Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Operasi caesar


__ADS_3

Dengan sigap Adam berlari dan dia berhasil menggapai pinggang Zahira sehingga perempuan itu tidak sampai jatuh ke lantai entah bagaimana nasib istri dan anaknya itu jika sedikit saja dia tidak berhasil menolong istrinya.


Zahira masih memejamkan kedua matanya dengan mencengkeram kuat baju koko Adam. Zahira nampak syok dengan kejadian yang di alaminya tadi, ia sangat takut, takut jika dirinya benar-benar jatuh dan membahayakan nyawa bayi yang di kandungnya.


Risma dan Mila bernafas lega setelah Adam berhasil menolong Zahira. Sementara semua orang yang berada di ruang tamu langsung berlari begitu mendengar suara teriakan dari arah dapur. Andi dan Akmal yang duluan tiba.


"Ada apa, kenapa kalian berteriak?" Tanya Andi dengan cemas.


"Hiks.. hiks.. Mas.." Zahira menangis di pelukan suaminya. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Adam.


"Ada apa Mbak?" Desak Akmal kepada Mila dan Risma karena mereka tidak menjawab pertanyaan yang Andi lontarkan.


"Z-Zahira h-hampir terpeleset tadi d-dan untungnya Adam berhasil menolongnya." Jawab Risma dengan terbata-bata karena Risma juga ikutan deg-degan.


"Ya Allah Nduk..." Ucap Ibu Zahira sambil memegangi dadanya begitu mendengar cerita Risma.


Zahira tidak berani menatap semua orang ia masih di pelukan Adam. Adam mengusap-usap punggung perempuan itu dan menenangkan nya.


"Sudah tidak apa-apa." Ucap Adam.


"Minum dulu Nak." Ibu mengulurkan segelas air putih kepada Zahira.


"Yank.." Panggil Adam. Zahira membuka kedua matanya lalu mengambil gelas dari tangan Ibu dengan tangan yang gemetar kemudian meminumnya.


"Terimakasih Bu." Ucap Zahira lirih. Ibu pun tersenyum.


Tiba-tiba Zahira merintih kesakitan.


"Akh.. M-mas.. perutku s-sakit.." Zahira memegangi perutnya karena merasakan nyeri.


"Ya Allah.. s-sakit Mas.." Zahira menggigit bibirnya menahan rasa sakit itu.


Adam dan semua orang menjadi panik.


"Dam.. lebih baik kita bawa Zahira ke rumah sakit. Wajah Zahira pucat banget." Ucap Andi cepat.


Adam mengangguk lalu menggendong tubuh Zahira.


"Ndi, kamu ambil kunci mobil di kamarku." Titah Adam dan Andi langsung berlari ke kamar Adam.


"Nak, Emak ikut ya." Ibu Zahira ingin menemani putrinya.


"Iya Mak." Jawab Adam.


Mereka pun keluar dengan Zahira yang masih merintih kesakitan. Andi membukakan pintu mobil agar Adam segera masuk. Ibu Zahira duduk di depan setelah berpamitan dan meminta do'a pada semuanya untuk keselamatan Zahira. Andi mulai melajukan mobilnya.


Sementara ibu Adam tidak ikut dia belum menyelesaikan bersih-bersih rumahnya. Nanti dia akan ke rumah sakit bersama Ayah sambil membawa baju ganti Zahira.


"Hiks.. hiks.. Mas.. sakit banget.." Lirih Zahira dengan keringat yang memenuhi wajahnya.

__ADS_1


"Iya Yank, kamu yang sabar ya bentar lagi kita juga sampai." Sahut Adam sambil mengelap keringat di dahi Zahira. Adam begitu takut sesuatu yang buruk bakal menimpa Zahira dan calon anaknya.


"Ndi bisa lebih cepat lagi." Perintah Adam.


"Ini juga sudah cepat Dam." Jawab Andi.


"Nduk.. kamu wanita kuat, kamu tahan ya." Ibu memberi semangat kepada Zahira.


Begitu sampai di rumah sakit. Adam segera keluar dari mobil sambil memanggil nama suster untuk menolong istrinya. Suster pun menyuruh Adam membaringkan Zahira ke ranjang pasien lalu mendorongnya ke ruang UGD.


"Mas.. aku takut dia kenapa-napa." Ucap Zahira saat Adam menggenggam tangannya.


"Mas percaya anak kita anak yang kuat." Jawab Adam sambil mencium kening Zahira.


"Maaf ya Pak, sebaiknya anda tunggu di luar." Ucap suster kepada Adam.


"Sus.. biarkan suami saya di sini." Pinta Zahira tidak mau di tinggalkan Adam.


"Maaf Bu, untuk saat ini suami ibu harus menunggu di luar." Jawab sang suster.


Zahira semakin erat menggenggam tangan Adam sambil menggelengkan kepalanya. Dengan perlahan Adam melepaskan tangan Zahira.


"Mas selalu bersamamu Sayang. Jangan takut ya. Mas nggak akan kemana-mana." Ujar Adam.


Zahira semakin meneteskan air matanya begitu Adam sudah keluar dari ruang UGD.


"Apa kata Dokternya Nak?" Tanya Ibu Zahira kepada Adam.


Andi menepuk bahu Adam. "Kita sama-sama berdo'a semoga Zahira dan anakmu baik-baik saja." Ucap Andi.


"Iya." Angguk Adam sambil menundukkan kepalanya. Laki-laki itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya merasakan kekhawatiran yang luar biasa.


Dokter telah keluar. Adam dan Ibu Zahira langsung berdiri, mereka bertanya mengenai kondisi Zahira apakah sudah baik-baik saja.


"Mari kita bicara di ruangan saya." Ajak sang Dokter kepada Adam.


Adam dan ibu Zahira saling pandang sebab Dokter tidak menjawab pertanyaan mereka. Mereka berdua semakin takut. Terlebih lagi Adam, saat ini jantung Adam berdetak sangat kencang karena penasaran dengan apa yang akan disampaikan Dokter tentang keadaan istrinya itu.


"Silahkan duduk." Ucap Dokter yang bernama Indra.


Adam sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya ia pun bertanya pada Dokter karena saking khawatirnya.


"Bagaimana keadaan istri saya saat ini Dok." Tanya Adam begitu tidak sabarnya.


"Kondisi istri anda saat ini sangat mengkhawatirkan.."


Deg.


"A-pa?" Adam memotong ucapan sang Dokter.

__ADS_1


"Istri Anda harus segera kami tangani dengan cara operasi caesar karena telah mengalami kontraksi." Lanjut Dokter.


"Tapi usia kandungan istri saya masih tujuh bulan Dok." Ujar Adam tidak percaya.


"Memang benar, tapi jika tidak ditangani sekarang juga bisa berakibat buruk bagi ibu dan janinnya. Apalagi setelah kami periksa tadi sepertinya istri anda mengalami keadaan syok dan kelelahan juga, itu yang menyebabkan terjadinya kontraksi." Terang Dokter Indra.


Adam meraup wajahnya kasar itu artinya putra mereka akan lahir prematur sebelum waktunya. Adam juga ingat Zahira begitu antusias menyambut acara tujuh bulanannya dengan membantu para ibu-ibu memasak di dapur meski sudah dilarang keras oleh ibunya. Zahira beralasan jika ibu hamil itu bukan orang sakit yang mana tidak boleh melakukan ini-itu.


"Baiklah, lakukan yang terbaik Dok. Selamatkan Istri dan anak saya." Ucap Adam sendu.


"Tentu saja Pak, kami akan melakukan yang terbaik." Jawab Dokter Indra pasti.


Sebelum masuk ke ruang operasi, Zahira meminta kepada suster untuk berbicara sebentar dengan suami dan ibunya. Suster pun mengangguk mengizinkan.


"Mas, Mak.. maafin Hira ya jika selama ini Hira punya salah." Ucapnya dengan berurai air mata.


Adam menghapus air mata di pipi Zahira.


"Kamu tidak punya salah apa-apa Nduk.. jangan nangis ya bentar lagi kamu akan bertemu dengan anakmu." Jawab Ibu Zahira.


Zahira pun tersenyum. Benar kata ibu ia harus semangat, semangat melahirkan nyawa sang putra meski belum waktunya lahir. Suster kembali mendorong ranjang pasien dan Zahira sudah masuk ke ruang operasi.


Ibu, Ayah, Bapak dan Akmal berjalan tergesa-gesa mendekati Adam. Mereka sudah dihubungi Andi tadi jika Zahira harus melahirkan sekarang juga dengan cara operasi caesar.


"Nak.." Ibu menangis sambil memeluk Adam.


Ayah menepuk bahu Adam. Ayah tahu jika putranya ini rapuh namun Adam tutupi dengan bersikap tegar.


"Percaya sama Ayah, istrimu itu wanita kuat." Ucapnya.


"Iya Yah." Jawab Adam.


Mereka semua menunggu jalan operasi berlangsung. Adam tak henti-hentinya berdo'a dalam hati. Laki-laki itu juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan buah hatinya.


Setelah menunggu kurang lebih lima puluh menit mereka semua mendengar suara tangis bayi yang cukup kencang. Perasaan lega dan haru bercampur menjadi satu. Andi langsung memeluk tubuh Adam sambil memberi ucapan selamat.


"Bu, anakku sudah lahir Bu." Lirih Adam memeluk ibunya.


"Iya Nak, Alhamdulillah, sekarang kamu sudah jadi Ayah." Ucap Ibu.


Lalu ibu berganti memeluk ibunya Zahira. Kedua nenek itu sangat senang begitu mendengar cucu mereka sudah lahir.


Tidak lama Dokter Indra keluar dari ruang operasi. Adam segera berdiri dan mendekati Dokter itu.


"Selamat ya Pak, putra anda telah lahir dengan keadaan sempurna. Dia juga tampan seperti Ayahnya, saat ini sedang dibersihkan oleh suster. Tapi..." Dokter Indra menjeda ucapannya.


"Tapi apa Dok.. jangan membuat saya semakin takut." Desak Adam, dia takut akan keadaan sang istri di ruang operasi.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2