
Zahira tertidur dengan sangat pulas bahkan sampai Bagas di ambil sama Mbak Susi pun Zahira tidak terbangun karena saking lelahnya dia.
"Dam.. tumben jam segini Zahira udah tidur?" Tanya Mbak Susi saat mengambil baby Bagas dari gendongan Adam.
Bagas tadi hanya tidur sebentar mungkin hanya setengah jam saja. Jadi sebelum Bagas menangis maka Adam berniat menggendongnya dan mengajaknya keluar rumah. Namun sebelum melangkah ke depan, Mbak Susi sudah terlebih dahulu masuk untuk mengambil anaknya.
"Iya Mbak, kecapean." Jawab Adam hanya seadanya.
Tidak mungkin juga Adam menceritakan tentang kejadian semalam di mana Adam lah yang membuat sang istri menjadi lelah dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Akibat permintaannya yang meminta nambah lagi, alhasil tidur sang istri menjadi berkurang. Berbeda lagi dengan dirinya yang memiliki stamina lebih karena setiap harinya selalu melakukan olahraga rutin.
"Kasihan sekali Dam, pasti dia lelah melakukan semua pekerjaan rumah sendirian." Pikir Mbak Susi yang tidak tahu kebenarannya.
"Bisa jadi Mbak." Jawab Adam sambil menatap Zahira yang tidurnya sangat pulas tanpa terusik oleh suara mereka.
"Untung ada Zahira di sini, jadi Mbak bisa menitipkan Bagas. Istrimu itu orangnya giat Dam, semua pekerjaan rumah dilakukan tanpa adanya keluhan." Ucap Mbak Susi memuji Zahira di depan Adam.
Adam mengangguk setuju dengan ucapan Mbak Susi ini, mengenai sifat dari sang istri yang sangat giat dalam mengerjakan tugas rumah tangga.
"Iya, benar kata Mbak Susi." Jawab Adam sambil tersenyum tipis.
"Ya sudah, kalau gitu Mbak pulang ya.. tolong sampaikan ucapan terima kasih Mbak pada Zahira yang sudah momong Bagas tadi." Kata Mbak Susi sebelum berjalan pulang.
"Tentu, nanti aku sampaikan setelah Zahira bangun." Jawab Adam sambil memberikan botol susu Bagas yang tinggal sedikit.
"Assalamu'alaikum." Mbak Susi pun berlalu dari rumah Zahira.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Adam.
***
Zahira terbangun saat mendengar suara adzan Dzuhur. Di edarkan penglihatannya ke seluruh ruangan. Dia mencari keberadaan Bagas dan suaminya.
"Ke mana Bagas dan Mas Adam?" Gumam Zahira.
Zahira pergi ke kamar mandi yang berada di sebelah dapur untuk buang air kecil dan juga membasuh wajahnya. Lalu melangkah ke depan untuk mencari keberadaan Adam siapa tahu ada di sana.
__ADS_1
"Mas.." Panggil Zahira saat melihat Adam ternyata duduk di kursi teras bersama dengan Akmal.
Adam dan Akmal sama-sama menoleh saat ada suara yang memanggil. Zahira langsung mengambil tempat duduk di sebelah sang suami.
"Sudah bangun? Nyenyak banget tidurnya." Ucap Adam.
Zahira mengangguk. "Bagas di mana? Sudah diambil sama Mbak Susi ya Mas. Kok aku nggak tahu?" Tanya Zahira lalu menyeruput kopi yang tidak terlalu panas yang ada di depannya itu.
"Iya, sudah pulang sama Ibunya dari dua jam yang lalu..." Jawab Adam. "Itu kopi punya Mas jangan di habiskan." Tegur Adam.
"Hehe.. abisnya enak banget Mas." Jawab Zahira.
"Lama banget ya Mas, tadi aku tidurnya? Sampai Bagas pulang aja aku nggak tahu." Ucap Zahira terkekeh kecil.
"Mbak tidurnya udah kayak kebo. Masih pagi juga udah ngantuk, emang semalem nggak tidur apa. Kalo Emak lihat Mbak tidur pagi-pagi kayak tadi. Uh.. pasti udah di omeli habis-habisan sama Emak kamu Mbak!" Cerocos Akmal menggebu.
Ibu Zahira pernah memberi nasehat pada kedua anaknya bila tidur di pagi hari itu tidak baik. Karena bisa menjadi datangnya suatu penyakit dan juga penghalang rejeki.
"Iya, Mbak udah tahu kalo tidur di pagi hari itu emang nggak boleh. Tapi kan nggak setiap hari juga Mbak tidur di jam sembilan pagi seperti ini. Tadi itu Mbak kepaksa karena udah nggak kuat banget nahan kantuk." Jawab Zahira tidak mau di salahkan.
"Tuh lihat Mas.. galak banget kan Mbak Zahira." Akmal mengadu kepada Adam.
"Galak dari mana coba. Jika Mbak ini galak sama kamu, Mbak nggak akan setiap hari ngasih uang jajan ke kamu." Sungut Zahira tidak suka.
"Cuma dua puluh ribu aja bangga." Cibir Akmal.
"Cuma katamu.. coba kamu hitung dalam setiap harinya selama satu bulan. Dan itu sudah hampir berapa tahun Mbak ngasih uang jajan ke kamu." Sewot Zahira sambil melototkan matanya ke arah Akmal.
"Nah.. nah.. sudah mulai keluar tuh Mas dua tanduknya.." Goda Akmal melihat sang kakak yang hampir marah.
Adam terkekeh mendengar Akmal yang berhasil membuat istrinya marah.
"Dasar adik durjana kamu." Zahira berdiri, memukul dan mencubit lengan Akmal.
"Aduh.. aduh.. sakit Mbak. Cewek kok kasar banget." Akmal mengusap-usap bekas cubitan di tangannya yang hampir memerah.
__ADS_1
"Rasain, salah kamu sendiri." Balas Zahira cuek.
"Sudah Yank.. kasihan Akmal tangannya merah tuh bekas cubitan kamu." Adam menarik tangan Zahira agar kembali duduk.
"Lebih baik aku ke kamar deh, daripada kena korban kamu lagi Mbak." Akmal pun kabur dari hadapan sang kakak.
"Ya sudah lebih baik kita juga masuk. Kita sholat Dzuhur berjama'ah." Ajak Adam kepada sang istri.
Zahira mengangguk patuh dan membawa secangkir kopi yang tinggal sedikit itu ke dalam. Lalu melaksanakan sholat Dzuhur berjama'ah dengan Adam di kamarnya.
Usai sholat, Zahira pergi ke dapur untuk mengisi perutnya yang sudah lapar minta di isi. Zahira membuat dua mangkuk mie instan rasa soto dengan di beri potongan daun bawang dan juga irisan telur rebus, tidak lupa juga kerupuk gurih sebagai pelengkapnya. Lalu mengambil nampan dan membawanya ke meja ruang tamu untuk makan di sana.
Akmal yang kebetulan keluar dari kamar dan melihat sang kakak membawa dua mangkuk mie instant langsung saja menghadangnya. Dia mengambil satu mangkuk mie begitu saja lalu membawanya ke depan televisi, makan sambil nonton berita.
"Akmal.. itu kan buat Mas Adam!" Seru Zahira, tapi sang adik tidak perduli.
"Mbak kan bisa buat lagi, pelit amat jadi Kakak." Jawab Akmal dengan menyantap mie-nya.
Adam keluar dari kamar karena mendengar suara keributan yang kembali di ciptakan oleh sang istri dan adik iparnya itu.
"Ada apa lagi sih Yank?" Tanya Adam mendekat ke arah Zahira yang masih berdiri menatap Akmal dengan sebal.
"Itu Mas.. si Akmal, main ambil aja mie yang baru aku buat." Adu Zahira menatap sinis adik bungsunya.
Adam menghela napas. "Kan masih ada satu itu.." Tunjuk Adam dengan dagunya, melihat masih ada semangkuk mie lagi di atas nampan yang di pegang Zahira.
"Ya.. kan aku buatnya untuk Mas Adam. Bukan buat Akmal." Zahira tetap tidak terima Akmal memakan mie buatannya.
"Sudah tidak apa-apa, lebih baik kita makan aja semangkuk mie ini biar makin romantis." Bujuk Adam mengambil alih nampan di tangan Zahira.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...