
Siang itu, sebelum ke rumahnya Andi. Zahira mengajak suaminya ke rumah kedua orang tuanya dulu untuk mengantarkan kue bolu yang ia buat tadi pagi.
Adam mematikan mesin motornya setelah sampai di rumah mertuanya. Zahira pun menurunkan Arvind dan tanpa menunggu Mama dan Papanya, bocah tampan itu langsung berlari masuk ke dalam.
"Yan 'ti.. Yan 'kung.. Alpin datan.." Teriaknya yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kakek dan neneknya.
Bapak yang lagi duduk santai di ruang tamu sambil menghisap rokok seketika kaget dengan teriakan cucu kesayangannya itu.
"Cucu Yang kung." Ucap Bapak tersenyum lalu mematikan rokoknya di dalam asbak.
"Hehe.." Arvind tertawa melihat keberadaan Bapak di ruang tamu.
Sementara Adam dan Zahira hanya geleng-geleng kepala melihat betapa antusiasnya anaknya itu untuk menemui Ibu dan Bapaknya.
"Assalamu'alaikum." Ucap Adam dan Zahira seraya mencium punggung tangan laki-laki paruh baya itu.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Bapak dengan Arvind yang sudah berada di pangkuannya.
"Emak mana Pak?" Tanya Zahira seraya mendudukkan dirinya di kursi lalu meletakkan barang yang ia bawa di atas meja.
"Ada di belakang." Jawab Bapak.
"Hira ke belakang dulu deh." Ucapnya dan meninggalkan para lelaki berbeda generasi itu.
"Om Amal mana 'Kung?" Tanya Arvind dengan suara cadelnya.
"Om Akmal lagi tidur di kamar." Jawab Bapak.
"Alpin mau tulun mau te tamal Om Amal." Pintanya.
"Iya." Bapak menurunkan Arvind dari pangkuannya.
Arvind pun menuju ke kamar Akmal lalu berjinjit untuk menarik handle pintu yang untungnya tidak di kunci. Dilihatnya Omnya itu tengah tidur dengan posisi terlentang. Arvind pun merangkak naik ke ranjang lalu mengguncang tubuh remaja itu.
"Om Amal.. Om Amal." Panggilnya.
"Apa." Jawab Akmal dengan suara malas lagi enak-enaknya mimpi harus terhalau dengan suara keponakannya.
"Ayo dalan-dalan." Ajak Arvind dengan semangat.
Biasanya jika di sore hari dan Arvind sudah mandi. Bocah tampan itu akan dijemput Akmal dan diajak jalan-jalan menelusuri jalanan kampung lalu berhenti di lapangan, melihat sekumpulan remaja laki-laki bermain sepak bola.
"Ini masih siang Vind.." Jawab Akmal agar keponakannya itu paham. Apalagi rasanya berat sekali untuk membuka kedua matanya. Semalam ia begadang dengan teman-temannya di warung dan baru pulang di jam setengah satu.
"Ayo 'Om.. dalan dalan.." Arvind tetap saja mengguncang tubuh Akmal membuat remaja itu berdecak kesal dan terpaksa harus bangun.
"Kamu tuh ngeselin banget sih.." Ucap Akmal sambil mencubit pipi gembul Arvind. Mengganggu tidur siangnya saja.
"Huwaa... Mama..." Arvind pun menangis karena Akmal mencubitnya cukup keras.
"Eh.. eh.. jangan nangis.. jangan nangis.." Akmal kelabakan sambil menenangkan Arvind. Bisa-bisa di marahi kakak nih, bisiknya dalam hati.
"Mama.. Huwaa..." Arvind tetap menangis.
Zahira pun masuk ke kamar Akmal. "Kamu apain lagi sih Dek, senang sekali buat Arvind nangis." Omel Zahira.
"Cup.. anak laki-laki nggak boleh cengeng. Cerita sama Mama, tadi diapain sama Om Akmal?" Tanya Zahira membawa Arvind ke dalam dekapannya.
"Pipi Alpin di tubit." Adunya terisak-isak.
"Akmal... sampai merah gini pipinya." Zahira mendelik pada Akmal melihat Pipi sebelah kanan Arvind tampak kemerahan.
__ADS_1
Akmal hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehe.. sorry Mbak, nggak sengaja tadi." Sesalnya.
"Maafin Om ya.. jangan nangis lagi, entar sore bakal Om jemput deh. Terus kita jalan-jalan sambil beli ice krim, mau kan?" Bujuk Akmal mengelus rambut Arvind.
Arvind memeluk erat tubuh sang Mama, tidak mau melihat wajah Omnya.
"Mau Papa.." Mendongak pada Zahira.
"Iya, kita ke Papa." Ucap Zahira lalu keluar dari kamar Akmal.
"Hadeh.. bakal kena semprot Emak lagi nih." Gumam Akmal.
*
"Papa.." Panggil Arvind pada Adam yang lagi berbincang dengan Bapak.
Adam menoleh dan Arvind langsung mengulurkan kedua tangannya agar Adam menggendongnya.
"Jagoan Papa kenapa nangis, heum?" Tanya Adam lembut.
"Om Amal dahat, pipi Alpin tubit." Adunya dengan ekspresi lucu.
"Sampe merah gitu Mas pipi Arvind." Sahut Zahira menunjukkan.
Adam tersenyum lalu mengusap lembut pipi jagoannya itu. "Sudah, nanti merahnya akan hilang." Ujarnya. Arvind menempelkan pipinya di dada bidang Adam.
Bapak geleng-geleng kepala. "Anak itu. Senang sekali menggoda keponakannya." Ucapnya.
"Pak, maaf ya. Kami tidak bisa berlama-lama disini. Kami juga mau ke rumah Kak Andi." Ujar Zahira pamit.
"Oh, ya sudah tidak apa-apa." Jawab Bapak.
***
"Arvind kenapa Dam?" Tanya Andi melihat Arvind yang tidak mau gabung bermain bersama Dila dan Mikha.
"Biasa tadi habis nangis." Jawab Adam singkat seraya menepuk-nepuk punggung Arvind.
Eko, Andi dan Adam duduk di teras depan sambil mengawasi Dila dan Mikha bermain. Sementara para perempuan saat ini berada di dapur, memasak berbagai jenis makanan yang akan mereka santap nanti.
"Din, kamu keluar aja jangan di sini kasihan bayimu." Ujar Zahira yang saat ini sedang menumis bumbu.
"Iya Din, nanti dia bersin-bersin. Kasihan kan?" Timpal Risma yang menggoreng Nugget ayam.
"Nggak apa-apa, lagian dia tidur kok." Jawab Dini.
"Terserah kamu deh." Ujar Mila.
Sekitar dua jam acara memasak mereka sudah selesai.
"Din, tolong kamu keluar. Suruh mereka menggelar tikarnya di teras samping aja." Ucap Zahira.
"Ok Ra." Angguk Dini lalu berjalan ke depan.
"Ayah.." Panggil Dini pada Eko.
"Ada apa Bun?" Tanya Eko.
"Masaknya sudah selesai tolong gelar tikarnya tapi di teras samping ya." Titah Dini.
__ADS_1
Andi dan Eko pun menggelar tikar sesuai arahan dari Dini.
"Kamu gendong anakmu, aku mau bantuin mereka bawa makanannya keluar." Dini memberikan bayinya pada Eko.
Semua jenis makanan sudah terhidang diatas tikar beserta jus jeruknya dan air putih juga.
"Asyik.. ada Nugget ayam juga." Riang Mikha.
"Yee..." Arvind dan Dila juga ikut bertepuk tangan ria melihat pekikan riang Mikha.
"Waw.. kalian masak sebanyak ini?" Tanya Andi dengan mata berbinar.
Ada bakso, sate ayam, sop buntut, rawon, bakwan jagung, ikan gurame, tahu, tempe, perkedel kentang, kerupuk tak lupa sambalnya juga. Lalu ada buah-buahan, kue bolu dan juga lumpia.
"Iya, kalian bisa pilih mana yang kalian mau." Jawab Risma sambil tersenyum.
"Mas, kamu mau makan apa?" Tanya Zahira kepada suaminya.
"Sop buntut Yank." Jawab Adam.
"Mama.. Alpin mau nadet ayam?" Pintanya karena Zahira tidak menghiraukannya.
"Iya, bentar ya. Mama mau ambilin Papa dulu." Zahira mengisi piring Adam dengan nasi, bakwan jagung, sambel. Untuk sop buntutnya Zahira taruh ke dalam mangkuk agar Adam menuang sendiri.
"Nih, Mas." Zahira mengulurkan piring dan mangkuk kepada Adam.
"Makasih Yank." Ucap Adam.
"Jangan lupa kerupuknya Dam, biar makin nikmat." Sahut Andi.
Mereka semua menyantap makanannya.
Adam mengangguk lalu mengambil kerupuk sendiri. Karena Zahira sedang menyuapi Arvind.
"Dedek, makan sama Kakak Mikha yuk." Ujar Mikha pada Arvind. Mikha saat ini sudah berusia tujuh tahun.
"No! Alpin mau Mama aja." Jawabnya sambil menggeleng membuat Mikha cemberut karena di tolak Arvind.
"Haha.." Risma tertawa.
"Kamu juga makan Yank." Kini Adam menyuapi Zahira.
"Ris, suamimu mana kok belum ke sini?" Tanya Andi di sela-sela suapannya.
"Bentar lagi Kak." Jawab Risma.
"Assalamu'alaikum." Ucap Akmal yang baru tiba di rumah Andi disusul suami Risma juga.
"Wa'alaikumsalam." Jawab semuanya.
Eko pun beridiri lalu memanggil Akmal dan suami Risma agar beragabung dengan mereka.
"Wih.. makan besar nih." Ucap Akmal antuasias.
"Iya, ayo kalian duduk. Pilih makanan yang kalian mau." Jawab Mila.
Risma menggeser tubuhnya agar suaminya duduk di sampingnya dan mengambilkan makanan juga. Sementara Akmal mengisi piringnya sendiri dengan berbagai jenis lauk yang ada.
Mereka semua nampak bahagia dengan kebersamaan ini. Terlebih lagi dengan kehadiran sang buah hati masing-masing.
TAMAT.
__ADS_1
Terimakasih untuk teman-teman semuanya yang sudah bersedia mampir di novel halu saya.🤗🤗💖💖