Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Penggemar rahasia


__ADS_3

Tetangga Adam dan Zahira silih berganti datangnya untuk menjenguk baby Arvind yang sudah pulang. Mereka juga turut bahagia atas kepulangan bayi mungil itu. Bahkan mereka yang datang tidak dengan tangan kosong melainkan membawa sesuatu untuk bayi mungil Zahira. Ada yang membawakan baju bayi, satu set perlengkapan makan, popok, bedak, sabun dll.


Tentu saja Ibu Adam tidak tinggal diam begitu tetangga mereka datang untuk menjenguk cucunya, ibu langsung menyuguhkan makanan dan minuman sebagai cemilan untuk mereka.


Baby Arvind dipangku Mamanya, dia begitu anteng tidurnya meskipun banyak celotehan dari para ibu-ibu di sekitarnya. Tak sedikitpun dari mereka yang memuji ketampanan baby Arvind yang begitu mirip dengan Adam. Cukup lama juga mereka mengobrol bersama ibu dan Zahira sehingga mereka memutuskan untuk pulang.


"Terimakasih ya atas kunjungan kalian kemari." Ucap Ibu menyalami mereka satu persatu sambil cipika-cipiki juga.


"Iya, sama-sama Yuk. Kita juga pengen tahu wajah dari cucumu itu." Jawab salah satu ibu itu mewakili.


Membuat ibu dan Zahira tertawa.


"Baiklah kami pulang ya. Assalamu'laikum." Mereka berjalan keluar rumah.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu dan Zahira.


Tiba-tiba baby Arvind menangis sepertinya ia sudah haus.


"Cup.. cup Sayang.. Adek haus ya. Ayo kita ke kamar mimik di dalam, Bu aku tinggal ya." Ucap Zahira sambil berdiri.


Ibu mengangguk.


"Iya kamu masuklah, untuk barang-barang ini biar ibu saja yang bawa ke kamarmu." Jawab Ibu.


Di dalam kamar Adam sedang tidur siang tetapi harus terbangun ketika mendengar suara tangis baby Arvind.


"Kenapa Yank?" Tanya Adam sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Haus Mas, mau mimik." Jawab Zahira duduk ditepi ranjang, membelakangi Adam.


"Nak, ini mau taruh dimana?" Tanya Ibu.


"Taruh aja di kasur Bu, nanti biar aku sendiri yang masukin ke dalam lemari." Jawab Zahira melihat ibu.


Ibu pun meletakkan di atas kasur. Adam mengernyit heran melihat banyak sekali pakaian bayi dan lainnya.


"Ibu habis beli ya?" Tanya Adam.


"Bukan, ini semua hadiah dari para tetangga yang tadi datang kemari melihat anakmu." Jawab Ibu.


"Oh." Angguk Adam.


"Ya sudah, ibu keluar ya." Ucapnya dan di iyakan oleh Adam.


"Kamu udah makan siang Yank?" Tanya Adam lalu turun dari ranjang, berdiri di depan istrinya.


"Belum Mas." Jawab Zahira sambil menepuk-nepuk bokong baby Arvind.


"Mau Mas ambilin?" Tawar Adam.


"Nggak usah, nanti aku ambil sendiri." Tolak Zahira halus.


Setelah merasa kenyang baby Arvind melepaskan mulutnya dari dada sang Mama. Zahira langsung meletakkannya di tengah-tengah ranjang dengan diberi guling disisi kanan dan kiri.


"Mas kamu jagain Arvind ya, aku mau makan dulu." Ucap Zahira.


"Iya, makan yang banyak Yank biar ASI kamu makin melimpah." Ujar Adam karena dengan begitu gizi anaknya akan terpenuhi.

__ADS_1


Setelah Zahira keluar kamar untuk makan siang, Papa muda itu membaringkan tubuhnya lagi disisi kanan anaknya dengan menyingkirkan gulingnya. Ia mendekap baby Arvind yang sudah memejamkan mata.


"Cepat dewasa Nak, biar kita bisa main bersama." Ucap Adam tak lama ia tertidur kembali.


***


Akmal sudah pulang dari sekolahnya dan ia segera masuk ke rumah tanpa mengucap salam karena saking hausnya sehingga ia lupa. Akmal membuka kulkas mengambil air dingin lalu meminumnya.


"Ucap salamnya mana?" Tegur sang ibu sambil geleng-geleng kepala melihat anak bungsunya sudah pulang tapi tidak mengucap salam.


Akmal menyelasaikan minumnya dulu sebelum menjawab pertanyaan dari sang ibu.


"Assalamu'alaikum." Ucap Akmal sambil memasukkan botol ke dalam kulkas.


"Wa'alaikumsalam, gitu.. biar Emak tahu kalau kamu sudah pulang." Jawab sang ibu lalu mengulurkan tangannya agar dicium Akmal. Akmal pun meraihnya.


"Iya Mak maaf, tadi Akmal haus makanya nggak sempet ucap salam." Ucap Akmal.


"Sekarang cepat ganti baju, jangan lupa cuci tangan dan kaki setelah itu makan." Perintah Ibu dengan tegas.


"Injih Ndoro.." Jawab Akmal sambil menundukkan kepalanya selayaknya ibunya itu adalah yang mulia ratu yang titahnya harus ia patuhi tanpa adanya bantahan.


Setelah berkata seperti itu Akmal langsung ngacir takut nanti bakalan kena omelan lagi dari sang ibu. Sementara ibu hanya mengelus dadanya, anak bungsunya ini selalu saja bikin darah tingginya naik, ada-ada saja ulahnya.


Akmal sudah berganti baju lalu dia mengambil makanan yang ada di dapur. Akmal makan sambil menonton televisi mencari siaran yang ia suka.


"Mal, ponakanmu sudah pulang." Ujar Ibu memberitahu remaja itu. Ibu sedang melipat pakaian.


Akmal berkerut dahi tidak mengerti dengan ucapan sang ibu.


"Kamu itu masih muda tapi sudah pikun." Ibu geleng-geleng kepala.


"Ya anaknya Mbak mu lah, Arvind. Arvind saiki wes nak omah." Lanjut ibu.


"Yang bener Mak, Arvind sudah pulang?" Tanya Akmal dengan mata berbinar melupakan nasinya yang tadinya akan masuk ke mulut.


"Iya." Jawab ibu sambil mengangguk.


"Wah.. nanti aku ke sana deh. Lihat Arvind pasti lucu sekali dia." Akmal sangat senang lalu ia menyelesaikan makannya agar cepat habis dan pergi ke rumah kakak iparnya.


Lima belas menit kemudian.


"Mak, Akmal ke rumah Mas Adam ya." Pamitnya.


"Tunggu sebentar kamu jangan pergi dulu. Pijat pundak Emak dulu!" Sambil menunjuk pundaknya.


"Yaelah Mak." Keluh Akmal tapi tetap menurut.


"Jangan lama-lama ya Mak, sebentar saja." Ucap Akmal sambil memijit pundak sang ibu.


Ibu tidak menjawab karena menikmati pijatan Akmal yang sangat enak.


"Permisi..."


"Mak, ada orang di luar." Ucap Akmal.


"Permisi..."

__ADS_1


"Coba kamu lihat siapa orangnya." Suruh ibu.


Akmal pun menghentikan pijatannya dan berjalan ke depan.


"Ya, Pak mencari siapa?" Tanya Akmal sopan kepada seorang laki-laki yang ternyata adalah tukang pos.


"Benar ini alamat Zahira Banafsha?" Tanya Pak Pos sambil melihat alamat di amplop yang ia pegang.


Akmal mengangguk. "Betul Pak ini rumah Mbak saya." Jawab Akmal.


Si tukang pos lalu menyerahkan amplop itu kepada Akmal.


"Ini Mas, surat untuk Zahira Banafsha. Jangan lupa tanda tangannya." Ucap tukang pos sambil menyerahkan pulpen.


Setelah Akmal tanda tangan, tukang Pos itupun pergi.


"Surat dari siapa ini? Kenapa tidak ada nama si pengirim." Gumam Akmal sambil membolak-balikkan amplopnya.


"Mal, tadi siapa yang datang?" Tanya Ibu menghampiri anaknya yang berdiri di depan pintu.


Akmal menoleh. "Tukang pos Mak, antar surat buat Mbak Hira." Jawab Akmal sambil menunjukkan amplopnya.


"Tumben Mbak mu dapat surat." Ujar Ibu. Karena baru pertama kali Zahira dapat kiriman surat melalui kantor pos lagi.


"Nggak tahu." Jawab Akmal sambil mengangkat kedua bahunya.


"Ya sudah sekarang kamu berikan suratnya pada Mbakmu siapa tahu penting." Ujar Ibu.


"Iya Mak." Jawab Akmal lalu pergi ke rumah Adam dengan mengendarai sepeda motor.


***


"Assalamu'alaikum." Ucap Akmal Sambil masuk ke rumah kakak iparnya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Adam yang sedang memangku baby Arvind. Bayi mungil itu sudah mandi sehingga wangi khas bayi menguar di ruang tamu.


Akmal tersenyum melihat keponakannya.


"Wih, ponakan Om sudah ganteng aja." Lalu duduk di sebelah Adam dan mencium pipi baby Arvind.


"Mbak Hira mana Mas?" Tanya Akmal kepada Adam.


"Sedang mandi." Jawab Adam. Akmal meletakkan amplop itu di atas meja membuat Adam menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa bawa surat segala?" Tanya Adam.


"Ini suratnya Mbak Hira Mas, tadi ada tukang pos yang antar ke rumah." Jawab Akmal.


"Surat, dari siapa?" Tanya Adam lagi.


"Nggak ada nama pengirimnya. Sepertinya surat ini dari penggemar rahasia Mbak Hira deh." Canda Akmal sambil terkekeh.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2