Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
No tium Mama.


__ADS_3

Tengah malam seorang bocah kecil terbangun dari tidur lelapnya sembari memegang bagian bawahnya yang sepertinya minta untuk segera dikeluarkan. Bocah laki-laki yang berumur tiga tahun lebih itu memandangi kedua orangtuanya yang tertidur nyenyak.


"Mama.. Mama, banun Ma." Sambil mengguncang bahu sang Mama.


"Mama.. banun."


Perempuan yang ia panggil Mama itu tidak merespon sama sekali karena begitu lelapnya tertidur. Padahal sudah di bangunin beberapa kali oleh bocah kecil itu.


"Aduh.. Alpin udah tebelet?" Dengan memegangi inti bawahnya.


Karena sang Mama tak kunjung bangun, akhirnya bocah kecil itu turun dari ranjang secara pelan-pelan lalu masuk ke kamar mandi seorang diri. Dengan susah payah ia menarik handle pintu. Setelah berhasil membuka pintu kamar mandi, ia masuk ke dalam namun baru beberapa langkah, air sudah mengalir di balik celana yang ia pakai.


"Ups.. pipis na mancul duyuan." Suara cadelnya terdengar lucu seraya menutup mulut kecilnya.


Ternyata ia sudah tidak tahan untuk buang air kecil hingga mengalir begitu saja sebelum sampai di kloset yang seharusnya ia buang di tempat itu. Bocah tampan itupun menuntaskan pipisnya dengan jongkok di lantai lalu melepas celananya sendiri.


Sambil berjinjit bocah itu mengambil air lalu ia guyur lantainya agar tidak bau pesing, juga membersihkan bagian intinya dan juga kedua kakinya.


"Tata Mama, yantai na halus dicilam bial ndak bau." Bergumam sendiri.


Arvind melakukan itu sesuai ajaran dari sang Mama jika selesai buang air kecil harus tetap dibersihkan dan ternyata bocah tampan itu masih ingat juga. Setelah selesai ia pun keluar dari kamar mandi.


"Uuh.. Mama cama Papa maci bobo." Ucapnya sambil cemberut lucu.


Dengan susah payah Arvind kembali naik ke ranjang membangunkan sang Mama, meminta untuk diambilkan celana di dalam lemari.


"Mama.." Mengguncang keras bahu sang Mama.


"Hmm.." Sahut Zahira dengan mata terpejam.


"Mama!!" Masih berusaha lagi.


"Hmm.." Lagi-lagi hanya sebuah deheman dari Zahira.


"BANUN!!" Karena sudah kesal dengan sang Mama yang tidak kunjung bangun alhasil ia pun berteriak.


Sontak saja Adam dan Zahira langsung terbangun begitu mendengar teriakan anaknya.


"Kenapa teriak-teriak sayang? Nanti ngebangunin semua orang." Ujar Zahira kepada Arvind.


Adam melihat jam di atas nakas yang menunjukkan pukul satu dini hari. Ia pun menghela nafasnya.


"Ada apa jagoan Papa?" Adam juga bertanya.


"Tadi Alpin pipis." Dengan suara cadelnya ia menjawab.

__ADS_1


"Hah.. pipis.. ngompol gitu maksudnya?" Jelas Zahira sembari meraba-raba ranjangnya.


Gawat jika anaknya ngompol di ranjang bakalan repot karena harus membersihkan juga, apalagi kalau sampai melebar kemana-mana. Zahira sengaja tidak memakaikan Arvind diapers karena Arvind sudah berumur tiga tahun lebih dan sudah saatnya untuk mengajari anaknya mandiri.


"Iyya." Arvind mengangguk lucu.


"Kok nggak basah kasurnya." Gumam Zahira terheran.


"Tan Alpin pipis na di tamal mandi." Jawab Arvind mendengar gumaman sang Mama.


"Syukurlah.." Zahira sangat lega.


"Kakak Arvind makin pintar deh." Puji Mama muda itu.


Ternyata anaknya ini semakin pintar dan begitu mengerti dengan didikan yang ia berikan sejak usia dini. Namun Zahira juga merasa bersalah sebab di tengah malam seperti ini anaknya harus ke kamar mandi sendiri, sedangkan ia asyik mengarungi mimpi.


"Mana celana Kakak kok nggak dipakai lagi?" Adam baru menyadari kalau Arvind tidak memakai celana apapun.


"Bacah.." Jawab Arvind sambil menutupi bagian intinya. Entah itu karena dingin atau karena malu? Tapi yang jelas sedari tadi sudah Arvind tutupi dengan kedua tangan mungilnya.


Mendengar itu Zahira semakin bersalah, pasti celana anaknya basah karena terkena air saat Arvind membersihkannya sendiri. Untuk anak seusia Arvind memang masih belum bisa memakai celana sendiri apalagi pas buang air kecil di kamar mandi tanpa ada dirinya yang mengawasi.


"Uh, anak tampan Mama.. Maafin Mama ya sayang." Zahira membawa Arvind ke dalam dekapannya sambil ia ciumi juga rambut lebat Arvind.


"Mama.. Alpin beyum pate ceyana." Protesnya agar segera diambilkan.


Lalu turun dari ranjang mengambil celana untuk Arvind di dalam lemari.


"Ayo berdiri sayang. Kaki kanan dulu ya." Ucap Zahira membantu Arvind memakaikan celana.


"Sekarang tidur lagi." Ucap Adam kepada Arvind.


Arvind pun mengangguk lalu membaringkan tubuh mungilnya di tengah-tengah kedua orangtuanya. Bocah tampan itu segera memeluk tubuh sang Mama sembari minta di puk-puk bokongnya.


"Puk-puk Ma." Pintanya.


"Iya." Jawab Zahira menuruti permintaan jagoan kecilnya.


Tidak lama mereka bertiga sudah masuk ke alam mimpi lagi.


***


Pagi itu, matahari bersinar cukup cerah. Jarum jam menunjukkan pukul 08:00 pagi. Di halaman depan terdengar keriuhan sepasang Ayah dan anak sedang bermain sepak bola.


"Yee.. Alpin menan Alpin menan.." Soraknya sambil loncat-loncat kegirangan karena berhasil memasukkan bola ke gawang sang Papa.

__ADS_1


"Papa talah.." Soraknya lagi.


"Ayo main lagi, kali ini Papa tidak akan kalah." Ucap Adam.


"No! Alpin ndak mau, Alpin udah tapek." Jawabnya bergaya.


Adam tersenyum lalu mengacak-ngacak rambut anaknya.


"Arvind, Papa.. ayo kemari, Mama buatin kalian minuman segar nih!" Teriak Zahira seraya meletakkan beberapa minuman di atas meja.


Ayah dan anak itupun sama-sama menoleh.


"Mama.." Arvind pun berlari.


"Jangan lari jagoan nanti kamu jatuh." Teriak Adam seraya geleng-geleng kepala.


Lalu mengejar Arvind yang sudah duduk manis di pangkuan sang Mama. Zahira langsung mengelap keringat bocah tampan itu dengan handuk kecil yang memang sudah ia sediakan.


"Capek nggak tadi main sama Papa?" Tanya Zahira.


"Tapek." Jawab Arvind singkat memeluk Zahira erat.


Zahira dan Adam sama-sama tersenyum melihat betapa lucunya anak mereka ini. Adam duduk di sebelah Zahira merangkul bahu perempuan itu lalu mengecup pipi kanan sang istri.


Cup..


"Istri Mas makin cantik." Bisik Adam di telinga Zahira.


"Papa.. No tium Mama." Arvind selalu melayangkan protes setiap kali Adam mencium atau memeluk Mamanya. Bocah itu menganggap Zahira hanya miliknya seorang.


"Iya siap jagoan, No tium Mama lagi." Adam harus mengalah jika Arvind sudah melayangkan pukulan ke bahunya. Lalu meminum jus buatan istrinya.


Zahira tertawa kecil melihat tingkah posesif Arvind pada dirinya. Adam juga harus sembunyi-sembunyi jika ingin bermesraan dengan dirinya agar tidak ketahuan oleh bocah kecil itu.


Pernah sekali, mereka ketahuan berciuman mesra di dalam kamar dan Arvind langsung menangis sejadi-jadinya karena mengira Mamanya di makan oleh sang Papa. Tentu saja ia dan Adam menjadi kelabakan karena Arvind tak kunjung berhenti nangisnya malah semakin menjadi begitu melihat bibir Mamanya yang bengkak. Dan hal itu sukses membuat Ayah dan Ibu tertawa terpingkal-pingkal.


"Nanti siang kita ke rumah Adek Dila ya." Ajak Zahira kepada Arvind.


"Ote." Sembari mengacungkan jari jempolnya.


Dila adalah anak Andi dan Mila yang saat ini sudah berusia dua tahun. Usia Arvind dan Dila terpaut 17 bulan.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


.


__ADS_2