
"Inikah obat yang diracik penipu itu?" kata Mu Haocun.
"Benar. Dan diantara ketiga orang itu, hanya orang ini saja yang racikannya mendekati obat aslinya," kata Mu Lian.
Artinya, Huang Yiming memiliki pengetahuan dasar dalam pengobatan. Racikannya dapat diterima oleh Mu Lian karena sesuai standar peracikan.
Mu Haocun yang mendengar ucapan Mu Lian langsung larut dalam botol porselen yang ada di tangannya.
Kalau sudah begitu, dipanggil berapa kali pun pasti Mu Haocun tidak memberikan jawaban. Jadi Mu Lian menoleh ke arah Master Yi yang sedang duduk bersila di tempat tidurnya.
Di kamar ini hanya ada mereka bertiga. Awalnya, Meimei dan Ling Zizhou mengikuti Mu Lian ke kamar Mu Haocun untuk menyampaikan peringatan dari Huang Yiming bahwa orang-orang berpakaian hitam menjadi waspada terhadap kelompok Mu Lian.
Namun setelah melaporkan kejadian hari itu, Meimei dan Ling Zizhou keluar dan berkumpul untuk berdiskusi dengan Meng Zhi di kamar Mu Lian. Mereka sekalian menjenguk Xiaoxiao yang sedang mengistirahatkan kakinya yang terkilir.
Hening. Karena tidak ada yang memulai pembicaraan suasana menjadi hening. Mu Lian dan Master Yi saling menatap selama satu menit kemudian tiba-tiba Master Yi melambaikan tangannya supaya Mu Lian mendekat.
Mu Lian menghampiri Master Yi dan duduk di sampingnya. Master Yi tidak bicara apa-apa, hanya mengelus-elus kepala Mu Lian.
"..." (Mu Lian)
Mu Lian ingin segera bergabung dengan Ling Zizhou, Meimei, Xiaoxaio dan Meng Zhi. Namun penasaran dengan reaksi Mu Haocun setelah mempelajari obat racik Huang Yiming.
Akhirnya Mu Lian memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan membuat pil kehidupan.
Semenjak dimulainya perjalanan menuju ibu kota, Mu Lian mengisi waktu luangnya dengan membuat pil atau mengkultivasikan energi spiritualnya.
Mu Lian tidak perlu takut kehabisan bahan karena seluruh tanaman herbal yang disimpan di gudang penyimpanan Mu Haocun telah dipindahkan ke dalam kantung dimensional spesial.
Kantung dimensional tersebut diberi sebutan 'spesial' karena memiliki ruang penyimpanan yang sangat besar dari pada kantung dimensional biasa.
Mu Lian mulai mengeluarkan kuali serta bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat pil kehidupan dari kantung dimensional miliknya. Untung saja masih ada beberapa bahan yang tersisa.
Kantung dimensional spesial itu dibawa oleh Mu Haocun dan Mu Lian akan mengisi ulang bahan apa saja yang habis dengan memintanya kepada Mu Haocun.
Kalau bahan-bahan yang dibutuhkan saat ini habis, Mu Lian tidak akan bisa membuat pil mengingat Mu Haocun sedang asik mempelajari obat Huang Yiming.
Melihat Mu Lian yang mulai sibuk menyalakan api pil dan memasukkan bahan-bahan ke dalam kuali, Master Yi berhenti mengelus kepala Mu Lian dan mengamati proses pembuatan pil dalam diam.
Beberapa menit kemudian, kuali berhenti bergetar dan wangi herbal menguar dari kuali ketika tutup kuali di buka.
"Kau semakin cakap dalam membuat pil," kata Mu Haocun sambil menghampiri kuali yang sedang digenggam Mu Lian.
"En. Setelah berkali-kali membuat pil, aku merasa semakin nyaman dan mampu melakukan langkah demi langkah dengan cepat," kata Mu Lian.
"Bagus," kata Mu Haocun sambil mengamati pil berwarna kehijauan.
"Bagaimana menurut kakek tentang obat racik itu?" kata Mu Lian mengalihkan topik pembicaraan karena sangat ingin mendengar pendapat Mu Haocun mengenai obat racik tersebut.
"Kau benar. Peracikannya sudah sesuai standar. Namun efektivitasnya dalam mengobati di tahan oleh lima tanaman herbal lain.
Tiga tanaman herbal bersifat adiktif, satu tanaman katalis dan satu lagi tanaman herbal yang aku yakin merupakan hasil persilangan antara tanaman katalis dengan substansi abyssal," kata Mu Haocun sambil memasukkan kempat pil kehidupan yang telah dibuat Mu Lian ke dalam botol porselen dengan sangat hati-hati.
"Benarkah? Kakek, bukankah orang-orang sekte aliran sesat saat ini jadi memiliki hubungan erat dengan makhluk abyssal?" kata Mu Lian terkejut.
Meski Mu Lian tidak tahu apa sebenarnya makhluk abyssal itu, namun Mu Lian tahu bahwa semua elemen abyssal bersifat merusak.
"Kalau kita menghubungkan kejadian yang telah kita lihat baru-baru ini, iya dapat dikatakan begitu," kata Mu Haocun kemudian menatap sahabatnya, Master Yi. Mu Lian juga ikut menatap Master Yi.
"Ha, setelah beberapa ratus tahun damai akhirnya ada yang berhasil merangkak keluar lubang?" gumam Master Yi.
"Maksud Master Yi, ada makhluk abyssal yang berhasil masuk ke dunia ini?" tanya Mu Lian.
__ADS_1
"Tidak. Pintu masuk ke dalam abyssal sudah dikunci rapat-rapat dalam perang besar beberapa ratus tahun yang lalu," jawab Mu Haocun.
"Kalau begitu, siapa yang memiliki akses terhadap semua hal yang berkaitan dengan makhluk abyssal?" kata Mu Lian semakin bingung.
Mu Haocun dan Master Yi saling menatap. Mereka saling berkomunikasi menggunakan energi spiritual.
"Tak ada yang perlu kau khawatirkan. Lagi pula ada Master Zhengheng yang sedang menangani masalah ini," kata Mu Haocun. Mu Lian menarik napas dalam.
"Baiklah kakek. Tapi apa yang akan kita lakukan kepada obat ini?" kata Mu Lian.
Mu Lian tahu persis mengapa Mu Haocun menyuruhnya untuk tidak mengkhawatirkan masalah tersebut. Mu Haocun ingin Mu Lian fokus pada perjalanannya ke ibu kota.
Namun melihat Mu Lian yang menunggu pendapat dirinya mengenai obat racik itu Mu Haocun hanya bisa membagikan sedikit yang ada di dalam pikirannya.
Lagi pula Mu Haocun pun sebenarnya benar-benar ingin fokus mengantar Mu Lian ke ibu kota.
Dan akan melakukan apapun yang ia bisa untuk membantu Mu Lian apabila terjadi sesuatu di luar dugaan...
"Setelah mempelajari obat racik ini, kakek jadi ingin merekrut orang yang membuatnya," kata Mu Haocun melanjutkan "Kemampuannya memang masih jauh dibanding Dongshan, tapi cukup sebagai asisten,"
Mu Lian tertegun. Pendapat yang dilontarkan Mu Haocun berbeda dari apa yang diperkirakannya.
Mu Lian sebenarnya ingin melihat apa yang dilakukan Mu Haocun kepada penyebaran obat berbahaya itu sebelum keadaan semakin memburuk.
Orang-orang yang telah meminum obat racikan para penipu itu lebih mudah dipengaruhi pikirannya sehingga apabila ada seseorang yang memulai kudeta sekalipun, pasti dunia ini akan jatuh dalam kekacauan.
Mu Haocun melihat arah pikiran Mu Lian. Mu Haocun merasa bangga pada Mu Lian karena masih dapat memikirkan keadaan orang lain padahal keadaannya sendiri pun belum menentu.
"Kakek tahu bahwa masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Makanya kakek mendiskusikan masalah ini kepada Master Zhengheng," kata Mu Haocun. Keputusannya sudah final.
"Baiklah. Bagaimana dengan orang-orang yang katanya akan menyerang kita itu?" kata Mu Lian.
Setidaknya mereka harus 'menyambut' kedatangan orang-orang berpakaian hitam tersebut. Seperti kata pepatah bahwa perlakukan tamumu layaknya raja.
Sebagai tuan rumah yang baik, Mu Lian hendak memberikan 'service' yang tidak akan pernah mereka lupakan.
"Kalau mereka berani menginjakkan kaki mereka di sekitar penginapan ini, mereka tidak sayang nyawa," kata Master Yi tiba-tiba seperti seorang induk beruang yang mengamuk karena ada yang mengancam nyawa anaknya.
Um. Meski Mu Lian berniat menyambut orang-orang berpakaian hitam dengan pengalaman yang tak terlupakan, kalau Master Yi yang turun tangan, bukankah menjadi terlalu berlebihan?
Tunggu, mereka kan orang-orang kejam. Mu Lian masih saja membawa norma yang biasanya di praktikan di Bumi.
Mungkin karena Mu Lian merasa sebentar lagi akan 'pulang' jadi Mu Lian menurunkan kewaspadaannya. Padahal dia sudah lama menunda perjalanannya ke ibu kota hanya untuk beradaptasi di dunia ini.
"Um, master, aku dan yang lain akan mendiskusikan penyambutan orang-orang itu. Jadi, boleh tidak master melakukannya nanti setelah penyambutan dari kami selesai?" kata Mu Lian sambil tersenyum.
Mu haocun dan Master Yi saling menatap kemudian mengangguk. Mereka mengingatkan Mu Lian untuk tetap berhati-hati dan menurut pada Meng Zhi dan Meimei.
Kalau Meng Zhi dan Meimei mengatakan untuk berhenti, maka Mu Lian, Xiaoxiao dan Ling Zizhou harus menuruti. Mu Lian mengangguk kemudian segera menghambur keluar kamar.
"Keisengannya semakin mirip denganmu," kata Master Yi sambil melirik Mu Haocun yang sedang memberi tatapan bangga ke arah pintu kamar.
"Haha, terimakasih. Tentu saja Lian'er mirip denganku, dia kan cucu ku," kata Mu Haocun yang menganggap ucapan Master Yi sebagai pujian.
"..." (Master Yi)
Master Yi menatap sahabatnya itu dengan tatapan tak berdaya sedangkan Mu Lian yang tiba di kamarnya sedang asik mendiskusikan penyambutan tamu mereka.
Meng Zhi memperkirakan bahwa orang-orang tersebut tidak akan mendatangi mereka dalam waktu dekat.
Mereka mungkin akan melihat kondisi dan memperkirakan kekuatan lawan terlebih dahulu sebelum menyerang.
__ADS_1
"Mungkin mereka akan sedikit terkejut ketika melihat kalian datang bersama kami. Tapi ku yakinkan kalian, bahwa sudah dipastikan mereka akan segera menurunkan kewaspadaan mereka melihat orang-orang yang mendampingi kalian adalah 3 kakek tua dan sepasang kekasih," kata Meng Zhi.
"Kuralat, mungkin mereka akan waspada ketika melihat kami. Oh, apalagi ketika melihat Ling Zizhou," kata Meimei. Xiaoxiao menahan tawanya.
Setelah sekian lama menghabiskan waktu dengan Ling Zizhou, akhirnya Xiaoxiao berani bercanda juga di depan pemuda dengan sumbu pendek itu.
Xiaoxiao kini mengerti bahwa semua yang diucapkan Ling Zizhou hanya di mulut saja! Artinya, wajahnya dan mulutnya saja yang terkesan kasar, padahal hatinya lebih kasar lagi, ehem, maksudnya tidak begitu kasar.
"Hmph, tentu saja mereka waspada padaku," kata Ling Zizhou yang salah mengartikan ucapan Meimei. Ling Zizhou mengira Meimei membicarakan tentang kultivasi senjatanya.
Dengan tingkat kultivasi senjatanya yang sudah mencapai tingkat kesadaran, tentu saja Ling Zizhou patut diwaspadai.
Meng Zhi dan Meimei saling menatap. sedikit jengkel dengan sikap Ling Zizhou. Sikapnya itu sama menjengkelkannya dengan orang yang 'merendah untuk meroket'. Namun Ling Zizhou tidak terlihat merendah sama sekali, malahan meroket sampai ke Bulan!
"Oh. Benar juga, senior mengatakan bahwa orang dengan tingkat kultivasi dibawah senior tidak akan bisa mengidentifikasi tingkat kultivasi senior," kata Mu Lian mengubah topik pembicaraan.
"Betul sekali," kata Meng Zhi mengkonfirmasi.
Mu Lian secara refleks membuka kipas untuk menyembunyikan wajahnya, lebih tepat pikirannya.
Namun Xiaoxiao, Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi sudah mengetahui apa yang dipikirkan Mu Lian.
...
"Lian'er, kalau wajahmu masam begitu, nanti orang-orang itu malah curiga loh," kata Meimei.
"Yang dikatakan Mei jie benar. Kita kan sudah berjanji untuk berpura-pura," kata Xiaoxiao.
Mu Lian tak menanggapi Meimei dan Xiaoxiao. Dia duduk di atas batu sambil mengerucutkan bibirnya.
Kakinya memainkan tanah lembab dan beberapa kerikil halus. Membuat lingkaran dengan ujung sepatunya.
Kedua tangannya menopang tubuhnya pada kedua sisi, membuat telapak tangannya merasakan dingin pada batu tempatnya duduk.
Pagi baru dimulai beberapa menit yang lalu sehingga udara di sekitar hutan masih dingin dan embun-embun terlihat bertengger di atas dau-daun pakis.
Benar. Masa istirahat Mu Lian dan yang lain di desa telah usai dan mereka telah kembali menjadi orang hutan, maksudnya kembali meneruskan perjalanan mereka.
Mu Lian yang telah merencanakan penyambutan tamu-tamu mereka di penginapan, menemui kekecewaan karena tidak ada satu pun tamu yang mengunjungi mereka.
Usaha Mu Lian sia-sia. Semua alat dan bahan jadi terbuang. Masalahnya adalah uang yang awalnya untuk membeli pakaian, Mu Lian gunakan untuk meyiapkan penyambutan.
"..."
"Sepertinya Lian'er terlalu syok hingga tidak bisa bicara," kata Meng Zhi.
"Sarapan siap," kata Ling Zizhou dan Mu Lian segera bangkit menuju sumber wewangian yang membuat air liur menetes.
"Atau tidak," kata Meimei sambil menggelengkan kepala.
Mu Lian melahap masakan Ling Zizhou seperti memiliki dendam terhadap masakan tersebut. Mu Haocun melihat cara makan Mu Lian yang sedikit berbeda dari yang biasanya dan menghiburnya.
"Tenang saja. Sepertinya hari ini mereka akan bergerak, mengingat posisi kita sudah cukup jauh dari keramaian. Kau bisa menyiapkannya dari sekarang," kata Mu Haocun.
Mata Mu Lian berbinar. Dia segera menghabiskan makanannya dan menarik Ling Zizhou untuk menyiapkan penyambutan tamu-tamu itu.
Mu Lian dan Ling Zizhou sibuk kesana dan kemari di sekitar kemah mereka. Yang lain duduk bersantai karena tidak ingin menganggu Mu Lian. (?)
Persiapan selesai menjelang makan siang dan Mu Lian menunggu dengan sabar kedatangan tamu-tamu penting tersebut.
Sayangnya, ekspektasi tidak pernah sesuai realita. Tamu-tamu tersebut dengan tidak sopannya datang dengan sangat terlambat, padahal tuan rumah sudah menunggu sejak pagi tadi.
__ADS_1