Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Usaha Citra


__ADS_3

Waktu makan siang pun tiba. Sebagai teman kantor yang baik, Tholib langsung menghampiri Citra mumpung gadis itu masih di meja kerjanya sebelum nanti menganggu Adam lagi.


"Adek cantik, ayo kita makan siang bareng. Mas Tholib sudah lapar nih." Ujar Tholib sambil mengelus perutnya.


"Ogah, aku nggak mau ya makan sama kamu." Citra menolak ajakan Tholib.


"Ayolah adek Citra yang cetar membahana di ruangan ini.." Rayu Tholib dengan muka imutnya.


Citra bergidik ngeri melihat tampang aneh Tholib, buru-buru ia berdiri, menghindar dari Tholib. Di ruangan itu hanya ada mereka berdua sebab yang lainnya sudah keluar saat Tholib mengalihkan perhatian pada Citra biar gadis ini tidak mengetahui ke mana Adam pergi makan siang.


Citra pun berjalan cepat ke kantin kantor disusul Tholib di belakangnya. Citra mengedarkan pandangannya mencari Adam dan yang lainnya.


"Mereka kok tidak ada di sini." Gumamnya.


Tholib manarik tangan Citra menuntunnya untuk duduk di kursi. Citra pun berdecak kesal dan melepas kasar tangan pemuda itu.


"Gendut.. kamu itu budek atau apa sih. Sudah aku bilangin, jangan dekat-dekat aku. Aku risih tau." Citra mengomeli laki-laki bertubuh sedikit gemuk itu.


Karyawan lain yang sedang makan siang di kantin langsung mengalihkan perhatiannya kepada Citra karena suaranya cukup keras saat memarahi Tholib. Mereka saling berbisik mengenai Citra yang pernah ditampar oleh istri Adam.


***


"Pak, anterin Hira pulang ya." Ucap Zahira kepada Bapaknya.


Bapak yang baru keluar kamar karena usai sholat Dzuhur hendak ke dapur untuk mengambil air minum lantas berhenti setelah sang putri meminta bantuannya.


"Kenapa pulang sekarang nggak nanti malam saja Nduk?" Tanya Bapak.


"Ibu sudah nelpon berkali-kali Pak, nyuruh Hira untuk cepat pulang." Jawab Zahira.


"Kamu tunggu bentar, Bapak mau ke dapur dulu." Ucap pria paruh baya itu.


Zahira mengangguk sebagai jawaban, lalu berjalan ke kamar mengambil tasnya. Dia juga tidak jadi pergi ke pasar yang niatnya ingin membeli pakaian baru yang rencanannya tadi pagi akan mengajak Risma. Sebab dia dan suaminya sudah berbaikan kembali.


Zahira juga berpamitan kepada ibunya lalu dia dibonceng Bapak menuju rumah mertuanya yang rumahnya hanya berbeda gang saja.


"Nduk, Bapak langsung pulang ya." Ucap Bapak setelah Zahira turun dari motor.


"Nggak mau masuk dulu Pak?" Tanya Zahira.


"Tidak usah, lagian besan laki-laki juga tidak ada di rumah." Tolak Bapak.


"Iya sih, Ayah masih di sekolah. Pulangnya juga jam dua-an." Jawab Zahira membenarkan ucapan Bapaknya.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu cepetan masuk jangan berdiri lama-lama di sini." Ucap Bapak sebelum berlalu dari rumah Adam.


"Iya Pak." Jawab Zahira lalu masuk ke rumah suaminya yang sudah ia tinggalkan dua hari ini.


"Assalamu'alaikum." Salam Zahira setelah membuka pintu rumahnya.


Zahira berkerut dahi saat salamnya tidak dijawab oleh ibu mertuanya. Biasanya siang-siang gini ibu mertuanya itu akan menonton televisi. Tapi kali ini di ruang tengah Zahira tidak mendapati beliau.


"Ibu di mana kok tidak ada ya." Gumam Zahira. Ia pun berjalan ke dapur siapa tahu sang mertua berada di sana. Tebakannya benar wanita yang masih terlihat cantik itu meski sudah berusia 45 tahun lebih itu sedang sibuk di dapur.


"Ibu.." Panggilnya lembut.


Sang ibu mertua menoleh. "Eh, kamu sayang. Ibu sedang buat kue, jadi tidak tahu kalo kamu sudah pulang." Jawabnya.


Zahira mendekat, ia mencium aroma kue yang sudah matang itu. Rasa lapar sudah mencemari perutnya lagi meski tadi ia sudah makan di rumahnya sendiri.


"Bu, aku minta, boleh?" Tanya Zahira.


Ibu tersenyum. "Boleh dong Nak, ibu buat kue ini ya khusus untuk kamu. Makanya ibu suruh kamu cepat-cepat pulang." Ucapnya lalu mengambil pisau dan mengirisnya menjadi beberapa bagian kemudian meletakkannya di piring.


"Nih, untuk kamu." Ibu mengulurkan kepada Zahira.


"Terima kasih. Hmm.. pasti enak banget. Bu, aku bawa ke ruang tengah ya sambil nonton TV." Ucap Zahira.


Zahira pun menonton FTV sambil ngemil, tak lama ibu membawa dua gelas jus jambu. Mereka berdua makan kue sambil bercengkrama.


***


Citra melirik-lirik Adam. Dia berpikir keras usaha apa lagi yang harus ia lakukan agar Adam bersedia berkunjung ke rumahnya. Seketika ia mendapat ide bagus. Citra pun meninggalkan pekerjaannya sejenak, berjalan ke meja Adam.


"Dam.." Panggil Citra.


"Apa." Jawab Adam singkat, jemari tangannya mengetik sesuatu di layar komputernya.


"Ibu mengundang kamu datang ke rumah, besok." Kata Citra.


"Dalam rangka apa ibu kamu mengundangku?" Tanya Adam dingin.


"Sebagai tanda terimakasih karena kamu pernah menolong ibu." Jawab Citra sambil tersenyum.


Adam manggut-manggut di depan komputernya. "Baiklah besok aku datang ke rumahmu." Kata Adam menerima ajakan Citra.


"Yes.. aku berhasil mengajak Adam. Besok aku akan mengatakan pada Ayah dan Ibu kalau Adam adalah calon suamiku." Citra bersorak senang dalam hati.

__ADS_1


"Jam berapa aku harus datang?" Tanya Adam lagi.


"Emm.." Citra berpikir sejenak. "Jam sepuluh aja gimana? Kamu ada waktu luang kan di jam segitu." Ujar Citra.


Karena dia harus menyiapkan segala hal sebelum Adam sudah sampai di rumahnya.


"Oke tidak masalah." Putus Adam.


Citra tersenyum semakin lebar. "Terimakasih ya Dam, besok aku tunggu kamu di rumah." Ucapnya riang.


"Iya." Jawab Adam menganguk.


***


Jam pulang kantor, lagi-lagi Citra mengingatkan kepada Adam agar tidak sampai lupa. Citra juga merayu Adam untuk mengantarkannya pulang. Adam menolak dengan tegas bahkan Adam mengancam jika tetap memaksa maka dia tidak akan mau datang ke rumahnya. Citra pun mengalah terpaksa memesan ojol lagi.


Adam membelokkan motornya ke rumah mertuanya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Adam masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Akmal.


"Mas Adam kenapa ke sini, Mbak Hira kan sudah pulang ke rumah orang tua Mas Adam." Ucap Akmal.


Adam tidak jadi membuka pintu kamar Zahira. Ia pun berbalik badan menghadap Akmal yang berada di belakangnya. Adam menghela napasnya. Pulang ke rumahnya kenapa Zahira tidak memberitahunya?


"Pasti Mbak Hira tidak mengabari Mas Adam ya?" Tebak Akmal.


Adam mengangguk membenarkan.


"Iya, sepertinya Mbak kamu lupa. Makanya dia tidak menelpon kalau saat ini sudah di rumah Mas." Jawab Adam.


"Ya sudah, kalau gitu Mas pulang." Pamitnya sambil menepuk bahu Akmal.


"Iya." Jawab Akmal mengangguk.


Setelah memasuki pelataran rumahnya. Adam segera mematikan mesin motornya, masih duduk di atas sepada motornya. Tidak turun hanya melepas helm saja. Dia mengawasi Zahira yang sedang duduk di samping rumah tertawa riang bersama si kecil Mikha.


.


.


Bersambung...🙏🙏

__ADS_1


.


__ADS_2