
Zahira pun mengajak Arvind masuk ke kamar untuk memandikan anaknya itu yang sudah bau keringat.
"Ayo sayang, Mama akan mandikan kamu." Ucap Zahira sambil menggendong tubuh Arvind.
"Sini, biar Mas saja yang gendong Arvind. Sekarang tubuh Arvind sudah semakin berat." Adam mengambil alih Arvind dari gendongan Zahira.
Bocah tampan itu tidak keberatan jika harus berpindah ke tangan sang Papa. Arvind bahkan mengalungkan sebelah tangannya ke leher Adam.
"Kita mandi bersama ya jagoan." Ajak Adam.
"Iyya." Jawab Arvind sambil mengangguk. Dan mereka langsung masuk ke kamar mandi.
Sementara Zahira menyiapkan pakaian santai untuk kedua lelakinya. Sembari menunggu Adam dan Arvind mandi, Zahira keluar kamar untuk melanjutkan mencuci peralatan masaknya yang belum ia selesaikan tadi.
"Sudah matang ya Nak kue bolu yang kamu buat tadi?" Tanya Ibu menghampiri Zahira di dapur.
"Sudah Bu, tuh aku taruh di meja." Zahira menunjuk dengan dagunya karena tangannya sibuk mencuci.
Ada empat loyang yang Zahira buat.
"Banyak amat Nak?" Tanya Ibu lagi.
"Iya Bu, satu loyang mau aku kirimkan ke Emak dan satu loyang lagi akan aku bawa ke rumah Kak Andi." Jawab Zahira.
"Oh.. Kalau gitu Ibu masukin ke kardus ya." Ujar Ibu karena kue bolunya sudah dingin.
"Iya." Jawab Zahira tanpa memandang ibu mertuanya.
*
Adam dan Arvind sudah selesai mandi.
"Mama mana tok ndak ada?" Tanya Arvind yang berada di gendongan tangan kiri sang Papa.
Seperti inilah Arvind jika sedetik saja tidak melihat Zahira maka akan bertanya terus mencari keberadaan Mamanya. Padahal sudah bersama Adam tapi masih saja mencari dimana Zahira.
"Paling lagi di dapur jagoan." Jawab Adam.
"Yaahh.." Keluh Arvind.
"Kenapa?" Tanya Adam saat mengeringkan tubuh Arvind dengan handuk.
"Alpin mau Mama.." Rengeknya berdiri di atas ranjang.
"Kan sudah ada Papa." Jawab Adam lalu membaluri tubuh anaknya dengan minyak telon.
__ADS_1
"Mama..." Rengeknya.
"Iya iya, sebentar lagi Mama ke sini." Bujuk Adam agar Arvind tidak merengek lagi.
Terkadang Adam kasihan melihat Zahira yang begitu kelelahan mengurusi Arvind dan dirinya. Belum lagi jika harus memasak di dapur meski sudah di larang oleh ibu. Namun Zahira berkata tak masalah, ia selalu ikhlas menjalani semuanya karena seperti inilah tugas seorang ibu dan juga seorang istri. Apalagi menyaksikan tumbuh kembangnya anak, bahagia tak terkira deh.
"Nah, jagoan Papa sudah ganteng." Adam sudah selesai memakaikan pakaian Arvind dan juga menyisir rambutnya.
"Alpin mau telual mau temu Mama." Pintanya pada Adam agar di turunkan dari ranjang.
"Boleh, tapi kiss Papa dulu." Menunjuk pipi kirinya.
"Muah.." Suara Arvind mencium pipi Adam.
"Good Boy, sebentar Papa ambilkan sandal kamu." Lalu menurunkan Arvind dan bocah tampan itu langsung berlari menyusul sang Mama di dapur.
Adam geleng-geleng kepala melihat Arvind yang begitu mendominasi Zahira ketimbang dirinya. Arvind benar-benar duplikatnya.
"Mama.." Panggil bocah tampan itu begitu sudah sampai di dapur.
"Eh, cucu Uti udah ganteng aja." Ibu menolehkan kepalanya seraya tersenyum.
"Ya sayang." Jawab Zahira.
Arvind memeluk kedua kaki Zahira lalu menarik-narik celana kulot Mamanya. Zahira pun menjajarkan tubuhnya dengan Arvind.
"Minum cucu." Jawabnya dengan mata berkedip lucu.
Zahira tersenyum. "Rasa coklat atau yang putih?" Tanya perempuan itu.
"Putih." Jawab Arvind dengan suara cadelnya.
"Sama Uti dulu ya. Biar Mama buatkan Arvind susu." Ucap Ibu mencium kedua pipi Arvind.
Arvind pun mengangguk lalu meninggalkan Zahira. Bocah kecil itu menggandeng tangan Utinya menuju ruang tengah untuk bermain mobil-mobilan.
Adam keluar dari kamar, laki-laki itu semakin hari semakin tampan saja meski sudah berusia 32 tahun. Dan pesonanya mampu membuat perempuan diluaran sana selalu terhipnotis oleh aura ketampanannya. Bahkan tak jarang dari mereka beranggapan bahwa Adam seorang single apalagi Adam sangat pandai menjaga bentuk tubuh tegapnya.
"Main apa boy?" Tanya Adam melihat Arvind duduk di karpet bulu.
"Main mobing cama lobot." Jawabnya tanpa melihat sang Papa.
"Haha.." Adam tertawa mendengar Arvind yang masih belum fasih menyebut nama mobil.
"Napa tawa?" Tanya Arvind mendongakkan kepalanya pada Adam.
__ADS_1
"Coba sebut nama mobil lagi." Pinta Adam yang kini menjajarkan tubuhnya pada Arvind seraya memegang kedua bahu bocah itu.
"Mobing." Ucap Arvind.
"Bukan mobing sayang, tapi M O B I L." Adam memperjelas ucapannya agar Arvind menirunya.
"Mo..bing.." Arvind begitu susah untuk menyebut huruf 'L' padahal dia bisa melafalkan huruf itu.
Ibu geleng-geleng kepala. "Sudah Nak, biarkan saja namanya juga anak kecil nanti juga lancar dengan sendirinya." Ujar Ibu.
Adam masih saja tertawa karena gagal mengajari Arvind.
"Papa lagi ketawain apa?" Tanya Zahira membawa segelas susu lalu ia letakkan di atas meja.
"Mama.." Seperti biasa Arvind selalu bergelayut manja pada Zahira.
"Manja banget kamu boy. Mama itu bukan punya kamu aja ya tapi punya Papa juga." Celetuk Adam nampak cemburu.
"Anak sama Papa sama aja, nggak bisa jauh-jauh dari mantu Ibu." Komentar Ibu.
Zahira hanya tersenyum. "Minum dulu sayang." Memberikan pada Arvind agar meminum sendiri.
"Enak.." Ucap Arvind menghabiskan susunya lalu memberikannya pada Zahira.
"Sekarang main lagi ya, ditemani Uti. Mama mau ke kamar dulu." Zahira kembali mendudukkan Arvind di karpet bulu.
Seperti ada kesempatan emas untuk berduaan dengan istrinya, Adam turut masuk ke kamar juga. Langsung saja ia mengunci pintunya biar tidak di ganggu oleh pengganggu kecil siapa lagi jika bukan Arvind.
Zahira tidak menyadari jika suaminya diam-diam mengikutinya karena posisi Zahira yang membelakangi pintu dan pergerakan Adam juga cukup pelan sekali saat menutup pintu itu sehingga Zahira tidak mendengar.
"Sayang." Panggil Adam mendayu di telinga Zahira sambil memeluk perempuan itu dari belakang.
Tentu saja Zahira kaget. "Mas.. kaget tahu?" Ucapnya membuat Adam tersenyum simpul.
"Kenapa Sayang?" Tanya Zahira merasakan hembusan nafas Adam di telinga kanannya yang mana membuatnya geli.
"Hah, susah sekali sekarang untuk bisa berduaan sama kamu." Bisik Adam meletakkan dagunya di bahu perempuan itu. Menyampaikan keluh kesahnya.
"Masa harus kucing-kucingan terus dari Arvind." Lanjut Adam membuat Zahira terkekeh.
"Gitu-gitu anak kamu sendiri lho Mas." Jawab Zahira tersenyum lucu. Ada-ada saja ucapan suaminya ini.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
.