
"Berhenti disitu!" Ucap Ibu bernada tegas sambil menjauhkan Arvind agar tidak dijangkau Zahira.
Zahira pun tidak jadi mendekat sambil menurunkan kedua tangannya yang tadinya hendak meraih anaknya.
"Kenapa Bu?" Tanya Zahira bingung.
"Ganti baju dan cuci tangan dulu sebelum pegang anakmu! Kamu baru pulang dari puskesmas bisa jadi banyak virus yang nempel di tubuhmu." Jawab Ibu dengan tatapan tajam.
Mendapat tatapan tajam dari ibu mertuanya membuat Zahira menunduk dan langsung masuk ke kamar mandi setelah mengambil baju ganti di lemari. Tak lama Zahira pun keluar lalu mendekat ke arah ibu mertuanya yang masih menggendong baby Arvind.
Ibu memberikan Arvind kepada Zahira tanpa mengatakan apa-apa lalu mengajak Ayah keluar dari kamar anaknya. Zahira merasakan aura tidak enak sepertinya ibu mertuanya itu marah pada dirinya.
Adam sedari tadi hanya diam dan berdiri cukup jauh dari Zahira.
"Kenapa tidak sekalian saja nginap di sana, kenapa harus pulang segala?" Tanya Adam dengan suara dingin. Laki-laki tampan itu meluapkan amarahnya dengan nada menyindir.
"Sudah tahu punya anak bayi tapi pergi seenaknya. Ibu macam apa kamu!" Lanjut Adam datar.
Zahira tidak berani menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya sambil memberi Arvind Asi. Dia duduk ditepi ranjang. Akibat kepanikannya dan meninggalkan Arvind, semua orang kini menyalahkan dirinya.
"Krucuk.. krucuk.." Tiba-tiba perutnya berbunyi, gara-gara itu juga ia sampai belum makan malam. Tapi Zahira tidak berani beranjak dari duduknya karena Arvind belum selesai minum, yang ada nanti ia akan semakin disalahkan, biarlah jika ia kelaparan yang penting anaknya kenyang.
Tapi Zahira sudah tidak kuat lagi menahan rasa laparnya. Mau minta tolong pada suaminya untuk mengambilkan makanan tapi Zahira tidak berani menatap wajah datarnya Adam. Adam masih berdiri di tempatnya sambil melipat kedua tangan di dada. Laki-laki itu tahu jika istrinya saat ini lapar tapi Adam diam saja dan menunggu Zahira untuk bersuara apakah nanti akan minta tolong atau tidak.
Zahira sampai menggigit bibirnya akibat rasa lapar yang semakin mendera. Sementara Arvind kuat sekali minum ASInya membuatnya tidak tega jika harus menghentikan aktifitas bayi lucunya itu.
"Duh.. laper banget aku." Batin Zahira.
Sampai akhirnya Zahira bersuara memanggil nama suaminya.
"Mas.. boleh aku minta tolong?" Ucapnya meski segan tapi semoga saja laki-laki itu mau membantunya.
"Minta tolong apa?" Masih dengan suara dingin.
"B-bisakah ambilin aku makan." Jawab Zahira pelan.
"Ambil sendiri!" Sentaknya singkat.
"Ya Allah, segitu marahnya dia." Gumam Zahira dalam hati.
__ADS_1
"Tidak mungkin Mas, Arvind saja belum selesai minum." Balas Zahira dengan tatapan mengiba.
"Aku tidak peduli, mau kamu lapar atau tidak." Jawab Adam acuh.
"Tega amat kamu Mas." Ucap Zahira sedih.
"Tega mana kamu atau Mas. Kamu pergi meninggalkan anakmu begitu saja, juga tidak pamit pada kedua orangtuaku, apa itu bisa di benarkan?" Tanya Adam tajam.
"Aku kan panik Mas dengar Akmal kecelakaan." Jawab Zahira pelan.
Adam berdecih. "Panik kamu bilang. Panik juga tidak segitunya sampai melupakan jika punya anak bayi. Harusnya kamu minta bantuan Ayah untuk mengantar ibumu ke puskesmas dengan begitu Arvind tidak akan kehausan. Sekarang lihat, bagaimana rakusnya dia minum ASImu." Ucap Adam semakin dingin.
Zahira semakin bersalah pada anaknya. "Maafin Mama ya Nak sudah meninggalkan Adek terlalu lama." Sambil mencium tangan mungil Arvind yang tertutupi sarung tangan dan bayi gembul itu hanya berdekip-kedip lucu memandang wajah Zahira.
Hingga akhirnya Arvind mulai melepaskan mulutnya dari Mamanya dan perlahan bayi lucu itu juga sudah memejamkan mata. Zahira pun bernafas lega akhirnya selesai juga. Perempuan itupun meletakkan baby Arvind di box bayi dengan hati-hati agar tidak sampai terbangun.
Kini saatnya ia mengisi perutnya yang sudah meronta-ronta minta diisi.
"Mas, kamu sudah makan?" Tanya Zahira sebelum dia keluar kamar.
Ditanya seperti itu Adam tidak menyahut ataupun memandang Zahira. Justru Adam mengambil baby Arvind yang tadinya tidur di box bayi sekarang ia pindahkan ke ranjang agar tidur bersamanya.
"Beneran marah nih Mas Adam." Batin Zahira lalu ia keluar dari kamarnya melangkah ke dapur untuk makan malam.
"Kok belum tidur Bu?" Tanya Zahira.
Awalnya ibu tidak mau menjawab namun karena ditegur Ayah akhirnya wanita paruh baya menyahut juga.
"Belum ngantuk." Ibu menjawab dengan nada ketus.
Hati Zahira rasanya mencelos, semua orang di rumah ini sekarang marah padanya.
"Kamu mau ke mana Nak, apa Arvind sudah tidur?" Tanya Ayah. Hanya Ayah mertuanya saja yang bersikap baik pada dirinya.
"Mau ke dapur Yah, mau makan. Arvind sudah tidur sekarang." Jawab Zahira sambil tersenyum.
Ayah manggut-manggut. "Ya sudah kamu makanlah." Ucap pria paruh baya itu.
Zahira melanjutkan langkah kakinya, sampai dapur ia langsung mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk. Ia makan sambil melamun sampai-sampai tidak menyadari jika Adam masuk dapur juga untuk mengambil air minum.
__ADS_1
Zahira tersadar setelah mendengar gelas yang di ambil Adam menimbulkan bunyi.
"Eh, Mas.." Ucapnya memandang Adam yang sedang berdiri di sampingnya sambil minum air putih. Setelah itu Adam lantas keluar tanpa berkata apa-apa.
Zahira semakin sedih dan untuk kembali ke kamar rasanya sangat sungkan, ia pun sengaja berlama-lama di dapur sambil menunggu kedua mertuanya masuk kamar.
"Ya Allah, sampai kelupaan belum sholat isya'." Buru-buru Zahira masuk kamar untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Usai sholat Zahira melihat suaminya belum tidur, laki-laki tampan itu masih bermain ponsel. Apa menunggu dirinya. Zahira kemudian naik ke atas ranjang.
"Mas, udah jam setengah sepuluh. Ayo tidur, kamu harus istirahat, besok kan masih kerja." Ucap Zahira memiringkan tubuhnya menghadap Arvind.
***
Pagi hari, seperti biasa jika Arvind belum bangun dari tidurnya maka Zahira akan membantu ibu memasak di dapur. Namun selama mereka masak bersama, ibu hanya diam saja saat ditanya Zahira ini-itu membuat Zahira merasa jika dirinya memang tidak dibutuhkan.
Zahira memilih meninggalkan dapur lalu masuk ke kamarnya barang kali Arvind sudah bangun tidur, karena kalau sudah bangun Arvind tidak pernah menangis. Dan tebakannya benar, Arvind sekarang memainkan kedua tangannya.
"Pintarnya anak Mama tiap bangun tidur nggak pernah nangis." Ucap Zahira sambil menundukkan badannya lalu ia cium seluruh wajah Arvind membuat bayi tampan itu tersenyum.
Zahira beralih ke arah Adam yang masih tidur, usai sholat subuh laki-laki tampan itu melanjutkan kembali tidurnya. Saat itu juga Adam membuka kedua matanya.
"Selamat pagi Papa." Ucap Zahira sambil tersenyum manis.
"Adek mandi dulu ya.. nanti giliran Papa." Zahira membawa Arvind ke kamar mandi setelah ia siapkan air hangat tadi.
Kini bayi lucu itu sudah rapi dan wangi, giliran Zahira mengambilkan pakaian kerja suaminya. Tak lama Adam keluar dari kamar mandi dan langsung memakai pakaiannya. Zahira berniat membantu namun Adam mengangkat tangan kanannya tanda jika ia menolak.
Tok.. tok.. tok..
"Adam.. Nak, sarapan sudah siap. Ayo kita makan." Ibu mengetuk pintu dan hanya memanggil nama Adam saja.
"Iya Bu." Sahut Adam yang sudah rapi lalu keluar kamar meninggalkan Zahira dan Arvind.
Zahira merasa sedih.
"Nak, Mama di rumah ini sudah tidak dianggap lagi." Ucapnya memandangi wajah lucu Arvind sambil menghapus air mata di kedua pipinya.
.
__ADS_1
.
.