Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Jangan masuk dulu


__ADS_3

Sebelum berangkat ke kantor, Andi terlebih dahulu menjemput calon istrinya untuk berangkat bersama. Sudah satu bulan ini Andi selalu mengantar jemput Mila saat bekerja.


Mila sendiri sudah menunggu Andi di teras rumahnya. Begitu melihat sepeda motor Andi masuk ke halaman rumahnya Mila langsung berdiri dan menghampiri kekasihnya itu setelah berpamitan kepada ibunya.


"Ayo Kak, kita berangkat." Ucap Mila duduk di jok belakang.


"Nggak mau peluk punggung Kakak?" Goda Andi menoleh ke belakang. Mila memukul pundak Andi membuat laki-laki itu terkekeh.


"Nggak ya, kita itu belum sah jadi nggak boleh terlalu mesra nanti yang ada kita jadi bahan gosip lagi di kampung ini." Jawab Mila sedikit sewot.


"Omongan orang kamu dengerin, yang ada kita tiap hari makan ati Dek." Sahut Andi lalu menjalankan motornya.


"Kakak kayak nggak tahu aja sama mulut-mulut orang sini." Jawab Mila.


"Yang penting kan kita tidak seperti mereka yang suka kepo sama masalah orang." Balas Andi.


"Oya Kak, gimana sama Mbak Zahira semalam?" Tanya Mila karena belum mengentahui tentang kondisi tetangganya itu.


"Ah ya, kamu belum tahu ya Dek. Zahira sudah melahirkan dan bayinya laki-laki." Jawab Andi.


"Hah!! Jadi semalam Mbak Hira langsung kontraksi gitu." Ujar Mila saking kagetnya.


Baru juga syukuran tujuh bulanan dan sekarang tetangga dekatnya itu sudah melahirkan saja.


"Iya, Dokter menyarankan agar Zahira segera di operasi caesar malam itu juga." Jelas Andi.


"Kasihan sekali Mbak Hira, tapi Mbak Hira sama anaknya baik-baik aja kan Kak?" Tanya Mila merasa prihatin.


"Alhamdulillah mereka tidak apa-apa. Tapi ya gitu bayi mereka harus masuk inkubator dulu." Ucap Andi.


"Itu sudah pasti Kak, kan baru usia tujuh bulan bayi yang dikandung Mbak Hira." Ungkap Mila. Setahu Mila bayi yang lahir secara prematur sudah pasti akan masuk inkubator.


Tak terasa karena saking asyiknya ngobrol selama di perjalanan kini Andi sudah tiba di tempat kerjanya Mila.


"Kak, nanti pulang kerja kita jenguk Mbak Hira dulu ya." Ajak Mila sambil melepas helmnya.


"Ok Dek, nanti kita ke sana! Sekarang kamu masuk teman-teman kamu sudah pada datang tuh." Ujar Andi.


"Iya aku akan masuk. Kak Andi hati-hati ya. Bye.. bye." Ucap Mila sambil berlari.


"Jangan lari-lari Dek nanti kamu jatuh!" Teriak Andi.


"Dasar, seperti anak kecil saja." Gumam Andi geleng-geleng kepala kemudian berlalu meninggalkan tempat kerja Mila menuju ke kantornya.


***


Di kamar inap Zahira saat ini kedatangan Risma dan putrinya. Mereka datangnya berbarengan bersama ibu.


Setelah mendengar jika Zahira sudah melahirkan dari ibunya Adam, Risma langsung meminta izin pada sang suami untuk menjenguk sahabatnya itu di rumah sakit. Dan akhirnya suami Risma memberinya izin meski sebenarnya Mikha tidak boleh ikut karena takut nanti putrinya akan rewel di sana dan mengganggu Zahira.


"Ra, selamat ya atas kelahiran anakmu." Ucap Risma yang begitu terharu sembari menggenggam tangan Zahira duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Kalian berdua sudah jadi orangtua sekarang." Lanjut Risma.


Sementara Mikha minta dipangku Adam yang duduk di kursi sambil memandang perut onty-nya yang tiba-tiba menjadi datar tidak bulat lagi seperti balon.


"Makasih Ris, kamu do'akan ya semoga bayiku bisa segera dibawa pulang." Pinta Zahira.


Dokter mengatakan jika kondisi bayi Zahira masih belum memungkinkan untuk dibawa pulang karena mengingat kondisi sang bayi yang lahir prematur dan masih membutuhkan perawatan intensif dan untuk jangka waktunya Dokter juga belum bisa memutuskan kapan bayi itu boleh dibawa pulang.


"Pasti itu Ra, aku akan selalu mendo'akan kesehatan bayimu biar secepatnya bisa kamu bawa pulang." Ucap Risma.


"Onty.. onty, dedek bayi na mana?" Tanya Mikha sambil menunjuk perut Zahira.


Zahira dan Risma menoleh ke arah Mikha. Mereka sama-sama tersenyum begitu batita imut itu bertanya tentang adek bayi.


"Adek bayinya lagi tidur sayang, di ruangan bayi." Jawab Zahira.


"Tatak mau liat adek bayi." Pinta Mikha mendongakkan kepalanya pada Adam. Adam yang tadinya fokus pada ponsel harus beralih pada Mikha.


"Kakak mau lihat adek bayi sekarang?" Tanya Adam. Baiklah, ia akan menunjukkan pada Mikha walau hanya lewat jendela kaca saja.


"Iyya.." Angguk Mikha cepat membuat kuciran di rambutnya ikutan bergoyang.


"Ok, ayo kita ke sana." Ucap Adam lalu menggendong Mikha.


"Nak, ibu ikut ya."


"Emak juga ikut."


"Boleh saja tapi kita tidak bisa masuk ke ruangannya." Jawab Adam.


"Tidak apa-apa yang penting hari ini kita bisa melihat cucu kita. Ya kan San." Ujar Ibu sambil menatap ibunya Zahira.


"Iya Nak, besok kita tidak bisa melihat anakmu lagi secara istrimu besok sudah boleh pulang." Sambung ibu Zahira.


"Ya sudah ayo para Uti-uti kita lihat adek bayinya." Ajak Adam setelah pamit pada istrinya dan Risma.


***


"Kenapa Adam nggak masuk Ndi?" Tanya Roni sambil memberikan berkas kepada Andi.


"Zahira masuk rumah sakit." Jawab Andi singkat.


"Masuk rumah sakit? Kok bisa?" Tanya Roni dengan herannya kenapa bisa semendadak gitu.


"Namanya juga musibah, siapa yang bakal tahu." Jawab Andi.


"Emang musibah apa yang menimpa Zahira?" Sahut Citra dibalik meja kubikelnya mendengar percakapan Andi dan Roni.


Andi menghela napasnya lalu mulai menceritakan kejadian yang dialami Zahira hingga diharuskan untuk operasi caesar.


"Ya ampun!!" Pekik Citra sambil membungkam mulutnya.

__ADS_1


"Kasihan sekali Zahira dan bayinya." Citra juga turut sedih atas kejadian yang menimpa temannya itu.


"Gini saja nanti pulang kerja kita ke jenguk Zahira. Gimana apa kalian semua setuju?" Roni bertanya kepada Citra, Tholib dan Hadi.


"Oke, aku setuju banget." Jawab Citra dengan semangat untuk mengunjungi temannya itu.


"Aku manut wae lah, opo jare pacarku." Sahut Tholib.


***


Sore itu, Adam sedang menyuapi Zahira makan. Hanya ada mereka berdua saja di kamar inap itu karena ibu Zahira dan ibunya Adam sudah pulang sejak siang tadi. Mereka tidak bisa terlalu lama di rumah sakit mengingat mereka mempunyai tanggungan lain yaitu mengurus rumah dan juga para suami di rumah.


"Setelah ini pompa ASI kamu, Yank." Ucap Adam saat Zahira selesai makan.


"Iya Mas." Jawab Zahira.


Selagi Zahira memompa sumber nutrisi anaknya. Adam memastikan apakah pintunya sudah terkunci atau belum karena ia takut kalau tiba-tiba Dokternya datang untuk mengecek Zahira dan pintunya tidak terkunci. Adam tidak ingin pemandangan itu dilihat oleh laki-laki lain.


ASI Zahira juga sudah mulai lancar keluarnya dan itu membuat Zahira merasa senang, anaknya akan tercukupi oleh sumber ASI-nya.


"Alhamdulillah, ASI kamu sekarang udah deras Yank keluarnya." Ucap Adam tersenyum.


"Iya Mas. Adek akan semakin sehat nantinya." Jawab Zahira.


Adam terus memperhatikan Zahira yang memompa ASI itu.


Tok.. Tok.. Tok..


"Mas, ada yang ngetuk pintu. Kamu lihat dulu." Pinta Zahira karena tinggal sedikit lagi botolnya akan penuh.


"Ck, ganggu orang saja." Gerutu Adam.


Adam meninggalkan Zahira lalu melihat siapa yang datang.


"Hai Bro." Sapa Andi datang bersama teman-temannya. Tidak ketinggalan Mila juga sambil membawa buah-buahan.


"Kami tidak disuruh masuk nih?" Tanya Citra.


"Tunggu sebentar, kalian jangan masuk dulu!" Larang Adam. Kemudian menutup kembali pintunya dan Adam kunci dari dalam membuat Andi dan yang lainnya saling pandang heran.


"Kenapa tuh anak?" Tanya Andi.


"Nggak tahu." Jawab Roni sambil mengangkat kedua bahunya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2