
"Uhuk..uhuk.. aku tersedak bukan karena kopinya yang panas, tapi karena ucapan kamu tadi yang telah membakar gamis istrimu." Jawab Andi setelah batuknya reda.
"Oh.." Angguk Adam lalu minum kopinya lagi.
"Kenapa sampai kamu bakar gamis pemberian Haikal?" Tanya Andi dengan berkerut kening.
"Aku tidak suka saja Zahira menyimpan barang dari pria itu." Jawab Adam memandang ke depan tanpa menyebut nama 'Haikal' lagi.
"Wah Dam.. ternyata kamu posesif sekali sama Zahira. Sampai segitunya kamu." Sindir Andi terkekeh kecil.
Adam menolehkan kepalanya sejenak ke arah Andi. "Apa menurutmu aku keterlaluan dengan membakar gamis itu?" Tanya Adam.
"Menurutku sih iya, harusnya kamu jangan membakarnya tapi kamu kan bisa ngomong baik-baik sama Zahira agar tidak menyimpannya atau bisa dikasih ke orang gitu." Ucap Andi dengan bijak.
Adam menghela nafasnya dengan berat. "Zahira juga berkata begitu katanya aku ini keterlaluan dan cemburuan juga." Ucapnya.
"Zahira berkata jika kamu cemburuan? Haha.. itu memang benar sih." Jawab Andi dengan gelak tawanya.
"Aku melakukan itu karena aku sangat mencintai Zahira. Apa salahnya jika aku posesif, aku tidak ingin sampai kehilangan Zahira." Jawab Adam dingin.
"Dasar bucin." Ledek Andi.
"Kamu juga akan merasakannya jika kamu sudah punya orang yang kamu sukai apalagi seorang istri." Ucap Adam.
Andi memang saat ini masih jomblo, dia sama seperti Adam yang belum pernah merasakan bagaimana itu pacaran. Tapi Andi orangnya sangat ramah pada perempuan berbeda dengan Adam yang dingin. Hanya nasibnya saja yang tidak beruntung karena belum mendapatkan pujaan hati yang mengena di dirinya.
"Ya kamu do'akan lah Dam.. biar aku cepat-cepat menemukan pendamping hidupku. Biar aku nggak jomblo terus dari dulu sampai sekarang ini." Pinta Andi menunjukkan raut sedihnya.
Adam tersenyum simpul, geli dengan mimik wajah Andi yang dibuat seperti itu.
"Tentu aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu." Ucap Adam menepuk pundak Andi.
"Apa setelah ini kamu akan minta maaf pada Zahira?" Tanya Andi.
__ADS_1
"Entahlah.. aku tidak tahu." Jawab Adam datar.
"Kamu jangan egois Dam..kesalahan ini ada padamu, jika kamu tidak minta maaf duluan maka masalah kalian akan berlarut-larut. Nanti Zahira akan sedih dan imbasnya kamu sendiri yang akan rugi." Ucap Andi menasehati.
Adam hanya mengangguk, entah dia nanti yang akan minta maaf atau menunggu Zahira saja yang meminta maaf duluan. Karena bagi Adam kesalahan ini bukan hanya pada dirinya saja tapi ada pada Zahira juga.Tapi dalam lubuk hatinya, Adam sebenarnya tidak tega untuk menyakiti istrinya itu, dia tahu bahwa perempuan itu sifatnya lemah apa-apa dengan perasaan beda dengan laki-laki yang menurutnya menggunakan logika.
"Hoam.." Andi menguap. "Kamu tidak mau pulang, ini sudah malam. Aku sudah ngantuk banget, besok kita juga harus bekerja lagi." Kata Andi mengusir Adam.
Bagaimana tidak sekarang sudah pukul sebelas malam, lama juga Adam mengajak Andi untuk menemaninya ngobrol. Dua cangkir kopi juga sudah habis dan hanya menyisakan ampasnya saja.
"Baiklah aku pulang, terima kasih untuk kopinya dan sudah mau mendengar ceritaku tadi." Kata Adam sambil berdiri.
"Yo'i Bro.." Jawab singkat Andi.
Adam sudah meninggalkan rumah Andi.
"Dam.. Dam.. segitunya kamu sama Zahira." Gumam Andi tersenyum lucu lalu masuk ke dalam sambil membawa dua cangkirnya.
***
Pelan-pelan laki-laki tampan itu naik ke ranjang supaya Zahira tidak terusik. Adam juga membalikkan tubuh Zahira agar menghadap ke arahnya, di rapikannya anak rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya itu. Sebenarnya Zahira belum tidur dia hanya menutup matanya saja karena sedari tadi Zahira tidak bisa tidur.
Begitu mendengar suara sepeda motor milik Adam Zahira pura-pura menutup matanya dan ia tidur dengan posisi miring agar Adam tahu jika dia masih marah. Zahira juga berencana untuk mendiamkan Adam biar suaminya itu mengerti di mana letak kesalahannya.
Adam masih setia memandangi wajah damai Zahira yang sedang tidur, menurutnya sangat manis sekali. Adam tidak bisa untuk mengabaikan Zahira, benar kata Andi bahwa dia sekarang sudah menjadi budak cintanya Zahira. Adam mengecup lama kening Zahira dan setelah itu ia memeluk tubuh ramping itu hingga masuk ke dalam dekapannya.
"Hah.. suamiku ini bisa-bisanya curi kesempatan dalam kesempitan biar bisa meluk tubuhku." Batin Zahira kesal di balik pelukan Adam.
***
Karena hari ini Zahira masih belum selesai masa haidnya jadi ia bisa memasak lebih awal setelah mendengar suara adzan subuh berkumandang. Zahira juga malas untuk berada di kamar lama-lama, untuk apa coba toh dia juga masih marah sama Adam biar saja suaminya itu bangun sendiri untuk sholat subuhnya.
Adam menggeliatkan tubuhnya setelah mendengar suara iqomah dari masjid setempat, di lihatnya Zahira tidak ada di sisinya. Adam langsung melempar selimutnya begitu saja lalu turun dari ranjang. Adam berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil dan juga berwudhu.
__ADS_1
Adam menghela nafasnya saat tidak menemukan pakaian sholatnya yang biasanya selalu di siapkan Zahira. Setelah selesai dengan sholat subuhnya Adam keluar kamar untuk mencari keberadaan istrinya. Di lihatnya Zahira sedang berkutat di dapur tanpa peduli dengan kehadirannya yang saat ini duduk di kursi.
Zahira hanya melirik sekilas ke arah Adam untuk apa dia duduk di situ pikirnya. Adam menggeser kursinya lalu memeluk perempuan itu dari belakang.
"Masak apa Yank?" Tanya Adam sambil menduselkan kepalanya di ceruk leher Zahira.
"Masak capcay." Jawab Zahira singkat padat dan jelas.
"Jangan lupa untuk pakai udang juga ya." Kata Adam masih dengan memeluk Zahira.
"Hemm." Jawab Zahira hanya dengan deheman.
"Masih marah sama Mas?" Tanya Adam, tangan kirinya mematikan kompor lalu membalikkan tubuh Zahira agar menghadapnya.
"Minggir jangan ganggu, aku mau melanjutkan masak." Jawab Zahira dengan dingin seraya melepaskan tangan Adam dari pundaknya.
"Dia pikir aku nggak bisa marah apa." Batin Zahira lalu melanjutkan kembali memasaknya.
Adam tersenyum mendengar suara istrinya yang dingin padanya. Ternyata kalau lagi marah lucu juga, Adam tidak ingin menganggu istrinya lagi sehingga dia meninggalkan Zahira untuk berolahraga di luar rumah.
Adam mengelilingi halaman rumahnya dengan berlari kecil dan melanjutkan nya dengan push-up. Zahira sendiri sudah selesai memasak dan berjalan keluar untuk menghirup udara segar di pagi hari.
"Segarnya.." Ucap Zahira dengan memejamkan kedua matanya.
Dia tidak menyadari jika Adam sedang melakukan push-up sambil menatap dirinya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Bantu Author dengan like, vote dan hadiah.