Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Ling Zizhou


__ADS_3

"Uwaah!" jerit salah seorang pendekar bayangan yang nyaris terlempar dari gerobak. Untungnya, rekan yang berada disebelahnya dengan sigap menangkap dan menyelamatkannya.


Saat ini gerobak sedang berjalan dengan kecepatan tinggi, meliuk-liuk diantara akar-akar misterius. Mu Lian menerobos serangan tanpa peduli rasa tolakan yang ditimbulkan ketika akar dan permukaan gerobak saling bersentuhan.


"Lin'er, kau baik-baik saja?" suara Meimei terdengar dari alat komunikasi.


"Sebentar lagi, 200 meter lagi.Aku akan loncat keluar gerobak dan memulai intervensi," kata pendekar bayangan.


"Kau dengar? Bertahanlah!" kata Meimei. Mu Lian menghela napas panjang. Mu Lian tidak mengatakan apa-apa dan terus menerobos akar-akar yang terbang ke sana kemari.


Hanya Master Yi dan satu orang pendekar bayangan yang masih bisa menangkis serangan dalam keadaan gerobak sedang berjalan dengan kecepatan tinggi.


"Kanan, belok tajam 90 derajat, serong kiri 30 derajat..." kata Mu Haocun terus memberi arahan.


Karena jarak pandang sangat pendek, Mu Lian harus mengerahkan perhatiannya 100% ke Cermin Langit. Kalau saja tidak ada cahaya yang memancar dari gerobak dan arahan dari Mu Haocun, mungkin Mu Lian akan kesulitan berjalan di ruangan tersebut.


Mu Lian telah mengoperasikan gerobak selama hampir 20 menit namun belum bisa tiba di titik yang telah ditentukan.


Gerobak beberapa kali harus memutar untuk menghindari daerah yang penuh dengan akar-akar misterius. Hal tersebut menyebabkan gerobak semakin jauh dari tujuan.


Apa boleh buat, meski tidak merasakan secara langsung dampak dari serangan akar-akar misterius, Mu Lian merasakan perasaan tidak nyaman ketika akar menumbuk gerobak dengan keras.


Mu Haocun sempat menangkap ekspresi Mu Lian ketika Mu Lian mengernyit. Mu Haocun pun menyarankan agar Mu Lian berusaha menghindari serangan-serangan tersebut.


Tetap saja, kenyataannya, mengoperasikan gerobak dibawah serangan bertubi-tubi dari akar-akar misterius sangatlah sulit.


"Ugh!"


Mu Lian mengernyit. Serangan barusan seperti menonjok ulu hatinya. Serangan yang benar-benar dipenuhi nafsu membunuh! Keringat mengucur dari dahi Mu Lian.


Keisengan Mu Lian untuk menambahkan fitur-fitur keamanan pada gerobak malah menyelamatkan hidupnya. Apalagi setelah mengetahui bahwa gerobak terhubung dengan dirinya.


"Lian'er!" kata Mu Haocun bangkit dari duduknya. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Kalau tidak menahan diri, mungkin saja Mu Haocun sudah menghampiri Mu Lian.


Mu Lian tersenyum menenangkan. Meski tidak mengatakan apa-apa, Mu Lian berkomunikasi dengan matanya.


Melihat Mu Lian menyuruhnya untuk tetap di tempatnya, Mu Haocun pun duduk kembali. Saat ini Mu Haocun harus menjadi mata bagi Mu Lian dan mengarahkan harus kemana Mu Lian pergi.


"Lian'er? Kenapa berhenti? Kau baik-baik saja?" kata Meimei ketika merasakan gerobak berhenti setelah mengalami goncangan hebat.


Suara metal beradu semakin sering dan semakin nyarring. Master Yi, yang biasanya diam pun terdengar menggelegar. Ada sesuatu yang terjadi namun Meimei tidak melihatnya karena sedang berada di dekat alat pengidentifikasi.


Mu Lian sadar mereka sudah berhenti cukup lama sehingga gerobak disergap oleh akar-akar dari berbagai arah. Mau tak mau Mu Lian mengoperasikan gerobak kembali.


Ketika sedang mengarahkan gerobak sesuai arahan Mu Haocun, tiba-tiba permukaan Cermin Langit terang benderang. Mu Lian dan Mu Haocun menyaksikan permukaan air menjadi seputih susu.


Mereka tidak mendengar suara gemuruh yang didengar Meimei, Master Yi dan 5 pendekar bayangan. Selain suara gemuruh, tiba-tiba semua akar yang sedang menyerang mereka tiba-tiba berhenti kemudian menarik diri. Segera kabur dari ruangan itu.


Hening. Sinar yang membutakan mata selama beberapa detik itu akhirnya menghilang. Mu Lian dan Mu Haocun melihat pemandangan ruangan kosong melalui Cermin Langit.


"Loh, loh?" suara Meimei terdengar terkejut.


"Mei Jie? Ada apa?" kata Mu Lian. Selain suara Meimei, suara para pendekar bayangan yang berada diluar gerobak pun terdengar.


"Pegangan! Kalau tidak kita akan terbang sampai ke langit-langit!"


"Hmm? Mei'er apa kalian jadi melayang?" kata Mu Haocun setelah menangkap percakapan di latar belakang Meimei.


"I-iya! Astaga jauh-jauh sana!" kata Meimei sambil menendang pendekar bayangan yang sedang bersamanya keluar gerobak. Pendekar bayangan tersebut tak sengaja terlalu dekat dengan Meimei.


Mu Lian menghela napas lega. Setidaknya mereka dapat beristirahat setelah mengalami kejadian yang menegangkan seperti naik roller coaster.


"Mengerikan sekali. Apa itu yang mengintai dibalik kegelapan?" kata Mu Lian.


"Iya. Tapi baru kali ini kakek melihat yang sebesar itu," kata Mu Haocun sambil mengelus dagunya.


"Aku jadi khawatir dengan Ah Zhou dan Zhi Ge," kata Mu Lian.

__ADS_1


"Haduh, bocah itu? Aku yakin dia akan baik-baik saja. Dia memiliki keteguhan sebesar gunung tertinggi di dunia ini, kau tahu?" kata Mu Haocun.


Meski begitu, Mu Lian tetap khawatir. Karena tak selamanya masalah dapat diselesaikan dengan mudah apalagi kalau masalah tersebut menyangkut hati manusia.


Seperti yang kini sedang dihadapi oleh Ling Zizhou saat ini. Semua berawal ketika dirinya mengikuti Meng Zhi ke lokasi yang dicurigai sebagai tempat disekapnya rekan-rekan Zhi Yuefeng.


Yang diingat Ling Zizhou terakhir kali adalah ketika ada suara gemuruh kemudian cermin-cermin bergeser dari tempatnya. Meng Zhi sempat menoleh ke arahnya untuk mengucapkan sesuatu namun tiba-tiba gelap.


Ketika membuka mata, Ling Zizhou menyadari tubuhnya mengecil seperti anak berusia 10 tahun. Pemandangan langit-langit ruangan yang berada di dalam kenangannya kini tepat didepan matanya.


"Tidak mungkin," gumam Ling Zizhou. Ling Zizhou tidak menyangka akan kembali ke masa lalu. Bahkan suaranya pun sama persis seperti yang diingatnya sembilan tahun yang lalu.


Apakah dia terjebak di dalam ilusi? Kalau benar kapan dirinya bisa keluar? Ling Zizhou terus memutar otaknya hingga sebuah suara memecah konsentrasinya.


"Ah Zhou! Bangun nak! Cepat bangunkan adikmu, kalau tidak dia tidak akan bangun sampai siang!" suara seorang wanita terdengar dari luar ruangan.


Masih sama juga seperti yang dikenangnya. Ling Zizhou cepat-cepat bangkit dari tempat tidurnya. Penasaran dengan wajah orang-orang yang kini telah samar-samar dalam ingatannya.


Karena Ling Zizhou seorang pengguna asura yang membutuhkan banyak rasa kebencian dan dendam sebagai bahan bakarnya, maka dia hanya mengekstrak ingatan mengenai rasa bencinya ketika seluruh keluarganya dihabisi tanpa mengingat wajah mereka dengan jelas.


Itu harga yang harus dibayar oleh Ling Zizhou untuk mendapatkan kekuatan. Kenapa harus melupakan sebagian ingatan seperti contohnya wajah orang-orang yang bersangkutan? Karena pengguna asura tidak membutuhkan ingatan bahagia.


Perasaan-perasaan bahagia hanya digunakan sebagai jangkar oleh pengguna asura agar mereka tidak tenggelam dan jatuh ke dalam abyss.


Ling Zizhou menghela napas panjang, menenangkan hatinya yang sedikit bersemangat. Di seberang ruangan terdapat tempat tidur berkanopi. Seorang gadis kecil terbaring dengan mata terpejam.


Wajah adiknya yang berusia 7 tahun itu masih kental dengan karakteristik wajah bayi. Begitu gembul membuat Ling Zizhou ingin mencubit pipinya yang seperti bakpao.


Air menetes di sudut mulutnya yang sedang mengunyah sesuatu yang tak kasat mata. Sepertinya adiknya sedang bermimpi sedang memakan makanan kesukaannya. Dia mengunyah dengan wajah bahagia.


Ling Zizhou menghampiri gadis tersebut. Ling Zizhou mengamati adiknya itu sangat lama hingga lupa apa yang tadi diperintahkan wanita itu untuk dilakukannya.


"Astaga anak ini! Disuruh membangunkan adikmu malah menatapnya seperti menonton pertunjukkan," kata wanita itu.


Pupil Ling Zizhou melebar, detak jantungnya meningkat ketika mendengar suara wanita itu dari arah pintu masuk kamar. Dia ada di dekatnya! Ling Zizhou melihat ke arah wanita itu secara perlahan tapi pasti.


Ling Zizhou terus mengamati ibunya hingga pandangannya menjadi kabur, air mata jatuh ke pipinya. Wajah ibunya yang sangat cantik dan lembut menjadi buram. Ah, kenapa air mata ini keluar disaat yang tidak tepat? Ling Zizhou masih ingin menatap wajah ibunya.


"Astaga kamu ini kenapa? Cerita ke ibu," kata wanita itu dengan khawatir. Wanita itu segera memeluk Ling Zizhou dengan hangat, berusaha menghentikan kesedihan yang melanda Ling Zizhou.


Ling Zizhou terus terisak hingga adiknya terbangun karena suara isakan Ling Zizhou. Ling Zizhou merasakan pelukan dari tangan mungil disekitar pinggangnya, yang malah membuat isakan Ling Zizhou tambah kencang.


Sebagai pengguna asura, Ling Zizhou sudah terbiasa bermimpi buruk mengenai kejadian yang menimpa keluarganya.


Sudah sangat lama Ling Zizhou terjebak di loop penderitaan akibat mimpi buruk tersebut hingga dia tidak terbiasa melihat ibu dan adiknya dalam keadaan 'baik-baik saja' seperti ini.


Pagi pun berlalu begitu saja dengan ibu dan adik Ling Zizhou memeluk serta menenangkannya. Tanpa sadar sudah waktunya makan siang.


Ketiga orang tersebut yang melewatkan makan pagi, mendengar suara perut mereka yang memprotes karena telah dibiarkan kosong sepanjang pagi.


Akhirnya ketiganya makan dengan lahap. Selama menghabiskan makanannya, Ling Zizhou mengamati keadaan di sekelilingnya. Inikah keadaan rumahnya? Sederhana tapi nyaman. Kecil tapi dia merasa aman dari ancaman luar.


"Makannya pelan-pelan. Nanti malam akan ibu buatkan makanan kesukaanmu, tidak apa-apa kan, Zue'er kalau kau menunggu sampai besok?" kata wanita itu.


Si gadis kecil mengangguk kemudian berkata, "Aku tidak tahu ada apa dengan kakak tapi kalau kakak sedang sakit, ibu harus membuatkan makanan kesukaannya agar kakak lekas sembuh,"


Ling Zizhou menghabiskan harinya bersama ibu dan adiknya. Matanya kadang terlihat seperti menerawang karena masih tidak percaya dengan kejadian ini. Sebenarnya dia sedang menunggu kapan ilusi ini selesai dan kapan dirinya akan kembali ke dunia nyata.


Namun akhirnya, mau tidak mau Ling Zizhou tertampar dengan kenyataan bahwa dirinya masih terjebak di dalam ilusi setelah bertemu dengan ayahnya yang baru saja pulang dari ladang.


Ling Zizhou hanya bisa berdiri dengan mulut terbuka ketika ayahnya masuk rumah. Dia diam berdiri hingga hampir sepuluh menit.


Hal tersebut menyebabkan ayah dan ibu Ling Zizhou membahas dirinya saat Ling Zizhou dan adiknya sudah tidur.


"Apa yang terjadi?" kata ayahnya.


"Aku juga tidak tahu. Pagi-pagi ini, Ah Zhou mulai bersikap aneh. Dia menangis setelah melihatku dan Zue'er. Aku merasa dia menangis setelah lama tidak bertemu denganku dan Zue'er," kata ibunya.

__ADS_1


Sepasang suami istri ini pun terdiam. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan anak sulung yang biasanya nakal itu.


Apapun alasannya, si ayah dan ibu memutuskan untuk memberi perhatian lebih kepada Ling Zizhou hingga anak itu lebih tenang dan mau bicara ada apa sebenarnya.


Untungnya, setelah hari itu, Ling Zizhou kembali bersikap seperti biasa. Tidak sepenuhnya kembali seperti biasa, karena seluruh keluarganya merasa Ling Zizhou tiba-tiba bersikap lebih dewasa daripada usianya.


Keluarganya tidak tahu bahwa sebenarnya Ling Zizhou telah memutuskan akan menyikapi kejadian ini dengan tenang dan memikirkan jalan untuk bebas dari ilusi ini secara matang-matang.


Karena Ling Zizhou telah menunggu hingga malam hari dan menunggu apakah ketika satu hari habis dirinya akan kembali ke dunia nyata? Ternyata tidak demikian, maka dari itulah Ling Zizhou membuat keputusan tersebut.


Sayangnya, Ling Zizhou masih tetap terjebak di dalam ilusi dan belum menemukan tanda-tanda bahwa ilusi tersebut akan selesai. Dia pun terus menjalani hari-harinya bersama keluarganya.


Tanpa terasa satu bulan pun berlalu. Ling Zizhou menjalani hari-harinya seperti biasa di samping keluarganya yang terasa familiar namun disaat yang bersamaan terasa asing itu.


Ling Zizhou memang telah menghabiskan waktu 10 tahun kehidupannya bersama keluarganya ini namun tetap saja, karena ia telah melupakan wajah mereka setelah memulai jalan asuranya, mau tidak mau Ling Zizhou tidak bisa merasakan dirinya sedang ada dirumah.


Hanya saat bersama masternya, Mu Lian, Mu Haocun, Meimei dan Meng Zhi lah Ling Zizhou merasa seperti di rumah. Sudah banyak kenangan indah yang telah dibuatnya bersama mereka.


Saat itu juga Ling Zizhou merasa tersiksa. Dia sangat bahagia bisa bertemu dengan keluarga yang sangat dirindukannya itu namun tersiksa juga karena merindukan keluarganya yang baru, Mu Lian dan yang lain.


Tidak ada yang memarahinya karena dirinya sangat nakal, Tidak ada kakek tua menyebalkan yang selalu menggoda dirinya, tidak ada yang membuatkannya racikan untuk meringankan gejala cederanya dan merupakan fans berat masakan yang dibuatnya.


Tunggu tubuhnya saat ini adalah tubuh berusia 10 tahun, belum ada cedera pada tubuhnya namun tetap saja Ling Zizhou mengingat cedera yang telah menemaninya selama bertahun-tahun itu yang berhasil diredakan rasa sakitnya oleh Mu Lian.


Tidak ada kakak perempuan yang kesannya cuek padahal sebenarnya peduli dengannya, apalagi dia sering masak bersamanya, tidak ada yang menemaninya berlatih dan kadang-kadang melakukan kenakalan bersamanya.


Ling Zizhou terus memikirkan Master Yi, Mu Lian, Mu Haocun, Meimei dan Meng Zhi. Semakin hari Ling Zizhou semakin tidak fokus kepada keluarganya yang ada di ilusi ini dan semakin rindu dengan orang-orang tersebut.


Pengguna asura tidak akan termakan dengan tehnik seperti ini karena mereka sangat realistis. Apalagi Ling Zizhou selalu dinasehati oleh Master Yi bahwa dia tidak bisa menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal.


Belum lagi rasa sakit akibat mimpi buruk yang dialaminya selama 9 tahun membuatnya menerima kenyataan bahwa keluarganya telah meninggal.


Ling Zizhou tidak mau terlena dengan kebahagiaan palsu di dalam ilusi dan fokus untuk mencari cara keluar dari ilusi tersebut, itu adalah apa yang ada di pikirannya.


Di dalam lubuk hati paling dalam, Ling Zizhou dihadapkan pada dua pilihan paling sulit dalam hidupnya. Dua-duanya adalah keluarga yang sangat berharga bagi dirinya.


Satu adalah keluarganya di masa lalu, satu lagi adalah keluarganya di saat ini. Masa lalu dan masa depan sebenarnya tidak dapat dipisahkan namun berbeda ceritanya kalau dirinya sedang di dalam ilusi.


Namun tetap saja, hatinya sakit karena bahagia. Sangat ironis kenapa disaat yang bersamaan Ling Zizhou merasakan kebahagiaan dan sakit hati.


Bahagia karena bisa menghabiskan dengan keluarganya yang sudah meninggal, sakit hati karena kenyataan bahwa keluarganya tersebut sebenarnya sudah meninggal. Apa yang dijalaninya saat ini hanya ilusi semata.


"Sial, curang sekali mereka menggunakan cara ini," gumam Ling Zizhou pada suatu malam.


Jika saja ilusi yang ditunjukkan kepadanya sama seperti mimpi buruknya selama ini, yaitu malam ketika keluarga serta desanya dibantai, mungkin saja Ling Zizhou bisa lebih tegas.


Bisa jadi saat ini dirinya telah keluar, bukannya menunggu selama satu bulan dan bersantai-santai bersama keluarga lamanya.


Tidak bisa, Ling Zizhou merasa belum mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari cara keluar dari ilusi ini.


Ling Zizhou pun mencari-cari ingatan dalam otaknya. Ingatan yang sudah lama didiamkan di sudut terdalam pikirannya.


Peringatan hari keberangkatan roh penjaga ke dunia manusia. Zhongjian terbagi menjadi beberapa lagisan. Lapisan terluar adalah negeri para Makhluk Agung.


Lima makhluk yang termasuk Makhluk Agung adalah Xuanwu, Qinglong, Zhuque (Burung Phoenix), Baihu dan Qilin. Atau dikenal juga dengan sebutan makhluk suci.


Desa dimana Ling Zizhou dan keluarganya tinggal berada dibawah lindungan Zhuque. Belum lagi keluarga dari ayah Ling Zizhou memiliki ikatan darah dengan Zhuque maka dari itu marga keluarganya adalah Ling.


Ayah Ling Zizhou bekerja di ladang milik klan Zhuque. Mereka membudidayakan bunga api 100 tahun sebagai bahan makanan bagi para Zhuque yang terpilih sebagai roh penjaga.


Sebelum Zhuque-Zhuque tersebut dikirim ke dunia manusia, calon-calon roh penjaga tersebut akan melalui sebuah ritual. Mirip seperti anak-anak yang sedang diospek ketika akan masuk sekolah. Salah satu kegiatannya ya itu tadi, memakan sajian yang terbuat dari bunga api 100 tahun.


Ling Zizhou ingat bahwa peringatan hari keberangkatan roh penjaga ada di bulan ini, hari dimana desanya diserang dan hanya dialah yang selamat. Desanya benar-benar habis tak bersisa, ladang bunga api 100 tahun saja habis digasak.


Ling Zizhou pun merasa dia harus mulai mengawasi kegiatan yang terjadi di ladang, siapa tahu kunci satu-satunya untuk keluar dari ilusi ini ada disana.


"Ayah, aku ingin ikut ke ladang," kata Ling Zizhou suatu hari kepada ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2