Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Pusing


__ADS_3

Setelah menyelesaikan permainan bola volinya dan di menangkan oleh tim Adam. Kini para gadis yang sedari tadi berteriak histeris dan memuji ketampanan Adam, sekarang berjalan mendekati Adam untuk meminta foto dan juga berkenalan.


Adam sama sekali tidak bisa menghindar. Adam dibuat bingung bagaimana cara agar terlepas dari gadis-gadis centil ini.


"Mas ganteng, minta nomor kontaknya dong." Ucap seorang gadis berambut sebahu sembari mengulurkan ponselnya kepada Adam.


"Aku juga Mas.." Sahut gadis yang sedikit pendek.


"Mas, namanya siapa? kenalin nama aku Ajeng." Ucapnya mengulurkan tangannya untuk berkenalan sama Adam sembari tersenyum manis.


Adam tidak merespon apa-apa, Adam hanya diam sambil menatap mereka dengan raut wajah datar.


"Duh.. cuek amat Mas." Ucap gadis bercelana pendek di atas lutut.


"Jawab dong Mas.. namanya siapa. Biar kita-kita ini pada tahu." Timpal gadis yang berbaju warna pink.


"Iya.." Jawab mereka bersamaan.


Sedang Andi dia tertawa terbahak, melihat Adam yang tidak bisa pergi kemana-mana karena jalannya dihadang oleh mereka.


Zahira yang melihat Adam di kerubungi para gadis menghentakkan kakinya di pasir dengan kesal.


"Dasar Mas Adam buaya darat." Ucap Zahira sambil melipat tangan di dada.


Mila tersenyum lucu mendengar perkataan Zahira. "Mbak Hira kalau lagi cemburu lucu juga." Ucap Mila.


Zahira langsung menoleh. "Orang lagi cemburu kok kamu bilang lucu sih Mil." Kesal Zahira lagi.


"Ya, habisnya Mbak Hira malah ngomel di sini. Samperin Kak Adam dong, kasian kan Kak Adam. Nggak bisa menghindar dari para gadis-gadis itu." Tegur Mila.


"Benar juga yang dikatakan Mila." Gumam Zahira dalam hati.


"Oke, kamu tunggu di sini. aku akan membantu Mas Adam." Ucap Zahira membuat Mila langsung mengangguk.


Zahira berjalan mendekat ke arah para gadis-gadis yang masih mengerubungi Adam.


"Permisi.. permisi." Zahira menyerobot tubuh mereka kemudian merangkul lengan Adam membuat mereka menatap sinis Zahira.


"Eh, Mbak.. kalau mau kenalan sama Mas ganteng ini harus antri ya sama kayak kita-kita." Kata gadis berbaju pink.


"Iya Mbak, jangan asal main nyrobot aja. Ini lagi.. pakai rangkul lengan segala." Sewot gadis bercelana pendek di atas lutut.


"Haduh.. Mbak-mbak yang cantik jelita. Kalian, kalau mau kenalan jangan sama suami orang. Mas ganteng ini sudah punya istri dan saya ini istrinya." Jelas Zahira dengan senyum smirk-nya mengelus lengan Adam.


Adam menghela nafas dalam.


"Nggak percaya kami." Jawab gadis yang bernama Ajeng.


"Dih.. udah dikasih tahu malah nggak percaya." Sinis Zahira.


"Buktinya apa? Kalau situ istri emang dari Mas ganteng ini?" Tanya gadis berambut sebahu.

__ADS_1


"Ini buktinya. Cincin pernikahan kita, gimana mbak-mbak udah percaya kan." Ucap Zahira menunjukkan cincin pasangan yang melingkar di jari manisnya dan jari manis Adam.


Seketika mereka semua langsung percaya meski kecewa.


"Yah.. ternyata Mas ganteng udah punya istri." Keluh gadis yang berbaju pink dengan sedih.


"Iya, gagal deh dapat nomor kontaknya."


"Ya sudah, ayo kita bubar. Kirain Mas ganteng ini masih jomblo. Eh.. tidak tahunya malah sudah menikah." Sahut gadis bernama Ajeng.


"Iya, sudah sana kalian pergi!" Ujar Zahira sambil mengibaskan tangannya tanda mengusir.


Para gadis-gadis itu semua bubar dengan sendirinya tanpa membantah.


"Haha.. Mas ganteng ternyata udah punya istri." Andi tertawa saat Zahira berhasil mengusir para gadis itu.


"Kak Andi juga, bukannya bantu Mas Adam malah diam aja tadi." Zahira melirik sinis Andi.


"Jarang-jarang lho Ra, lihat Adam diganggu seperti tadi." Jawab Andi menahan tawanya.


"Sudah, lebih baik kita duduk." Ajak Adam kepada Zahira untuk duduk di kursi mereka tadi.


Zahira hanya mengangguk dan berjalan ke tempat duduknya. Andi mengikuti mereka dari belakang dan melihat Mila yang menunggu mereka seorang diri disana.


"Hufftt.. panasnya?" Ucap Zahira sambil mengelap keringat di dahi setelah duduk.


"Gimana nggak panas dari tadi marah-marah terus." Sahut Andi yang duduk di samping Mila.


Mila langsung memukul lengan Andi agar berhenti menggoda Zahira.


"Mas.. nanti kita pulangnya bertiga aja ya.. Kak Andi kita tinggalkan aja di sini. Biar dia jadi penghuni pantai." Ucap Zahira melirik Andi sewot.


Adam tersenyum tipis sedangkan Mila tertawa cekikikan.


"Tega amat kamu Ra.. masa kamu suruh aku jadi penghuni pantai, nanti gimana sama kedua orang tuaku di rumah?" Tanya Andi.


"Gampang itu.. tinggal aku jawab kalau anak Paman sama Bibi kini beralih profesi sebagai penjaga pantai karena tergiur dengan pekerjaan itu." Ucap Zahira enteng.


Andi geleng-geleng kepala. "Debat sama kamu kok aku yang kalah ya?" Sahut Andi heran.


"Mas.. tolong beli minuman dingin dong? Haus banget aku." Pinta Zahira.


"Aku juga Kak." Sahut Mila kepada Andi.


"Baiklah permintaan kalian akan kami turuti. Ayo Dam, kita beli minuman kebetulan aku juga haus." Ajak Andi. Mereka berdua beranjak dari duduknya.


"Mas tinggal ya.." Ucap Adam dan Zahira diangguki Zahira.


Sepeninggal Adam dan Andi.


"Kenapa Mbak?" Tanya Mila melihat Zahira memijit keningnya.

__ADS_1


"Kepalaku pusing banget Mil." Jawab Zahira.


Dan tiba-tiba..


"Huek.. huek.." Zahira membekap mulutnya saat rasa mual hendak keluar.


"Mbak.. Mbak Hira tidak apa-apa kan?" Tanya Mila dengan cemas.


"Mil.. anterin aku ke toilet." Pinta Zahira dengan suara lirih.


"Iya Mbak, ayo ayo." Mila memapah tubuh Zahira menuju toilet, untung saja toiletnya tidak jauh.


"Huek.. huek.." Zahira muntah di dalam toilet tetapi hanya cairan kuning saja yang keluar, rasanya pun tidak enak.


Mila dengan setia memijit tengkuk Zahira.


"Huek.. huek.." Berkali-kali Zahira muntah hingga tubuhnya terasa lemas bahkan air mata di pelupuk mata keluar dengan sendirinya.


Sementara Adam dan Andi mencari-cari keberadaan mereka dengan melihat sekeliling.


"Dam, mereka ini ke mana?" Tanya Andi bingung.


"Entah Ndi, aku juga tidak tahu." Adam sedikit cemas, sang istri tidak diketahui keberadaannya.


"Lihat.. barang-barang mereka. Mereka tinggalkan begitu saja. Untung saja tidak diambil orang." Imbuh Andi geleng-geleng kepala.


"Kita tunggu saja, barang kali mereka di toilet." Ucap Adam lalu duduk di kursi sambil meletakkan dua botol minuman dingin.


"Sudah Mbak?" Tanya Mila.


"Iya Mil." Jawab Zahira lemas.


"Ayo aku bantu Mbak Hira berjalan lagi." Mila kembali memapah Zahira keluar dari toilet.


"Dam.. itu bukannya Mila sama Zahira ya.. tapi kenapa Zahira dipapah Mila begitu?" Gumam Andi melihat Mila dan Zahira dari kejauhan.


Adam menoleh ke arah yang Andi maksud. Adam yang melihat sang istri di papah oleh Mila langsung berlari melihat keadaan sang istri.


"Yank.. ada apa? Kenapa wajah kamu pucat seperti ini?" Tanya Adam nadanya terdengar khawatir, mengambil alih tubuh Zahira dari Mila.


Zahira menggeleng dengan lemas. "Aku juga nggak tahu Mas." Jawab Zahira dengan suara lirih.


Tanpa bertanya lagi, Adam menggendong Zahira menuju ke tempat duduk mereka. Diikuti Mila di belakang. Banyak sekali pasang mata, bahkan ada yang bertanya-tanya kala Adam menggendong Zahira.


"Ada apa dengan Zahira Dam?" Tanya Andi heran.


"Mas.. aku mau pulang." Pinta Zahira lirih dengan mata berkaca-kaca.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2