Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Aroma parfum


__ADS_3

Adam tidak menghiraukan sapaan Citra, dia langsung masuk ke dalam toko untuk membeli kue bolu pesanan Ibunya. Citra juga turut masuk ke dalam, menemani Adam yang sedang menunggu pesanannya.


Adam sangat risih karena Citra berdiri di sampingnya. Bahkan Citra juga tidak segan-segan memeluk lengan Adam sambil menyandarkan kepalanya di bahu Adam selayaknya dia adalah kekasih Adam.


"Lepaskan tangan mu!" Tekan Adam dingin dengan sorot mata tajam menghunus Citra.


Citra gadis yang tidak punya malu itu terus saja menempel pada Adam bahkan dia tidak punya rasa takut dengan wajah Adam yang sudah menahan amarah.


"Sayang.. jangan marah dong." Ucap Citra dengan wajah memelasnya sambil mengelus-elus lengan Adam.


Citra beraksi seperti ini karena di dalam toko itu banyak sekali pengunjungnya. Seolah-olah mereka adalah pasangan kekasih yang sedang bertengkar dan Citra berusaha membujuk Adam agar tidak marah lagi terhadapnya.


Darah Adam seketika mendidih mendengar bualan Citra. Adam melepaskan tangan Citra dari lengannya dengan kasar. Adam keluar dari toko dengan emosi penuh sambil membawa sekotak kue yang sudah ia bayar.


"Ish.. malah pergi gitu aja." Gumam Citra kesal sambil menghentakkan kakinya di lantai lalu mengejar Adam yang sudah berjalan keluar.


Para pengunjung yang ada di dalam toko itu hanya memandang Citra dengan tatapan aneh.


"Adam.." Panggil Citra sekali lagi.


Citra menggerutu kesal karena Adam tidak mau berhenti. Tapi bukan Citra namanya jika tidak bisa menarik perhatian Adam. Dia pun tersenyum misterius dan...


"Aduh, Adam.. kakiku sakit.." Citra pura-pura terjatuh sambil meringis menahan sakit di pergelangan kakinya.


Orang-orang yang berada di sana langsung membantu Citra untuk berdiri. Namun Citra tidak mau bangun dia menunggu Adam saja untuk menolongnya.


"Sayang.. Adam..tolong bantu aku.." Rengek Citra meminta bantuan Adam.


Orang-orang yang melihat Adam sudah naik ke atas motornya seketika memanggil Adam untuk membantu Citra berdiri. Karena mereka pikir Adam adalah kekasih Citra yang sedang bertengkar sehingga meninggalkan Citra begitu saja.


"Mas.. ini kekasihnya jatuh loh, kok malah di tinggal sih." Panggil salah satu ibu-ibu menahan Adam agar turun dari motornya dan membantu Citra.


Citra tersenyum senang dalam hati, sebab rencananya berhasil dengan begini dia bisa berduaan dengan Adam.


"Maaf Bu, tapi saya bukan kekasihnya lagian saya juga tidak kenal dengan gadis itu." Kata Adam menunjuk Citra dengan dagunya.


"Dia itu bohong Tante, saya adalah kekasihnya tapi pacar saya ini lagi marah sama saya makanya dia main pergi gitu aja." Ucap Citra dengan suara yang dibuat sesedih mungkin.

__ADS_1


"Anak muda jaman sekarang." Ibu itu geleng-geleng kepala.


"Sudah Mas.. tolong bantu Mbak-nya berdiri. Tidak kasihan apa pacarnya merintih kesakitan gitu." Ucap salah satu wanita paruh baya mendesak Adam.


Adam menghela nafasnya, mau tidak mau ia terpaksa turun dari motor dan membantu Citra berdiri. Citra pun memeluk erat tubuh Adam. Dalam hati ia bersorak gembira akhirnya Adam masuk ke dalam jebakannya. Tidak sia-sia aktingnya tadi.


"Terima kasih Sayang.." Jawab Citra senang sambil menempelkan pipinya di dada Adam. Dan sekumpulan ibu-ibu itu sudah pergi meninggalkan mereka berdua.


"Berhenti memanggilku dengan kata-kata sayang." Ucap Adam dengan nada dingin dan menghempaskan tubuh Citra yang sudah lancang memeluknya.


"Kasar sekali jadi cowok." Umpat Citra kesal karena kedua lengannya terasa sakit akibat cengkraman kuat Adam.


Adam meninggalkan Citra seorang diri di sana. Adam benar-benar sangat marah karena Citra sudah berani memeluk dirinya. Begitu sampai di rumah nanti, Adam akan membuang bajunya.


***


Melihat sang suami yang sudah pulang Zahira menyusul Adam ke kamar. Zahira memeluk tubuh Adam karena ia sangat merindukan sang suami dan dibalas Adam dengan kecupan lembut di kepalanya. Tapi ada yang aneh dengan aroma parfum suaminya ini, kenapa baunya seperti aroma parfum perempuan?


Zahira pun melepaskan pelukannya. Menatap Adam dengan penuh selidik.


"Kenapa Mas baru pulang?" Zahira balik bertanya sambil mengendus aroma kemeja Adam.


Adam mulai membuka kancing kemejanya satu persatu dengan bantuan Zahira.


"Tuh kan, parfum Mas Adam bercampur dengan aroma parfum perempuan. Wah.. ada yang nggak beres nih." Zahira merasa curiga. Karena ia yakin dengan aroma lembut itu.


"Tadi di toko kue sangat antri makanya Mas baru pulang. Mas mandi dulu." Jawab Adam lalu masuk ke kamar mandi setelah melepaskan semua pakaiannya hanya meninggalkan celana boxer saja yang masih dia pakai.


"Nggak mungkin kan, kalo Mas Adam selingkuh?" Zahira takut jika di duakan Adam sambil menatap pintu kamar mandi.


Zahira meletakkan pakaian kotor suaminya ke dalam keranjang yang berada di samping lemari. Zahira juga mengambilkan pakaian ganti untuk Adam. Dia akan menanyakan pada Adam tentang aroma parfum perempuan yang menempel di kemeja suaminya itu.


Dua puluh menit kemudian Adam keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Zahira yang tadinya duduk di tepi kasur langsung membantu Adam mengeringkan rambutnya.


"Mas.. aku mau tanya sama kamu. Tapi kamu harus jawab jujur!" Tekan Zahira saat Adam memakai kaosnya.


"Iya, kamu mau tanya apa Sayang." Ucap Adam lembut.

__ADS_1


"Kenapa di kemeja yang kamu pakai tadi ada bau parfum perempuan?" Tanya Zahira tajam.


Adam menghela nafas di udara. Adam menggenggam kedua tangan Zahira lalu mengecupnya.


"Maaf, tadi Mas nggak sengaja ketemu Citra di__" Belum selesai Adam berbicara, Zahira sudah memotong ucapannya.


"Citra.. jadi bau parfum itu milik Citra! Apa yang kalian berdua lakukan? Apa kalian saling berpelukan?!" Tanya Zahira dengan suara yang sedikit meninggi.


Kenapa suaminya bisa bersama wanita itu. Apa yang sudah di lakukan Adam dengan citra.


"Sayang.. tenang ya jangan emosi. Mas akan jelaskan semuanya tapi Mas mohon kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak." Bujuk Adam agar Zahira tidak menangis karena saat ini mata Zahira sudah berkaca-kaca.


Adam merasa bersalah pada sang istri lalu menuntun Zahira untuk duduk di tepi kasur.


"Ya sudah sekarang ceritakan yang sebenarnya." Lirih Zahira dengan air mata yang sudah menetes.


Adam menghapus buliran air mata di pipi Zahira dan menceritakan semua kejadian dari awal hingga akhir tanpa ada yang di tutup-tutupi.


"Sungguh. Mas nggak bohong kan?" Tanya Zahira memandang lekat kedua mata Adam.


"Mas nggak bohong Sayang. Apa selama ini Mas pernah bohongi kamu?" Tanya Adam sambil mengelus pipi kanan Zahira dengan ibu jarinya.


Zahira menggeleng. "Tapi aku tetep nggak suka, dia udah berani meluk kamu Mas.. menang banyak kan dia." Lirih Zahira memukuli dada Adam, tidak rela rasanya.


Adam mengangkat tubuh Zahira lalu di dudukkan di pangkuannya.


"Iya.. iya.. Mas minta maaf sudah biarkan dia meluk tubuh Mas." Sesal Adam mengelus punggung Zahira, menenangkan perempuan itu.


"Turunkan aku." Pinta Zahira.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2