Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Kaki bengkak


__ADS_3

Setelah adegan kiss paginya selesai, Zahira kembali memapah tubuh tegap Adam berjalan ke teras depan. Duduk menikmati udara di pagi hari sambil melihat warga sekitar yang sudah berlalu lalang dengan rutinitasnya masing-masing.


Ayah dan Ibu heran melihat Adam tiba-tiba harus dipapah oleh menantunya, kebetulan mereka juga baru pulang dari jalan-jalan paginya untuk merilekskan otot kaki dan juga menghirup udara segar. Mereka langsung mendekat ke arah Adam dan Zahira.


"Kamu kenapa Nak.. kenapa jalan kamu pincang gitu? Apa kaki kamu keseleo? Dan ini juga lecet-lecet di tangan kamu?" Tanya Ibu.


Sungguh Ibu khawatir melihat cara berjalan sang anak. Ibu juga menyentuh luka yang ada di tangan Adam.


"Ibu.. ayo duduk dulu.'' Perintah Ayah memegang kedua pundak istrinya lalu Ibu duduk di sebelah kursi yang Adam duduki.


"Ini kenapa bisa seperti ini Nak?" Ibu belum selesai dengan pertanyaannya, masih penasaran dengan keadaan Adam.


Sementara Ayah hanya diam saja, Ayah juga turut penasaran dengan luka yang ada di tangan Adam, tapi Ayah tidak bertanya. Hanya menunggu jawaban dari sang putra atas kondisi yang di alaminya.


Adam mulai menceritakan tentang apa yang ia alami semalam, dari awal kejadian hingga dia diantar ke puskesmas terdekat sampai pulang ke rumahnya oleh orang yang membantunya, juga mengenai sepeda motornya yang saat ini berada di bengkel untuk di perbaiki.


Ibu dan Ayah sama-sama terkejut mendengar cerita Adam. Mereka tidak mengira jika putra mereka satu-satunya akan mengalami hal seperti itu tapi mereka bersyukur sebab Adam tidak cedera terlalu parah.


"Syukurlah Nak.. kamu tidak apa-apa hanya luka ringan saja." Ujar Ibu dengan perasaan leganya. Rasanya Ibu ingin menangis mendengar cerita dari Adam.


"Nanti Ayah panggilkan tukang urut yang biasanya menangani kaki keseleo seperti kaki kamu ini." Ucap Ayah kepada Adam.


"Rencananya juga gitu Yah, aku juga mau carikan tukang urut buat Mas Adam." Sahut Zahira yang sedari tadi hanya diam berdiri di samping Adam.


"Ayah punya kenalan tukang urut, jadi nanti biar Ayah saja yang memanggilnya kemari supaya lekas mengurut kaki suamimu ini." Pungkas Ayah.


Zahira mengangguk. "Iya Yah." Jawabnya menyetujui.


"Jadi beberapa hari ke depan kamu tidak akan bisa bekerja lagi kan Nak?" Tanya Ibu.


"Iya Bu, Adam harus libur dulu sampai kaki Adam ini benar-benar bisa di gerakkan lagi." Jawab Adam.


Di kamar tadi, Adam sudah menelpon Andi jika ia tidak akan masuk kerja lantaran kakinya sakit. Tidak bisa dipakai untuk berjalan dengan benar. Adam juga meminta pada Andi untuk mengambil surat izin tidak masuk ke rumahnya.


Karena semalam saat berada di puskesmas, Adam meminta untuk dibuatkan surat izin sakit pada dokter yang mengobati dirinya. Sehingga Adam tidak akan khawatir mengenai kebenaran tentang kondisinya jika sang atasan bertanya.

__ADS_1


"Lihat kaki kamu sampai bengkak gini di sebelah kiri." Ucap Ibu.


"Iya Bu, karena posisi pas Adam jatuh, kaki kiri ini yang sakit sekali ketimbang kaki kanan." Jawab Adam.


"Lain kali hati-hati ya Nak mengendarai motormu." Ibu menasehati Adam.


Adam menganggukkan kepalanya seraya mengelus lembut tangan sang Ibu.


"Iya Bu, Adam akan lebih berhati-hati lagi saat berkendara. Maaf sudah membuat Ibu khawatir." Ucap Adam.


***


Sebelum berangkat ke tempat kerjanya, Andi terlebih dulu membelokkan sepeda motornya ke rumah Adam untuk mengambil surat izin dari sang sahabat yang katanya kakinya lagi sakit sehingga Adam harus libur tidak masuk kerja.


Andi cukup penasaran kenapa dengan kaki sang sahabat, sebab Andi belum tahu jika Adam mengalami kecelakaan tunggal setelah pulang dari cafe tempat mereka bertemu semalam.


"Assalamu'alaikum." Ucap salam Andi memasuki rumah Adam.


"Wa'alaikumsalam." Jawab penghuni rumah.


"Ada apa dengan kakimu Dam, katanya sakit?" Tanya Andi yang duduk di depan Adam.


"Iya, semalam aku nggak sengaja nabrak pohon. Akibat menghindari kucing yang tiba-tiba nyebrang di depan motorku." Jawab Adam.


Andi langsung kaget. "Kenapa kamu tidak memberitahu aku Dam, jika kamu pulang dalam keadaan seperti ini sehingga aku bisa tahu. Lalu apa kamu pulang sendiri atau gimana?" Tanya Andi saking terkejutnya dengan keadaan Adam.


Pasalnya Andi tahu betul jika sang sahabat semalam pulang sambil menahan emosi, sebab kekesalan pada Haikal yang marah-marah pada Adam karena tidak terima.


"Tidak, aku diantar pulang sama orang yang menolongku." Jawab Adam.


"Syukurlah, jika kamu baik-baik saja. Eh, mana surat izinmu aku mau berangkat nih. Maaf tidak bisa lama-lama." Ucap Andi sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit.


"Sebentar. Yank.. tolong ambilin amplop putih yang ada di kamar yang ada di meja rias." Ucap Adam menyuruh Zahira untuk mengambilkan surat izinnya.


Zahira melangkah ke kamar mengambilkan amplop berwarna putih lalu memberikannya pada Andi.

__ADS_1


"Ini Kak Andi suratnya, makasih ya.. udah di ambil ke rumah." Ucap Zahira.


"Santai aja Ra.. Adam itu udah seperti saudaraku sendiri. Jadi jika ada apa-apa, kamu jangan sungkan-sungkan untuk memberitahu aku." Jawab Andi lalu berdiri setelah memasukkan surat ke dalam tas ranselnya.


"Ya sudah aku pergi dulu, lekas sembuh Dam karena pekerjaan kita lagi banyak-banyaknya." Ucap Andi lagi dan langsung di angguki kepala oleh Adam.


"Hati-hati ya Nak Andi mengendarai motornya, tidak usah ngebut-ngebut!" Pesan Ibu.


"Pasti itu Bu, Assalamu'alaikum." Pamit Andi.


"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka semua.


Andi berlalu meninggalkan rumah Adam.


"Mas.. kata Ayah nanti tukang urutnya ke sini jam satu karena beliau juga lagi ngurut kaki orang lain." Zahira menyampaikan pesan dari Ayah mertuanya kepada Adam.


Sebelum berangkat mengajar Ayah Adam sudah menelpon tukang urut kenalannya untuk datang ke rumah dan tukang urut itu pun bersedia tapi nanti siang bisanya datang ke rumah.


"Iya nggak apa-apa, yang penting kaki Mas cepat sembuh, Mas udah nggak tahan sama rasa sakit ini." Keluh Adam.


"Sabar dulu ya Nak." Ujar Ibu.


"Apa mau aku urut pelan-pelan aja Mas untuk mengurangi rasa sakitnya." Zahira menawari.


"Boleh juga." Jawab Adam meletakkan kaki kirinya di pangkuan Zahira.


Zahira mulai mengurut kaki Adam dengan pelan meskipun bukan keahliannya tapi ia juga tidak tega melihat kaki suaminya yang bengkak seperti itu. Adam meringis menahan rasa sakit.


"Sakit ya Mas? Padahal aku udah pelan nih." Ucap Zahira cemas.


.


.


Kasihan ya Mas Adam jadi tidak tega adek melihatnya🤣🤣

__ADS_1


Jangan lupa para readers tercinta untuk memberi sumbangan berupa like, vote dan hadiahnyašŸ’–šŸ’–


__ADS_2