
Tiga puluh menit berkendara akhirnya Adam sampai di tempat kerja Zahira. Zahira pun turun dari sepeda motor setelah Adam mematikan mesinnya. Adam membuka kaca helmnya namun masih duduk di atas sepeda motor.
"Nanti kita makan siang bareng di Rumah Makan Sederhana." Ajak Adam.
"Tapi Aku bawa bekal makan siang Kak!" Kata Zahira.
"Kamu simpan saja, nanti aku jemput." Ucap Adam tidak ingin dibantah.
Zahira mengangguk. "Ya udah, nanti aku tunggu Kakak di parkiran." Jawabnya.
"Aku pamit, kamu masuklah!" Perintah Adam.
Zahira melangkah masuk ke dalam Swalayan. Setelah melihat Zahira sudah hilang dari pandangan, Adam mulai melajukan sepeda motornya.
***
Di dalam Swalayan Zahira mendatangi Dini yang sudah duluan datang tengah memasukkan tas ke dalam loker.
"Din, aku mau bilang sesuatu sama kamu." Ucap Zahira dengan wajah serius.
"Kamu mau ngomong apa Ra, serius sekali?" Tanya Dini tanpa menoleh ke arah Zahira.
"Kamu tahu Kak Adam kan?" Ujar Zahira.
" Iyalah aku tahu, emang kenapa sama Kak Adam?" Tanya Dini heran.
__ADS_1
"Beberapa hari lagi aku sama Kak Adam akan menikah." Jelas Zahira.
Dini pun terdiam. Cukup kaget sebenarnya, sebentar lagi Zahira akan menikah. Dia lagi nggak salah dengar kan?
"Ra, kamu nggak lagi bohongin aku kan?" Dini masih tidak percaya dengan ucapan Zahira barusan.
"Nggak Din, aku nggak bohong. Maaf ya.. baru sekarang aku beritahu kamu." Sesal Zahira.
Dini menghela nafas, sesaat kemudian tersenyum. "aku nggak marah kok. Cuma nggak nyangka aja kamu bentar lagi nikah. Seneng deh aku, akhirnya.." Dini membawa Zahira ke pelukannya.
Zahira pun membalas pelukan Dini. Lega rasanya karena sudah memberitahu sahabatnya tentang pernikahannya. Bukan karena sengaja, tetapi Zahira ingin memberitahu di waktu yang pas saja.
Mereka pun melepas pelukan dan sama-sama tersenyum. Tiba-tiba Eko datang mendekat ke arah mereka.
"Ini, Zahira bentar lagi menikah!" Jawab Dini.
"Hah, yang bener Ra. Nikah sama siapa kamu? Kenapa mendadak sekali? Apa aku kenal dengan calon suami kamu?" Pertanyaan beruntun Eko berikan kepada Zahira.
"Satu-satu kalau nanya? Zahira bingung tuh mau jawab yang mana." Kesal Dini memukul lengan Eko.
"Aduh Din, sakit. Kamu ini perempuan tapi kenapa keras sekali pukulan kamu." Eko meringis mengelus lengannya.
"Biarin." Ketus Dini.
Zahira tersenyum melihat Eko dan Dini selalu bertengkar.
__ADS_1
"Jadi.." Lanjut Eko menatap Zahira.
"Benar kalau aku akan menikah, dan calon suamiku itu Kak Adam." Jawab Zahira dengan senyum lebarnya.
"Wah Ra.. Adam calon suami kamu! Hebat bener kamu!" Ujar Eko sambil geleng-geleng kepala.
"Emang kenapa jika Kak Adam?" Tanya Dini menautkan kedua alisnya.
"Ya, nggak kenapa-napa sih. Cuma Zahira beruntung aja, karena selain tampan. Adam juga memiliki pemikiran dewasa." Jawab Eko santai.
"Sok tahu kamu, kenal aja baru pas kita makan siang di warung bakso." Cibir Dini.
"Heh, walau baru kenal tapi aku ini tahu betul. Gimana pribadi seseorang. Karena kita ini sama-sama laki-laki." Jawab Eko sembari menepuk dadanya. Bergaya seolah mengetahui pribadi Adam itu seperti apa.
Dini mencebikkan bibirnya.
"Udah-udah, kita lanjut nanti pembahasan ini. Waktunya bekerja sekarang." Lerai Zahira. Sebelum dapat teguran dari atasan.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1