Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Mengabaikan


__ADS_3

Citra melirik sinis Andi. Tapi dia puas, sudah berhasil membuat Adam dan Zahira bertengkar. Dan tidak lama lagi Adam akan menjadi milik dia seutuhnya.


Sementara Adam, laki-laki itu berlalu ke mejanya tanpa mengambil nasi kotak pemberian Citra. Ia cukup tahu diri dengan sindiran Andi barusan. Tak apalah perutnya keroncongan lebih baik begini daripada harus memakan nasi kotak itu.


"Ron, di rumah kamu punya pestisida nggak?" Andi bertanya kepada laki-laki berkacamata itu yang duduk di dekatnya.


"Nggak ada, emang buat apa kamu nanya pestisida segala?" Roni balik bertanya.


"Aku mau basmi keong racun, biar dia hilang dari kantor ini." Jawab Andi seraya mengarahkan pandangannya ke arah Citra.


"Haha..." Roni tertawa. Tentu Roni tahu maksud ucapan rekan kerjanya itu yang tak lain dan tak bukan adalah untuk Citra.


"Tenang, nanti aku carikan di toko obat pertanian." Lanjut Roni.


Semua rekan Adam di satu ruangan ini sudah tahu tentang kejadian di lobby kantor tadi. Dan semua menyayangkan atas sikap Citra yang ternyata selama ini ingin menjadi duri dalam rumah tangga antara Adam dan istrinya.


"Kalau bisa, besok ya kamu bawa." Ucap Andi.


"Siip.." Roni mengangkat jari jempolnya.


Citra dibuat geram dengan perkataan Andi dan Roni. Ia pun kembali ke meja kubikelnya sambil membawa nasi kotak yang ditolak mentah-mentah oleh Adam.


\*\*\*


Zahira membantu ibunya melipat baju di depan televisi.


"Nduk, sudah sore kamu nggak mau pulang?" Tanya sang Ibu.


"Pulang ke mana Mak, ini kan rumah Hira." Jawabnya santai.


Setelah diantar pulang oleh Andi. Zahira langsung masuk ke kamarnya mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena peristiwa tadi. Kedua orang tua Zahira tidak ada yang tahu tentang masalah yang dialami putrinya itu.


Begitu juga dengan kedua mertuanya, Zahira sudah mengabari mereka kalau dirinya akan menginap di rumahnya sendiri supaya mereka tidak cemas sebab Zahira yang tak kunjung pulang.


"Iya, Emak tahu kalau ini juga rumah kamu. Maksud Emak itu, pulang ke rumah suami kamu Nduk.." Jelas Ibu.


Zahira menghela napasnya. "Aku nggak mau pulang Mak." Ucapnya lirih sambil melipat celananya Akmal.


"Kamu mau nginap di sini lagi?" Tanya Ibu yang tidak menyadari raut sedih di wajah putrinya.


Zahira hanya mengangguk. Tenggorokannya rasanya tercekat ingin mengatakan yang sejujurnya jika ia tidak ingin kembali lagi ke rumah suaminya namun tak mampu ia suarakan.


"Baju-baju adikmu kamu masukkan ke lemarinya ya, Emak mau meletakkan pakaian ini ke kamar Emak sendiri." Ucapnya sambil berdiri lalu masuk ke kamarnya meninggalkan Zahira yang tertunduk lesu.


Zahira bangkit dari duduknya setelah menghapus buliran kristal di kedua pipinya lalu berjalan ke kamar sang adik memasukkan pakaian Akmal ke dalam lemari. Setelah itu Zahira duduk di tepi kasur sambil mengelus perut buncitnya.


"Dek, kamu sehat-sehat di dalam ya. Kamu harus jadi anak kuat. Maafin Mama yang cengeng ini." Suara Zahira terdengar pilu sembari mengelus perut buncitnya.


Akmal masuk ke kamarnya seketika kaget melihat Zahira duduk sambil melamun.

__ADS_1


"Mbak, ngagetin orang aja!" Ucap Akmal mengusap dadanya mendapati sang kakak yang tiba-tiba berada di kamarnya.


Zahira menoleh lalu tersenyum. "Mal, tolong anterin Mbak ke mini market ya." Pintanya.


"Sekarang?" Tanya Akmal memastikan.


Zahira mengangguk. "Iya, bisa kan?" Tanyanya.


"Bisa kok, tapi aku mandi dulu." Jawab Akmal tanpa melayangkan protes.


"Iya, Kalau gitu Mbak mau ganti baju sambil nunggu kamu mandi." Ucap Zahira lalu keluar dari kamar Akmal.


Zahira masuk ke kamarnya. Zahira sendiri sudah mandi sedari tadi karena sekarang sudah pukul empat sore. Zahira mengambil salah satu pakaian yang memang ia sisihkan di rumah ini.


"Yaa.. gamis ini udah nggak muat lagi." Keluhnya setelah memakai gamis yang menurutnya sekarang menjadi kekecilan jika ia pakai. Lalu melepasnya dan mencari gamis lain yang ukurannya lebih lebar dari yang tadi.


"Kayaknya besok aku harus pergi ke pasar, beli pakaian baru." Gumamnya sambil menutup pintu lemari.


Perempuan itu pun memoles wajahnya dengan riasan natural lalu memasukkan dompet dan ponsel ke dalam tas slempangnya.


"Kamu mau ke mana Nduk, rapi bener?" Tanya Ibu Zahira.


"Mau ke mini market Mak." Jawab Zahira.


"Sendiri?" Tanya Ibu lagi.


"Emak titip martabak telur ya, sebentar jangan pergi dulu. Emak ambil uang di kamar." Ucap Ibu yang hendak berjalan ke kamar namun Zahira segera menahan lengan sang ibu.


"Pakai uang Hira aja Mak." Sahut Zahira, biar tidak lama nunggunya.


"Oh, yo wes kalau gitu." Angguk Ibu.


"Ayo Mbak." Ajak Akmal kepada Zahira.


Zahira pun naik ke motor maticnya lalu Akmal melajukan kendaraan itu menuju ke tempat yang disebutkan oleh sang kakak. Dua belas menit, mereka sampai di mini market. Zahira memilih barang-barang yang menjadi keperluannya selama tinggal di rumah orang tuanya. Setelah dirasa sudah cukup wanita hamil itu pun mengantri di kasir untuk membayar.


Akmal menunggu sang kakak di depan mini market sambil makan es krim cup. Zahira mendekati sang adik lalu mengulurkan barang belanjanya kepada Akmal.


"Dek, kita beli martabak telur dulu ya." Ucap Zahira sambil memakai helm.


"Oke, beli dua ya Mbak." Pinta Akmal.


"Beli satu aja, uang Mbak tinggal dikit." Tolak Zahira sebab ia tidak memakai uang pemberian dari Adam melainkan memakai uangnya sendiri.


Akmal melajukan motornya ke tempat mangkal penjual martabak telur. Sesuai yang dia katakan tadi, Zahira hanya membeli satu bungkus.


"Ayo kita pulang." Zahira menepuk bahu Akmal.


Tanpa mereka sadari, ternyata Adam berada di belakang motor mereka.

__ADS_1


"Mbak, itu kayaknya Mas Adam." Ucap Akmal melirik sekilas kaca spionnya.


"Di mana?" Tanya Zahira memajukan tubuhnya sedikit.


"Di belakang kita." Jawab Akmal.


"Udah, biarin aja." Jawab Zahira cuek.


Adam menambah kecepatan lajunya untuk berdampingan dengan motor Akmal. Laki-laki tampan itu menyuruh Akmal untuk berhenti. Akmal pun menghentikan sepeda motornya.


"Kenapa berhenti segala sih Dek." Protes Zahira saat Akmal menepi.


Akmal menoleh ke samping setelah mematikan mesin motornya.


"Mas Adam nyuruh berhenti, ya aku berhenti lah." Jawab Akmal enteng membuat Zahira menahan kesal.


"Udah, sekarang kamu nyalakan lagi motornya. Kita pulang, nggak pake berhenti segala!" Omel Zahira tanpa melirik Adam yang berdiri di sampingnya.


"Ayo pulang sama Mas." Ajak Adam lembut.


"Mal.. kamu dengerin Mbak nggak sih." Kesal Zahira sambil memukul bahu Akmal. Menghiraukan ajakan Adam.


"Aduh, iya-iya. Main pukul aja bisanya, lagian dibonceng suami kok nggak mau." Gerutu Akmal.


"Bukannya nggak mau. Motornya tinggi, Mbak kan lagi hamil. Kamu lupa ya, ayo!" Sahut Zahira memberi alasan yang masuk akal.


"Benar juga." Akmal manggut-manggut.


"Mas, kita duluan ya." Pamit Akmal lalu meninggalkan Adam.


Adam memandang Zahira yang sudah jauh dari jangkauannya. Ia pun bergegas naik ke motornya dan menyusul laju motor Akmal. Kening Adam menyatu di balik helm yang ia pakai saat Akmal tidak mengantar istrinya pulang ke rumahnya.


Zahira turun dari motor sambil membawa barang belanjanya lalu duduk di kursi teras bergabung dengan sang ibu.


"Nih, martabak pesanan Emak." Ucapnya sambil meletakkan di atas meja.


"Makasih ya Nduk." Jawab Ibu dan Zahira hanya mengangguk.


"Assalamu'alaikum." Ucap Adam menghampiri mereka.


"Wa'alaikumsalam. Eh, mantu Emak udah pulang kerja." Adam mencium tangan ibu Zahira.


Sementara Zahira masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan Adam.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2