
Setelah dua hari tidur di rumah orang tuanya kini Zahira dan Adam telah kembali ke rumah mereka. Lebih tepatnya mereka balik setelah sholat Maghrib usai. Karena Ibu dan Bapak Zahira pulangnya di sore hari setelah Zahira sudah selesai memasak dan beres-beres rumah, jadi sudah tidak ada tanggungan lagi untuk tinggal di rumah kedua orang tuanya itu.
"Orang tuamu sudah pulang ya Nak?" Tanya Ibu sambil menata makanan di meja makan.
"Sudah Bu, Emak sama Bapak pulangnya tadi sore." Jawab Zahira.
"Kamu tahu sayang, saat kalian nginap di sana. Ayah dan Ibu jadi kesepian. Rumah terasa sepi. Padahal cuma dua hari kalian di sana." Keluh Ibu.
"Maaf ya Bu.. Tapi mau gimana lagi, aku juga nggak tega ngebiarin Akmal harus tidur di rumah sendirian." Jelas Zahira dengan tidak enak hati.
Ibu tersenyum. "Padahal jarak rumah orang tuamu sangat dekat ya." Ibu geleng-geleng kepala dengan tingkahnya.
Zahira juga tersenyum. "Iya ya, kenapa Ibu tidak kepikiran coba untuk datang ke rumah Emak." Ucap Zahira.
"Eh, waktu itu Ibu juga harus ke rumah Uwakmu Sari." Jawab Ibu.
"Uwak Sari kenapa Bu?" Tanya Zahira.
"Ya tidak apa-apa, ibu kangen aja sama Uwakmu." Jawab Ibu. Zahira mengangguk.
"Kami sudah kelaparan, tapi kalian malah asyik ngobrol." Sahut Ayah yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Ibu bersama Adam, lalu menarik kursi.
"Ayah.. bikin Ibu kaget aja." Ibu sedikit kesal.
Ayah dan Adam dibuat geleng-geleng kepala dengan dua wanita ini, bukannya memanggil jika makan malamnya sudah siap. Mereka justru melupakan para suami. Tidak tahu apa jika mereka sudah kelaparan.
"Hehe.. maaf ya Ayah." Ucap Zahira membuat Ayah mengangguk tanda tidak jika tidak masalah.
"Yank.. tolong ambilkan nasinya." Adam menyodorkan piring kepada Zahira.
__ADS_1
Dengan sigap Zahira langsung mengambilkan Adam nasi dan lauk. "Ini Mas, segini cukup kan?" Tanyanya.
"Iya cukup. Terima kasih." Jawab Adam sambil menerima piring dari sang istri.
Ibu juga sama mengambilkan makanan untuk Ayah.
\*\*\*
"Oh iya Nak, Ibu hampir lupa. Kemarin siang kamu dapat kartu undangan pernikahan." Ibu memberitahu sang putra.
Usai makan malam seperti biasa mereka akan berkumpul di ruang tengah sambil menonton televisi.
"Dari siapa Bu?" Tanya Adam duduk menyandar di sofa sambil bermain ponsel.
"Dari Bowo." Jawab Ibu singkat.
"Bowo itu bukannya teman sekolah kamu ya Yank?" Adam bertanya kepada Zahira yang lagi makan buah apel.
"Di undangan itu tertulis nama kalian berdua Nak." Jelas Ibu.
"Di ambil saja Bu kartu undangannya, biar mereka tahu sendiri." Sahut Ayah.
"Bentar Ibu ambilin dulu." Ibu beranjak dari duduknya mengambil kartu undangan yang berada di lemari di sebelah televisi.
Ibu mengulurkan undangan tersebut pada sang putra. Dan langsung di buka oleh Adam untuk melihat tanggal berapa mereka harus hadir di acara tersebut, Zahira juga ikutan membaca. Ternyata di situ tertulis tanggal 20 dan di bulan ini, jadi tepatnya kurang seminggu lagi mereka harus menghadiri acara tersebut.
"Wah.. kebetulan banget Mas acaranya di hari Minggu. Jadi kita bisa datang ke acara resepsinya langsung." Ucap Zahira antusias setelah selesai membaca kartu itu.
"Terserah kamu saja kalau mau datang pas hari resepsinya. Tapi jangan terlalu awal juga, Mas nggak mau berlama-lama di sana." Jawab Adam lalu meletakkan undangan itu di atas meja.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Zahira menolehkan wajahnya ke arah Adam.
"Kamu tadi tidak baca apa, jika ada hiburan dangdutnya juga." Jawab Adam.
Zahira mengangguk. "Ya baca, emang apa hubungannya dengan hiburan dangdutnya sih?" Tanya Zahira dengan pandangan heran.
"Mas takut aja kalo nanti kamu bakal cemburu, lihat Mas di godain sama penyanyi-penyanyinya." Jawab Adam dengan rasa percaya dirinya.
Tapi memang benar, jika setiap kali Adam menghadiri acara resepsi pernikahan dan kebanyakan dari mereka yang selalu menghadirkan musik dangdut untuk menghibur semua para tamu undangan. Maka di situlah Adam akan menjadi pusat perhatian bagi setiap biduan yang suka membujuk para tamu untuk ikutan bergoyang di atas panggung bersama mereka.
Apalagi terlihat dengan jelas, dengan penampilan Adam yang menunjukkan jika dia adalah orang yang berduit di tambah dengan wajah tampannya. Yang pasti akan mengundang mereka untuk merayu agar memberikan saweran yang cukup banyak.
"Benarkah Mas Adam suka di godain sama para biduan dangdut?" Tanya Zahira meski sedikit tidak percaya.
Adam mengangguk. "Tentu saja, suamimu ini tampan Sayang. Jadi di antara mereka akan berlomba-lomba ngajak Mas goyang di atas panggung bersama mereka." Jawab Adam membanggakan dirinya.
"Wah.. jadi suamiku ini sukanya nyawer ya?" Zahira mencibir sambil memicingkan kedua matanya.
Sontak saja hal itu mengundang tawa bagi kedua mertua Zahira karena mendengar pembicaraan mereka. Terlebih sang Ibu yang juga turut penasaran apakah benar jika putra tampannya ini suka nyawer di atas panggung.
"Beneran Nak!! Kamu suka nari di atas panggung terus nyawer juga dengan cewek-cewek yang kadang pakaiannya kurang bahan itu?!" Tanya Ibu heboh.
Membuat Zahira sangat penasaran dengan jawaban Adam.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...