
Adzan subuh sudah berkumandang dan Zahira kembali lagi merasakan gejolak ingin muntah. Cepat-cepat ia bangun dari tidurnya, melepaskan tangan Adam yang erat memeluk pinggangnya saat rasa mual itu ingin segera di keluarkan dari mulutnya.
"Huek.. huek.. huek.." Suara mual Zahira di dalam kamar mandi.
Adam terbangun kala mendengar suara Zahira yang muntah. Langsung saja ia loncat dari ranjang untuk melihat keadaan sang istri dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
"Huek.. huek.. huek.."
"Yank.." Adam memanggil Zahira saat sang istri sedang menunduk di kloset sambil memegangi rambutnya yang terurai.
Zahira menoleh dengan wajah pucatnya, bahkan air matanya sampai keluar dengan sendirinya. Zahira segera membasuh mulutnya saat mualnya sudah berhenti.
Adam menghela napas dalam lalu merengkuh tubuh sang istri. "Kenapa masih saja muntah?" Tanya Adam.
Zahira menggeleng dalam diam, ia juga tidak tahu. Kemudian menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang suami yang mendekapnya. Adam mulai melepas rengkuhan nya dan memandang wajah pucat Zahira. Di sibaknya anak rambut yang sebagian menutupi wajah istrinya itu juga menghapus sisa air mata di kedua pipi Zahira.
"Nanti kita periksa ke dokter." Ajak Adam.
"Tidak usah Mas.." Jawab Zahira lirih.
"Kenapa?" Tanya Adam dingin.
"Ya, aku nggak mau aja." Zahira tetap menolak.
Adam mengangguk. "Ya sudah, sekarang gimana? Apa masih mau muntah lagi?" Tanya Adam.
Zahira menggeleng. "Sudah enggak. Hanya saja tidak ada makanan yang keluar dari mulutku. Cuma rasa mual aja sih." Jawabnya mencoba tersenyum di balik wajah pucatnya.
"Cepat ambil air wudhu, setelah itu kita jama'ah." Ucap Adam dan Zahira menurut.
Usai sholat subuh, Zahira kembali berbaring malas di ranjang sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Yang terlihat hanya kepalanya saja, membuat Adam tersenyum simpul melihat tingkah sang istri.
"Mau Mas buatkan teh hangat." Ujar Adam menawari Zahira.
Zahira mengangguk semangat. "Mau mau.." Ucapnya cepat.
"Baiklah, tunggu di sini." Kata Adam.
Di dapur, Adam melihat sang ibu tercinta sedang mencuci beras. Ibu bahkan tidak menyadari jika Adam sudah berdiri di sampingnya.
"Ibu.." Panggil Adam.
"Astaghfirullah hal adzim.." Membuat Ibu kaget sambil mengusap-usap dadanya.
"Kamu itu Nak.. buat Ibu kaget saja!" Seru Ibu marah memukul bahu Adam.
__ADS_1
Adam tersenyum lucu. "Maaf Bu.." Ucapnya.
"Kamu sedang apa di dapur?" Tanya Ibu memasukkan beras ke dalam Magic com.
"Buat teh hangat." Jawab Adam singkat, mengambil panci mini untuk merebus air.
"Sini, biar Ibu saja yang buat." Ujar Ibu, Adam menggeser tubuhnya membiarkan sang ibu yang melakukan.
"Mana istrimu, apa belum bangun?" Tanya Ibu lagi.
"Sudah bangun Bu, tadi Zahira mual-mual lagi. Sekarang rebahan di kasur." Jawab Adam jujur.
Seketika itu Ibu menghentikan mengaduk teh hangatnya dalam gelas. "Mual-mual?" Gumam Ibu dengan wajah berbinar.
"Iya, Ibu kenapa senang begitu?" Tanya Adam dengan berkerut dahi.
"Kamu tadi bilang kalo menantu Ibu mual-mual?" Tanya Ibu memastikan membuat Adam mengangguk iya.
"Ah.. sebentar lagi Ibu menjadi nenek!" Pekik riang Ibu memeluk tubuh atletis Adam.
"Ayo-ayo kita temui istrimu sekarang." Ajak Ibu begitu antusias menarik tangan Adam.
Mau tidak mau Adam terpaksa mengikuti langkah sang Ibu berjalan ke kamarnya di mana Zahira sedang beristirahat.
"Sayang.. menantu Ibu.." Panggil Ibu sedikit keras menghampiri Zahira yang sedang tidur.
"Ibu.. ada apa?" Tanya Zahira yang tiba-tiba di peluk oleh ibu.
"Sayang.. sebentar lagi Ibu akan menjadi nenek." Jawab Ibu dengan senyum mekarnya setelah melepas pelukan di tubuh Zahira.
"Nenek? Apa maksud Ibu?" Tanya Zahira masih belum paham.
"Kata Adam kamu tadi mual-mual ya.." Zahira mengangguk membenarkan. "Itu tandanya kamu hamil sayang.." Jelas Ibu heboh lalu kembali memeluk Zahira.
Zahira pun memandang sang suami yang berdiri di samping ranjang. "Mas.." Ucapnya.
Ibu langsung menggeser dirinya memberi ruang kepada sang putra.
"Apa benar jika aku hamil?" Tanya Zahira kepada Adam saat Adam sudah duduk di hadapannya.
"Semoga saja ya, nanti siang kita tes ke dokter kandungan untuk tahu lebih jelasnya." Jawab Adam.
Zahira pun mengangguk lalu memeluk tubuh Adam. Berkali-kali Adam memberi kecupan lembut di rambut Zahira. Adam juga berharap semoga apa yang di katakan oleh sang Ibu benar adanya bahwa Zahira saat ini tengah mengandung buah hatinya.
Ibu tersenyum bahagia. "Eh.. tunggu dulu. Ibu punya sesuatu untuk kamu sayang." Ucap Ibu, tiba-tiba teringat jika mempunyai tespack yang baru ia beli beberapa Minggu lalu.
__ADS_1
"Apa itu Bu?" Tanya Zahira penasaran.
"Tunggu sebentar akan ibu ambilkan di kamar Ibu."
Ibu pun berjalan cepat menuju kamarnya untuk mengambil alat tes kehamilan. Beberapa detik kemudian Ibu sudah kembali ke kamar Zahira. Ibu langsung mengulurkan benda yang masih bersegel itu ke tangan sang menantu.
"Tespack.." Gumam Zahira.
"Iya, sekarang kamu tes di kamar mandi ya." Perintah Ibu dengan tidak sabarnya.
Zahira menurut, berjalan ke kamar mandi untuk menapung air seninya ke dalam gelas plastik kecil yang memang sudah tersedia di kamar mandinya.
"Semoga saja dua garis merah." Harap Zahira setelah dia memasukkan tespack ke dalam gelas urinnya.
Sementara Adam dan Ibu, mereka juga harap-harap cemas menunggu Zahira yang berada di kamar mandi.
"Bu.. semoga Zahira benar-benar hamil ya." Ucap Adam memandang pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
"Iya, Nak." Jawab Ibu sudah tidak sabar.
Ceklekk..
Zahira membuka pintu kamar mandi setelah lima menit berada di sana. Adam beranjak dari duduknya menghampiri sang istri yang berjalan ke arahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa hasilnya?" Tanya Adam sangat penasaran.
"Aku beneran hamil Mas.. hasilnya positif." Jawab Zahira sambil menunjukkan dua garis merah di alat tersebut.
"Alhamdulillah." Gumam Adam pelan penuh rasa sukur lalu memeluk tubuh Zahira.
Adam sangat bahagia Zahira benar-benar hamil. Itu tandanya dia akan menjadi seorang Ayah. Di kecupnya lama kening Zahira lalu Adam menempelkan keningnya di kening sang istri.
"Terima kasih Sayang, apa yang kita harapkan akhirnya terkabul." Bisik Adam.
"Sama-sama Mas." Jawab Zahira tersenyum.
"Ehmm.. ehmm.." Ibu terbatuk dengan cara di buat-buat, belum beranjak dari duduknya.
Adam dan Zahira sama-sama menoleh ke arah Ibu. Mereka tersenyum melihat Ibu melipat tangan di dada karena merasa di acuhkan.
"Baru sadar Ibu masih ada di sini?" Tanya Ibu berjalan mendekat ke arah mereka.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...