi, ia meminum tehnya yang sudah hangat.
Ceklek..
Suara pintu terbuka dari luar. Nampak lah Adam yang masuk ke kamarnya setelah selesai mandi. Zahira berdiri lalu mengulurkan pakaian kerja kepada sang suami agar segera dipakai.
"Yank, tolong pasangkan kancing bajunya." Pinta Adam.
"Dasar manja." Cibir Zahira namun tetap membantu Adam.
"Nggak papa lagian manjanya juga sama kamu." Balas Adam santai.
"Selesai." Begitu kancing bajunya sudah terpasang semua.
Adam menghadiahi sebuah kecupan di kening sang istri. "Terimakasih." Ucapnya.
"Sama-sama." Balas Zahira sambil tersenyum.
Adam menghela napasnya. "Kamu tahu, sebenarnya malas sekali untuk Mas berangkat kerja hari ini." Ucap Adam sambil memakai sepatu.
"Kenapa?" Tanya Zahira dengan berkerut dahi.
"Ya nggak apa-apa sih, cuma malas saja." Jawab Adam tanpa memberitahu yang sebenarnya.
"Nggak boleh gitu.. kan Mas sendiri pernah bilang, kalau Mas nggak bisa seenaknya ambil cuti." Ujar Zahira.
Adam tersenyum tipis. Ia kira Zahira akan menyambut dengan senang hati jika dirinya libur satu hari saja. Tapi nyatanya sang istri malah mengingatkan perkataannya tempo hari yang lalu.
"Iya, nggak boleh." Jawab Zahira tegas.
"Mas harus bekerja yang rajin biar punya uang yang banyak buat persalinan aku nanti." Lanjut Zahira.
Adam tersenyum. "Kalau masalah itu kamu jangan khawatir, tabungan Mas cukup banyak." Jawab Adam.
Sejak SMA Adam sudah mempunyai tabungan sendiri di bank. Ia dari kecil sudah ditanamkan oleh kedua orang tuanya untuk hidup hemat dengan cara menabung.
"Iya-iya aku percaya. Mas kan anak satu-satunya, punya orangtua tajir lagi." Ujar Zahira mempercayai omongan Adam.
"Iya dan kamu lah yang bisa merasakan kekayaan Mas-mu ini." Sahut Adam sambil menyisir rambutnya di depan lemari kaca.
"Haha.. beruntungnya aku. Punya suami yang kaya raya udah gitu tampannya kebangetan." Canda Zahira sambil tertawa.
"Satu lagi yang belum kamu sebut." Kata Adam.
"Apa coba?" Tanya Zahira.
"Setia." Bisik Adam di telinga Zahira.
"Hehe.. emang Mas Adam setia." Goda Zahira sambil terkekeh.
"Tentu saja." Jawab Adam sambil mencuri ciuman di bibir sang istri.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok...
"Nduk.. ajak suamimu sarapan." Suara ibu sambil mengetuk pintu.
"Iya Mak.." Jawab Zahira dari dalam. "Ayo Mas kita sarapan." Ajak Zahira dan Adam menganguk.
Adam dan Zahira keluar kamar, mereka bergabung untuk sarapan pagi.
"Sini Mas, duduk." Kata Akmal dengan menggeser sedikit badannya agar Adam duduk di sebelahnya.
Zahira langsung mengambilkan sarapan untuk Adam dan juga untuk dirinya tidak lupa juga menuang segelas air putih.
"Mak, motornya Mbak Hira hari ini aku bawa ke sekolah ya." Pinta Akmal agar diizinkan memakai sepeda motor.
"Kamu itu masih SMP, belum diizinkan oleh pihak sekolah mengendarai sepeda motor ke sekolahan." Jawab Ibu.
"Temen-temen Akmal saja banyak Mak yang makai sepeda motor. Tapi mereka titipkan di luar sekolahan dan ada uang karcisnya juga." Balas Akmal.
"Kenapa tiba-tiba kamu mau naik sepeda motor ke sekolahnya?" Tanya Bapak.
"Akmal capek Pak, masa harus goyang lutut terus." Jawab Akmal.
"Alesan kamu Dek, bilang aja mau gaya seperti kebanyakan anak lainnya." Cibir Zahira.
"Nggak gitu juga Mbak, cuma sesekali aja kok Akmal makainya. Tinggal Akmal dan Udin aja yang tiap hari selalu gowes." Ujar Akmal.
"Jadi gimana Mak, boleh nggak Akmal pakai motor Mbak Hira?" Tanya Akmal sekali lagi.
"Ya sudah boleh, Udin juga harus kamu bonceng. Kasihan dia." Jawab Ibu memberi izin.
"Yess.. Iya Mak, Akmal juga nggak akan tega ninggalkan Udin sendirian." Ucapnya.
"Sudah, sekarang kamu habiskan sarapan mu. Biar tidak terlambat." Sahut Bapak.
Mereka sudah selesai sarapan. Akmal sudah berangkat ke sekolah dengan mengendarai motor matic sang kakak. Bapak hari ini tidak ke sawah beliau sekarang menggarap rumah tetangga yang di renovasi.
Adam menunggu Andi di depan teras dengan ditemani Zahira. Tidak lama motor Andi memasuki pelataran rumah Zahira.
"Ayo Dam, kita berangkat!" Teriak Andi tanpa mematikan mesin motornya.
"Mas, kerja dulu ya Sayang." Sambil mengecup kening Zahira lalu beralih ke perut sang istri mengobrol dengan calon anak dulu.
"Baik-baik di dalam ya Dek, jangan merepotkan Mama." Ucap Adam memberi elusan.
Zahira pun tersenyum.
"Hati-hati ya Mas.." Balas Zahira setelah mencium punggung tangan Adam.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..