
Satu jam sudah Zahira menunggu Adam di parkiran Swalayan tapi laki-laki tampan itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Sudah Zahira telpon berkali-kali juga tapi tidak kunjung diangkat. Zahira mulai gelisah, cuaca sedang mendung mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Zahira pun mencoba menghubungi Adam lagi.
"Duh.. Kak Adam ke mana sih, kenapa tidak diangkat?" Dengan ponsel yang masih menempel di telinga.
"Apa jangan-jangan lembur ya, makanya nggak sempat jawab?" Zahira menatap layar ponselnya sedetik kemudian ia matikan panggilannya karena percuma.
Beberapa menit kemudian terdengar suara sepeda motor yang tidak asing lagi di telinganya dan berhenti tepat di depannya, siapa lagi jika bukan suara sepeda motor Adam. Zahira pun merasa lega, Adam sudah tiba di hadapannya.
"Akhirnya Kak Adam datang juga. Satu jam aku nunggu Kakak, aku telfon juga nggak Kakak angkat." Adu Zahira.
"Maaf, tadi aku menyelesaikan dulu pekerjaanku. Biar besoknya tidak menumpuk." Jawab Adam merasa bersalah.
"Pantesan, ayo pulang sekarang! Mendungnya gelap nih keburu hujannya turun." Zahira langsung naik di jok setelah memasang helm.
Adam melajukan kendaraannya cukup kencang. Mengingat langit yang lagi mendung untung saja jalanan tidak terlalu ramai. Zahira pun mau tidak mau harus memeluk tubuh Adam karena Zahira takut akan terjatuh. Adam juga tidak protes Zahira memeluk tubuhnya.
Di tengah jalan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Terpaksa Adam berhenti, tidak mungkin juga ia menerobos air hujan yang bisa saja membahayakan nyawanya dan Zahira.
"Kita berteduh dulu ya, hujannya cukup deras." Adam menoleh ke belakang setelah mematikan mesin sepeda motornya. Zahira mengangguk lalu turun dari motor.
__ADS_1
Mereka berteduh di depan ruko bersama pengendara sepeda motor lainnya.
"Kak.. pasti orang rumah cemas nih, kita pulang telat." Ucap Zahira menunjukkan raut khawatir.
"Sudah, kamu tenang saja. Tadi aku sudah menghubungi Bapak dan Ayah kalau aku dan kamu bakalan pulang telat nanti." Jawab Adam menenangkan Zahira.
"Syukur deh.." Ucap Zahira dengan perasaan lega kini ia tidak akan khawatir jika kedua orang tuanya mencemaskan dirinya yang belum pulang.
"Hujannya anteng banget, bisa-bisa kita pulang malam jika begini." Gumam Zahira mengeluh.
"Kenapa? Kamu takut jika kita pulang malam?" Tanya Adam memandang Zahira yang menekuk wajahnya.
"Bukan takut, cuma dingin aja." Jawab Zahira seraya memeluk tubuhnya sendiri. Meskipun baju mereka tidak basah tapi tetap saja Zahira merasa kedinginan.
"Pakailah ini biar kamu tidak kedinginan lagi." Ucap Adam sambil memasangkan jaket pada tubuh Zahira.
"Eh, nggak usah Kak.. Kak Adam pakai aja. Nanti Kak Adam kedinginan juga." Ucap Zahira berusaha untuk menolak.
"Aku tidak akan kedinginan Zahira, jadi pakailah!" Perintah Adam dengan nada dinginnya.
Zahira terpaksa memakai jaket Adam daripada laki-laki itu marah.
__ADS_1
Hujan masih turun belum menampakkan akan berhenti. Waktu juga sudah menunjukkan pukul setengah enam sebentar lagi akan Maghrib. Pengendara lain yang tadi ikut berteduh nekat menerobos hujan meskipun sudah tidak sederas tadi.
"Kak, apa kita akan menunggu hujannya berhenti?" Tanya Zahira lagi.
"Ya, karena aku tidak ingin basah kuyup seperti mereka." Tunjuk Adam dengan dagunya pada pengendara yang menerobos hujan.
Hening..
Hening..
"Em, Kak. Aku udah keluar dari tempat kerjaku." Ucap Zahira kepada Adam yang menatap air hujan.
Adam menoleh. "Aku senang akhirnya Bosmu memberimu izin. Jadi mulai besok kamu sudah tidak bekerja lagi kan?" Tanya Adam memastikan.
Zahira mengangguk. "Iya, aku juga dapat pesangon lebih. Sebagai hadiah pernikahan kita." Jawab Zahira menampilkan senyum lebarnya membuat Adam tersenyum tipis, tangan kanannya mengacak-acak kerudung Zahira.
"Ya Tuhan..." Pipi Zahira rasanya bersemu merah.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...