
Adam yang sedari tadi mendengar obrolan antara ibu dan istrinya seketika hatinya menjadi hangat. Zahira benar-benar tulus menyayangi ibunya, tidak ada kata paksaan sama sekali. Adam sungguh beruntung bisa mendapatkan Zahira meskipun dengan cara dijodohkan. Tidak dapat Adam bayangkan seandainya Zahira di miliki laki-laki lain. Pasti... sungguh Adam tidak bisa membayangkan.
"Oh iya di mana suamimu Nak?" Tanya Ibu karena sedari tadi belum melihat wajah putranya.
"Mas Adam mungkin masih di kamar Bu." Jawab Zahira karena saat itu Adam lagi berbalas pesan dengan rekan kantornya.
"Aih... kamu sudah merubah panggilan kakak jadi Mas ya Nak." Goda ibu sambil terkikik geli.
"I-itu permintaan dari anak ibu, katanya Hira sekarang nggak boleh manggil dengan sebutan kakak lagi." Jawab Zahira malu-malu.
"Haha.. manis banget dengarnya." Tawa ibu pecah melihat menantunya yang malu-malu.
Sedangkan Adam yang masih setia di belakang mereka tanpa diketahui oleh keduanya tersenyum tipis. Zahira menyebut namanya dengan sebutan Mas tanpa embel-embel kakak lagi.
"Ibu.. udah jangan ketawa lagi, aku malu nih." Lirih Zahira sembari menutup kedua mukanya karena sang ibu mertua masih saja tertawa.
"Iya.. iya maafkan ibu. Sudah tidak usah malu, wajar saja kamu manggil suamimu dengan sebutan Mas. Kalian sudah jadi suami istri." Ucap ibu setelah berhasil menghentikan tawanya.
Ayah yang melihat Adam tengah bersandar di dinding sambil bersedekap dada pun mendekat ke arah sang putra. Menepuk bahu Adam yang masih setia melihat dua wanita yang sedang bersenda gurau itu.
"Lihatlah ibumu, dia bahagia sekali kan Nak." Ucap Ayah melihat tawa dari istrinya.
Adam langsung menegakkan tubuhnya dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana pendeknya.
"Iya, Zahira sudah seperti teman bagi ibu dan dia juga bisa membuat ibu tertawa lepas." Jawab Adam tersenyum tipis.
"Itu sebabnya kami menjodohkan kamu dengannya karena dari dulu ibumu sudah menyukai Zahira. Zahira gadis yang tidak pernah banyak tingkah, begitu ramah kepada siapapun." Jelas Ayah.
Adam mengangguk. "Iya. Aku sungguh beruntung bisa mendapatkannya. Terima kasih Yah." Jawab Adam menatap dalam Zahira.
"Sama-sama." Jawab Ayah.
Adam berjalan mendekat ke arah ibu dan istrinya mengajak mereka masuk karena sebentar lagi Adzan Maghrib.
***
"Mas mau sholat di Masjid?" Tanya Zahira yang duduk di tepi ranjang.
"Iya sekalian sholat Isya juga." Jawab Adam lalu masuk ke kamar mandi untuk ambil air wudhu.
Zahira langsung menyiapkan baju koko dan sarung untuk suaminya setelah diambil dari dalam lemari lalu menaruhnya di atas kasur.
"Itu baju dan sarungnya Mas, udah aku siapkan." Ucap Zahira setelah Adam keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Terima kasih." Jawab Adam lalu dengan santainya melepas kaos yang dipakainya.
Sontak saja Zahira yang melihat itu pun langsung berbalik badan. Ia cukup malu untuk melihat perut kotak-kotak suaminya. Apalagi tepat di hadapannya.
"Kenapa harus balik badan? Aku cuma melepas kaosku saja untuk berganti baju dengan pakaian yang sudah kamu siapkan." Ujar Adam dengan santainya lalu memakai baju koko dan sarung
"I-itu aku malu saja Kak eh Mas." Jawab Zahira masih dengan membelakangi Adam.
"Kamu harus terbiasa dengan hal ini. Kita sudah halal jadi untuk apa harus malu, sekarang balikkan badanmu!" Perintah Adam agar Zahira melihat ke arahnya.
"Hehe iya iya akan aku biasakan." Jawab Zahira cengengesan.
"Tapi tidak janji." Batin Zahira menimpali.
Adam hanya geleng-geleng kepala. "Aku berangkat ke Masjid dulu, kalo kamu sudah lapar. Makanlah bersama ayah dan ibu tidak usah menungguku." Ucap Adam sambil memakai pecinya.
"Iya Mas." Jawab Zahira dengan anggukan kepala.
"Assalamu'alaikum." Pamit Adam.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira lalu masuk ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat Maghrib di dalam kamarnya.
Setelah selesai sholat Maghrib Zahira berjalan menuju ke arah dapur untuk menghidangkan makan malam. Dengan cekatan ia menaruh piring-piring, lauk dan juga air minum di atas meja. Melihat kedua mertuanya sudah menuju ke meja makan dengan sigap Zahira membantu menggeser kursi agar sang ibu bisa segera duduk.
"Suamimu belum pulang dari Masjid?" Tanya Ayah seraya mengambilkan makanan untuk istrinya.
"Belum Yah, katanya nunggu sholat Isya sekalian." Jawab Zahira sambil menuangkan air putih ke dalam gelas untuk kedua mertuanya.
Melihat Zahira yang hanya berdiri saja tanpa ikut makan ibu menjadi heran.
"Kamu tidak ikut makan Nak?" Tanya Ibu.
"Nanti aja Bu, aku mau nunggu Mas Adam." Jawab Zahira.
"Ya sudah jika kamu mau menunggu suamimu, ibu dan ayah makan duluan ya." Ucap ibu.
Zahira mengangguk. "Iya, ibu dan ayah silahkan makan. Kalau gitu Hira nonton TV dulu, nanti piringnya tinggalkan saja di meja." Ucap Zahira.
Satu setengah jam kemudian Adam sudah kembali dari Masjid. Melihat istri dan kedua orang tuanya sedang menonton TV bersama, ia bergegas ke kamarnya untuk berganti baju dengan kaos dan celana pendek.
"Mau makan sekarang, Mas?" Tanya Zahira saat Adam sudah duduk di sampingnya.
"Iya, aku sudah lapar." Jawab Adam.
__ADS_1
"Istrimu juga belum makan Nak, dia masih menunggu kamu katanya." Ibu memberitahu.
"Aku kan sudah bilang.. jangan menungguku makan malam." Sahut Adam mengelus kepala istrinya yang tertutupi kerudung instan.
"Aku tadi belum lapar kok Mas." Jawab Zahira jujur sambil tersenyum manis.
"Ya sudah ayo kita makan." Ajak Adam menggandeng tangan Zahira menuju meja makan.
"Segini cukup Mas?" Tanya Zahira mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.
"Iya segitu saja." Jawab Adam. Mereka makan tanpa adanya suara. Sesekali Zahira memperhatikan Adam makan.
Selesai makan Zahira mencuci semua piring-piring kotor bekas makan dan juga gelasnya. Tidak lupa juga mengelap meja makan agar tetap bersih.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi Zahira belum bisa tidur. Mungkin karena suasana yang masih baru jadi dia susah untuk memejamkan matanya. Zahira hanya membolak-balikkan badannya saja padahal dia juga sudah mengantuk.
Adam yang tidur di sampingnya merasa terganggu.
"Ada apa? Kenapa dari tadi kamu belum tidur?" Tanya Adam dengan membuka kedua matanya lalu menolehkan kepalanya ke arah Zahira.
"Aku nggak bisa tidur Mas." Lirih Zahira merasa tidak enak karena pergerakannya mengusik tidur Adam.
"Kemarilah!" Perintah Adam agar Zahira menggeser sedikit badannya ke arahnya.
"M-mau apa Mas." Ucap Zahira terbata-bata takut jika Adam meminta haknya. Jujur Zahira masih belum siap untuk melakukan hal itu.
"Aku cuma ingin memelukmu saja biar kamu bisa tidur. Jangan takut aku tidak akan minta hak-ku jika kamu memang belum siap untuk memberikannya." Jawab Adam seolah-olah mengerti dengan isi hati Zahira.
Zahira pun menggeser sedikit badannya dan Adam langsung menarik tubuh Zahira untuk masuk ke dalam pelukannya lalu menaruh kepala Zahira agar bersandar di dada bidangnya.
Deg.. deg.. deg.. Zahira benar-benar gugup dan malu tapi dia sangat menikmati momen ini. Zahira pun membalas pelukan sang suami. Adam juga memberi usapan lembut di punggung Zahira. Tidak lama setelah itu Zahira sudah terlelap dalam tidurnya.
"Aku mencintaimu Zahira." Bisik Adam sambil mencium rambut Zahira.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1