Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Jatuh hati dengan masakannya


__ADS_3

Begitu juga dengan Adam setelah mandi dan melaksanakan sholat Maghrib, ia langsung berkumpul dengan kedua orang tuanya untuk makan malam. Kali ini makanan yang mereka santap di kirim oleh Ibunya Zahira. Calon besan mereka itu sangat perhatian dengan keluarga Adam. Tapi tetap dengan porsi makanan yang sehat tanpa ada kandungan lemaknya.


"Makan yang banyak Nak, masakan ini dari calon Ibu mertua kamu lho." Ucap Ibu.


"Pantes Bu, makanan ini mirip sekali dengan masakan Zahira." Jawab Adam di sela-sela makannya.


Ibu tersenyum lucu. "Oh.. jadi kamu bisa merasakan masakan Zahira ya Nak?" Goda Ibu pada sang putra.


"Anak kita ternyata sudah jatuh hati sama masakan Zahira ya Bu?" Sahut Ayah terkekeh kecil.


"Karena masakannya enak Yah, Bu." Jawab Adam seadanya tetap melanjutkan kembali suapannya.


"Karena masakan apa karena orangnya?" Goda Ayah lagi. Ibu hanya tertawa kecil sedangkan Adam tidak memberi respon apa-apa. Cukup diam mendengarkan.


Setelah selesai makan malam, Adam bertugas mencuci piring bekas makan mereka. Ayah menuntun Ibu untuk duduk di ruang tamu sambil menikmati siaran Tv yang mereka tonton. Adam juga ikut bergabung dengan kedua orang tuanya setelah selesai mencuci piring-piring.


Adam memijit kedua kaki sang Ibu yang sudah di rentangkan di sofa. Begitu lembut pijatan yang Adam berikan kepada Ibunya. Adam senang melihat sang Ibu yang sudah pulih secara perlahan-lahan.


"Tadi kenapa kamu pulang terlambat Nak?" Tanya Ayah.


"Adam harus menyelesaikan tugas Adam dulu Yah, biar besok tidak menumpuk berkasnya." Jawab Adam.

__ADS_1


"Jangan terlalu memforsir pekerjaan, kamu kan bisa membaginya dengan Andi dan lainnya." Ucap Ayah mengingatkan.


"Iya Yah." Adam menjawab singkat.


"Sudah Nak berhenti memijit Ibu. Ibu tahu kamu juga capek baru pulang kerja. Kamu perlu istirahat." Ibu menghentikan tangan Adam.


"Adam nggak capek Bu, Ibu nikmati saja pijatan Adam ini." Adam tetap melanjutkan pijatannya.


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama. Biar tangan kamu tidak pegal." Ucap Ibu.


Adam mengangguk, setelah selesai memijat kaki sang Ibu. Ia permisi ke kamarnya untuk melaksanakan sholat Isya' juga untuk merebahkan tubuhnya yang sudah lelah.


Keesokan paginya.


Zahira sedang menjemur pakaian yang baru ia cuci di samping kanan rumahnya. Kini rutinitas mencuci itu berganti menjadi setelah memasak.


"Mbak aku berangkat ya?" Teriak Akmal, pamit kepada Zahira dengan melajukan sepeda gunungnya.


"Dasar, ucap salam dulu kek." Gumam Zahira. Adiknya itu suka seenaknya.


"Hallo onty Hila... aku udah ganteng nih?" Suara keras Mbak Susi datang menghampiri Zahira dengan melambai-lambaikan tangan mungil bayi Bagas yang ia gendong.

__ADS_1


Zahira menoleh lalu tersenyum. "Uhh..gemesnya onty.. udah wangi aja. Ayo duduk di teras, onty udah selesai nih jemurnya." Zahira mencium pipi bayi gembul itu.


"Ra, kamu udah dengar belum kalau Haikal dan keluarganya akan kembali?" Tanya Mbak Susi setelah mendudukkan dirinya di kursi.


"Belum tuh Mbak, Mbak Susi tahu dari mana? Terus kapan mereka datang?" Zahira balik bertanya sambil mengambil alih baby Bagas.


"Aku tahunya dari suamiku, Papanya Zira dengar dari Pak RT langsung. Katanya mereka berkunjung kemari tapi tidak lama sih mereka di sini nantinya." Jawab Mbak Susi.


"Kenapa? Aku kira mereka kembali itu untuk menetap di sini lagi." Ucap Zahira heran.


"Enggak, mereka cuma rindu kampung halaman saja katanya." Jelas Mbak Susi. Zahira hanya manggut-manggut mendengarnya.


"Kamu dulu dekat banget kan dengan Haikal?"


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2