
Ibu mengelus lengan Zahira. "Selamat sayang.. kamu dan anak Ibu akan menjadi orang tua. Pantas saja akhir-akhir ini kamu makannya banyak sekali jadi ini toh sebabnya." Ujar Ibu terkekeh.
Adam dan Zahira juga tertawa.
"Jadi, mulai sekarang dijaga baik-baik ya kandungan kamu. Karena biasanya di kehamilan pertama itu sangat rentan. Dan jika kamu ingin sesuatu jangan di pendam, kasih tahu suamimu jika kamu mau ini itu." Nasehat Ibu yang sudah berpengalaman.
Zahira mengangguk patuh. "Iya Bu, selama ini Mas Adam tidak pernah mengabaikan permintaan ku. Mas Adam selalu menuruti semua yang aku inginkan. Iya kan Mas?" Zahira menoleh ke arah sang suami sambil tersenyum.
Adam juga membalas senyuman Zahira. "Tentu saja, karena semua keinginan kamu adalah hal wajib yang harus Mas turuti." Jawab Adam sambil mengacak-ngacak rambut Zahira.
"Sekarang kamu istirahat lagi ya Nak, Istirahat yang cukup jangan sampai kelelahan. Jangan pikirkan pekerjaan rumah dan dapur biar Ibu yang mengerjakan semuanya." Jelas Ibu memberi pengertian kepada Zahira agar tidak melakukan aktifitas berat.
"Tapi aku tidak apa-apa Bu, cuma mual-mual saja. Apalagi jika aku sudah minum teh hangat maka sudah mulai enakan perutku." Jawab Zahira jujur.
Tentu saja Zahira menolak jika di suruh berdiam diri tanpa melakukan kegiatan apapun nantinya karena menurutnya itu akan membosankan.
"Eh, mana boleh gitu? Pokoknya kamu tidak boleh ngapa-ngapain! Demi cucu Ibu yang kamu kandung saat ini!" Protes Ibu dengan suara tegas.
Zahira cemberut seperti anak kecil membuat Adam ingin sekali mengecup bibir istrinya itu. Tapi kali ini Adam harus menahannya karena tidak mungkin juga melakukannya di depan sang Ibu tercinta. Bisa-bisa sang Ibu akan mengamuk karena tidak tahu sopan santun di depan orang tua.
Zahira menghela napas. "Iya deh.. aku akan menuruti semua perintah Ibu." Jawab Zahira menuruti permintaan mertuanya itu. Zahira memeluk tubuh Ibu karena selalu memberinya kasih sayang layaknya anak kandung.
"Ya sudah, sekarang Ibu tinggal ya.. Ibu mau melanjutkan masak." Ujarnya setelah pelukan itu terlepas.
"Oh iya Mas.. katanya tadi kamu buatkan aku teh hangat. Sekarang mana?" Zahira baru ingat.
Adam tersenyum simpul. "Mas lupa Sayang, teh hangatnya sudah jadi tapi tertinggal di dapur." Jawab Adam.
"Ibu juga baru ingat tadi tehnya sudah ibu bikin, Nanti biar di ambil sama suamimu." Sahut Ibu.
"Makasih ya Bu, maaf Zahira harus merepotkan Ibu." Balas Zahira.
"Tidak apa-apa Nak, sekarang kita gantian. Dulu waktu ibu sakit, kamu yang repot-repot merawat Ibu." Ucap Ibu.
Ibu berlalu dari kamar Zahira untuk melanjutkan memasaknya yang dia tinggal karena saking antusias-nya mendengar sang menantu yang tiba-tiba mual-mual di pagi hari.
"Mas.. tapi nanti kita tetap pergi ya ke resepsinya Bowo." Pinta Zahira, teringat untuk pergi kondangan ke salah satu teman sekolahnya.
"Yakin, kamu sudah tidak apa-apa?" Adam memastikan keadaan sang istri.
"Yakin Mas.. aku sudah tidak apa-apa sekarang." Jawab Zahira memegang telapak tangan Adam.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat lagi di kasur." Adam menuntun Zahira ke arah ranjang.
__ADS_1
Zahira bersandar di kepala ranjang dengan di topang oleh sebuah bantal. Adam mengelus perut rata sang istri yang kini telah bersemayam benihnya.
"Papa sudah tidak sabar Dek nunggu kehadiran kamu nantinya." Ucap Adam mencium perut rata Zahira yang tertutupi baju tidur.
"Sama Mas, aku juga udah tidak sabar nunggu dia hadir di tengah-tengah kita. Pasti lucu sekali nanti wajahnya." Ucap Zahira seraya mengelus rambut Adam.
"Gimana kalau nanti kita cek ke dokter kandungan." Ujar Adam.
"Tapi ini kan hari Minggu, mana ada coba dokter yang buka praktek?" Tanya Zahira.
"Kamu tenang saja. Mas punya kenalan seorang dokter kandungan, kebetulan beliau adalah Ibunya teman Mas." Jawab Adam dan Zahira mengangguk iya.
***
Andi bersama Mila sedang menunggu Adam dan Zahira yang lagi bersiap-siap di kamar mereka. Adam menggunakan baju batik berlengan panjang, warnanya juga di senadakan dengan warna gamis yang Zahira pakai. Zahira menggunakan gamis berwarna coklat susu dengan rumbai-rumbai kecil yang melingkar di bagian dada hingga batas pundak.
"Sudah kan Yank?" Tanya Adam melihat Zahira yang tinggal memakai kerudung pashminanya saja.
"Bentar Mas.. dikit lagi." Jawab Zahira yang lagi menyematkan jarum pentul.
"Beres.." Gumam Zahira setelah dirinya sudah rapi lalu mengambil tas selempang, memasukkan dompet dan ponsel.
"Ayo keluar, Andi dan Mila sudah menunggu kita di depan." Ucap Adam dan kini mereka keluar dari kamar dengan bergandengan tangan.
"Sudah." Jawab Adam singkat.
"Lama amat dandannya. Udah jamuran gue nunggu kalian." Protes Andi saat kedua pasangan istri itu sudah berdiri di hadapannya.
"Emang Kak Andi dan Mila udah dari tadi ya nunggu kita?" Tanya Zahira memandang keduanya.
"Enggak Mbak Hira, kami juga baru datang. Emang dasar Kak Andi nih terlalu lebay." Jawab Mila.
"Ya sudah ayo." Ajak Adam diangguki oleh mereka.
"Yah, Adam pinjam sepeda motor Ayah ya." Ucap Adam kepada sang Ayah yang sedang memberi makan burung di teras samping kanan.
Ayah mengangguk. "Iya kamu pakai saja, kuncinya juga masih menggantung di motor." Jawab Ayah.
Adam dan Andi segera melajukan kendaraan mereka ke rumah Bowo yang di jadikan tempat resepsi pernikahan berlangsung. Hanya butuh enam menit mereka sudah sampai. Banyak sekali sepeda motor yang berjajar begitu juga dengan mobil hingga tempat untuk parkir sepeda motor saja sampai tidak muat.
"Banyak juga ya Dam tamunya." Ucap Andi saat mereka sudah masuk ke dalam tenda yang dijadikan tempat resepsi lalu mencari tempat duduk.
"Iya, mungkin tamunya dijadikan satu dari mempelai pria dan wanitanya." Jawab Adam yang begitu erat menggenggam tangan Zahira.
__ADS_1
Zahira mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Risma setelah duduk di kursi.
"Kamu lagi cari siapa Yank?" Tanya Adam.
"Risma, Mas.." Jawab Zahira menoleh ke arah sang suami. "Apa dia belum datang ya?" Ucapnya lagi.
"Kamu chat saja, siapa tahu masih di rumah." Kata Adam.
"Ah iya, kamu benar." Zahira mengirim pesan kepada Risma jika dia sudah berada di resepsinya Bowo.
"Eh, Dam.. kamu lihat di sana." Ucap Andi sambil menunjuk dengan jari telunjuknya beberapa kawan satu kampung mereka yang juga turut hadir di acara ini.
"Iya aku lihat, lalu?" Tanya Adam dengan menaikkan satu alisnya.
"Kita ke sana sebentar ya." Ajak Andi untuk bergabung dengan mereka yang berkumpul di satu meja itu.
Adam mengangguk menyetujui ajakan Andi.
"Ayo, Yank.. Mas ke sana sebentar. Kamu tidak apa-apa kalo Mas tinggal?" Tanya Adam kepada Zahira.
"Santai Mas, lagian ada Mila juga di sini." Jawab Zahira.
"Kalo kalian sudah lapar, kalian bisa ambil makanan sendiri." Sahut Andi menunjuk meja prasmanan yang tersaji.
"Iya Kak." Jawab Mila mengangguk.
Adam dan Andi meninggalkan pasangan mereka, menuju tempat duduk kawan-kawan mereka yang memang diundang juga oleh Bowo.
Alunan musik dangdut menggema dengan hadirnya beberapa penyanyi dangdut yang bernyanyi di atas panggung untuk menghibur para tamu yang hadir. Ada juga sebagian laki-laki yang naik ke atas panggung untuk ikutan bernyanyi juga memberi saweran.
Adam berkali-kali melirik ke arah Zahira memastikan bila istrinya itu baik-baik saja lalu ia kembali mengobrol.
"Zahira.." Panggil salah satu laki-laki yang lumayan tampan dengan memakai kemeja warna coklat datang mendekati Zahira dan tanpa disuruh ia duduk begitu saja di depan Zahira.
Zahira dan Mila yang tadinya fokus dengan penyanyi dangdut seketika menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Dan..
Deg.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...