Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Tidak bisa jauh


__ADS_3

"Mbak, suruh Mas Adamnya masuk dong. Malah diajak ngobrol di depan pintu seperti ini." Akmal geleng-geleng kepala dengan kakak satunya ini.


"Oh iya.. sampai lupa, ayo Mas masuk. Kebetulan kami juga lagi makan malam." Ucap Zahira dengan seulas senyum manis pada Adam.


Adam mengangguk dan mereka pun masuk ke dalam melanjutkan makan yang tertunda tadi.


"Mas sudah makan belum?" Tanya Zahira kini sudah duduk di tikar.


"Mas belum makan, tadi Mas juga baru pulang." Jawab Adam duduk di depan Zahira.


"Baru pulang, tumben Mas?" Heran Zahira sembari mengambilkan makanan untuk sang suami.


"Iya, tadi ngumpul dulu dengan lainnya di cafe." Jelas Adam lalu meraih piring dari Zahira.


"Terima kasih." Sambungnya. Zahira pun mengangguk.


"Makan yang banyak Mas. Enak sekali masakan Mbak Hira ini." Ujar Akmal sambil menyuapkan nasi beserta bakwan jagung ke dalam mulutnya.


Adam mengangguk. "Iya Mal. Masakan Mbak kamu memang selalu enak." Sahut Adam memuji masakan Zahira sambil menatap wajah sang istri.


Zahira tersenyum senang mendengar pujian dari suaminya.


"Duh, ada yang seneng banget nih dipuji sama Mas suami." Goda Akmal.


"Jelas dong.. istri tuh harus bisa menyenangkan hati suami, bener kan Mas?" Tanya Zahira meminta pendapat kepada Adam.


Adam memberi jawaban dengan anggukan kepala. Dia tersenyum dengan candaan dari dua bersaudara itu.


"Sudah lanjutkan makan kalian, ngobrolnya nanti saja!" Titah Adam kepada adik dan kakak itu. Karena saat ini perutnya sudah sangat lapar butuh asupan untuk di isi. Dan seketika Zahira dan Akmal langsung terdiam setelah Adam bersuara.


Usai makan malam Zahira membawa piring-piring ke dapur untuk di cuci. Adam juga turut membantu dengan membawakan wadah nasi dan juga gelas-gelas.


"Sini biar Mas saja yang cuci piring dan gelasnya." Adam mengambil alih tugas Zahira.


Dengan senang hati Zahira pun mengiyakan dan ia menyingkir lalu duduk di kursi sambil melihat suami tampannya mencuci semua piring-piring kotor.


"Sudah Yank." Ucap Adam usai dengan cuci piringnya lalu mengelap tangannya yang basah.


Zahira pun mengangguk.


"Kita keluar yuk Mas, duduk-duduk di teras." Ajak Zahira menggandeng tangan Adam.


Mereka pun berjalan ke depan.


"Akmal ke mana?" Tanya Adam tidak melihat keberadaan adik iparnya setelah makan malam tadi.

__ADS_1


"Paling juga lagi di kamar." Jawab Zahira.


"Mas nanti tidur di sini juga. Mas nggak mau tidur di rumah sendirian." Ucap Adam to the poin sambil menoleh ke arah Zahira.


Zahira tersenyum lucu. "Karena tidak ada yang bisa di peluk ya.. hehe." Goda Zahira sudah hafal betul dengan kebiasaan sang suami bila tidur selalu memeluk dirinya.


"Iya, nggak enak saja jika tidur tidak ada kamu." Jawab Adam jujur tanpa ada malu sedikitpun.


"Tadi pagi aja aku di cuekin. Sekarang baru ngomong nggak bisa jauh-jauh dari aku." Cibir Zahira mengingat saat sedang sarapan, Adam pergi begitu saja tanpa pamit pada dirinya.


"Iya, Mas minta maaf sudah mengabaikan kamu." Sesal Adam menggenggam tangan Zahira yang duduk di sampingnya.


"Permintaan maaf di terima, aku juga minta maaf karena udah bersikap cuek sama Mas." Sahut Zahira.


Mereka pun sama-sama tersenyum.


"Ehhem.. ehhem.. yang lagi asyik pacaran. Dunia serasa milik berdua ya." Entah kapan datangnya Akmal, tiba-tiba sudah berdiri di samping mereka, menyandar di tiang.


"Sirik aja kamu anak kecil." Jawab Zahira membuat Adam langsung mengelus kepala istrinya itu yang lagi kesal sama Akmal.


"Mbak minta uang dong." Pinta Akmal.


"Buat apa Dek? Bukannya kamu udah diberi uang sama Emak ya?" Tanya Zahira.


"Kebiasaan kamu Dek, bentar Mbak ambil uang dulu di kamar." Zahira akan beranjak dari duduknya namun tangannya langsung dipegang Adam.


"Kenapa Mas?" Tanya Zahira.


"Pakai uang Mas saja." Jawab Adam.


"Nggak usah Mas." Sela Zahira menolak.


"Nggak apa-apa, Akmal juga adik Mas." Ucap Adam membuat Zahira kembali duduk.


Adam mengambil uang berwarna merah di dalam dompetnya lalu memberikannya pada Akmal. "Ini Mas kasih." Ucapnya.


"Wih, banyak banget Mas, terima kasih ya Mas." Ucap Akmal senang menerima uang seratus ribu dari kakak iparnya.


Adam mengangguk. "Iya." Jawabnya.


"Tapi ingat, pulangnya jangan malam-malam ya Dek." Zahira memperingati Akmal yang kebiasaan pulang di jam dua belas jika di hari libur.


"Iya Mbak, paling juga jam sebelas." Jawab Akmal sambil memasukkan uangnya ke dalam saku celana.


"Jangan lupa bawa kunci cadangan juga. Mbak malas harus bukain kamu pintu." Ucap Zahira.

__ADS_1


"Siap Bu bos, aku udah bawa nih." Akmal menunjukkan kunci cadangan rumah yang sudah ia bawa tanpa harus merepotkan sang kakak nanti.


"Aku pergi ke warung dulu ya. Assalamu'alaikum." Pamit Akmal seraya mencium tangan Adam dan Zahira bergantian.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira dan Adam.


Akmal pun pergi dengan mengendarai sepeda motor matic milik Zahira.


***


Jam 21:30 malam hujan mengguyur kampung mereka dengan disertai kilatan petir. Zahira dan Adam sama-sama sudah berbaring di atas kasur. Hawa dingin pun semakin menusuk ke kulit mereka terlebih lagi Zahira.


Zahira yang takut dengan suara petir bergemuruh pun memeluk tubuh Adam. Entah apa jadinya jika Adam tidak menyusul istrinya itu ke rumah mertuanya, mungkin sekarang Zahira akan tidur meringkuk seorang diri dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Mas, untung kamu ada di sini." Ucap Zahira semakin mengeratkan pelukannya.


"Kenapa. Kamu takut dengan suara petir?" Tanya Adam sambil membelai lembut rambut Zahira sesekali ia cium juga.


"Iya, serem banget Mas. Apalagi kalo hujannya lebat terus di barengi angin. Untung aja saat ini lampunya nggak ikutan mati." Jelas Zahira membuat Adam tersenyum tipis.


Mereka sekarang tidur di satu selimut yang sama. Dengan Zahira yang menyandarkan kepalanya di dada Adam lalu satu kakinya menindih kedua kaki Adam.


"Yank, Mas pengen." Bisik Adam di telinga Zahira.


"Pengen apa?" Tanya Zahira pura-pura tidak mengerti.


"Pengen makan kamu lagi, sudah seminggu kan Mas harus puasa karena kamu lagi kedatangan tamu." Jelas Adam.


"Ugh,, kenapa Mas nggak pernah puas sih kalau nyangkut yang satu itu?" Ujar Zahira sangat gemas membuat Adam terkekeh.


"Itu sudah jadi kewajiban yang harus kamu turuti Sayang. Apa kamu mau kalau suamimu ini melakukannya dengan wanita lain?" Goda Adam.


Sontak Zahira memberi tatapan tajam pada Adam. Awas aja kalau berani melakukannya.


"Nggak boleh, enak aja mau melakukan itu sama wanita lain." Sahut Zahira cepat, bibirnya pun mengerucut. Lillahi ta'ala dia nggak rela.


Adam terkekeh kecil istrinya ini lucu sekali. Dan tanpa aba-aba Adam mencium bibir Zahira. Ciuman yang sudah dua hari tidak ia dapatkan karena pertengkaran mereka kemarin.


Zahira hanya bisa pasrah berada di bawah kendali tubuh Adam. Karena sejujurnya ia juga sangat menginginkan kegiatan itu. Apalagi Adam sangat lihai membuat dirinya tak berdaya.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2