Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Selingkuhanmu


__ADS_3

"Zahira! Apa-apaan kamu!" Bentak Adam.


Adam marah lantaran Zahira main nampar Citra dengan seenak hati tanpa bertanya dulu kepada dirinya, juga tidak melihat ke sekeliling arah. Ini area kantor, tidak sepantasnya Zahira melakukan itu. Bagaimana jika kejadian ini sampai di dengar oleh sang atasan. Bisa kena teguran ia karena membuat kegaduhan.


Zahira pun terkesiap dengan bentakan laki-laki tampan itu. Ia pun memundurkan tubuhnya beberapa langkah dengan menahan sesak. Baru kali ini Adam membentaknya, Zahira berusaha menahan air matanya agar tidak sampai luruh.


Sementara Citra dia memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan yang dilayangkan Zahira. Gadis itu juga terkejut dengan kehadiran Zahira yang tiba-tiba.


"M-maaf ji-jika kehadiranku mengganggu kalian berdua." Ucap Zahira dengan terbata-bata lalu pergi dengan air mata yang sudah mengalir dengan sendirinya.


"Keterlaluan kamu Dam. Puas! Sudah membentak istrimu sendiri, kalau sampai Zahira kenapa-kenapa aku tidak mau berteman denganmu lagi!"


Andi begitu marah kepada sahabatnya ini. Tanpa menunggu jawaban Adam, Andi mengejar ibu hamil itu berusaha untuk menenangkannya.


Adam mengusap kasar wajahnya dan melihat Citra yang menunduk sedih. Kejadian tadi di saksikan oleh beberapa karyawan lain.


"Aku minta maaf atas nama Zahira." Ucap Adam kepada Citra.


Sementara di halaman kantor, Zahira menangis tanpa suara namun begitu menyiksa dadanya. Hatinya sakit, Adam bukannya membela dirinya malah memarahinya di depan umum.


"Zahira.." Teriak Andi sambil berlari. Zahira menghentikan langkahnya sembari menghapus bulir-bulir bening di kedua pipinya.


"Ada apa Kak?" Tanya Zahira dengan suara serak.


"Ayo aku antar kamu pulang." Andi menarik tangan Zahira berjalan ke tempat parkir.


Ia tahu wanita ini pasti sangat terpukul. Andi paham dengan rasa kecewa yang dialami Zahira kepada Adam. Selama di perjalanan mereka berdua saling diam. Sesekali Andi melirik di kaca spion apakah wanita yang ia bonceng itu saat ini menangis. Ternyata tidak, Zahira biasa saja, Andi tahu mungkin Zahira malu jika nangis di tengah jalan.


\*


Setelah mengucap maaf kepada Citra, Adam juga turut mengejar Zahira. Namun usahanya sia-sia dia sudah tidak melihat keberadaan istrinya di halaman kantor.


"*ial, dimana Zahira dan Andi." Gumamnya frustasi.


Adam mengambil ponsel di saku celananya lalu berusaha menelpon wanita yang ia bentak tadi. Berkali-kali dihubungi namun tidak dijawab. Kini berganti ke nomor Andi, sama saja Andi juga tidak mengangkat panggilannya.


Adam berlari ke arah parkiran untuk mengambil motornya siapa tahu Zahira dan Andi masih berada di dekat kantor. Ia harus mencari Zahira, meluruskan apa yang dilihat istrinya tadi dan juga meminta maaf karena sudah membentaknya.


"Kak, antar aku pulang ke rumahku saja ya." Zahira bersuara setelah terdiam cukup lama.


"Iya." Jawab Andi sedikit keras dibalik helm yang dia pakai.

__ADS_1


Kini motor Andi sudah masuk ke halaman rumah Zahira. Andi mematikan mesin motornya lalu Zahira turun.


"Makasih Kak, udah membawaku pulang." Ucap Zahira berusaha untuk tersenyum.


"Ra, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Andi memastikan. Andi sangat mengkhawatirkan Zahira.


"Aku baik-baik saja Kak." Jawab Zahira tetap tersenyum meski harus di paksa.


"Aku tahu tadi kamu nangis." Andi menatap seksama wajah Zahira.


Mata Zahira berkaca-kaca. Siapa sih yang tahan jika dibentak seperti itu oleh suaminya sendiri. Zahira juga tahu jika dirinya salah karena telah menampar Citra tadi.


Andi menghela napasnya di udara. "Ra, jangan terlalu kamu pikirkan ya, ingat kondisi kamu saat ini lagi hamil nanti bisa berakibat pada janinmu." Tutur Andi mengingatkan.


Zahira mengangguk sambil mengelus perutnya. "Kak Andi tenang saja, aku juga nggak mau terlalu sedih kok." Jawabnya berusaha tegar.


"Bagus itu." Sahut Andi tersenyum.


"Kak Andi pasti lapar kan, belum makan siang. Tadinya aku mau buat kejutan untuk Mas Adam. Eh, malah aku sendiri yang dapat kejutan nggak keduga." Zahira tersenyum kecut sambil mengulurkan tas berisi rantang makanan.


Andi menerima makanan itu. "Makasih ya Ra." Jawabnya.


"Masuklah ke dalam terus istirahat." Perintah Andi sebelum ia kembali lagi ke kantor.


"Iya, sekali lagi makasih ya Kak." Ucap Zahira.


Andi mengangguk. "Sama-sama. Aku balik dulu." Pamitnya.


\*\*\*


Adam menyusuri sepanjang jalan namun tidak kunjung menemukan dimana Zahira dan Andi. Pikirannya juga tidak tenang, ia begitu takut. Kenapa ia bisa seceroboh itu membentak istrinya begitu kasar.


"Pasti Andi mengantar Zahira pulang." Gumam Adam. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kantor. Ia bisa menjelaskan masalah ini setelah pulang dari kantor nanti dan berharap Zahira mau memaafkannya.


Saat Adam sudah masuk ke ruangannya. Ia mendapati Andi sedang makan begitu lahap di meja kerjanya. Perutnya juga lapar belum ia isi sama sekali. Ia pun mendekat ke meja Andi. Bermaksud untuk meminta makanan yang masih banyak di dalam rantang itu.


"Ndi, boleh aku minta makanan kamu. Perutku lapar Ndi." Pinta Adam.


Andi tidak menggubris. Andi benar-benar marah kepada Adam. Andi tetap melahap makanan itu yang sangat lah enak di lidahnya.


"Ndi, makanan kamu masih banyak. Bagilah denganku?" Adam masih berusaha meminta.

__ADS_1


"Nggak bisa. Makanan ini sangat spesial buatku, kamu beli saja di kantin." Jawab Andi ketus.


Adam menghela nafasnya. "Bentar lagi waktu istirahat akan habis, tidak mungkin aku pesan makanan di sana." Jelas Adam.


"Bukan urusan gue." Balas Andi cuek.


"Ndi, nasinya masih ada kan. Aku mau nambah lagi nih." Sahut Roni berjalan ke meja Andi.


"Masih ada, nih kamu bisa ambil lagi. Enak banget kan capcainya.." Ujar Andi kepada Roni sambil memanas-manasi Adam.


Roni manggut-manggut. "Enak banget, siapa yang masak, Ibu kamu?" Tanya Roni sambil mengambil nasi dan ayam krispi.


"Bukan, ini tuh masakan Zahira." Jawab Andi melirik sinis Adam yang berdiri di sampingnya.


"Oh.. Pintar sekali dia masak." Puji Roni yang turut makan masakan Zahira.


Deg..


Adam makin bersalah kepada Zahira. Ternyata istrinya jauh-jauh kemari hanya ingin mengantar makan siang untuknya. Dan sekarang makanan yang menggugah selera itu harusnya dia yang makan, bukan orang lain. Apalagi capcai dan ayam krispi adalah makanan kesukaannya.


Adam tetap berdiri di samping meja Andi sambil memandangi rantang itu.


"Ndi, makanan itu juga untukku." Ucap Adam.


"Kata siapa ini untukmu? Zahira memberikan ini cuma padaku jadi makanan ini adalah punyaku." Jawab Andi lalu menutup rantangnya dan memasukkan ke dalam tas. Andi sudah selesai makan.


Tidak begitu lama Citra masuk ke dalam. Berjalan mendekat ke arah Adam berdiri.


"Adam, kamu sudah makan belum. Nih, aku bawakan kamu nasi kotak." Citra mengulurkan bungkusan kepada Adam.


Andi berdecih. "Ambil aja. Selingkuhanmu udah susah payah tuh belikan kamu makan siang." Sindir Andi sinis.


Matanya sakit melihat senyum Citra yang tak kunjung surut kepada Adam.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2