
Meski tidak diperdulikan oleh orang rumah, Zahira juga tidak masalah. Jika mereka tetap mengabaikan keberadaannya di rumah ini maka Zahira akan memutuskan untuk pulang ke rumahnya bersama Arvind. Biarlah jika mereka menganggapnya kekanak-kanakan daripada sakit hati.
"Kita keluar yuk Dek, duduk-duduk di teras atau jalan-jalan gitu biar nggak bosen." Ucap Zahira lalu mengambil kain jarik untuk menggendong Arvind.
Biarpun Arvind belum mengerti, Zahira seringkali mengajak anaknya itu berbicara agar interaksi di antara keduanya semakin kuat antara ibu dan anak.
Setelah memakai kerudung Zahira berjalan untuk keluar dari kamarnya. Hari ini ia tidak ingin terlihat menyedihkan yang ada malah dia jadi stress sendiri.
"Mana istrimu Dam?" Tanya Ayah melihat putra semata wayangnya datang sendiri ke meja makan.
"Masih di kamar Yah memberi ASI Arvind." Jawab Adam sambil menarik kursi untuk ia duduki.
"Kamu panggil saja, kita sarapan bersama." Titah Ayah.
Ayah tahu, pasti saat ini menantunya itu merasa malu untuk bergabung sarapan bersama mereka, karena Ayah melihat sendiri bagaimana saat di dapur, Ibu mengacuhkan keberadaan Zahira yang ingin membantu memasak.
Dan orang yang sedang mereka bicarakan itu sudah keluar dari kamarnya sambil bersenandung ria menyanyikan lagu India. Tentu saja mereka yang berada di meja makan spontan menoleh ke arah Zahira yang nampak ceria sekali.
"Nak.." Panggil Ayah sedikit keras membuat Zahira membalikkan badannya menghadap ke sumber suara yang memanggilnya.
"Kamu mau ke mana? Ayo kita sarapan." Ajak Ayah melihat Zahira sepertinya mau keluar rumah.
Sementara Ibu hanya diam sembari mengisi piring Ayah dan piring Adam dengan nasi dan lauk.
Zahira mendekat ke meja makan sambil tersenyum.
"Maaf Yah, aku belum lapar. Aku mau keluar sebentar, mau jalan-jalan sama Arvind." Jawab Zahira berusaha menolak karena menurutnya ia tidak pantas ikut sarapan.
Adam menaikkan sebelah alisnya, memandang lekat istrinya itu.
"Kamu mau jalan-jalan ke mana?" Tanya Ayah sekali lagi.
"Nggak kemana-mana Yah, cuma di gang ini saja." Jawab Zahira sambil melirik suaminya sekilas.
"Ya sudah, tapi jangan jauh-jauh biar kamu nggak capek." Ujar Ayah.
"Iya Yah." Jawab Zahira mengangguk.
Setelah kepergian Zahira dan Arvind.
"Ibu harusnya tidak mendiamkan Zahira seperti ini. Untuk sarapan saja dia menolak ajakan Ayah dengan alasan belum lapar. Padahal Ayah tahu betul, pasti saat ini menantu kita juga sudah kelaparan tapi Zahira tahan karena melihat sikap ketus Ibu." Tutur Ayah.
"Ibu cuma kesal aja Yah, lihat cucu kita yang nangis meraung-raung karena lapar sementara Mamanya nggak pulang-pulang." Jawab Ibu membela diri.
__ADS_1
"Iya Ayah tahu kalau menantu kita salah. Tapi jika kalian berdua tetap mendiamkannya, yang ada Zahira akan tertekan. Bisa saja dia memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena sikap kalian berdua." Ujar Ayah panjang lebar. Ayah mengerti dengan perasaan sang menantu.
Adam menghela napas, sedetik kemudian laki-laki tampan itu tidak jadi meneruskan sarapannya.
"Aku sudah selesai." Ucapnya sambil membersihkan mulutnya dengan tissue.
***
Di sepanjang langkah kakinya, Zahira tidak henti-hentinya disapa oleh para ibu-ibu di gang rumahnya. Bahkan sampai ada yang mencium wajah Arvind karena saking gemasnya dengan bayi lucu nan tampan itu.
Zahira juga tidak keberatan jika para ibu-ibu menciumi wajah Arvind. Karena Zahira memaklumi jika mereka sangat menyukai anaknya. Terlebih lagi Zahira yang jarang sekali berkumpul dengan mereka jika di sore hari. Zahira tidak terbiasa bergabung bersama ibu-ibu yang usianya jauh di atasnya.
"Kamu mau ajak Arvind ke mana Ra?" Tanya salah satu tetangganya sambil mencubit kecil pipi tembem Arvind.
"Nggak kemana-mana kok Bi, cuma mau jalan-jalan aja lihat suasana pagi hari." Jawab Zahira.
"Kamu kok ganteng sekali sih Nak, mirip sama Papa kamu." Puji Ibu itu dengan gemas.
Zahira hanya tersenyum, semua wajah Arvind memang foto kopian Adam sewaktu kecil. Bisa dibilang Adam junior.
"Oh, terus gimana dengan keadaan adikmu saat ini?" Tanya ibu itu lagi.
"Alhamdulillah sudah lebih baik Bi, ya meskipun belum boleh pulang dulu." Jawab Zahira.
"Syukurlah kalau gitu." Ucapnya sambil manggut-manggut.
Dan beberapa detik kemudian datanglah tukang sayur keliling berhenti tepat di samping Zahira.
"Sayur!!" Teriaknya agar ibu-ibu yang berada di dalam rumah bisa mendengar suaranya.
"Eh, Bibi tinggal belanja dulu ya." Ucapnya pada Zahira.
"Belum matang Bi?" Tanya Zahira.
"Belum, tadi cuma masak nasi goreng aja buat sarapan anak-anak sama suami." Jawabnya sambil menghampiri tukang sayur.
Zahira meneruskan langkahnya hingga sampai di perempatan jalan. Di kanan jalan ia melihat tukang bubur ayam yang sedang berhenti melayani para pembeli.
"Syukurlah ada penjual bubur Ayam, seenggaknya aku nggak kelaparan pagi ini." Gumamnya senang.
Zahira menyebrang jalan menghampiri tukang bubur ayam itu.
"Bang, bubur ayamnya dua porsi ya. Tidak usah pakai sambel." Ucap Zahira.
__ADS_1
"Iya Mbak." Angguk si penjual.
Sambil menunggu pesanannya Zahira bercanda dengan baby Arvind.
"Ini Mbak buburnya." Sambil mengulurkan pada Zahira.
"Eh, iya. Berapa Bang?" Tanya Zahira setelah menerima.
"Delapan belas ribu Mbak." Jawabnya. Zahira mengulurkan uang dua puluh ribuan.
"Kembaliannya Mbak, Makasih udah beli." Ucapnya tersenyum ramah.
"Iya Bang sama-sama." Balas Zahira lalu memasukkan uangnya ke saku gamis.
Tanpa Zahira sadari, sedari tadi Adam terus memperhatikan dirinya di atas motor sportnya. Adam hendak berangkat kerja namun harus berhenti sejenak karena melihat Zahira yang membeli bubur ayam.
"Kita pulang yuk Dek, Mama sudah lapar." Zahira menyebrang lagi setelah tidak ada motor lewat. Hingga pandangannya tertuju pada suami tampannya yang berhenti di pinggir jalan.
"Nunggu siapa ya Mas Adam? Kenapa berhenti disitu?" Bisik Zahira bertanya-tanya padahal Adam sedang mengawasi dirinya.
Sebenarnya Zahira ingin sekali menghampiri Adam untuk mencium tangan suaminya itu namun Zahira ragu untuk mendekat, bagaimana jika mendapat penolakan lagi. Hingga ia urungkan saja niatnya itu dan tetap berjalan agar sampai rumah karena Arvind juga sudah tidur.
Sampai rumah, Zahira memutuskan untuk makan bubur ayamnya di teras depan, tidak mungkin ia bawa masuk ke dalam.
"Malangnya nasibku. Ck.. ck.. ck.." Ucap Zahira mendramatisir keadaannya.
Ia pun melahap sarapan paginya itu dengan Arvind yang masih dalam gendongannya.
"Untung beli dua porsi jadi bisa untuk makan siang juga." Sebagai seorang menantu Zahira cukup tahu diri.
Hingga pendengarannya menangkap suara sepeda motor yang tidak asing lagi di telinganya. Ternyata Adam kembali lagi ke rumah.
"Kenapa balik lagi. Apa ada yang ketinggalan?" Gumamnya. Lalu pura-pura saja tidak tahu dengan fokus pada makanannya.
Dan tanpa Zahira duga, Adam justru duduk di depannya membuat Zahira semakin menundukkan kepalanya.
.
.
Bersambung..
.
__ADS_1