Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Ekstra part 9


__ADS_3

Wajah Zahira tak henti tersenyum kala memandangi suami tampannya sedang menggendong baby Fisha. Adam mengajak bayi imut itu berbicara, sesekali ia ajak bercanda juga seolah anaknya itu sudah paham akan omongan.


"Mas, apa Arvind kita biasakan tidur sendiri di kamarnya ya?" Tanya Zahira.


Sampai saat ini Arvind masih tidur bersama mereka karena Zahira belum rela membiarkan Arvind tidur sendirian. Zahira khawatir Arvind akan terbangun tengah malam lalu mencari-cari dirinya.


"Kalau menurut kamu gimana? Apa kamu tega membiarkan Arvind tidur sendirian?" Adam balik bertanya.


"Mama, Alpin ndak mau tidul cendili. Alpin mau na tidul cama Mama cama Papa!" Sahut bocah tampan itu menolak keras jika harus terpisah tidurnya.


Zahira mengelus kepala Arvind yang tengah bermain ponsel duduk bersila di sampingnya. Meskipun asyik bermain game tapi Arvind tetap mendengarkan pembicaraan kedua orangtuanya itu.


"Aku nggak tega Mas. Apalagi Arvind lagi manja-manjanya sama kita." Jawab Zahira.


Adam tersenyum tipis. "Sama, Mas juga nggak tega. Jadi biarlah Arvind tetap tidur bersama kita, nanti kalau ia sudah mengerti maka akan kita biasakan dia tidur sendiri." Jelas Adam.


Zahira mengangguk. "Iya Mas, aku setuju." Jawabnya.


Untuk saat ini kamar Arvind yang sudah jadi selama satu minggu itu terpaksa harus di kosongkan, tapi kalau siangnya akan Zahira gunakan untuk Arvind tidur siang.


"Hole.. Alpin tetap tidul cama Mama.." Soraknya senang.


"Sstt.. jangan berisik Kak, adeknya lagi bobo." Tegur Adam lalu meletakkan baby Fisha di dalam box bayi.


"Ups.. coly Papa.." Ucap Arvind seraya menutup mulut kecilnya lupa jika ada adik bayinya. Untung saja baby Fisha tidak bangun mendengar suara keras bocah tampan itu.


Tak lama kedua orangtua dan mertua Zahira serta Akmal kembali masuk setelah mereka selesai makan malam di luar.


"Udah tidur lagi ya?" Tanya Ibu.


"Iya Bu." Zahira mengangguk.


"Nduk, Kami pamit pulang ya. Kamu ndak apa-apa kan jika kami tinggal?" Tanya Ibu Zahira.


"Nggak apa-apa Mak lagian sudah ada Mas Adam juga yang menemani Hira di sini." Jawabnya pada sang Ibu.


"Cucu Uti pulang sama Uti dan Akung ya." Ibu mengajak Arvind pulang, khawatir jika bocah tampan itu tidak nyaman tidur di ruangan Mamanya.


"Alpin ndak mau puyang, Alpin mau di cini temani Mama." Tolaknya.


"Tidur di sini nggak enak sayang.. Kakak mau tidur dimana nanti?" Ibu masih membujuk Arvind.


"Tidul di cini." Menepuk ranjang yang ia duduki.


"Itu kan tempat tidurnya Mama. Sempit lagi tempatnya." Ucap Ibu.


"Macih muat tok. Ya tan Ma?" Jawab Arvind seraya memandang Zahira.

__ADS_1


"Iya Nak." Balas Zahira tersenyum pada Arvind.


"Udah Bu. Jangan dipaksa lagi jika Arvind nggak mau." Sahut Adam.


"Lagipula masih muat kok Bu jika Arvind berbaring di ranjang ini." Sambung Zahira.


"Kamu yakin?" Ibu masih aja kekeuh.


"Uti cama Akung puyang aja. Tatana mau puyang." Arvind mengusir nenek dan kakeknya agar tidak membawa dirinya kembali ke rumah.


Akmal terkekeh mendengar omongan ponakannya itu yang terkesan memaksa mereka untuk segera meninggalkan ruangan Mamanya.


"Pinter banget kamu ya Cil ngusir kita pulang." Gemas Akmal mencubit pipi tembem Arvind.


"Cakit Om Amal.." Arvind menepis tangan pemuda itu sambil cemberut lucu.


"Sudah-sudah kalo Arvind nggak mau ikut pulang. Lebih baik kita segera pergi. Zahira juga butuh istirahat." Ucap Bapak yang sedari hanya diam.


Semuanya pun mengangguk dan berpamitan kepada Adam dan Zahira. Kedua Uti juga menyempatkan mencium wajah Arvind.


***


Keesokan harinya Zahira sudah diperbolehkan pulang dan semalam mobil yang Ayah pakai ia tinggalkan di klinik. Untuk motor sport Adam, dipakai Akmal karena tidak mungkin Ayah mengendarainya jadi Ayah dan Akmal tukeran kendaraan. Begitu dokter Arni mengatakan kalau Zahira besoknya sudah boleh pulang, Adam langsung menelpon ibunya mengabari wanita paruh baya itu.


Sampai rumah mereka sudah disambut meriah oleh para orangtua dan juga sahabat-sahabat mereka di teras, namun Dini dan Eko tidak bisa hadir karena kebetulan ada urusan keluarga.


"Selamat datang di rumah baby Fisha!!" Ucap Risma dan Mila serempak.


"Mas, kok mereka bisa tahu kalau kita pulang hari ini?" Tanya Zahira.


"Mungkin Ibu yang memberitahu mereka Yank." Jawab Adam merangkul pinggang Zahira.


Kedua perempuan itu pun menggiring Zahira untuk masuk ke dalam dimana di ruang tamu sudah dihias indah dengan berbagai macam warna balon dan juga beberapa bunga kertas yang menempel di dinding.


"Wuah.. lumah na Alpin banak balon na!" Seru Arvind dengan mata berbinar dan langsung berlari melihat balon-balon yang tersusun rapi.


"Papa.. Papa.. boyeh Alpin ambil balon na?" Bertanya dulu pada Adam sebelum mengambil salah satu.


Adam mengangguk. "Boleh sayang." Jawabnya seraya meletakkan tas di samping sofa.


Kedua Uti masuk ke dapur mengambil minuman dan juga cemilan yang sudah mereka buat tadi. Sementara Arvind, Dila dan Mikha bermain balon.


"Ra, sini aku mau gendong baby Fisha." Pinta Risma. Zahira pun menyerahkan bayi mungilnya dengan hati-hati.


"Ihh.. cantik banget kamu.." Puji Mila ikutan gemas dengan wajah imut baby Fisha.


"Hidungnya mancung banget kayak hidung Kak Adam." Ucap Risma menoel pipi chubby baby Fisha yang anteng tidur.

__ADS_1


"Bibirnya mirip bibir Mbak Hira." Sambung Mila.


Andi menepuk bahu Adam yang duduknya terpisah dari para perempuan itu.


"Selamat udah jadi Ayah lagi. Bener-bener hebat kamu udah punya dua anak aja." Ujar Andi.


Adam tersenyum tipis. "Namanya juga rejeki. Kamu sendiri kapan nambah momongan lagi?" Tanya Adam.


Andi terkekeh. "Mila belum siap untuk hamil lagi katanya dia mau fokus dulu sama Dila takutnya jika dia hamil, Dila tidak akan ada yang mengurusi." Jawab Andi yang sebenarnya juga ingin punya anak lagi.


"Ini, minuman dan cemilan Ibu hidangkan untuk kalian." Ibu meletakkan beberapa makanan ringan di atas meja.


"Makasih Bibi." Jawab Risma dan Mila bersamaan.


Sementara Ibu Zahira membawa piring berisi nasi + lauk pauk untuk Zahira makan.


"Kamu makan dulu ya Nduk.." Sang Ibu mengulurkan piring penuh makanan itu kepada Zahira.


Zahira pun memanggil suaminya yang lagi ngobrol dengan Andi.


"Ada apa Yank?" Toleh Adam.


"Ayo Mas kita makan, kamu kan belum makan juga?" Zahira mengajak Adam makan bersama dirinya.


"Kamu saja, Mas belum lapar." Tolak Adam.


"Beneran?"


"Iya, kamu makannya yang banyak." Ucap Adam.


"Mama!! Alpin uga lapal." Teriak Arvind berlari ke arah Zahira diikuti Dila dan juga Mikha di belakang.


Zahira tersenyum. "Ayo duduk samping Mama." Menepuk sisi kosong sofa.


Selain Arvind, Dila dan Mikha juga minta disuapi Zahira makan. Padahal porsi nasi pada piring Zahira hanya untuk dua orang saja. Tapi tak apalah nanti bisa nambah lagi.


"Kakak Mikha sama adek Dila kok ikut-ikutan makan juga? Kalau kalian lapar kan bisa minta sama Uti." Ucap Risma geleng-geleng kepala menyaksikan Zahira menyuapi ketiga balita.


"Adek sini, udah ya makannya." Mila memanggil Dila. Namun Mikha dan Dila tidak menghiraukan panggilan dari Mamanya dan tetap minta disuapi Zahira lagi.


Andi dan Adam hanya melihat saja tanpa ikut campur.


"Magnet apa sih yang ada dalam diri Zahira? Anak gue dan Mikha selalu aja nempel kalo ada istrimu." Heran Andi.


.


.

__ADS_1


Lanjut atau udah?


.


__ADS_2