
Sekitar pukul lima sore kurang Adam baru pulang dari tempat kerjanya. Ia tidak mendapati Zahira di rumah atau di dalam kamarnya. Entah kemana istrinya itu saat ini. Adam segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya tapi sebelum masuk ke kamar mandi ia melihat ada bungkusan kado berwarna ungu yang tergeletak begitu saja di atas kasur.
"Kado dari siapa ini?" Gumam Adam bertanya-tanya, lalu ia letakkan lagi kado tersebut dan melangkah ke kamar mandi.
Lima belas menit kemudian Adam sudah selesai dengan mandinya tapi lagi-lagi dia tidak mendapati keberadaan istrinya di kamar. Adam segera memakai pakaian yang ia ambil sendiri di dalam lemari dan langsung keluar untuk mencari Zahira.
"Bu.. apa Ibu lihat Zahira, ke mana dia kok tidak ada?" Adam bertanya pada sang Ibu yang saat ini sedang duduk di teras depan.
"Oh.. istrimu sedang pergi ke toko membeli deterjen Nak." Jawab Ibu.
Adam mengangguk. "Aku kira dia pergi kemana?" Sahut Adam.
"Takut amat di tinggal istrimu padahal cuma pergi sebentar." Ledek sang Ibu sambil tertawa kecil.
Adam tersenyum tipis. "Bukan masalah takutnya Bu, tapi tidak seperti biasanya saja saat Adam pulang kerja Zahira tidak ada di rumah." Balas Adam.
Tiba-tiba yang menjadi topik perbincangan muncul di hadapan mereka. Zahira baru pulang dari toko dengan berjalan kaki sambil menenteng kantong kresek warna hitam berukuran sedang.
Zahira tersenyum melihat suaminya sudah pulang dan ia langsung mempercepat langkahnya.
"Mas udah pulang, maaf ya aku nggak ada di rumah tadi. Aku lagi pergi ke toko." Ucap Zahira mencium tangan Adam sambil menunjukkan barang belanjanya.
"Iya, Mas sudah tahu dari Ibu." Jawab Adam mengangguk.
Zahira pun ikut duduk di samping suaminya mereka bertiga kini berbincang-bincang sembari menunggu waktu adzan Maghrib.
***
"Yank.. ini kado dari siapa?" Tanya Adam setelah mereka selesai makan malam.
"Oh, ini kado dari Kak Haikal. Tadi pagi aku pergi ke rumah Emak, terus disana Emak memberiku itu, katanya sebagai hadiah." Jawab Zahira santai.
"Boleh Mas buka?" Tanya Adam dengan suara dingin.
"Boleh dong.." Angguk Zahira mengizinkan.
__ADS_1
Adam langsung membuka bungkusan warna ungu tersebut. Setelah merobek kertas pembungkusnya ia bisa melihat isinya apa. Dan ternyata isinya adalah sebuah gamis brokat yang sangat cantik berwarna pink baby. Seketika mata Zahira memandang takjub hadiah dari Kak Haikalnya itu.
"Wah... bagus banget ini Mas, kainnya lembut lagi." Puji Zahira.
Dia langsung mengambil gamis yang ada di tangan Adam dan di bentangkan di hadapannya.
"Tidak usah dipakai gamisnya, buang saja. Mas juga bisa belikan kamu gamis yang lebih bagus dan lebih banyak dari model itu." Ucap Adam dengan wajah datar. Bukannya Adam sombong tapi Adam tidak suka Haikal memberikan sang istri hadiah.
"Mana ada gamis sebagus ini di suruh buang, sayang banget kan. Lagian ini juga sebagai hadiah dari pernikahan kita." Jawab Zahira melirik Adam.
"Mas tidak suka kamu memakainya Zahira. Meski itu cuma sebuah hadiah." Balas Adam dengan tatapan tajam dan penuh penekanan.
"Rejeki itu nggak boleh di tolak Mas.. kita harus menghargai orang yang sudah memberi kita hadiah. Jadi aku akan tetap menyimpannya." Sahut Zahira santai, tetap dengan keputusannya.
Tanpa banyak bicara lagi Adam merebut kasar gamis itu dari tangan Zahira dan ia berjalan keluar dari kamar dengan langkah lebar. Tentu saja Zahira terkejut dengan tindakan Adam, ia langsung mengejar langkah suaminya.
Adam pergi ke dapur sebentar untuk mengambil korek api dan melanjutkan langkahnya kembali hingga sampai di halaman samping rumah dan seketika itu Adam langsung membakar gamis pemberian Haikal.
Di belakang Adam, Zahira membungkam mulutnya. Tidak percaya jika Adam akan membakar gamisnya. Sungguh keterlaluan sekali menurutnya, padahal itu hanya sebuah kain kenapa harus di permasalahkan segala.
Zahira membalikkan tubuh Adam. "Mas.. kamu tuh keterlaluan masa gamisnya kamu bakar? Kalo kamu nggak suka kan bisa kita berikan pada orang lain, bukan seperti ini caranya." Zahira meluapkan emosinya.
"Terserah lah, susah ngomong sama orang yang suka cemburuan." Balas Zahira semakin kesal dan memalingkan mukanya dari Adam.
"Kamu bilang Mas cemburuan? Mana ada suami yang rela melihat istrinya makai baju pemberian dari orang yang sangat mencintai istrinya." Sahut Adam lebih dingin.
"Tapi aku kan tidak membalas perasaan Kak Haikal, lagian orangnya juga udah tidak ada di sini lagi." Ketus Zahira sambil bersedekap dada.
"Meskipun itu, tapi jika kamu tetap memakainya, itu sama saja kamu tidak menghargai suamimu!" Tegas Adam.
"Lalu untuk apa suami bekerja di setiap harinya jika bukan untuk mencukupi kebutuhan istrinya. Sementara sang istri malah tidak menghargai semua yang diberikan oleh si suami?" Tanya Adam.
Zahira memilih diam tanpa menjawab pertanyaan Adam sambil memandang ke arah lain. Hanya suara jangkrik yang terdengar di sekitar mereka.
"Kenapa diam? Nggak bisa jawab kan?" Tanya Adam lagi dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Milihat Zahira yang masih diam, Adam memutuskan untuk meninggalkan istrinya di halaman samping rumah. Adam mengambil kunci motor untuk keluar rumah daripada ia tidak bisa mengendalikan emosinya di hadapan Zahira.
Zahira menatap nanar kepergian Adam, ia tidak tahu ke mana suaminya akan pergi malam-malam begini. Zahira masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan sedih dan juga kecewa. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang sambil mengingat-ingat perkataan Adam.
\*\*\*
Adam datang ke rumah Andi yang kebetulan orangnya berada di rumah.
"Tumben kamu datang ke rumahku, Dam?" Tanya Andi terheran-heran.
Karena biasanya Adam akan mengajak dirinya bertemu di cafe atau kalau tidak ya di warung yang sudah menjadi langganan mereka.
"Nggak apa-apa, cuma lagi bosan aja di rumah." Jawab Adam sambil memandangi langit malam.
Mereka saat ini duduk di kursi panjang yang ada di pelataran rumah Andi, di bawah pohon mangga dengan di temani dua cangkir kopi panas buatan Andi sendiri.
Andi berdecih. "Di rumah sudah ada istri yang menemani, masih aja bilang bosan. Apa sekarang Zahira sudah melupakanmu?" Ejek Andi. Kalau iya, kasihan sekali sahabatnya ini.
Adam menyeruput kopi panasnya lalu meletakkan kembali.
"Kami bertengkar." Jawab Adam singkat.
"Kenapa? Masalah apa yang buat kalian sampai bertengkar?" Tanya Andi lalu meniup-niup kopinya untuk di minum.
Adam menghela nafasnya dalam. "Haikal mengirimi Zahira kado yang mana isinya gamis yang sangat mewah dan aku langsung membakarnya." Jawab Adam.
"Uhuk.. uhuk.." Andi tersedak kopi yang baru saja di minum.
"Pelan-pelan minumnya, sudah tahu masih panas juga." Sahut Adam menoleh ke arah Andi.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa mampir di karyaku satunya yang berjudul 'Kenapa Harus Menikah?'